IMAM KU

IMAM KU
Es Pokat Kocok


__ADS_3

"Hei tante dekil kok dipanggil malah bengong?" Tanyanya dengan menegerutkan kening, emang ya kalo orang jelek loadingnya lama. Begitulah mungkin pikiran bocah cilik itu.


Dengan setengah kaget, Sauqi menatap bocah imut dihadapannya dengan tatapan bingung. "Kamu ngapain ada disini ? Sama siapa ?" Tanya Sauqi melihat sekeliling, siapa tau nemu bapak nya si bocah bocah.


"Yeee tante dekil ngadi-ngadi, kalo kesini ya beli es dong masak beli ikan." Jawab Ghifa dengan entengnya, dan dengan santai dirinya sudah duduk diatas pangkuan Sauqi yang sudah mengambil posisi duduk cantik seperti semula.


Belum pulih dari rasa terkejutnya kenapa sibocah julid ada disana eh sekarang malah nambah tercengang dengan adanya dia dipangkuan. "Eh ??"


"Duduk dipangkuan tante dekil ternyata nyaman juga." Ucap Ghifa tanpa menyadari perbuatannya yang membuat semua orang rehat baku hantam.


"Haha dekil ? Ohh Sauqi,  eh tante dekil, anak kecil aja tau kalo lo itu dekil. Jadi nggak salah dong kalo Pasha berpaling ke gue." Sambar Shazia yang merasa mendapat angin segar untuk kembali membuat keributan.


Tapi bukan Sauqi namanya kalo langsung panas kebakaran jenggot. "Bang jangan dengerin tante itu yaa, mulut nya suka ngomong jorok." Bisik Sauqi karena menyadari jika Ghifa sudah menatap Shazia dengan garangnya.


"Tante dekil diam aja, biar Ghifa yang bales." Bukannya menuruti ucapannya, Ghifa malah hendak mengambil jurus andalan dengan tajamnya silidah. Ya apalagi kalo bukan balas balik dengan kata-kata yang tajam.


Sauqi hanya menghela nafas panjang, belum ada tandingan untuk tajamnya ucapan Ghifa. Jadi biarlah. "Yang boleh panggil tante Sao dengan sebutan tante dekil itu cuma Ghifa, kalo tante dilarang keras. Lagian tante ngaca dulu deh sana, bajunya kurang bahan, nggak punya duit apa ? Compang camping kayak gembel gitu, mana ngatain tante Sao dekil lagi, diri sendiri malah kayak gelandangan." Cerocos Ghifa yang menatap tajam Shazia, Sauqi yang dihina dia yang panas. Calon anak berbakti memang.


Mendengar ucapan Ghifa yang polos membuat Farhan dan Naswa tak hentinya ngakak, bahkan Pasha pun sempat-sempatnya mengulas senyum tipis padahal mulutnya sudah berdarah akibat bogeman Bizar.


Merasa dirinya terhina, Shazia mengepalkan tangannya geram. " Eh anak kecil, kamu emangnya tau apa soal kecantikan ? Lagian tante dekil kamu ini kalo dibandingkan dengan aku masih cantik akulah." Ketusnya tidak terima.


Melihat kepercayaan diri Shazia membuat Sauqi dan Ghifa kompak memutar bola mata dengan malas . "Walaupun tante Sao dekil tapi dari sudut mana pun ya tetep cantik tante Sao lah. Tante, tante, modal pakek baju seksi aja berani nyombong. Ghifa aja kalo ditawarin manusia kayak tante langsung Ghifa tolak." Oceh Ghifa tanpa menatap Shazia seolah jijik, takut menodai kepolosan bola matanya.


"Abang udah ya, dari pada ngomong sama tantenya bagus abang pesen minum. Abang mau apa ?" Ucap Sauqi menyudahi, kalo dilanjut yang ada pada kesurupan masal gegara ucapan Ghifa yang menusuk relung kalbu.


Dengan sangat nurut, akhirnya Ghifa memilih untuk memesan es kesukaannya. " Mm es pokat kocok yang kayak biasa, soalnya tadi Om Argi sama Tante Manda kelamaan ngobrol jadi lupa pesen." Jawab Ghifa bersemangat, membuat Sauqi tanpa sadar mengekus pucuk kepala bocah itu penuh sayang karena terbawa suasana.


