
Setelah berpamitan pada sang pemilik hajat, Arka dan keluarga. Shena dan yang lain memisahkan diri diparkiran dan hendak pulang kerumah masing-masing.
Namun saat semua sudah mulai melajukan kendaraan masing-masing, Syauqi malah memisahkan diri dari keluarganya.
"Kakak ntar pulangnya agak maleman mungkin Yah, kakak mau bujukin si bujang kecil buat potong rambut. Udah kek tarzan dianya." Pamit Syauqi kepada sang ayah, Juan.
"Yang penting nggak pulang sendirian aja mah, ayah santai." Jawab Juan.
"Ntar juga dianterin mas duda yah, bunda yakin 101 persen dah." Timpal Shena seraya tersenyum lembut.
Kahfi mencebik. Ya kalik 101 persen, itu lebihin 1 nanggung amat si bunda.
"Ngapa lu dek ?" Tanya Bizar heran kenapa sang adik malah pasang muka jutek.
"Sebel bang denger bunda bilang 101 persen, itu nanggung bet 1. Nggak sekalian gitu 100 setengah aja tadi." Gerutu Kahfi.
Sedangkan Shena yang diomeli pun hanya tersenyum manis. Hal sepele aja bisa diperkarain, cocok nih anaknya Juan.
"Lah perkara begitu bisa bikin lo badmood." Bizar tertawa receh. Emang bener ketiga anak Shena otaknya geser semua, berekspresi tidak pada tempatnya.
"Sebenernya ayah juga risih denger nya, 1 itu nyempil kek kotoran gigi." Timpal Juan yang juga ketularan tawa receh Bizar. Beh keluarga nggak jelas, nggak ada yang lucu padahal.
Syauqi hanya menyimak, takut khilap kalo misalnya nimbrung. "Ayah, bunda kakak duluan ya. Ojol pesanan kakak udah dateng." Pamit Syauqi menghentikan kegiatan keluarganya yang terbilang absurd.
"Hati-hati kak, salam buat mas duda dari bunda." Ucap Shena dan Juan cukup menjawab dengan anggukan saja.
Setelah Syauqi berpamitan, mobil keluarga Dirgantara melaju meninggalkan parkiran hajatan dan menuju kerumah. Sedangkan Syauqi mulai mendekati mas ojol yang parkir disebarang jalan.
Dari kejauhan ternyata ada sepasang mata tajam yang mengawasi gerak gerik Syauqi sejak keluar dari hajatan Arka.
Awalnya ia hendak segera menyusul kedua orangtua nya, tapi saat ia melihat Syauqi yang tidak ikut masuk kemobil orangtua nya. Ia memutuskan untuk memperhatikan apa yang akan Syauqi lakukan.
Dan pada saat mobil keluarga Dirgantara pergi meninggalkam Syauqi, dirinya mulai berpikir bahwa ini kesempatan untuknya.
"Hmm, emang kalo jodoh nggak kemana. Kesempatan nggak boleh disia-siain." Gumamnya dengan tersenyum sinis.
Kaki nya perlahan mulai melangkah, detik demi detik dirinya semakin mendekat kearah yang dituju.
Namun sesaat kemudian, tujuannya juga mulai menjauh.
"Sial !! Mau kemana dia ?" Geramnya saat melihat Syauqi menghampiri mas ojol.
Sejurus dengan Syauqi dan mas ojol pergi, dirinya juga langsung lari ke mobil nya yang terparkir. Dengan secepat kilat, dirinya menyusul Syauqi.
"Terserah kemana tujuan dia sore ini, yang jelas gue harus bisa bicara berdua sama dia. Apapun keadaannya, gue harus bisa dapetin kesempatan kedua dari dia." Gumamnya selama dalam perjalanan membuntuti Syauqi.
Ntah memang hari ini kesialan Syauqi dan hari keberuntungan nya. Syauqi sama sekali tidak menyadari jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang.
Senyum manis nya terbit diwajahnya yang tegas. "Bagus, nggak kearah studio ataupun resto. Dan lu nggak sadar juga gue ikutin sayang." Ucapnya penuh kemenangan.
