
Esok harinya, Kinan benar-benar menagih janji Alvian untuk berkeliling kota Jogja.
Alvian mengajak Naima untuk pergi, namun Naima menolak halus ajakan Alvian. Menurut Naima lebih baik tidak banyak interaksi yang berlebihan antara mereka berdua, menurut Naima lebih baik mendalami perasaan masing-masing dahulu dengan jarangnya bertemu. Masih ada waktu untuk tidak melanjutkan jika mereka beru ah pikiran.
Dan kata-kata terakhir Naima membuat Alvian marah. Sebenarnya bukan tanpa sebab Naima berkata seperti itu. Menurut Naima semua serba mendadak dan terlalu cepat. Dia benar-benar butuh waktu untuk mendalami perasaannya sendiri, begitu juga dengan Alvian. Naima melihat Alvian yang seakan mengambil keputusan yang terlalu cepat. Namun sikap Alvian tidak menunjukan bahwa Alvian benar-benar serius mempunyai perasaan padanya. Naima berpikir, mungkinkah ini sebuah pelarian.
Naima yang pernah mendengar jika gosip dikantor mengatakan kalau Alvian pernah mengalami patah hati. Maka dari itu sikapnya terkesan dingin dan angkuh. Walaupun sebenarnya Naima telah melihat sikap Alvian yang bersikap hangat pada keluarganya. Apalagi sikap penyayang Alvian terlihat sekali ketika memperlakukan keponakannya yang membiarkan menyebutnya Dady.
Naima sudah melihat sisi lain dari Alvian, namun karena terkesan terburu-buru, Naima menjadi ragu, ada sedikit yang mengganjal dihatinya. Pertanyaan bahwa benarkah Alvian mencintainya. Bagaimana jika masa lalu Alvian yang kembali hadir. Bukankah rumor mengatakan bahwa Alvian susah untuk move on dari kekasihnya dulu.
Beberapa hari kedepan Naima ingin merenungkan semuanya. Dia butuh waktu untuk itu. Biar hatinya benar-benar mantap untuk menjalani semuanya bersama Alvian. Bukan untuk sesaat, bukan untuk permainan namun untuk selamanya hingga nanti.
__ADS_1
Sebenarnya mood Alvian sedang kurang baik mengingat obrolannya tadi malam dengan Naima. Namun dia berusaha untuk melupakannya. Setidaknya untuk hari ini. Dia harus terlihat bahagia didepan keluarganya.
Beruntung hari ini ada gadis kecil periang yang selalu disampingnya. Kinan tak mau jauh-jauh dari Dadynya. Apalagi kakaknya Reynan tidak ikut berkeliling dengan alsan sang istri yang khawatir kelelahan karena sedang mengandung. Jadi Reynan menitipkan pada Alvian dan mertuanya yang ikut serta. Walaupun sebenarnya kedua orang tuanya pun masih turut menjaga tanpa diminta.
Kinan tidak henti-hentinya berceloteh, bertanya ini dan itu di tempat yang mereka kunjungi. Apalagi ketika berada di candi Borobudur. Anak itu ingin diceritakan tentang kenapa bisa dibangun candi di sana. Kinan benar-benar antusias. Tak lupa beberpa kali mereka berfoto mengabadikan momen yang memang sudah lama sekali tidak terjadi. Ya bertamasya bersama keluarga memang sudah sangat lama Alvian tidak melakukannya. Apalagi dia lama tinggal di luar negeri. Alvian melihat raut bahagia dari kedua orangtuanya. Dan itu adalah salah satu yang menjadi alasan kebahagiaannya juga.
Setelah mereka makan siang dan beristirahat sejenak untuk melaksanakan kewajibannya, mereka pun pergi kepusat perbelanjaan. Mama yang antusiasembeli beberapa batik untuk dirinya, Papa Bagas dan juga anggota keluarga lainnya. Tante Rima pun sama mereka sudah banyak membawa beberapa belanjaan yang di dapat dari satu toko dan toko lainnya. Hanya mertua kakaknya saja yang terlihat tidak banyak berbelanja.
Setelah puas berbelanja mereka pun memutuskan untuk pulang. Akhirnya si gadis kecil periang yang tadi tidak berhenti berceloteh, kini sudah terlihat mengantuk, berada di gendongan Dadynya.
Mereka akan pulang ke kota X nanti malam. dan sore nanti Alvian akan mengirimkan belanjaan untuk Naima dengan memakai jasa kurir saja. Dia ingin mencoba memahami pemikiran calon istrinya tersebut. Alvian pun memutuskan supaya Naima tidak harus bekerja dahulu sampai hari pernikahannya nanti. Biarlah mungkin itu keputusan terbaik. Disela-sela aktivitasnya hari ini, Alvian juga memikirkan yang terbaik untuk dirinya dan juga Naima. Tadi dia melihat kebersamaan Mama dan Papanya yang tetap harmonis diusia senja, membuat Alvian berfikir apa yang dibicarakan Naima ada benarnya. Biarlah takdir yang akan membawanya bersama. Bukan karena dia pasrah, namun dia lebih berserah pada takdir sang pencipta, dia pernah mengalami patah dan gagal dalam menjalani sebuah hubungan dan itu cukup untuk dijadikan pelajaran untuk kedepannya. Alvian percaya bahwa takdir baik akan menyatukan dirinya dan juga Naima. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Bahkan takdir yang Maha Kuasa itu lebih baik.
__ADS_1
Kini Alvian akan mengikuti alur dari setiap momen yang akan dia hadapi saja karena itu sudah pasti yang terbaik. Alvian ingin pernikahannya pun bisa seperti kedua orangtuanya yang selalu terlihat harmonis
Walaupun Alvian tahu tetap saja pasti ada kerikil-kerikil yang akan menghambat perjalannya, namun Alvian juga ingin seperti mereka yang mampu melewati semuanya.
Happy reading 💜💜💜💜
jangan lupa mampir juga di novelku yang lain.
Mencintaimu dalam diam ( tamat)
Ku Gapai Cintamu ( on going)
__ADS_1
terimakasih