
Hari berlalu, Bizar telah menerima CV Naraya dari Pak Faiz. Dirinya juga telah membaca dan memahami isi CV tersebut. Namun dirinya belum memberitahukan pada seluruh keluarganya karena masih dalam keadaan sibuk. Dan dirinya juga tak lupa mengabarkan itu pada Pak Faiz.
Maklum saja, sang ayah saat ini sedang sibuk-sibuknya karena ada upacara kenaikan pangkat. Sedangkan Syauqi sendiri sibuk mengarahkan anak buahnya untuk acara Pernikahan sahabat dari Luthfi, Manda dan Argi. Bahkan MUA yang dipilih pasangan itu adalah Naswa, auntynya.
Bizar berpikir akan membicarakan ini nanti saat semua sudah tak lagi sesibuk sekarang.
Jika Bizar sedang berbunga-bunga dengan CV yang ia terima, maka lain hal dengan Syauqi yang semakin hari terlihat seperti istri dan sosok ibu idaman semua orang.
"Ayo boy sisiran dulu, letakin ipad nya oke." Syauqi menghampiri bujang kecilnya yang sudah rapi dengan baju seragam keluarga.
Saat ini mereka sedang bersiap untuk hadir ke acara pernikahan Manda dan Argi.
Ghifa menoleh, dan dengan segera meletakkan ipadnya diatas ranjang. Sudah beberapa hari ini bocah kecil itu tinggal dirumah Doegantara dan tidur bersama Syauqi.
"Apakah papi sudah datang mommy ??" Tanyanya seraya mendudukkan diri disamping Syauqi. Memposisikan dirinya senyaman mungkin agar sang mommy bisa menyisir rambutnya.
Syauqi menggeleng. "Mommy belum tau sayang, mungkin sudah. Bukankah Oma Aleta dan Opa Guntur juga akan berangkat bersama kita, mungkin papi sedang menjemput mereka." Jawabnya.
"Oh ya mommy, kenapa rambut mommy seperti itu ?? Jelek tau kayak ibu ibu pejabat yang sudah tua." Ocehnya seraya menatap tatanan rambut Syauqi yang memang sengaja digulung supaya lebih serasi dengan kebaya yang dikenakannya.
"Terus harus gimana sayang ??"
"Ya diubah, please mommy jangan menambah keburukan pada diri sendiri." Jawab Ghifa dengan tatapan remeh.
OmG, kumat sudah lidah tajam nya.
"Oke mommy ubah." Syauqi mengangguk pasrah. Kemudian ia buka gulungan rambutnya dan ia jepit sebagian kebelakang dan sisanya terurai bebas.
Melihat sang mommy sudah berubah, Ghifa teesenyum bangga. "Nah gini baru cantik, yang tadi itu jelek nggak pantes."
Syauqi hanya tersenyum.
****
Kini kesemuanya sudah berada ditempat acara. Syauqi menggandeng lengan Luthfi dengan mesra dan Ghifa yang berada digendongan Luthfi. Semua mata memandang takjub, mereka terlihat seperti keluarga sungguhan.
"Selamat ya mas Argi dan Mbak Manda." Ucap Syauqi saat menyalami kedua mempelai.
"Selamat buat kalian, moga cepet." Kini giliran Luthfi.
"Iya sama-sama, oh ya ini gimana ini kelanjutannya. Makin nempel aja."Goda Argi.
"Iya nih, kapan Qi pastinya ?" Tambah Manda dengan iringan tawa.
Syauqi dan luthfi hanya membalas dengan senyum.
"Yee malah senyum senyum."
"InsyaAllah dalam waktu dekat." Jawab Luthfi.
Argi dan Manda hanya mengangguk saja sebagai tanggapan. Tapi dalam hati mereka mendokan yang terbaik.
"Hey bujang kecil kenapa tidak memberi ucapan ??" Tanya Manda saat melihat Ghifa yang tumbenan diam.
Ghifa merubah fokusnya. "Kepala tante Manda kayak kue, ada lilinnya. Ditusuk tusuk."
Semua menatap Ghifa, apakah sejak tadi anak ini diam karena mengamati tusuk konde Manda ?
"Itu hiasan untuk orang menikah sayang." Jawab Syauqi memberi penjelasan.
"Gimana cantik kan ?" Tanya Manda.
"Nggak, Tante Manda serem kayak joker."
"Astagfirullah istri om engkau hina wahai bocil." Saut Argi yang tidak terima.