•••••
Setengah jam berlalu, Syauqi sudah tiba didepan gerbang perumahan mewah. Namun saat ojol yang ditumpanginya hendak berbelok dan menyeberang, ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat dihadapannya. Mobil yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.
__ADS_1
Jantungnya berdetak tak beraturan, tangannya mendingin. Rasa sakitnya kembali terasa sesak didadanya.
'Ngapain dia disini ?' Batin Syauqi bertanya-tanya.
Tatapannta menatap lurus kearah pintu kemudi, menunggu sepemilik mobil keluar.
'Mau hujan choco chips juga gue nggak mau urusan lagi sama dia. Ganggu acara gue aja.' Syauqi membatin sebal, acaranya akan lambat jika berurusan dengan makhluk ghaib itu.
Saat pikirannya memanas, hatinya terasa sesak dan batin nya mengumpat hebat. Pemilik mobil yang menghadangnya sudah berdiri tepat didekat nya.
"Kita bisa bicara sebentar ?" Tanyanya dengan sangat lembut.
Syauqi mendengus. "Nggak, gue ada urusan bang. Udah ditunggu." Jawab Syauqi berusaha biasa saja.
Namun seberusahanya perempuan, tetap akan merasakan hal yang belum sepenuhnya hilang. Ntah itu luka atau rasa yang pernah ada. Apalagi jika saat hanya berdua.
"Sebentar aja, abang janji sayang." Jawabnya lagi, dan masih dengan sangat lembut. Dan apa itu tadi, sayang ??
Telinga Syauqi langsung mengeluarkan asap tebal.
"Udah deh bang, urusan kita udah selesai."
"Yok masnya nyebrang saya udah ditunggu." Titah Syauqi pada mas ojol, jika meladeni umat didekatnya ini akan panjang waktu yang dibutuhkan.
"Permisi masnya, saya numpang lewat" Ucap mas ojol berniat menyuruh seseorang yang menghadang penumpang nya itu minggir.
Tapi bukannya respon baik yang didapat, tapi malah penolakan.
"Saya nggak akan minggir, dan kalo masnya nggak mau terlibat lebih baik tinggalkan kami." Sinis orang itu. Beh nggak ada otak emang.
"Saya udah bayar masnya full, silahkan masnya kembali kerja lagi. Maaf sudah membuat masnya terseret masalah saya." Ucap Syauqi datar. Jiwa nya sudah mulai emosi.
"Tapi mbaknya ?" Tanya mas ojol pelan, dan hanya mendapat anggukan dari Syauqi.
Setelah kepergian mas ojol, Syauqi menatap sinis laki-laki yang berdiri dihadapannya.
"Sayang, maafin abang oke. Kita bicara didalam mobil abang aja. Biar nggak jadi pusat perhatian." Ajak Laki-laki itu seraya meraih tangan Syauqi.
Namun dengan kasar Syauqi menepisnya, niat hati pengen genggam tangan ayang ehh malah kenak gampar.
Syauqi melangkahkan kakinya, dan langsung membuka pintu mobil bagian depan dan menutupnya kembali dengan keras. Bukan karena nurut, tapi karena Syauqi masih punya urat malu, takut kalo jadi viral gegara berantem sama mantan ayang.
Sipemilik mobil hanya memandangnya dengan tatapan nanar. Bukan karena pintu mobilnya yang dibanting tapi sikap gadis kesangannya yang berubah.
Dirinya hanya mampu menghela nafas. "Ini resiko dari penghianatan mu. Sabar, kamu pasti dapetin dia lagi." Gumamnya lirih dan kemudian menyusul Syauqi.
Didalam mobil, keduanya hanya diam.
Hingga.....
"Bang Pasha mau ngomong apa ? Buruan." Syauqi to the point. Dan laki-laki itu adalah Pasha, mantan kekasihnya dulu.
"Kamu berubah Qi, udah nggak kayak dulu." Lirihnya menanggapi Syauqi.
__ADS_1
"Oh ya, kamu mau kemana biar abang anterin." Lanjutnya mencoba seramah dan selembut mungkin.
