IMAM KU

IMAM KU
Tak Tertahan


__ADS_3

++++


Masih ditempat yang sama, Juan dan keluarga masih terduduk tenang. Setelah kepulangan Rudi beserta anak dan istrinya, Juan dan Shena memilih untuk memasang tampilan datar dan dingin guna menyambut kedatangan Dion dan istri beserta anak sulungnya.


Setelah tamu yang dinantikan berada di hadapan mereka, suhu di ruangan itu semakin menurun. Keduanya malah lebih menjadi untuk menguarkan aura dingin yang menusuk, bahkan Sauqi yang diawal terlihat tenang kini juga mulai menunjukkan tatapan dingin.


"Maaf jika undangan kali ini tidak ada jamuan makan." Ucap Juan memulai perbincangan. Tidak perlu basa-basi, kali ini bukan undangan reuni komplotan SMA melainkan sesi introgasi.


"Iya nggak apa-apa, lagian kayaknya serius banget emangnya ada apa Wan? Terus Rudi mana?" Tanya Dion basa-basi, dari ucapan Juan tadi dirinya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa undangan kali ini memang dikarenakan masalah yang sensitif.


"Rudi baru saja pulang, ranah pembicaraan kita berbeda." Dingin Juan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dion, ntah kenapa dirinya menjadi sangat marah ketika melihat Ara dan putri sulungnya. Mungkin karena kilatan cerita di masa lalu.


"Emang masalah apa ya Wan?" Ara memberanikan diri untuk bertanya, jujur saja jika dirinya tidak mengetahui apapun. Bahkan sumainya juga tidak mengatakan alasan dirinya diundang oleh Juan dan Shena.


"Jika kamu mengingat perbuatanmu dimasa lalu maka kamu akan mendapat kan jawabannya. Dan untuk kejelasannya tanyakan saja pada putri mu." Ketus Shena menanggapi Ara, bukan tidak sopan pada yang lebih tua tapi dirinya sudah tak sanggup jika harus basa-basi. Amarah nya sudah memuncak hingga ingin mencakar suaminya sendiri saat ini, kalo cakar Dion nggak sopan suami orang.


Deg! Jantung Ara seketika memberi respon diluar dugaan. Kilatan kesalahannya dimasa lalu tergambar jelas dalam bayangannya saat ini, dalam pikirannya yang mendadak berkecamuk terlintas sebuah kesimpulan apakah putrinya juga melakukan hal yang sama?


"Shen... Ahh Sauqi, apakah Shazia melakukan hal buruk terhadapmu sayang ?" Tanya Ara seraya menatap Sauqi sendu, dalam sorot matanya berharap bahwa Sauqi akan menyadarkannya jika ketakutannya saat ini hanyalah bayangan masa lalu.


"Untuk lebih jelasnya, tante silahkan tanya langsung pada Shazia bagaimananya, nanti Sauqi hanya akan mengiyakan atau memberi bantahan." Jawab Sauqi tenang, untuk apa emosi sekarang? Toh Ara juga tidak tahu menahu, kalo nanti Shazia ngegas ya baru lawan pakek aura tenaga dalam atau malah aura kasih.


"Sebenarnya apa yang dilakukan anak ku Wan? Kenapa semua harus dipertanyakan padanya?" Sambung Dion, dirinya tidak tau apa yang terjadi hingga semua harus ditanyakan pada putri sulungnya. Sebenarnya dirinya selama ini kemana hingga tidak tau perbuatan anak sendiri.


"Seperti yang putri ku jelaskan, coba tanyakan saja pada anakmu itu." Cuek Juan. Jangan banyak nanya, langsung aja introgasi si tersangka biar cepet kelar, muak liatnya. Batin Juan kesal.


"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dion terhadap putri sulungnya dengan lembut..


"Mami harap kamu jawab dengan jujur sayang, kamu tau kan papa kamu dan Om Juan bersahabat. Jangan hanya karena kebohongan mu persahabatan mereka hancur." Sambung Ara seraya mengelus lembut tangan sang putri memberi bujukan.


Ah elah emang udah ngehancurin kalik. Batin Bizar dan Kahfi dongkol. Mereka tak mau buka suara untuk urusan wanita, takut kebawa emosi terus khilap takut salah tonjok, kan bisa nagih.

__ADS_1


"Zia nggak ngelakuin apapun kok Mi, Sauqi nya aja yang baperan sampek ngadu ke Om dan Tante." Jawab Shazia sok lemah, dirinya mengelak dan malah mencoba menjatuhkan kesalahan pada Sauqi.


"Papa nggak nyuruh kamu nyalahin orang lain, kamu cukup jelasin apa yang terjadi." Gertak Dion, dirinya sudah mulai curiga sejak Shena mengungkit kesalahan sang istri dimasa lalu.