Luthfi hanya diam. Dan Syauqi menggeleng kan kepalanya. "Sayang yang make up Tante Manda itu Oma cantik loh, nanti kalo Oma cantik denger kamu dijewer lagi mau ??" Tanya Syauqi.
Ghifa bergidik mendengarnya. "Ya ampun salah ucap, tapi bener kayak joker."
Pasangan pengantin itu hanya mampu tepuk jidad.
Kini Luthfi dan Syauqi serta Ghifa sudah kembali pada meja yang disediakan. Menikmati makanan dan menyaksikan rangkaian acara.
Ketiga nya nampak damai dan nyaman. Namun setelah beberapa menit mulai lah menjadi tidak mengenakkan.
Luthfi menjadi incaran para janda kegatelan seperti biasanya.
__ADS_1
Namun bukan Luthfi dan Syauqi jika peduli, mereka saat ini masih menganggap bahwa tidak ada siapa siapa disekelilingnya. Dunia hanya milik mereka bertiga.
Kini Luthfi, Syauqi beserta keluarga berpamitan pulang. Kesemuanya sudah berada diparkiran. Namun saat semua hendak masuk kedalam mobil masing-masing, Pasangan Luthfi dihampiri sosok nenek sihir bersama kurcaci nya.
"Mas Luthfi kok buru buru banget, kita tadi belum sempet ngobrol loh." Ucap nenek sihir itu, yang ternyata adalah Chintya.
"Udah sore, mau pulang." Jawab Luthfi datar.
Bahkan kini Luthfi memilih fokus membukakan pintu untuk Syauqi dan Ghifa
Melihat dirinya diacuhkan, Chintya tak juga ingin menyerah. Dia memegang lengan Luthfi dan sedikit mengelusnya.
"Sebentar saja, kita kan udah lama nggak ketemu.
Luthfi memejamkan matanya menahan amarah, dirinya tak suka sembarang disentuh orang.
"Lepas." Perintah Luthfi dingin, bahkan Syauqi yang berdiri disamping nya sampai merinding.
Namun bukan janda gatel namanya kalo menyerah. Chintya bukannya melepas cekalannya malah menarik Luthfi supaya menghadap nya.
"Kenapa sih mas dingin banget, apa karena ada babysitter anak kamu ini ? Kamu cuek sama aku ??" Tanya nya lagi dengan manja.
Syauqi tak peduli dengan Chintya, sedikit pun tidak. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah apa yang dipikirkan anak chintya saat ini yang melihat perilaku ibunya.
"Lepas ! Saya harus mengantar mommy nya Ghifa." Luthfi menepis tangan Chintya dengan kasar dan kemudian berlalu menuju kanan mobil dan masuk begitu saja.
Melihat Luthfi yang sudah duduk dikursi kemudi, Syauqi langsung inisiatif menyusul sebelum diperintahkan.
Dirinya menunduk kan kepalanya dan tersenyum singkat guna berpamitan pada Chintya yang masih berdiri didekat nya. Syauqi masih menjunjung sopan santun.
Namun itu disalah artikan oleh Chintya. Wanita itu merasa telah dihina oleh Syauqi.
Karena amarah menyulutnya, Chintya seketika menarik rambut Syauqi saat Syauqi hendak masuk kedalam mobil.
Kepala Syauqi tertarik kebelakang. Hingga Syauqi terpaksa mendongakkan kepalanya.
"Kamu jangan merasa diatas angin dan menghina saya, kamu hanya babysitter." Geram Chintya seraya menguatkan jambakannya.
Syauqi masih tenang dan hanya meringis sesaat.
"Kamu ngaca dulu, yang pantes untuk Luthfi itu hanya saya." Lanjutnya lagi semakin emosi. Dirinya tidak berpikir jika apa yang dia lakukan sekarang akan membuat Luthfi semakin membencinya.
Apa kurangnya, begitulah yang dipikirkan Chintya.
"Mbak istighfar." Ucap Syauqi masih tenang walaupun rambutnya mungkin sudah bangak yang rontok.
"Heh diam kamu, kamu nggak tau apa apa soal saya. Lebih baik kamu jauhi Luthfi sekarang juga. Cukup Maira yang jadi penghalang ku untuk mendapatkan Luthfi. Sekarang Maira sudah mati, biarkan Luthfi menjadi milikku." Bentak Chintya semakin menggila.
Luthfi tak tinggal diam, secepat kilat ia menyentak tangan Chintya yang menjambak rambut calon istrinya. Dan menarik Syauqi agar berlindung dibelakang punggungnya.
