
Sekian lama mereka hanya terdiam dalam kebisuan. Saling menyelami pikiran masing-masing. Merenungkan apa yang baru saja terjadi dan apa yang akan terjadi kedepan. Ketika Alvian sudah mantap untuk menjadikan Naima sebagai pendampingnya. Naima justru ragu untuk memulai semuanya. Naima takut bahkan terlalu takut jika ini adalah kebahagiaan semu, dia takut apa yang ada di depannya ini hanya sebuah fatamorgana belaka.
Sepersekian lama mereka hanya diam tanpa kata sampai akhirnya mereka terkejut dengan kehadiran Bu Rahma di tengah-tengah mereka.
" Ada tamu toh, Nak Kemal kemana Nay?"
Naima yerlonjak dengan pertanyaan ibunya. sedangkan Alvian tersenyum canggung, beranjak berdiri dari duduknya dan menyalami.bu Rahma.
" Sudah pulang Bu, beliau buru-buru ada urusan katanya." ucap Naima sambil melirik Alvian dengan ekor matanya. Bu Rahma pun hanya mengangguk mendengar jawaban Naima.
" Nay, ada tamu kok belum dibuatkan minum." Bu Rahma menatap Naima, mengisyaratkan untuk Naima segera ke dapur dan membuat minuman buat Alvian.
" Kalau boleh tau, Nak ini siapa, teman kerjanya Naima? tanya ibu pada Alvian.
" Iya Bu, saya temannya. Namun saya kesini dengan maksud ingin meminta restu..." sejenak Alvian menjeda kalimatnya. Membuat Bu Rahma penasaran dengan kata restu yang dikatakan Alvian.
" Maksudnya nak, ibu tidak mengerti?" Kening Bu Rahma berkerut sambil menatap lekat wajah pria muda didepannya.
" Saya kemari mempunyai niat baik Bu, saya bermaksud melamar putri ibu Naima. Jika ibu memberi restu saya mohon ijin untuk membawa Naima dan memperkenalkannya kepada keluarga besar saya." Bu Rahma terdiam tidak langsung menjawab perkataan Naima.
__ADS_1
Naima pun muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi tanpa gula. Naima hafal betul apa yang Alvian suka dan tidak suka. Bukan karena dia berusaha mengetahuinya namun karena dia sekertaris yang selalu mengurusi apa-apa yang Alvian perlukan. Itu semua membuat Naima banyak tahu tentang apa-apa yang disukai Alvian maupun yang tidak Alvian suka.
" Silahkan diminum nak!" ucap Bu Rahma setelah Naima meletakkan cangkir itu dimeja. Alvian pun mengangguk dan tersenyum tipis.
" Ibu akan menyerahkan semuanya pada Naima. Jika kamu adalah pria yang dipilih Naima untuk menjadi imamnya maka ibu sebagai orang tua hanya bisa memberi restu dan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." Bu rasa pun menatap Naima yang hanya tertunduk mendengar perkataannya.
" Tapi Bu, bagaimana dengan mas Kemal?" Pertanyaan Naima sontak membuat Alvian merasa kesal dengan wanita yang duduk didepannya. Bisa-bisanya Naima mengkhawatirkan pria lain di depannya secara terang-terangan.
" Kamu tidak perlu khawatir dengan itu. Ibu yakin Nak Kemal akan mengerti." Naima pun hanya terdiam dan menunduk untuk beberapa lama sebelum kemudian dia menjawab.
" Baiklah, saya mau jadi istri Pak Alvian. Satu sisi Alvian senang dengan jawaban Naima. Bahkan sangat bahagia namun disisi lain dia kesal dengan sebutan Pak, yang Naima sematkan untuk memanggilnya. Namun Alvian tersenyum mendengar jawaban itu, tak mungkin dia protes dengan panggilan Naima terhadapnya di depan calon ibu mertua. Apa calon ibu mertua, rasanya terlalu menggelitik hatinya mengingat kata mertua.
" Kalau begitu saya meminta ijin pada ibu, besok Naima bahkan saya ajak pulang ke kota X. Besok kakak dan kakak ipar saya mengadakan syukuran kehamilan kakak ipar yang kedua. Sekalian besok saya akan kenalkan Naima pada keluarga saya." ijin Alvian pada Bu Rahma.