"Zia beneran pa, mana pernah sih Zia bohong sama Papa." Elaknya lagi dengan manja seolah mampu membuat sang ayah percaya begitu saja.


"Lebih baik katakan sendiri atau saya yang akan mengatakannya didepan orangtua mu?." Ucap Shena dengan datar dan dingin, dirinya muak melihat sifat Shazia yang menjijikkan. Bagaimana mungkin dirinya berdalih dan malah menyalahkan Sauqi yang jelas-jelas menjadi korban.


"Tante ngomong apa sih, aku nggak paham." Sauqi berdecak malas, sebenernya ni orang otak nya apa udah ikut keisep Pasha sih begook bener.


"Gue tau lu gak suka sama gue Zi, tapi asal lu tau aja, gue masih anggep lu sebagai sahabat gue. Gue bukannya baperan cuman gue itu orangnya suka terus terang." Sarkas Sauqi pada akhirnya, dirinya kesal dengan drama yang dibuat Shazia. Manusia licik seperti dia berakting seolah masih polos dan tak tau apa-apa, menjijikkan.


"Kamu ada masalah apa sama Sauqi?" Tanya Ara yang mulai gemetar, dirinya takut jika apa yang dipikirkan nya saat ini akan menjadi kenyataan.


"Nggak ada masalah kok Mi, kan aku bilang dianya aja yang baperan. Dia cemburu kalik aku deket sama Pasha, kan sahabat wajar kalo deket." Jawab Shazia tak tau diri. Mendengar itu, Juan dan Shena semakin geram dan bahkan Bizar sempat mengepalkan tangan tanda marah.


"Ya elah mpok, deket sebagai sahabat juga ada batasannya kalik. Jambi ama Sumbar aja pakek tugu. Emang ada deket sebagai sahabat saling isep, tu leher sampek kayak abis dicap stempel yayasan panti jompo aja merah-merah." Saut Kahfi dengan santai, bukannya menegur dengan perbuatan Kahfi yang ikut campur, Shena dan Juan hanya melirik sekilas seolah membenarkan ucapan sang anak.


"Iya pa ini tu gatel, awalnya di gigit nyamuk." Shazia beralasan. Mana mungkin didepan banyak orang dia mengakui bahwa itu adalah hasil uh ah uh uh nya.


"Iya nyamuk yang jarum nya di bawah diantara kaki." Balas Bizar tak kalah tajam, sudah jelas salah masih mau ngelak.


"Aku nggak ada urusan sama kamu ya Bi, bagus kamu diem aja." Ketus Shazia kesal dengan ucapan Bizar, bisa-bisanya dirinya direndahkan.


"Eh neng heloo!!! Lu cari masalah sama adek gue nah otomatis tuh elu juga bakal berurusan sama gue." Jawab Bizar, mana mungkin dirinya diem aja kalo adeknya dijahatin wewe gombel bentukan kuyang.


"Shazia!! Mami minta jelaskan apapun itu, mami nggak mau tau." Tegas Ara, dirinya sudah siap dengan apa yang akan didengar kan nya nanti.


"Apa yang mau Shazia jelasin sih Mi? Kan nggak ada apa-apa." Tolak Shazia yang masih keras kepala, apa untungnya mengatakan kejujuran jika akhirnya dia yang mendapat amarah kedua orang tua nya.


"Biar aku aja yang jelasin." Ucap Shena memutuskan. Dirinya sudah engap terlalu lama berbaur dengan jelmaan wanita ular. Secepat mungkin semua harus jelas.

__ADS_1


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, pepatah tua yang memang benar faktanya. Putri sulungmu telah merebut kekasih sahabat nya sendiri, dan dengan teganya menusuk sahabatnya dari belakang. Sebenarnya bukan masalah besar bagi kami, tapi pengakuan dari kalian yang terutama agar persahabatan yang ada tidak akan memudar hanya karena kelesalan yang tidak tersampaikan." Jelas Shena dengan pembawaan tenang, sejurus kemudian Ara dan Dion menegang. Ternyata yang dipikir kannya emang benar terjadi.


"Aku sebagai orangtua tidak akan terlalu marah jika caranya merebut masih memiliki batas, cara mu menyingkirkan kan ku masih terbilang wajar pada masa itu mbak. Namun tidakkah kamu sadari bahwa putrimu melakukan hal hina untuk merebut Pasha dari Sauqi?" Lanjut Shena dengan tatapan tajam menusuk, segala kekesalan yang menumpuk akhirnya terlepaskan, dirinya tak lagi mampu menahan. Ara yang dituju pun saketika lemas, rasa bersalah nya kepada Shena dimasa lalu masih terngiang dan sekarang masalah baru muncul kembali dengan motif yang sama.


"Jangan salah paham, istriku bukan ingin mengungkit masa lalu. Dirinya hanya ingin kalian menyadari tentang apa yang sudah diperbuat putrimu." Sambung Juan memperjelas maksud Shena.