" Bang Han,  es pokat kocok nya satu." Ucap Sauqi menyuruh Farhan


"Bilang sama nenek nya, es pokat kocok buat bujang ganteng." Sambung Ghifa sebelum Farhan melangkah lebih jauh, dan hanya diangguki Farhan serta acungan jempol.


"Duh gumush, jadi pen bawa pulang. Hei ganteng namanya siapa ?" Tanya Naswa yang sudah melupakan emosinya. Datangnya Ghifa membuat api amarah menjadi padam.


"Ghifa." Jawab nya singkat.

__ADS_1


"Abang ini tante Naswa, itu Om Bizar dan yang tadi Om Farhan anaknya nenek yang punya kedai es ini." Ucap Sauqi Memperkenalkan pasukannya, tapi ntah disengaja atau tidak, Pasha dan Shazia tidak tersebut dalam daftar nama.


Ghifa hanya memperhatikan sekilas orang-orang yang dikenalkan Sauqi, hingga akhirnya segelas es pokat kocok sudah ada didepan mata. "Nih boy, pesenan sesuai selera." Farhan menyodorkan gelas es pokat kocok yang langsung disambar oleh Ghifa.


Tanpa ragu, Ghifa langsung menikmatinya dengan sesekali melirik kearah dua orang yang tidak dianggap itu. "Tante Sao, itu yang berdua siapa ? Kenapa tadi berantem sama om ganteng dan tante Naswa ?" Tanya Ghifa yang ntah sejak kapan merubah panggilan nya untuk Sauqi.


"Ohh bukan siapa-siapa, kebetulan ketemu aja disini." Jawab Sauqi seraya tersenyum polos.


Ghifa mengerutkan kening seraya menatap orang-orang disekelilingnya bergantian. " Jangan suka sama om jelek ini ya tante, terus jangan deketan sama tante ini. Dia kayak ulet bulu, nanti tante gatel." Ucapnya polos sambil menunjuk Pasha dan Shazia bergantian, bahkan dirinya mengatakan itu tanpa ada beban sedikit pun.


Mendengarkan itu, Sauqi hanya megulas senyum tipis. Sedangkan Bizar, Farhan dan Naswa sudah mengacungkan kedua jempol masing-masing memberi apresiasi untuk kejujuran Ghifa. Jangan ditanya bagaimana Shazia dan Pasha, wajah mereka berubah pias, bahkan hampir emosi.


Dengan menahan kesal, Shazia bangkit dari duduknya. "Nggal level ngumpul disini, Sha kita cari tempat lain aja." Ucap Shazia seraya menarik tangan Pasha dengan paksa.


"Lepasin tangan ku Zi, kalo kamu mau cari tempat lain silahkan. Aku mau pulang." Jawab Pasha tegas. Akhirnya keduanya pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lebih dominan ke marah atau pun kesal.


Melihat keduanya sudah lenyap dari pandangan, Sauqi menghela nafas lega. Karena jika sudah begini, bau perang dunia ketiga tidak akan tercium lagi.


"Boy, tante Manda sama Omnya kamu tinggalin nanti mereka nyariin loh." Ucap Sauqi menatap Ghifa dengan lembut.


"Ghifa udah izin kalo mau gabung disini, lagian biarin tante Manda sama Om Argi pacaran. Kasian udah mau nikah tapi waktu berdua nya jarang gara-gara papi titipin aku ke tante Manda terus." Jelas Ghifa. Kapan lagi liat dua makhluk yang takut papinya itu merasakan indahnya dunia berdua.


"Maaf tante, aku mau sama om ganteng itu." Tolak Ghifa seraya menunjuk kearah Bizar. Yang ditunjuk malah nyengir doang seakan meledek si aunty yang cemberut kayak ikan mujaer.


"Yodah sini deh, orang ganteng ngumpul nya sama orang ganteng." Ucap Bizar yang langsung welcome. Jarang-jarang nih jurik bisa nerima bocah tengil dengan lapang dada, atau mungkin karena habis dibantuin bantai dua ulet kalik.


Dengan kecepatan kilat, Ghifa sudah pindah dipangkuan Bizar dengan nyaman. "Om Ganteng siapanya tante Sao ?" Tanya Ghifa menyelidik, seolah sedang introgasi orAng terdekat gebetan.


