IMAM KU

IMAM KU
111 persiapan


__ADS_3

Seminggu ini keluarga Alvian di sibukkan dengan persiapan acara lamaran yang akan dilaksanakan 2 hari lagi.


Namun Mama Siska tidak mengijinkan Alvian untuk turut serta, Mama Siska bilang " Calon manten mah diem aja, Tahu beres" katanya.


Naima pun sudah pulang sejak kemarin diantarkan Pak Sukri, sopirnya Reynan. Mereka memang mempersiapkan segalanya di sini. Mama Siska memang tidak pulang dari sejak hari syukuran yang diadakan Reynan dan Zahra hari Minggu lalu. Mama Siska langsung disibukkan dengan berbelanja untuk persiapan lamaran.


Berbeda dengan Mama Siska, Bu Fatimah sudah pulang dari beberapa hari lalu. Beliau tidak bisa meninggalkan lama toko kuenya yang memang sejak banyak pesanan. Walaupun kini Lusi sudah menjadi orang kepercayaannya untuk mengelola toko, tetap saja ada pelanggan yang memang ingin dilayani secara langsung oleh pemiliknya.


Mereka sengaja tidak membuka cabang di tempat lain malah memperbesar toko yang ada saja. Bahkan sekarang toko sebelah yang kosong dibelinya dan sudah di buat dua lantai.


Kembali pada Mama Siska yang tengah sibuk menata hantaran untuk lamaran nanti. Mama Siska terlihat menata dan memastikan tidak ada yang terlewat. Dengan di bantu Tante Rima dan para asisten rumah tangga, Mama Siska berbelanja semua perlengkapan. Zahra yang memang sedang mengandung anak keduanya tidak diijinkan sedikitpun untuk membantu. Menantunya itu hanya boleh duduk diam melihat semua orang mempersiapkan semuanya. Sama seperti Alvian yang tidak diijinkan membantu. Alvian dan Naima hanya dilibatkan dalam memilih cincin dan baju saja untuk nanti dipakai di hari lamaran. Bahkan jika saja Bu Rahma mengijinkan maka lamaran pun akan diadakan di sini saja. Biar semuanya Mama Siska yang persiapkan. Namun Bu Rahma menolak halus tawaran Mama Siska walau bagaimanapun lamaran harus tetap diadakan di Yogya, biarlah nanti pesta pernikahan diadakan di kota X saja. Mereka pun sudah sepakat dengan keputusan tersebut. Bahkan Mama Siska sangat antusias dan sudah melihat-lihat beberapa gedung dan hotel yang cocok yang akan dijadikan tempat resepsi. Namun kali ini Alvian menolak pesta pernikahannya akan dilaksanakan di hotel milik kakaknya Reynan saja. Dan semuanya pun sudah setuju dengan keinginan Alvian. Terlihat Kinanti yang berlarian kesana-kemari, gadis kecil itu seolah meminta perhatian dari Omanya yang sejak tadi pagi sibuk mengurusi hantaran. Kinanti bahkan bermain sepeda dan berputar-putar didekat Mama Siska.


" Kinan..." Mama Siska,memperingatkan Kinanti tanpa menoleh padanya. Kinanti yang sengaja ingin diperhatikan tidak mendengar peringatan dari Omanya tersebut.

__ADS_1


" kinan sayang..." Kali ini Mam Siska memanggilnya sayang dan menaikan sedikit intonasi suaranya namun tetap tidak menoleh karena tangannya sedang sibuk melipat kain dan meletakkannya di salah satu kotak hantaran.


Kali ini Kinan meletakan sepedanya dengan kasar dan berlari sambil menangis kencang. Mama Siska bingung, kemudian dia tersadar dan merasa kalau dia barusan telah memperingatkan cucunya itu dengan sedikit berteriak.


Reynan yang baru saja pulang langsung menghampiri Kinan yang sedang menangis itu. Reynan mengerti anaknya sedang merajuk ingin diperhatikan Omanya yang beberapa hari ini sibuk dan tidak mengajaknya bermain. Berbeda dengan biasanya, jika biasanya Mama Siska kesini akan menghabiskan waktu bersama cucu satu-satunya itu.


