IMAM KU

IMAM KU
Bertemu


__ADS_3

Disisi lain, terlihat satu keluarga beranjak dari duduknya setelah menikmati makan malam bersama. Keharmonisan mereka membuat semua orang yang melihat nya akan merasa sedikit iri dengan itu.


"Oma seneng banget bisa makan malam bareng cucu oma yang paling ganteng." Ucap wanita paruh baya dengan penuh kebahagiaan terpancar di wajah senjanya.


"Ohoo, Oma emang paling ngerti kalo Ghi ganteng." Jawab bocah kecil yang berjalan disamping wanita paruh baya itu.


"Masih gantengan gue cil daripada elu." Saut seorang remaja.


"Ren, jangan bikin rewel keponakan kamu. Kita udah susah payah bujuk dia supaya ikut makan malam." Seorang pria paruh baya menengahi.


Membiarkan dua manusia beda generasi itu beradu tampang bisa membuat waktu berputar lebih lambat dan berefek samping pada sakit kepala para pendengarnya.


Tanpa menunggu jawaban ataupun sanggahan, pria paruh baya itu melanjutkan langkah kakinya dan diikuti sang istri. Melihat tetua sudah melangkah akhirnya dua makhluk yang hampir beradu ketampanan itu mengekor pasrah sambil sedikit saling melirik tajam tanda provokasi.


Keduanya saling diam, tidak memiliki niat untuk sekedar bertegur sapa. Melihat tingkah keduanya, sepasang suami istri itu hanya menghela nafas pelan, hingga akhirnya salah satu diantaranya membuka suara.


"Oh my God !!!! Aku melupakannya." Teriaknya mengagetkan orang yang berada diaekitarnya.


Reflek pemuda yang disebelahnya mengayunkan tangan. "Kaget gue ealahhh." Ucapnya seiring dengan mendarat nya sitangan diatas kepala.


"Sakit Om, kira-kira dong sama anak kecil." Gerutunya seraya mengelus Kepalanya yang nyeri. Bisa-bisanya sekasar itu pada anak dibawah umur.


Sepasang paruh baya menatapanya tajam. "Ren jangan main kasar, kasian Ghi." Ucap Wanita paruh baya itu dengan lembut, tangannya bergerak lembut mengelus kepala sang cucu.


Sipemuda yang dipanggil Ren itu mendengus, jika bukan karena kaget dan reflek dirinya juga tidak akan melayangkan tangan. "Maaf cil, lu sih ngagetin." Katanya pelan.


"I'm okay." Singkat si bocil yang juga merasa iba dengan pemuda itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa ? Kok tiba-tiba teriak." Tanya pria paruh baya pada bocil yang berdiri dihadapannya.


Bocil itu mendongak. "IPad Ghi tertinggal, Ghi izin ambil ya Opa." Ucapnya seraya menunjuk dimana keempatnya menikmati hidangan makan malam beberapa menit yang lalu.


Seolah tau masa depan yang akan terjadi, pemuda yang dipanggil Ren itu membuang muka. Bukan nya tak ingin membantu keponakan nya namun situasi membuatnya tak ingin kembali ketempat mereka makan tadi dikarenakan keberadaan pelayan yang sempat menggoda iman nya.


Dan benar saja, pria paruh baya itu langsung menatapnya tajam. "Biar om kamu yang ambilkan." Ucapnya kemudian.


Melihat pemuda itu tak bergeming, bocil itu tau apa yang harus dilakukannya. "Om kekenyangan tuh opa, kasian. Biar Ghi ambil sendiri aja, kan cuma deket, Opa bisa tunggu disini." Jelasnya dengan penuh harap, lagian dirinya juga ingin memastikan sesuatu yang sempat dilihatnya.


"Tapi sayang....."


"Aman oma, Ghi kan pemberani." Ucapnya dan kemudian berlalu sebelum mendapatkan jawaban.


Setelah bocah itu menjauh dari pandangan, kedua paruh baya itu mengalihkan pandangan. "Nggak usah kamu buang mukamu itu, nggak akan ada yang mau pungut juga." Ucapan pria paruh baya itu menyakitkan.


Pemuda yang menjadi bahan sindiran melotot kan matanya tanda tak percaya. "Eihh anak sendiri dihujat ?? Ini produk Papa dan Mama waktu di Timor Leste, bisa-bisanya nggak sadar diri." Ucapnya setengah shock.


Mendengar ucapan anaknya, sepasang paruh baya itu hanya mendengus kesal, memang itu produknya jadi kalo jelek juga keturunan mereka.


**


Matanya berkeliling memantau situasi, padahal IPad yang tertinggal sudah ditangan tapi instingnya masih mengatakan jika ada sesuatu yang terlewatkan.


"Atau salah liat ??" Gumamnya.


Pandangannya terus menyisir keramaian disana hingga fokusnya tertuju pada meja dipaling ujung. "Itu dia yang dicari, jodoh emang nggak kemana." Ucapnya dengan senyuman bahagia.

__ADS_1


Ditempat yang dimaksud, manusia berbatang masih asik memandang pelayan seksi menggoda iman. Nggak yang dewasa ataupun yang masih bocil, mata mereka masih menikmati indahnya makhluk Tuhan yang sedang mondar mandir.


Hingga para perempuan hanya mendengus serta menghela nafas panjang berulang kali. "Segatelnya aku ya nggak gitu juga." Ucap Shazia diiringi umpatan.


Sedangkan bocil perempuan berusaha menutup aset masing-masing dengan tangan seolah takut menjadi bahan fantasi. "Masih pada datar nggak usah parnoan." Cuek Sauqi menanggapi polah para bocil.


Tidak ada yang merespon Shazia ataupun Sauqi, hingga suasana kembali hening. "Mommy !!" Sebuah suara mengisi keheningan.


"Mommy !!" Panggilnya lebih keras.


Sauqi mengerutkan dahi heran. "Kok kamu disini ? Sama siapa ?" Tanya Sauqi setelah menyadari keberadaan pangeran kecilnya.


"Sama Oma sama Opa." Jawabnya seraya memeluk tubuh Sauqi.


Sauqi membalas pelukan itu. "Terus mereka mana, kok kesini sendiri ?" Tanyanya.


"Mereka disana, tadi ipad Ghifa ketinggalan. Terus pas Ghifa ambil liat ada Mommy disini." Jelasnya seraya menunjuk kesuatu tempat dimana ada sepasang paruh baya dan 1 pemuda seumuran Kahfi.


"Jadi kamu udah mau pulang ?? Yaudah mommy anter kesana yaa." Ucap Sauqi penuh kelembutan. Adegan tersebut membuat semua yang satu meja dengan Sauqi merasa heran dan takjub dalam waktu bersamaan.


"Siapa ?"


"Kok Kak Sao bisa selembut pantatt bayi gitu ?"


"Kak Sao nggak kerasukan tuyul tampan itu kan ??"


Banyak pertanyaan yang terlontar, namun Sauqi hanya mendengarkan tanpa niat memberi jawaban. Orang yang sudah mengetahui seperti Bizar, Shazia dan Pasha hanya melihat sekilas namun tetap saja timbul rasa penasaran terutama dipihak Pasha.

__ADS_1


__ADS_2