IMAM KU

IMAM KU
118


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, Alvian sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan wanita yang kini mengisi hari-harinya. Naima nama itu telah menggeser nama seseorang di masa lalu, perlahan tapi pasti. Alvian telah mengambil keputusan besar untuk masa depannya. Alvian yakin Naima perempuan yan akan menemaninya dalam membuka lembaran baru yang bahagia bersama anak-anak mereka kelak bahkan membersamai masa tuanya nanti.


" Duh calon pengantin, senyum- senyum terus. Terlihat banget pancaran kebahagiaannya." Ucap Reynan yang melihat Alvian senyum-senyum sendiri sambil menatap kaca jendela mobil yang mereka tumpangi. Reynan sangat bahagia melihat adiknya yang akan menikah dan membuka lembaran baru bersama seseorang yang menurut siapapun adalah gadis yang baik dan Alvian beruntung mendapatkan gadis itu .


" Apa sih bang, mana ada aku senyum-senyum sendiri." ucap Alvian sambil menatap sebal pada sang kakak.


" Sudah belajar mengucapkan ijab Kabul, awas kamu harus mengucapkannya dalam satu tarikan nafas." Reynan memberi peringatan kepada adiknya.


" Tenang saja bang, aku sudah hafal diluar kepala." ucap Alvian penuh keyakinan.


Mobil yang mereka tumpangi pun membelah jalanan, melaju dengan kecepatan sedang namun berusaha tidak didahului mobil lain namun tetap pada jalur yang sudah ditetapkan.


Reynan sengaja berada satu mobil dengan Alvian, sedangkan sang istri satu mobil dengan sang Mama. biasalah sang Mama beralasan ingin ikut menjaga cucu satu- satunya. Namun Reynan tidak terlalu khawatir karena sekarang Zahra, sudah melewati masa ngidamnya. Sehingga istrinya itu terlihat baik-baik saja di kehamilannya yang sudah mulai membesar.

__ADS_1


Di kediaman Naima, semua sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Walaupun sudah ada WO yang mengatur namun tetap saja pihak keluarga juga ikut sibuk apalagi beberapa menit lalu sudah mendapat kabar dari pihak mempelai pria akan kedatangannya yang hanya beberapa menit lagi.


Di kamar pengantin terlihat Naima yang hampir selesai didandani. Naima terlihat cantik seperti seorang putri dari sebuah kerajaan. Padahal riasannya tidak terlalu tebal. Hanya saja Naima memang sudah cantik dari sananya wajahnya yang ayu, bulu matanya yang lentik hingga hiding mancing dan lesung pipinya yang membuat wajahnya selalu terlihat manis apalagi jika sedang tersenyum.


Sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri. Di dekat pintu terlihat ibunya sedang menatapnya penuh haru, sebentar lagi anak gadisnya akan pergi meninggalkan rumah ini mengikuti suaminya. Hanya doa dan sebuah harapan untuk putrinya, semoga hanya ada kebahagian yang akan dilalui sang putri dalam kehidupan berumahtangga nya. Walaupun tak dapat dipungkiri pastilah akan ada pertengkaran-pertengkaran kecil didalamnya. Namun sang ibu berharap anaknya akan selalu bisa melaluinya dengan sabar. Karena dalam setiap rumah tangga tidak akan selalu berjalan mulus pasti akan ada kerikil- kerikil-kerikil atau hambatan yang akan mewarnai kehidupan berumah tangga. Namun setiap orang tua pasti akan selalu berdoa untuk kebahagiaan sang anak.


Pada akhirnya mereka berdua telah di sah kan menjadi sepasang suami istri. sebuah senyuman tak lepas dari mereka berdua begitupun semua keluarga yang menyaksikan turut berbahagia. Tamu pun datang silih berganti sampai pada akhirnya hanya menyisakan sanak saudara dan keluarga saja.


" Kenapa Lo, belum balik ke hotel sih, gak mungkin kan nginep disini?" Alvian berkata seolah mengusir Wili untuk segera pergi dari sini." yang di usir hanya cengengesan saja. Bukan tidak tahu, Alvian sedari tadi melihat Wali tengah mencuri pandang pada Sania yang kini sudah menjadi adik iparnya.


Karena Wili masih saja tidak beranjak, maka Alvian kembali bersuara


" Cepat pergilah, besok Lo boleh kesini lagi." Dan benar Wili langsung menanggapi.

__ADS_1


" Benarkah?"


" Tentu saja, aku ingin menanyakan laporan tentang perusahaan yang kamu kelola di sana. Akhirnya Wili pun berpamitan pulang.


Alvian sibuk melihat ponselnya yang seharian tadi tidak dia pedulikan, sedangkan Naima tengah berbincang dengan Sania. Tiba-tiba Bu Rahma mendekati Alvian.


" Makanlah dulu sebelum kalian beristirahat! " titahnya pada sang menantu. Pasalnya sang ibu mertua memperhatikan sepasang pengantin itu hanya makan ketika siang hari tadi. Alvian pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya itu. Tak lama dia beranjak masuk ke kamar di ikuti Naima dengan segera. Walaupun Naima tengah mengobrol dengan adiknya namun matanya sesekali melirik pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.


happy reading 💜


jangan lupa dukungannya ya ...


terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2