Sesakit apapun hatinya menerima segala sifat Syauqi padanya, dirinya akan mencoba tetap bersabar dan bersikap seperti dulu hingga Syauqi mau menerimanya kembali.
"Aku bisa sendiri, yang jelas abang mau ngomongin apa ? Kalo cuma basa basi, aku pergi." Ucap Syauqi tegas, dirinya tidak mau kembali dekat dengan mantannya. Dia sedang menjaga hati seseorang.
"Dan satu lagi, ayah sama bunda ngelarang kita ketemu. Jadi aku minta kerja sama abang." Sambung Syauqi. Seberapa dia kecewa pada Pasha, dirinya masih menghargai dan menghormati nya.
Tapi untuk bertatap muka seperti sekarang, dirinya tak mau melanggar titah kedua orangtuanya.
"Abang tau Qi kalo abang salah, untuk itu abang minta maaf sama kamu. Terus terang abang masih mengharapkan hadirmu lagi." Pasha berkaca-kaca, pandangannya lurus kedepan. Suara bergetar menahan tangis.
"Abang salah Qi, semua salah abang. Luka dihatimu mungkin terlalu dalam karena ababg, tapi apakah tidak ada sedikit pun sisa rasa yang Tertinggal Qi ?" Lanjutnya seiring tetes air mata nya yang berjatuhan.
Syauqi hanya diam, memalingkan wajahnya. Tangannya meremas gaun yang dikenakannya.
"Abang mohon kesempatan dari mu Qi, abang tidak akan berjanji tapi abang akan berusaha memperbaiki semuanya."
"Abang akan menemui ayah dan bunda, menyampaikan semuanya. Semua kebenaran dan kesalahan yang abang perbuat Qi. Abang hanya butuh kesempatan darimu, mungkin apa yang abang lakukan setelah ini tidak akan sepenuhnya menghilangkan luka dan perih itu, tapi setidaknya abang mencoba untuk mengobati nya hingga tak menyisakan pedih itu lagi."
Dada Syauqi terasa sesak, keringat dingin membasahi dahinya. Air mata menganak sungai bisa jatuh kapan saja.
Kenapa ? Kenapa semua ditakdirkan seperti saat ini ??
Pasha beranjak, mulai mendekat dan mendekapnya dari samping.
Hangat. Itu yang dirasakannya.
Ia juga rindu dengan ini, tapi sakit yang pernah ia terima bahkan lebih dalam dan sangat dalam.
Syauqi hanya diam tak merespon sedikit pun, tapi ia juga tak menolak.
Pasha menenggelamkan wajah nya dibahu Syauqi. Ia menangis dan terisak disana.
"Semua salah abang Qi, abang pantas kamu hukum. Tapi abang mohon kembali lah pada hati yang rapuh ini Qi."
Syauqi semakin terisak. Kepalanya ia tundukkan.
Dia rindu pelukan hangat dan penuh ketulusan ini. Hatinya yang perih saat mengingat penghianatannya perlahan menghangat.
Dia luluh. Rasa sayang dan cinta nya dulu masih tertinggal belum sepenuh nya hilang.
Tapi dirinya tidak bisa egois dengan perasaannya sendiri. Dia tidak mau melukai batinnya untuk yang kedua kali.
Dirinya memang nyaman, rasa sayang san cinta masih ia rasakan. Tapi.....
Ada satu tempat dihatinya yang sama sekali tidak tergoyahkan.
Ada rasa yang sangat dalam disana, namun tertuju pada orang yang berbeda.
Dari sebrang, lagi lagi ada sepasang mata yang memandang dengan tatapan tajam. Hatinya perih, matanya memanas.
Pemandangan yang terpantul dari kaca mobil itu menjelaskan semua akan posisinya yang memang sejak awal mendapat predikat tidak pantas.
__ADS_1
Rasa dan harapannya yang baru mengembang sempurna mendadak layu. Syauqi yang tidak menolak pelukan laki-laki disampingnya dan air mata yang luruh, menjelaskan bahwa dirinya memang tidak seharusnya hadir.
Bapak, ingat pak. Cinta tak selamanya indah pak !!