
Diresto, keluarga Dirgantara sudah standby menyambut tamu spesial mereka. Bahkan Juan belajar senyum dengan dibimbing Kahfi secara langsung.
Shena juga mengarahkan anak anaknya untuk tidak melawak.
"Udah kamu hubungi Mas Luthfi kan kak ?" Tanya Shena memastikan.
Syauqi mengangguk. "Udah Bunda, 5 menit lagi kata Ghifa sampai."
"Ayah senyum yang iklash dong jangan kaku." Titah Shena pada Juan.
Dan Juan hanya mengangguk pasrah denga senyum yang senantiasa tersungging indah.
"Bang, makanan udah lengkap semua kan ?"
"Siap bunda komandan, kalo kurang ntar tinggal tereak." Jawab Bizar dengan cengiran kuda tanpa dosa.
Shena hanya mengangguk.
Tak berselang lama, akhirnya yang ditunggu tiba. Aleta yang mengandeng erat tangan Guntur berjalan lebih dulu ketimbang Luthfi dan Ghifa.
Saat sudah dengan jarak yang dekat, Shena langsung menyambut semuanya dengan sangat ramah. Bahkan lebih terkesan antusias.
"Kak Aleta apa kabar ?" Tanya Shena yang langsung memeluk Aleta dan cipika cipiki ala emak sosialita.
"Al..alhamdulillah baik, Kamu gimana Shen ?" Jawab Aleta dengan gugup karena disambut sedemikian rupa.
"Seperti yang kakak lihat, aku masih awet muda." Jawab Shena dengan iringan tawa.
Tak bisa dipungkiri memang usia Shena masih terbilang muda dibanding dirinya.
"Apa kabar Al ?" Kini Juan yang bertanya, bahkan tangannya sudah terulur.
"Ba..baik Wan." Jawab Aleta semakin gugup, dan menjabat tangan Juan.
"Oh ya mas, maaf saya lewatin hehe." Shena menjabat tangan Guntur dan kemudian dengan Juan.
"Ah iya nggak apa apa." Jawab Guntur dengan ramah.
"Ya udah ayo silah kan masuk, ngobrolnya lanjut didalam". Ucap Juan mempersilahkan masuk kedalam privat room setelah semuanya selesai berjabat tangan.
Didalam ruangan Sudah tersaji berbagai menu pembuka, dan semuanya sudah mengambil tempat masing-masing.
Semua sudah duduk dengan pasangan masing-masing dan yang jomblo berada posisi paling ujung meja.
"Bang, lu senior gue ya ? Yang suka pasang tenda camping dilapangan ?" Tanya Rendi menatap Kahfi dengan seksama. Yang tua belum buka suara eh anakan kadal udah nyamber aja.
"Ah lu siapa ??" Kahfi menanggapinya dengan cuek. Maklum terlalu poluler.
"Gue yang sering bangunin lu kalo pagi pas lu camping. Gue bawain mie ayam lengkap sama kerupuk kulit." Saut Rendi.
"Aahh elu yaa, ehh btw makasih yak. Kemarin utang lu udah gue bayarin dikantin." Jawab Kahfi yang sudah mengingat siapa Rendi.
__ADS_1
Dan akhirnya keduanya berjabat tangan.
"Itu utang kan buat makan elu bang."
"Hey kalian melangkahi yang tua, ini gue punya acara bukan tongkrongan lu pada." Juan bersuara juga pada akhirnya.
Merasa tak di hormati dia.
"Ampun om, saya murid nya bang kahfi om." Rendi mengatupkan kedua tangannya diatas kepala.
Syauqi dan Luthfi serta Bizar kompak menepuk jidad. Murid yang sesat mendapat guru yang bangsatt.
"Sabar ayah, guru kan hanya menyapa murid." Saut Kahfi santai.
"Ayah nyesel belajar senyum sama kamu."
"Udah, malu nih ada tamu. Maaf ya mas , kak. Emang suka tololl mereka semua. Si Rendi jadi ketularan." Ucap Shena dengan cengiran kuda.
Aleta dan Guntur hanya mengangguk dengan senyum canggung.
Melihat sambutan hangat ini, Aleta merasa sangat lega. Ternyata putranya memang diterima dengan baik oleh Juan dan keluarganya.
"Sebelumnya saya mohon maaf mas kalo mengundang dengan dadakan seperti ini. Dan juga kalo sambutannya agak beda dari yang lain." Juan mulai membuka suara kembali tapi ini lebih serius.
"Kami sangat berterimakasih telah diundang dan disambut dengan sedemikian rupa mas Juan." Jawab Guntur tak kalah ramah dari Juan.
"Saya terus terang saja pada kalian berdua mengenai tujuan saya mengudang makan malam ini. Yang pertama untuk silaturahmi, dan yang kedua mengenai anak anak kita, yakni Luthfi dan Syauqi. Yang mana kemarin mungkin sempat ada perselisihan dan salah paham." Lanjut Juan dengan penuh wibawa.
