
Semua orang sudah berkumpul dan menatap penasaran pada Alvian yang hendak memberitahukan sesuatu.
" Begini Pa, Ma, dan semua keluarga yang hadir di sini. Al mau memberitahukan bahwa perempuan yang ada di sampingku ini bernama Naima, dia adalah calon istriku. Jika Papa dan juga Mama mengijinkan Al, akan segera melamarnya." semua orang berbahagia atas pengumuman yang diberikan Alvian, apalagi Mama Siska beliau lah yang paling bahagia dengan kabar ini. Sedikitnya beliau tahu tentang hubungan Alvian dengan Zahra di masa lalu, dengan membawa dan memperkenalkan seorang gadis dan bahkan siap melamarnya berarti Alvian telah melupakan masa lalunya.
Mama sisika berjalan mendekati keduanya. Mama Siska memeluk Alvian dan kemudian Naima. Di ikuti dengan Papa Bagas yang mendekati mereka dan mengatakan bahwa beliau memberi restu pada mereka berdua.
Mereka pun berkumpul membicarakan rencana kedepan untuk segera melamar Naima. Mereka semua sepakat jika akan mengadakan lamaran Minggu depan. abahakna Mama Siska mengatakan lamaran akan langsung menentukan tanggal pernikahan.
" Kalian sudah sama-sama dewasa, jadi sebaiknya kalian cepat-cepat menghalalkan hubungan kalian." ucap Papa Bagas pada Naima dan Alvian yang diangguki mama Siska juga Reynan dan Zahra.
Zahra merasa lega dengan kabar ini, entah kenapa rasanya ada satubeban berat yang terlepas dari dirinya. Entah itu rasa bersalah karena melihat Alvian yang masih saja sendiri dan sekarang Alvian menemukan seseorang yang membuatnya terlihat bahagia.
Bukan saja para orang tua yang berbahagia, si kecil Kinanti pun terlihat sedang bermanja-manja pada Alvian dan juga Naima.
" Dady mau menikah sama Mama Ima?" tanya gadis kecil itu sambil duduk di pangkuan Alvian. Alvian pun mengangguk.
" Yey... berarti Dady sama mama Ima nanti bakalan punya adik bayi juga seperti Ayah dan Ibu?" tanyanya polos sambil menatap Naima dan menarik-narik tangan Naima. Naima terlihat tersipu dengan pertanyaan dari Kinanti.
" Tentu saja." Alvian yang menjawab mantap sambil mencubit pipi Kinanti yang menggemaskan.
" Tapi Dady akan tetap sayang sama aku kan?" Kinanti berbicara sambil menunduk, dia seperti merasakan takut kalau kelak Dady nya tidak menyayangi dia lagi
" Tentu saja Dady akan selalu sayang sama Kinan. Seperti ayah dan ibu, mereka juga tetap menyayangi Kinan." ucap Alvian. Gadis kecil itu langsung memeluk erat tubuh Alvian, seolah tidak ingin kehilangan sosok Dady yang selama ini sangat disayanginya. Walaupun ayahnya pun sangat menyayanginya namun jika ada Alvian didekatnya Kinan selalu menempel pada alvian. Semua itu kadang membuat Reynan cemburu melihat kedekatan anaknya dengan sang adik. Namun di sisi lain dia memakluminya karena sejak dari lahir Kinanti mengenal Alvian sebagai ayahnya yang selalu ada untuknya. Walaupunerwka pun telah memberitahunya bahwa Reynan lah ayahnya. Tapi mungkin karena Reynan terlalu lama berbaring koma karena kecelakaan itu membuat interaksi dengan anaknya kurang. Ketika Kinanti sudah dekat dengan Alvian, Reynan baru hadir. walaupun setelah kehamilan Zahra Kinanti kerap bersikap manja dan lebih dekat padanya.
" Nay besok kamu masuk kerja kan?" tanya Vian, setelah gadis kecil yang sedari tadi bergelayutanja padanya beranjak menghampiri ayahnya. Sedari tadi gadis kecil itu selalu mendominasi obrolan mereka dengan celotehannya yang menceritakan apa pun yang dilakukannya baru-baru ini.
__ADS_1
Naima hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang Vian lontarkan.
" Apa setelah menikah kamu akan tetap berkerja?" tanya Alvian. Dia ingin tahu bagaimana jawaban gadis itu. Apa dia berobsesi menjadi wanita karir atau tidak
" Kalau bapak mengijinkan saya bekerja maka saya akan bekerja." sambil menundukkan kepalanya.
