IMAM KU

IMAM KU
Ekspetasi vs Real


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, janji Juan yang akan memberikan keputusan terlewatkan begitu saja. Tidak ada yang menagih atau sekedar menyinggung masalah itu lagi, baik Shena maupun Bizar dan Kahfi, bahkan Syauqi pun tetap memilih bungkam.


Melihat sang putri yang semakin hari malah semakin dingin, Juan dilanda kegalauan. Hatinya resah, pikiran nya gundah.


"Ay." Panggil Shena dengan lembut.


Juan hanya menoleh sekilas dan kemudian pandangan nya kembali lurus kedepan, menatap kosong pada jendela kaca yang masih tertutup rapat.


Shena paham betul apa yang menjadi beban suaminya saat ini. Memang tidak mudah diposisi Juan, antara memihak pada egonya atau kebahagiaan putrinya.


"Abang cuekin Shena ?" Tanyanya lagi dengan nada manja, sama seperti dulu saat muda. Bahkan kini Shena memposisikan dirinya diatas pangkuan Juan.


Juan menggeleng, setelahnya kepalanya ia sandarkan didada Shena.


"Abang harus apa Ay ? Kakak semakin dingin." Ujar Juan.


Shena mengelus kepala Juan dengan sayang, memberikan ketenangan dan kehangatan.


"Saran Shena, abang harus berbicara berdua dengan kakak. Abang ajak kakak ngobrol mengenai hal ini, abang sampaikan ketakutan abang dan beri kakak pengertian. Jangan lupa juga pahami perasaan dan isi hati kakak."Β  Ucap Shena memberi saran.


Dan disaat hanya berdua seperti ini, Shena meninggalkan panggilan ayah bunda agar lebih dekat dan romantis.


"Apakah itu akan berhasil ay ?"


"Coba dulu, keputusan ditangan abang. Tapi sebelum memutuskannya, abang harus lebih dulu memahami isi hati abang dan terutama isi hati kakak."


Juan mengangguk dalam dekapan Shena, dirinya harus bisa mengesampingkan masalalu demi kebahagian sang putri.


Saran Shena akan segera ia laksanakan malam ini juga. Dan sebisa mungkin dirinya akan memberi keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan tentu nya untuk Syauqi.


Setelah cukup lama berada dalam dekapan sang istri, Juan merasa lebih tenang.


Bahkan dirinya sudah mengirim pesan pada sang putri untuk menemuinya di rooftop. Tempat biasa dimana jika keluarga dirgantara saling melepas penat saat sore hari atau dikala salah satu dari trio cebong ingin curhat 4 mata dengan sang ayah.


......


Dikamar, Syauqi yang sedang melamun dikagetkan dengan bunyi ponselnya. Ada notif pesan masuk.


Dengan perlahan tangan nya meraih benda pipih yang ia letakan disamping nya dan membuka nya.

__ADS_1


Seketika ia menghela nafas berat setelah membaca pesan yang tertulis disana.


"Kenapa kak ?" Tanya Bizar yang penasaran pesan apa yang diterima saudarinya hingga harus menghela nafas sedemikian rupa.


Kahfi yang juga penasaran pun turut bertanya. "Siapa kak ? Kok kakak respon nya gitu ?"


Syauqi mengusap wajah nya kasar. Rasa takutnya kembali hinggap dihatinya. "Ayah, ngajakin ngomong berdua di rooftop." Jawabnya seraya memandang kedua saudaranya.


"Bagus dong kak, dengan begini kakak bakal dapet kepastian dari ayah." Ucap Bizar yang mengingat janji sang ayah beberapa hari yang lalu.


"Iya kepastian. Dan yang pasti itu bukan yang kakak harapkan."


Kahfi menggeleng. "Positif thinking dong kak, doa aja keputusan ayah nanti yang kakak mau." Ujar Kahfi bijak.


"Kakak udah ga berharap banyak dek, kakak udah tau apa yang bakal ayah bilang. Dari reaksi ayah pertama kali pun kakak udah menduga apa yang terjadi." Syauqi memejamkan matanya seraya mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak.


"Itu mah ekspetasi kakak, reality nya kan kita nggak tau kak."


"Inget kak, Allah itu Maha membolak balikkan hati hamba Nya."


Bizar dan Kahfi tak hentinya memberi masukan positif, menyemangati Syauqi yang mulai melemah akan perasaannya sendiri.


Sepanjang jarak antara kamarnya dan rooftop, Syauqi hanya mampu bersitighfar untuk menguatkan mental dan hatinya. Seandainya nanti ayahnya tidak merestui maka dirinya sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan itu.