"Iya mas, saya juga minta maaf jika putra saya dan kami berdua ada kesalahan yang mana mungkin ada membuat Syauqi merasa tidak nyaman dan sebagainya. Kami juga mengucapkan terimakasih karena Syauqi menerima anak saya dan cucu saya dengan sangat tulus." Balas Guntur.
"Kami juga menerima keduanya mas, saya hanya ingin meminta maaf jika setelah saya tau Luthfi adalah putramu Al, saya sempat berpikir untuk tidak merestui keduanya. Karena saya masih membawa masa lalu kedalam hubungan mereka. Kami meminta maaf akan hal itu." Ucap Juan.
"Seharusnya yang meminta maaf aku Wan, aku juga menghalangi mereka. Bahkan dipertemuan pertama dengan putri mu aku Memberikan kesan yang buruk. Aku hanya takut jika putrimu tau masa lalu dan dia tidak menerima ku ataupun putra ku. Sekali lagi aku mohon maaf Wan dan Shena." Kini Aleta yang bersuara.
"Sudahlah kak, bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan anak anak. Lagi pula aku sudah jatuh hati dengan cucu tampan mu." Jawab Shena dengan senyum lembut.
Memang sejak dulu hati Shena selalu selembut sutra. Bahkan Aleta selalu mengagumi sosok Shena bagaimanapun keadaannya.
"Jadi intinya gimana bapak bapak dan ibu ibu ?? Lihatlah dua manusia ini sudah tegang seperti kanebo kering." Ucap Bizar yang menunjuk Syauqi Dan luthfi.
Memang keduanya dalam posisi duduk tegap tak bergerak.
"Selow mas, kayak bandar narkoboy aja." Ucap Juan melempar Luthfi dengan tissu bekas.
"Papa ikutan tegang mas, jangan gitu." Sambung Guntur.
Jik para lelaki tegang maka Aleta sudah berkeringat dingin.
"Kita restu untuk hubungan kakak dan Mas Luthfi, iya kan Ay ??" Ucap Shena dan meminta persetujuan Juan.
"Iya, ayah udah restu. Soalnya ayah udah pilek karena hampir dua minggu kakak jadi dingin bet." Saut Juan dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Mendengar itu, lobang idung sebelah kiri Syauqi dan Lutjfi mulai merasakan kelegaan dalam bernafas..
"Papa sama mama gimana nih ?" Tanya Rendi .
"Kalo papa dari awal emang udah restu." Jawab Guntur dengan tawa ringan.
Kemudian Syauqi dan Luthfi kompak menatap Aleta dengan pandangan memohon.
Dan akhirnya Aleta mengangguk.
"Iya mama restu." Ucap Aleta dengan senyum manis. Matanya juga berkaca kaca karena bahagia.
Ketakutannya hilang dan musnah seketika.
Syauqi dan Luthfi masih mematung. Keduanya tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
"Mbak brur dan mas brur tolong bereaksi ini udah dapat restu." Ucap Kahfi menyadarkan keduanya.
Dan tanpa aba aba, keduanya langsung berpelukan mesra tak peduli banyak pasang mata memandangnya tak berkedip.
"Akhirnya aku benafas mas." Ucap Syauqi yang masih menyandarkan kepalanya didada Luthfi.
"Berasa kek hidup lagi Alhamdulillah, makasih Mai udah bantu sadarin mama dari atas sana." Gumam Luthfi seraya mengecup puncak kepala Syauqi.
"Jadi punya emak lu boy." Lanjutnya seraya melirik sang anak yang geleng kepala.
"Hoyy, lu anggep gue apa ?" Pekik Shena yang sudah berkacak pinggang. Bisa bisanya orangtua dicuekin.
"Maaf bunda." Ucap Syauqi dan Luthfi barengan.
"Kalo pelukan pakek jarak 20 centi." Shena kembali duduk dengan menggerutu.
.
Juan hanya mencebikkan bibirnya tak peduli. Kalo udah bucin mah biarin bodo amat.
"Yok semuanya mari makan malam." Ucap Juan mempersilahkan setelah menu makan malam sudah tersedia.
Akhirnya kedua Kelurga besar itu makan dengan khidmat. Dan setelahnya diselingi dengan candaan dan obrolan ringan.
Bahkan rencana lamaran juga sudah dibicarakan dan akan dilaksanakan secepat mungkin.
Ghifa yang sejak awal hanya diam sudah bisa tertawa dan terlupakan juga mulut julidnya yang pedas membahana.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Selamat berbuka puasa wahai warga amuba semuanya😊
THR udah pada cairan kan kan ??
Nih akhir bulan gue THR in restu nya Mama Papa dan Ayah Bunda😅
__ADS_1