" Nay"
" hemmm..."
" Bisakah kamu jangan memanggilku bapak. Aku merasa sudah tua sekali Nay." pinta Alvian. Aini adalah permintaan Alvian yang kesekian kalinya
Alvian sudah meminta Naima jangan menyebutnya dengan panggilan bapak, namun Naima seakan lupa. Mungkin karena dia terbiasa dengan panggilan bapak terhadap Alvian.
" Iya Mas, maaf ucapnya. Wajahnya bersemu merah ketika dia memanggil alvaian dengan sebutan itu. Itu membuat Alvian geli melihatnya.
" Baik Mas." Naima menjawab cepat. Dia tidak ingin berdebat tentang hal ini. Walau bagaimanapun dia menyadari kodratnya sebagai perempuan. Permintaan suaminya adalah titah yang harus dia patuhi. Walaupun dia ada perasaan khawatir jika tidak berkerja maka dia tidak bisa membantu keuangan ibunya. Adiknya masih banyak memerlukan biaya untuk pendidikannya.
Namun Alvian seolah mengerti apa yang di khawatirkan Naima.
" Kamu tenang saja, jika yang kamu khawatirkan ibu dan adikmu, mereka bisa pindah dan ikut tinggal di rumah kita nanti kalau mau.
" tidak usah Mas, ibu tidak akan mau meninggalkan Yogya, disana banyak kenangan ayah katanya. Dulu ketika awal aku bekerja disini pun, ibu pernah diajak pundak kemari tapi beliau tidak mau."
" Kalau begitu jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku." ucap Alvian. Walau bagaimanapun Nanti setelah menikah ibunya Naima akan menjadi ibunya juga. Alvian tidak mungkin tidak peduli dengan keluarga istrinya, apalagi ibu dari istrinya yang telah melahirkan istinya kedunia ini.
__ADS_1
" Nay, kamu menginap disini saja ya." tiba-tiba Zahra menghampiri mereka.
" Al juga mbak nginap di sini?" tanya Alvian. sambil tersenyum.
" Kamu pulang saja Al, rumah kamu kan dekat. Nay biar menginap di sini. Biar Nay, nanti bisa saling mengenal dengan keluarga kita." Naima belum mengiyakan, dia hanya terdiam sja mendengarkan apa yang di ucapkan calon kakak iparnya.
" Baiklah, kamu silahkan mendekatkan diri dengan calon mertua dan juga calon kakak ipar." ucap Alvian setengah berbisik pada Naima.
" Baiklah mbak, tapi saya tidak bawa baju. Nanti merepotkan mbak disini."
" Tenang saja, aku punya beberapa gamis baru yang belum terpakai. " Naima pun hanya mengangguk.
" Ayo, tidak baik kalian berduaan terus." ajak Zahra sambil mengapit lengan Naima untuk diajak bergabung bersama keluarga lainnya. Membuat Alvian kesal dengan sikap kakak iparnya yang menjauhkan dirinya dengan Naima.
Setelah beberapa langkah Zahra pun berbalik.
" Al, kamu dipanggil Papa dan juga Mas Rey, sana cepat temui mereka!" Zahra kembali melangkah sampul tetap mengapit lengan Naima. Dia tidak menunggu jawaban Alvian. yang penting dia sudah menyampaikan pesan mertua dan juga suaminya tadi yang menyuruhnya memanggil Alvian. Maka dari itu Zahra tidak ingin Naima sendiri dan mengajaknya untuk diajak bercengkrama bersama mertua dan juga saudaranya yang lain.
" Terimakasih Nay," Zahra berkata pelan seolah untuk dirinya sendiri, namun Naima masih mendengarnya.
" Untuk apa mbak?" Naima heran dengan ucapan terimakasih yang Zahra ucapkan. Dia merasa tidak melakukan sesuatu untuk calon kakak iparnya tersebut.
" Terima kasih karena kamu wanita baik yang sudah bisa meluluhkan hati Vian. Jangan pernah meninggalkan dia, apapun yang terjadi." Naima tidak mengerti kenapa wanita yang berjalan disampingnya ini terlihat begitu memahami calon suaminya. Namun dia tidak ingin bertanya dan hanya mengangguk saja ketika Zahra berkata untuk selalu mendampingi Alvian sampai kapanpun.
Happy reading 💜💜
__ADS_1
Maaf mulai tidak bisa update setiap hari.🙏