" Mbak Zahra hamil?" tanya Naima, dia menatap Alvian dengan mata membulat." Alvian pun mengangguk dan tersenyum padanya.
" Oh ya Bu, saya belum memperkenalkan diri. Saya Alvian Bu, bekerja di perusahaan yang sama dengan Naima. Saya tinggal di kota X sedangkan kedua orang tua saya tinggal di kota B. Besok saya akan mengenalkan Naima pada keluarga saya dan dalam waktu dekat, saya akan kembali kesini untuk melamar secara resmi pada ibu. Nanti saya akan datang bersama keluarga saya."
" Silahkan ibu akan tunggu kedatangan kalian untuk melamar putri ibu. Ibu hanya berpesan jaga baik-baik putri ibu, sayangi dia dan jangan pernah kamu sakiti. Naima tumbuh dewasa tanpa ayahnya namun ibu selalu memastikan bahwa kasih sayang yang ibu berikan tidak pernah kurang. Ibu tidak akan rela jika anak yang ibu besarkan dengan sepenuh hati dan ibu limpahkan kasih sayang disakiti oleh orang yang lain." ucap Bu Rahma panjang lebar. Alvian pun hanya menunduk, mendengarkan dengan seksama apa saja yang calon ibu mertuanya itu katakan. Diapun berjanji bahwa dia akan berusaha untuk selalu menyayangi dan mencintai Naima dengan segenap jiwa dan raganya.
__ADS_1
Setelah mereka terlibat perbincangan yang serius, kini Alvian lebih memilih mengobrol ringan tentang pekerjaan dan juga Bu Rahma yang menceritakan masa kecil Naima. Sedangkan Naima sendiri sibuk di dapur menyiapkan makan siap untuk mereka bertiga karena ibunya menyuruhnya memasak untuk calon suaminya. Sebenarnya nalvian akan memesan saja atau mengajak Naima dan Bu Rahma ke restoran saja. Namun Bu Rahma menolak dengan tegas katanya Vian harus mencoba masakan Naima karena masakan Naima juga enak, seenak makan restoran menurut Bu Rahma.
Mereka pun menghabiskan waktu dengan saling mengenal. Bu Rahma cukup terkejut ketika tahu bahwa Alvian bukan saja bekerja di perusahaan yang sama dengan Naima, namun Alvian juga adalah atasan sekaligus pemilik perusahaan. Dari obrolan mereka Bu Rahma tahu bahwa Alvian adalah pria yang baik yang akan bisa menjaga Naima.
Kini dia lega jika harus melepaskan Naima pada pria sebaik Alvian.
Alvian mengajak Bu Rahma ke kota X besok untuk bertemu keluarganya, namun Bu Rahma menolak,.dia akan menunggu saat yang tepat untuk bertemu keluarga Alvian. Mungkin nanti ketika Alvian datang lagi ke rumahnya dengan keluarganya untuk melamar Naima secara resmi sekaligus menetapkan tanggal pernikahannya.
Setelah makan siang selesai, Bu Rahma menyuruh Alvian beristirahat dahulu. Biar nanti sore Naima mengantarkannya jalan-jalan mengelilingi Yogya katanya. Alvian pun menurut karena rasanya dia lelah. Alvian pun beristirahat di kamar Naima, sedangkan Naima beristirahat dikamar sang adik yang kebetulan belum pulang dari penelitian kampus. Rencananya pulang hari ini ternya diundur besok.
Alvian tidak langsung beristirahat, dia malahan menelusuri setiap sudut kamar Naima yang sangat rapih. Tidak terdapat banyak barang di sana, hanya sebuah tempat tidur ukuran sedang, sebuah lemari dan sebuah meja rias namun lebih banyak diisi dengan buku-buku dari pada dengan peralatan makeup.
Di meja tersebut ada foto Naima kecil bersama seorang laki-laki dewasa yang Alvian ketahui adalah ayahnya karena wajah itu sama tepampang di foto yang dipajang di ruang tamu tadi.
Happy reading 💜💜💜
selamat tahun baru, semoga kita semua menjadi manusia yang lebih baik lagi dan semua keinginan kalian tercapai.
jangan lupa dukungannya.🙏🙏
__ADS_1