"Papa nggak nyangka kamu akan melakukan hal itu, papa telah salah terlalu mempercayaimu selama ini." Ucap Dion tak mampu lagi menahan kekecewaan nya, rasa bersalahnya pun lebih besar dari apapun saat ini. Sedangkan Ara sudah terduduk lemas dengan berderai air mata, dirinya sudah tak sanggup mengucap kan sepatah kata.


"Lu bener-bener ya Qi, lu ga tau diri banget. Harusnya lu sadar kurangnya lu sampai Pasha milih gue, bukannya malah ngadu ke nyokap bokap lu dan ngelabrak papa mami gue kayak sekarang." Bentak Shazia yang masih tidak Terima atas apa yang dituduhkan padanya walaupun itu kenyataan sekalipun.


"Emang salah kalo gue bilang ke orangtua gue, kalo gue udahan sama Pasha? Emang salah kalo gue jawab alasannya gue udahan? Gue orangnya gak pernah nyembunyiin sesuatu ke orangtua gue, masalahnya gue gak bisa akting kayak elu terus menerus." Jawab Sauqi dengan tenang, api mah lawan aja pakek aer. Kalo dia bawa batu ya bales nya pakek pasir biar kelilipan.


"Heh lu jangan sombong tapi harusnya mikir, lu itu gak bisa kasih apa yang Pasha mau. Lu itu jauh dibawah gue, sebenar nya lu cantik kalo nggak punya kepribadian tomboy tapi sayangnya Pasha suka cewe yang manja." Shazia membanggakan diri tanpa berpikir perasaan kedua orangtuanya saat ini.


"Lu cantik kalo gak punya mulut. Dan satu lagi, lu bukan manja tapi murahan." Sarkas Sauqi dengan pandangan yang merendahkan. Bahkan Juan dann Shena sempat terkejut dengan ucapan sarkas Sauqi.


"Gue setuju ama lu dek, mana ada cewe yang harga diri nya bak mutiara mau di isep buaya yang statusnya pacar orang. Lebih pantes jadi gorengan, dipandang bahkan sempet dipegang tapi nggak jadi dibeli." Sambung Bizar yang ikut nyindir ala emak nyinyir yang suka mangkal di perempatan komplek sambil nunggu mamang sayur mayur.


"Mpok jangan banggain diri yang udah diobral, lagian kalo barang obral gak laku paling ujungnya di buang. Sedangkan kaos distro aja kalo kelamaan jadi obral cuci gudang apalagi obralan yang bakal berakhir diloakan." Saut Kahfi memberi perumpaan, awalnya nggak mau nimbrung tapi gegara kesel akhirnya lepas juga rem dimulut. Rasanya gak ikutan julid gak asik.


"Maaf kan kami yang gagal menjadi orang tua, maafkan putri ku yang Sudah mengulangi kesalahan yang sama, bahkan lebih parah. Maaf." Hanya kalimat maaf yang mampu Dion ucapkan saat ini. Ntahlah dirinya sendiri gelisah dan marah disaat yang berasamaan.


"Aku minta maaf, maafkan mbak Shen. Sauqi tante minta maaf." Ara terisak, saat dirinya lega melihat Shena mau memaafkan nya tapi sekarang kesalahan kembali terulang oleh putrinya. Mana mungkin Shena akan memaafkan untuk kedua kalinya. Melihat Shena sama sekali tidak merespon msmbuat Ara semakin terisak dan gemetar hebat.


"Pulanglah, tenangkan diri mu dan istrimu. Urusan anakmu kuserahkan pada kalian sebagai orangtuanya. Aku tidak memiliki maksud lain, aku hanya ingin putrimu mengakui kesalahan nya. Tapi sayangnya itu mustahil terjadi karena putrimu pandai berdalih. Kami menganggap semua ini selesai, jangan pernah kalian mengungkit nya dilain waktu." Ucap Juan setelah menyadari jika Shena tak mau lagi berurusan dengan tiga orang itu. Wajar jika shena marah atau kecewa, dulu dia celaka hanya karena obsesi Ara untuk mendapatkan Juan, dan kini hati putrinya terluka akibat anak dari Ara yang juga terobsesi dengan kekasih putrinya.


"Tante dan om tenaang aja, Sauqi masih oke dan tidak masalah untuk hal ini." Ucap Sauqi dengan senyum samar.


Setelah terusir secara halus, mau tidak mau Dion segera membawa istri dan anaknya meninggalkan restoran itu dan menuju kerumah untuk menuntaskan amarahnya.


Sedangkan Shena berulang kali menghembus kan nafas kasar. Dirinya marah sekaligus kecewa, bagaimana mungkin dirinya akan memusuhi sahabat suaminya, tapi tidak mungkin jika memberi maaf untuk kedua kalinya dengan kesalahan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2