"Abang kembarnya Tante Sao, emang kenapa ?" Tanya Bizar balik.


"Nggak papa, cuma nanya. Tapi baguslah kalo abang kembar, Untung bukan pacar." Jawab Ghifa mengangguk santai.


"Emang kalo tante Sao punya pacar kenapa Boy ?" Gantian Farhan yang bertanya, penasaran aja sama jalan pikirannya si bujang cilik ini.


"Nggak boleh, kan Tante Sao nya mau aku cantikin terus jadi gandengan aku diacara ulang tahun temen aku." Jelas Ghifa yang sedang menikmati es pokat kocoknya.

__ADS_1


Sauqi hanya menepuk jidadnya pasrah, sedangkan Farhan melongo tak pedcaya. "Kalo mau jadiin gandengan, harus izin sama om dulu dong. Kan om ini abangnya tante Sao." Ucap Bizar menggoda bujang cilik itu.


"Yodah, Ghifa izin ya Om."  Ucapnya dengan sangat menggemaskan membuat Bizar mencium kepala Ghifa berulang kali.


'Aye, abang gue udah klop aja ama ni bocil. Bisa nih gas terus dapetin hati si bocil terus gas Bapaknya.' Batin Sauqi agak licik dengan planing masa depannya.


"Oh ya boy, tau nama tante dari mana ?" Tanya Sauai setelah sadar dari pikiran liciknya. Agak heran aja gitu kan, sekarang Ghifa panggil nya tante Sao. Duh panggilan sayang.


"Dari photo Penghargaan tante yang terpajang di studio. Nama tante Sauqi kan ?" Tanya Balik Ghifa setelah menjawab Sauqi dan hanya dijawab oh ria dan anggukan saja.


"Boy udah sore pulang yuk, tante anterin ke tante Manda." Ajak Sauqi, kebetulan langit sudah menampakkan semburat jingga.


"Nggak usah, Ghifa bisa sendiri lagian cuma deket disana kok." Ucap Ghifa seraya menunjuk kearah dimana Manda dan Argi berada dan diikuti oleh arah pandang Sauqi.


~~


Ditempat Argi dan Manda berada, keduanya saling berbincang mengenai hari pernikahan mereka yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Namun keduanya juga tidak luput membahas kedsktan Ghifa dan Sauqi saat ini.


"Sayang, lu liat deh Ghifa deket banget sama cewe itu, nggak biasanya kan ?" Tanya Argi pada Manda.


"Kayak nya cewe itu yang selalu diceritain Ghifa ke gue akhir-akhir ini." Jawab Manda yang menatap Kearah Sauqi dan Ghifa berada.


"Lu kenal ?"


"Nggak, Ghifa cuma sering nyebutnya tante dekil gitu aja." Jawab Manda.


"Jangan-jangan itu kandidat calon ibu tu bocil lagi, wahh beneran mindahin timezone kerumahnya Lutfi dong gue." Ucap Argi menyunggar rambutnya frustasi, mengingat jika kemarin bocah itu menumumkan kebulatan tekadnya membawakan sang ayah bidadari.


"Mampus lu, amplop nikahan kita habis sekejap gilak." Tambah Manda yang ikutan geleng kepala jika memikir kan hal yang sama dengan sang calon suami.


"Eh dia noleh, menurut lu cantik nggak ?" Lanjutnya, saat Sauqi menoleh kearagnya dan menampilkan senyum.


"Ngapa nanya gue ?" Tanya Argi bingung.


"Hih gubluk, kan lo cowo sih. Gimana menurut lu cewek itu ? Soalnya penilaian cewe sama cowo itu beda." Geram Manda dengan kelemotan calon suaminya, padahal udah ngabisin satu gelas jus tapi masih aja lemot.

__ADS_1


"Cantik, lembut, sayang anak, judes juga keliatan nya. Cocok nih buat siduda es batu." Jawab Argi dengan tatapan yakin membuat Manda tersenyum senang.


"Pikiran lo sama kayak gue, pantes kita jodoh." Ucap Manda seraya tersenyum licik dan dibalas anggukan oleh Argi. Ntah apa yang mereka pikirkan, yang jelas saat ini keduanya sedang tersenyum aneh dan penuh hal tersembunyi.0


__ADS_2