
Angin malam semakin bertiup kencang, hawa dingin semakin terasa ngilu menusuk tulang.
Sudah cukup lama keduanya terdiam, Syauqi yang sudah hilang kesabaran menunggu respon sang ayah mengenai permohonannya seketika melepaskan pelukan.
Kepala nya ia dongakkan untuk menatap sang ayah. Dan.....
"Ayah kenapa senyum-senyum gitu ?" Syauqi meraba tengkuknya nya yang mulai meremang.
Ekspresi sang ayah yang tidak pada situasi membuatnya terlihat menyeramkan.
"Ayah nggak kesambet kan ? Disini bukan bekas pohon beringin gede tumbuh kan yak ?? Ayah ?? " Syauqi masih menatap Juan dengan tatapan ngeri, pandangannya juga sesekali berkeliling memastikan tidak ada mbak kunti dan sejenisnya.
Disela tarikan ingusnya yang naik turun, Syauqi menggoyangkan lengan sang ayah.
Dan melihat tingkah Syauqi, Juan malah terkekeh geli.
"Bundaaa !!!!! Ayah beneran kesambet bundaa !!!!" Suara Syauqi melengking hebat meminta pertolongan sang Bunda si pawang siluman gunung rinjani.
Kesedihan nya terlupakan begitu saja berganti dengan kepanikan. Tau akan seperti ini dia tidak akan melawan sang ayah.
"Bun......"
"Sstttt, tereak mulu kayak tukang kredit panci nagih angsuran. " Juan membekap mulut sang anak yang akan kembali berteriak meminta tolong.
Melihat reaksi sang ayah, Syauqi bernafas lega.
Juan melepaskan tangannya dan kemudian berlalu.
"Besok ajak keluarga besar Luthfi makan malam diresto kita. Ingat kak besok malam." Ucap Juan yang berjalan menuju tangga meninggalkan Syauqi yang masih termenung.
Syauqi kemudian tersadar dan menyusul sang ayah dengan langkah cepat.
"Ayah nggak kesambet kan ??" Tanyanya lagi saat sudah sejajar dengan sang ayah.
Juan hanya menggeleng.
"Ajakin mas Luthfi dan keluarga nya makan malam ini beneran Yah ?"
"Iya." Jawab Juan singkat.
"Ayah serius ? Ayah dalam kondisi sadar kan ?"
"Diem kak, turuti aja apa kata ayah. Jangan bikin ayah berubah pikiran."
Syauqi masih menatap Juan tidak percaya.
__ADS_1
"Ayah yakin ?? Ayah nggak ngeprank kan ?? Nggak ada kamera nih kan Yah ??"
"Kak please diem ya, balik kekamar sana terus vidcall-an sama Mas Luthfi. Ayah mau lembur gempur bunda, kemaren udah puasa seminggu." Juan kemudian masuk kekamarnya mengacuhkan Syauqi yang masih di ambang ketidaknormalan.
Syauqi yang tanpa sadar sudah mengikuti sang ayah hingga depan pintu kamar masih dalam mode berpikir keras. Hingga suara pintu terkunci dari dalam menyadarkannya akan Kenyataan.
"Beneran nih ?? Beneran dong yaa haha" Syauqi bergumam dengan senyum mengembang.
Setelahnya, dia pun ikut melenggang masuk kamar dan mengunci pintunya serapat mungkin.
_________
Keesokan harinya, Luthfi yang memang tidak ada jadwal mengajar hanya bermalasan dikamar. Ditemenai bujang kecilnya yang berubah semakin dingin sejak kejadian dimana dia menelpon sang Oma.
Luthfi hanya menghela nafas berat, kisah cintanya selalu tragis.
"Papi nggak ada niatan apa gitu buat bisa sama Mommy lagi ?" Tanya Ghifa setelah beberapa hari bungkam.
Melihat papinya yang hanya diam membuatnya sedikit geram.
"Ntahlah boy, rasanya papi udah nggak punya keberanian lagi." Luthfi menjawabnya dengan lemah. Sorot matanya mengisyaratkan bahwa dirinya sudah jatuh terlalu dalam dan takut untuk bangkit.