. . . . . .


Di rooftop, Juan sudah duduk tegap dikursi rotan yang selalu digunakan anggota keluarga nya saat bersantai disana.


Pandangannya menatap hamparan bintang yang menghias langit, hingga langkah kaki mengalihkan perhatiannya.


Juan tersenyum singkat. "Kemarilah, dan duduklah kak." Ucap Juan.


"Terimakasih ayah." Syauqi mengangguk dan duduk tepat disamping sang ayah.


Juan terdengar menghela nafas berat beberapa kali dan itu semakin membuat jantung Syauqi ketar ketir.


"Maaf jika ayah berbuat kesalahan kak, ini semua karena ayah belum bisa menerima kenyataan mengenai siapa Luthfi." Ujar Juan to the point.


Syauqi hanya menunduk, tidak ingin membalas atau menjawab ucapan Juan.

__ADS_1


"Ayah mohon dengan sangat agar kakak bisa memahami perasaan ayah setelah mendengar apa yang bunda ceritakan malam itu. Bukan ayah dendam, tapi ayah masih terlalu kecewa dengan kejadian itu nak. Ayah belum siap jika harus memiliki hubungan keluarga, ayah hanya takut kembali menyimpan dendam jika harus kembali dipertemukan. Karena sejujurnya ayah belum sepenuhnya melupakan kesalahannya." Lanjut Juan dengan mata terpejam.


Wajar jika Juan masih mengingat masa lalu. Karena itulah sifat alami manusia, walaupun sudah memaafkan tapi tidak untuk melupakan. Semua yang terjadi begitu akan membekas dalam ingatan.


Syauqi sekuat tenaga menahan isakannya. Ia tak ingin menjadi lemah, dan ia juga tak ingin menambah beban sang ayah.


Dia paham apa yang ayahnya rasakan. Jika dia diposisi sang ayah belum tentu akan seperti ayah nya saat ini.


"Ayah juga takut jika semua ini akan berdampak pada rumah tangga mu nanti. Ayah tidak ingin masa depan mu terganggu dengan masa lalu ayah. Dan satu lagi, ayah takut membuat suami mu tidak nyaman berada di rumah ini nantinya, ayah juga tidak ingin kamu merasa tidak nyaman saat bersama mertuamu disana." Juan mengakhiri ucapan nya dengan mendekap tubuh Syauqi yang sudah bergetar menahan tangis.


Syauqi tidak menyangka jika ayahnya berpikir demikian. Semua diluar ekspektasi nya.


Ayahnya bukan tidak merestui, akan tetapi hanya takut jika dirinya atau Luthfi akan merasa tidak adanya kenyamanan nantinya karena rasa berasalah.


Bahkan ayahnya bukan hanya memikirkan nya tapi juga Luthfi. Bukankah ini berarti jika sang Ayah tidak membenci Luthfi ??..


"Maaf ayah, maafkan kakak yang udah diemin ayah. Kakak udah berpikir buruk tentang ayah. Maaf." Lirih Syauqi disela isak tangisnya.


Tangannya juga mendekap erat tubuh tegap sang ayah. Air matanya luruh.


Juan hanya mengangguk dengan sesekali mengecup pucuk kepala sang putri.


"Kakak hanya takut kehilangan cinta kakak untuk kedua kalinya ayah, kakak tidak tau harus apa jika ini juga akan berakhir. Kakak udah terlalu cinta pada dua melaikat penyembuh luka kakak yah." Syauqi berucap dengan nada memohon. Semoga dengan ini ada kepastian yang membahagiakan nya.


"Kakak mohon restu ayah, percaya sama kakak Yah, kalau semua akan baik baik aja. Tolong terima mas Luthfi ayah."


Juan kembali menghela nafas, dan mata nya terpejam. Tanpa Syauqi tau jika Juan saat ini juga tengah tersenyum lembut. Tangannya perlahan mengusap bahu sang putri yang masih bergetar.


"Kakak mohon ayah." Syauqi kembali memohon dengan lirih. Dan Juan hanya mengangguk pelan, senyumnya masih terpampang jelas di wajah tampannya yang sudah menua.


😎😎😎😎😎😎


Assalamualaikum warga.


Gimana udah pada beli baju lebaran belom ??


Kue lebaran udah pada ready kan yakk ?? Kalo belom sini dah gue dagang nihπŸ˜€


Sory yak baru update, kemaren sibuk ngadonin tepung, biasalah mau lebaranπŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2