"Cukup !!! Sekali aku tidak menyukai mu maka selama juga tidak akan pernah. Dulu kau juga melukai Maira dan sekarang kau akan melukai Syauqi ?? Jangan harap." Ucap Luthfi dengan tatapan tajam.
Disisi lain, dua keluarga menyaksikan pertikaian itu. Saat Syauqi dijambak, Aleta akan segera berlari menghampiri namun dicegah oleh Shena. Dan sekarang saat suasana semakin memanas lagi dan lagi Shena mencegah Aleta agar tidak ikut campur.
"Shen, kita harus bantu Syauqi. Kakak nggak mau menantu kakak diperlakukan seperti itu." Lirih Aleta memohon, walaupun dirinya lebih tua tapi dia menghormati Shena.
"Dia juga putri kandung ku kak, tenang saja. Dia bukan wanita bodoh, kita cukup menyaksikan dari sini." Balas Shena dengan tenang. Baginya tontonan seperti ini jangan dilewatkan.
Guntur yang juga ikuta cemas sudah berulang kali ingin berlari menghampir, namun Juan dengan santai nya malah merangkul bahunya dan mengajaknya bersansar pada mobil.
"Sudah lah mas, rileks. Ini tidak akan sampai sebrutal acara pengeroyokan maling ayam." Ucap Juan.
Guntur berulang kali menghembus kan nafas kasar. Nggak habis pikir dengan pikiran calon besannya. "Ini membahayakan Syauqi mas Juan, apa kita hanya terus menonton."
Juan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kembali pada Syauqi, kini Chintya semakin dibuat marah. Kenapa Luthfi malah membela wanita rendah seperti Syauqi ??
"Apa yang kamu sukai dari babysitter ini ? Apa yang lebih dari dia haa ?" Tunjuk Chintya tepat diwajah Syauqi.
"Dia hanya wanita rendah yang hanya mengincar hartamu, setelah dia berhasil dia akan meninggalkan mu dan putramu begitu saja. Apa kamu masih tidak bisa melihat itu ?? Dia wanita murahan gila harta." Ucapan Chintya sudah mulai tak terkontrol, dirinya terang-terangan menghina Syauqi.
"Dia tidak tulus pada putramu, dia hanya memanfaatkan putramu untuk mendapatka mu dan kekayaan mu. Setelah itu dia tidak akan peduli pada putra malang mu itu."
Luthfi terdiam, jantungnya seketika berdetak tak karuan. Ia cemas jika apa yang Chintya katakan akan menjadi kenyataan.
Syauqi sudah cukup sabar dengan Chintya selama ini, namun saat dia disebut memanfaatkan Ghifa dan tidak ada ketulusan, hati nya sakit. Dia terlebih dulu jatuh cinta pada Ghifa, bukan Lutfi. Dia bisa jatuh hati pada Luthfi itu karena usaha Ghifa.
__ADS_1
Syauqi maju selangkah, nafasnya berhembus kasar. Emosi juga perlahan menguasai nya.
Plakkk. Tangannya mendarat sempurna.
"Tutup mulutmu, tau apa dirimu tentang ku ??" Tanya Syauqi dengan suara berubah dingin.
Chintya bahkan sempat terkejut karena tamparan yang ia terima dan perubahan Syauqi, namun kemudian tertawa.
"Lihatlah Luthfi, dia siluman rubah yang sesungguhnya. Terkejut bukan ?? Mungkin inilah sifat aslinya." Lagi lagi Chintya mengucapkan kalimat yang memojok kan Syauqi.
Luthfi menajamkan tatapan nya, dirinya marah tapi juga terkejut dengan Syauqi yang seperti ini.
"Sekali lagi diam !! Kamu tidak tau apapun tentang saya." Ketus Syauqi.
Tangannya mengepal erat, siap melayang kapan saja. Matanya memerah tanda ia murka.
"Tulus atau tidak nya saya pada Ghifa itu Ghifa yang merasakan, kau tidak berhak menilainya. Dan asal kau tau, aku lebih dulu jatuh hati pada Ghifa bukan ayahnya."
"Iya dan setelah kau tau ayahnya orang kaya, kau memanfaatkannya untuk menguasai ayahnya beserta hartanya kan ??"
Syauqi semakin marah, dirinya tidak kekurangan uang. Cintanya tulus apa adanya untuk apa mengincar uang Luthfi ??
Chintya merasa diatas angin saat Syauqi diam.