Ghifa memejamkan matanya. "Padahal Ghi selalu berdoa supaya kita bisa sama mommy lagi, dan Ghi juga selalu minta tolong mama juga untuk doain kita. Tapi kalo papi gini kayaknya percuma." Lirih Ghifa.
Mendengar anaknya mengatakan itu membuat Luthfi semakin sesak dadanya. Jujur saja Dia bingung harus melakukan apa.
Hinhha lamunan keduanya dibuyar kan dengan dering panggilan masuk di ponsel Ghifa.
"Mommy ?? Kenapa tumben jam segini vidcall ??" Gumam Ghifa seraya menatap ponselnya.
Luthfi mengalihkan perhatiannya. "Siapa boy ?"
"Mommy".
"Angkat boy."
Ghifa mengangguk dan kemudian menggeser ikon hijau dilayar ponselnya. Hingga gambar gadis cantik terpampang di sebrang sana.
π²Mommy
"Assalamualaikum mommy." Sapa Ghifa dengan senyum yang cerah.
Syauqi membalas senyum itu dengan lembut.
"Waalaikumsalam boy. Mana papi sayang ?? Kok mommy telpon nggak bisa ??" Tanya Syauqi.
__ADS_1
"Papi ada kok mom, ini lagi rebahan disebelah Ghi. Lagi lemes bestie, nggak dipeluk ayang." Jawab Ghifa dengan tawa ringan yang juga dibalas tawa dari Syauqi.
"Apaan sih boy." Saut Luthfi malas.
"Mas, kok nomornya nggak aktif kenapa ?" Tanya Syauqi pada Luthfi, kini dua pangeran mommy Sao sudah menampakan diri dalam satu layar.
"Saya charger, semalem ngedrop sayang." Jawab Luthfi seraya memandang layar ponsel Ghifa dengan penuh kerinduan.
Jujur saja, dirinya dan Ghifa sangat merindukan kehadiran Syauqi. Hanya karena masalah kemarin ketiganya memutuskan tidak bertemu lebih dulu sebelum semuanya jelas.
"Mas, semalem aku lupa bilang. Ayah ngundang Mas Luthfi dan keluarga makan malam direstonya Ayah nanti." Ucap Syauqi dengan tersenyum.
"Kamu yakin ?" Tanya Luthfi memastikan dan diangguki Syauqi.
"Semuanya ya mas, bukan kamu sama Ghifa aja." Ujar Syauqi lagi.
Luthfi berkerut kening.
"Maksud aku ajak juga Papa, Mama sama Rendi. Itu pesen ayah semalam." Lanjut Syauqi sebelum Luthfi sempat bertanya.
Mendengar itu, Ghifa langsung memasang wajah cerah ceria.
"Opa ganteng ngajakin makan malam mommy ?? Itu berarti opa nggak benci sama Ghifa kan mom ??" Tanya Ghifa dengan semangat.
Syauqi hanya menanggapi nya dengan senyum lembut. "Sayang besok yang rapi terus yang ganteng juga. Oke."
"Oke mommy." Ghifa mengangguk dengan semangat. Walaupun bukan jawaban dari pertanyaa nya yang ia dapat, tapi ucapan Syauqi yang demikian sudah lebih membuatnya tenang.
Luthfi masih terdiam, dirinya belum bisa percaya.
"Mas, ini serius. Jangan lupa bilang mama dan papa untuk datang ya. Kami tunggu." Ucap Syauqi yang berhasil menyadarkan Luthfi.
"Ahh iya, nanti aku bilang." Luthfi mengangguk.
"Tau kan alamat resto nya ayah ??"
"Iya tau."
Akhirnya sambungan video call berlangsung beberapa jam kemudian. Ketiga nya membahasa baju mana yang bagus untuk dikenakan saat makan malam nanti.
Dan dengan telaten Syauqi memilihkan kemeja, celana bahkan juga sepatu untuk Ghifa maupun Luthfi.
Setelah video call berakhir dan baju sudah ready, Luthfi mengajak Ghifa menuju kediaman Orang tuanya. Dirinya akan memberitahu undangan ini secara langsung dan nanti sekalian berangkat bersama dari sana.
πππππππ
__ADS_1
Jangan lupa pada bayar zakat weyyy, pak su pada diingetin kewajibanπ