Zahra pun yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri putrinya yang menangis kencang di pangkuan sang ayah. " Kenapa Mas?" Zahra berjalan mendekati putrinya.


" Kanya dia merajuk sama Mama." ucap Reynan.


" Sini sayang, Oma minta maaf ya, ayo Oma ajak kamu main ke Mall." Mama Siska berusaha membujuk Kinan. Anak itu memang sekarang terlihat sangat manja setelah tahu bahkan ibunya tengah mengandung. Kinan senang dengan berita itu. Namun entah mengapa sikapnya jadi berubah manja, apalagi pada Reynan sang ayah.


" Ayo sekarang Kinan mandi dulu sama Bu Lani, nanti kita jalan-jalan sama Oma Rima juga " ucap Mama Siska.

__ADS_1


" Beneran Oma, Oma gak bohong kan?" Kinanti tidak percaya ucapan Omanya karena tadi pagi dia merajut ingin ikut Mama Siska pergi tapi tidak diijinkan. Sejak itulah Kinan jadi badmood bahkan terlebih ketika melihat mama Siska pulang dengan banyak belanjaan dan tidak sedikitpun memperhatikannya. Dari situlah Kinan terlihat membuat ulah ingin diperhatikan Omanya.


" Iya, Oma janji." Kinan pun memberikan jari kelingkingnya pada Mama Siska, meminta mama Siska menautkan jari kelingkingnya juga. Setelah itu anak itu terlihat bahagia. Kinan pun berlari mencari Bu Lani untuk membantunya bersiap. Anak itu memang sejak ibunya hamil terlihat menjauh namun bukan untuk menjauhi ibunya tapi dia takut ibunya itu akan lelah dan takut terjadi apa-apa pada perut ibunya.


Kinan yang sejak kecil memang dekat dengan ibunya. Mama Siska yang khawatir jadi selalu menasihati Kinan supaya tidak banyak merepotkan ibunya yang sedang hamil. Mama Siska memberitahu Kinan supaya belajar mandiri dan jangan membiarkan ibunya lelah, nanti akan berpengaruh pada adik bayi. Maka Kinan akan merujuk dan manja pada ayahnya saja. Dia sangat menyayangi ibunya dan tidak ingin terjadi sesuatu pada adik bayi yang berada di perut ibunya.


Di tempat lain di rumah Naima, di sana juga terlihat semua orang sibuk. Ada juga beberapa saudara yang membantu mempersiapkan. Namun di tempat Naima tidak sesibuk persiapan di rumah Reynan. Mama Siska memang sudah memesankan catering sehingga salah satu rumah makan yang ada di Yogya. Walaupun Naima sudah menolak karena merasa tidak enak, namun Mama Siska memaksa dengan alasan ibunya Naima yang baru sembuh dan jangan di buat repot. Akhirnya Naima pun menurut saja.


Terlihat di depan rumah Naima sudah dipasang tenda dan dihias sedemikian rupa. Memang rumah Naima tidak terlalu luas dan terlihat sederhana namun pekarangannya cukup luas untuk dijadikan tempat menyelenggarakan lamaran. Karena lamaran kan tidak akan memerlukan tempat yang sangat luas karena Alvian juga tidak akan banyak membawa saudaranya. Hanya keluarga dekat saja yang akan diajak ke Yogya untuk lamaran. Nanti saja keluarga besarnya akan diberitahu ketika pernikahannya saja.


Keduanya sekarang sedang berharap cemas dengan perasaan yang tidak menentu, bahkan Naima masih sedikit ragu dengan keputusan yang mereka ambil. Namun dia percaya Alvian pria yang baik yang bisa mempertanggungjawabkan setiap kata yang terucap. Naima percaya itu.


Kini mereka berdua tinggal menunggu waktu yang terus berjalan menuju hari yang akan memulai sejarah perjalanan panjang mereka berdua.

__ADS_1


Happy reading 💜💜💜


__ADS_2