Namun sesaat kemudian, Syauqi mencium pipi Luthfi seraya membisikan sesuatu.
"Maaf sayang. Aku tidak bermaksud." Bisiknya pelan.
Chintya mendengar bisikan itu, dan tersenyum sinis menatap Luthfi. Luthfi mematung, masih mencerna bisikian Syauqi barusan.
"Maaf ?? Kau mengakui nya ? Kau benar hanya mengincar harta Luthfi ?? Hahahah see Luthfi." Ucap Chintya dengan riang.
Syauqi mendengus. "Kau dengar baik baik. Uangku lebih dari cukup jadi aku tidak menginginkan harta Luthfi sedikit pun. Bahkan jika aku mau, semua aset yang dimiliki Luthfi aku mampu membelinya dengan uangku sendiri." Desis Syauqi dengan tatapan sinis yang menghina.
Seketika Luthfi tersadar, bukannya merasa terhina dirinya malah bangga. Syauqi meminta maaf padanya untuk ini ?? Sebegitunya rasa hormat Syauqi padanya.
"Kau tau siapa aku ??"
Chintya menganga, belum percaya dengan ucapan Syauqi.
"Aku Syauqia Ghaitsani Dirgantara, cucu perempuan satu satu nya keluarga Dirgantara. Aku pemilik Syagha Digital Photography yang tersebar diseluruh Indonesia. " Lanjutnya dengan lantang.
Bukan niat untuk pamer, tapi wanita sejenis Chintya hanya akan bungkam jika dibalas dengan kesombongan.
Memang semua orang hanya tau jika Syauqi hanya memiliki studio photo sederhana. Namun siapa sangka, dirinya memiliki perusahan photography yang sangat besar dan bercabang dimana mana.
Studio kecilnya hanya markas, dan duo curut itu adalah kaki tangannya. Ia mengontrol perusahaan dari jarak jauh, dan untuk pekerjaan yang ia turun tangan sendiri itu hanyalah sebatas kegabutan.
Jadi bagaiamana dengan mengincar harta Luthfi ? Sedangkan ia sendiri bergelimang harta.
Chintya semakin shock, siapa yang tak tau Syagha digital Photography ?? Jasa pemotretan yang selalu digunakan semua kalangan. Dari kalangan biasa hingga pejabat dan artis terkenal.
"Maaf jika saya menyombongkan diri, tapi kau hanya akan diam setelah tau siapa saya sebenarnya. Berhenti menilai saya dengan keburukan, apalagi tentang ketulusan saya. Saya menerima Ghifa beserta sang ayah dengan apa adanya."
"Saya ibu untuk anaknya, saya istri untuk ayahnya. Luthfi Renandra, duda milik saya !!"
Syauqi berlalu dan langsung masuk kedalam mobil menyusul Ghifa yang ternyata sudah terlelap karena tidak tidur siang.
Melihat Syauqi yang sudah masuk mobil, Luthfi pun segera menyusul tanpa mengucapkan sepatah kata untuk Chintya.
Chintya masih terpaku dengan apa yang terjadi. Dirinya merenung, membandingkan dia dan Syauqi yang sangat berbeda jauh.
Didalam mobil, Syauqi langsung memeluk lengan Luthfi. Dia menangis.
Seketika Luthfi menghentika laju mobilnya.
"Kenapa ?" Tanya Lutfi.
"Maaf mas, aku nggak maksud hina kamu. Aku hanya ingin membalas setiap tuduhan nya. Aku tulus menerima Ghifa juga dirimu. Maaf." Syauqi sesengukan.
Luthfi mengelus puncak kepala Syauqi, mengecupnya sekali kemudian memeluk nya erat.
"Saya bisa merasakan ketulusan mu. Awalnya saya terkejut dengan ucapanmu, tapi saya sadar sebelum melakukan itu dirimu pun sudah meminta maaf terlebih dahulu bukan ??"
"Maaf sayang maaf."
"Cukup, jangan menangis. Saya tidak akan marah, saya masih milikmu."
__ADS_1
Syauqi semakin mengeratkan pelukannya, rasanya ia sangat bersalah karena merendahkan Luthfi tadi dan menyombongkan diri. Ia takut jika luthfi merasa dihina, dan marah padanya.
Namun kini ia merasa lega, karena Luthfi begitu memahami nya. Mungkin begitulah jika hubungan dengan dasar ketulusan. Semua akan bisa saling memahami bagaumana pun situasi nya.