
@-----@
~Dirumah Rudi~
Sejak mengetahui sebuah fakta yang memalukan, Rudi tak lagi bisa membendung amarahnya. Wajahnya memerah akibat menahan emosi, dia sadar tempat. Namun saat ini dirinya telah tiba dikediamannya, dia bebas meluapkan kekesalan dan kekecewaan nya akibat ulah memalukan sang putra yang selalu ia banggakan.
Bughh!!
Kepalan tangan melayang dengan sekuat tenaga menghantam rahang kokoh Pasha. Karena dirinya tidak siap menerima amukan sang ayah akhirnya ia sempat terhuyung kebelakang. Pasha menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"KAMU!! BETAPA MALU DAN KECEWA NYA PAPA ATAS ULAHMU, BAGAIMANA MUNGKIN KAMU MENGHIANATI KEPERCAYAAN YANG BERTAHUN LAMANYA DIBERIKAN PADAMU??" Rudi marah, tangannya menunjuk ke arah Pasha dengan tatapan tajam. Rasa kecewanya, rasa malunya berkumpul menjadi amarah.
"Maafkan Pasha Pa. Pasha khilaf, aku salah dan sekarang aku menyesal." Lirih pasha, dirinya benar-benar menyesal sekarang. Jika tau akan seperti ini mungkin dirinya tidak akan masuk dalam godaan Shazia kala itu.
"PENYESALAN MU ITU PERCUMAH, PAPA MENDIDIK MU MENJADI LELAKI SEJATI TAPI KENYATAAN NYA MALAH MENJADI BAJINNGAN. PROFESI MU SEKARANG MEMANG DITAKUTI BANYAK ORANG, TAPI BUKAN BERARTI KAMU BISA SEENAKNYA. APALAGI PADA ORANG YANG JELAS MEMPERCAYAI MU." Ucap Rudi yang masih dalam mode senggol bacok. Kesalahan putra nya ini teramat fatal maka tiada kata ampun untuknya.
"Mama nggak nyangka kamu tega melukai hati Sauqi, kamu menyakiti hati calon menantu idaman mama. Apa kurangnya Sauqi sampai kamu tega menghianati kepercayaan nya? Mama nggak habis pikir, tapi untungnya Sauqi sama seperti Shena, dia tangguh dan bijak. Bagaimana jika Sauqi adalah wanita yang lemah?" Kini Rania yang bersuara. Wanita itu hanya menangis sejak keluar dari restoran hingga wajahnya terlihat sembab. Malu tentu saja, tapi rasa kecewa lebih mendominasi, bagaimana bisa terima jika anak yang dibesarkan nya dengan kasih sayang malah berulah seperti lelaki tak tau diri.
"Sauqi nggak kurang apapun Ma, Sauqi... Sauqi sempurna, sangat sempurna. Pasha yang salah, Pasha yang bodoh telah melakukan kesalahan ini. Bagaimana pun caranya Pasha akan berusaha untuk mendapatkan Sauqi kembali demi Mama, Pasha akan memperbaiki semuanya Ma." Seraya berlutut dihadapan sang ibu yang tengah terisak, Pasha memberanikan diri untuk mengatakan segala apa yang telah dipikirkan nya. Dirinya bertekad akan merebut hati Sauqi kembali dan memulai semua dadi awal.
"BODOH!! BUKANKAH KAMU PUNYA TELINGA?? APA KAMU TIDAK DENGAR APA YANG JUAN KATAKAN? APA KAMU LUPA APA PERMINTAAN SHENA PADA PAPA DAN MAMAMU INI??" Bentak Rudi seraya menyingkirkan Pasha dari hadapan sang istri, dirinya muak melihat putranya sendiri.
__ADS_1
Pasha tertegun dengan pertanyaan sang ayah, jelas-jelas jika Shena menginginkan orangtua nya untuk memastikan jika dirinya untuk tidak menemui Sauqi lagi apapun alasannya. Dan barusan dirinya dengan percaya diri akan memperbaiki semuanya? Mendapatkan Sauqi kembali?
"Mama tidak akan pernah membiarkan mu menemui Sauqi lagi, Mama harap kamu mau menerima ini semua. Secepatnya kamu harus melupakan Sauqi jika kamu masih bisa sadar diri." Ucap Rania yang sudah meredakan tangisnya. Keputusan nya sudah bulat dan tidak boleh dibantah, ini permintaan Shena dan dirinya tak ada niatan untuk menolak itu.
"Papa akan minta atasan kamu untuk mengirimkan mu kembali keperbatasan, cepat atau lambat Papa akan mencari tau apa saja yang udah kamu lakukan dengan Shazia dibelakang Sauqi. Jika melampui batas, papa akan tarik kamu pulang untuk bertanggungjawab." Sambung Rudi yang sudah lebih tenang namun setiap katanya merupakan ancaman.
Mau tidak mau, suka tidak suka maka Pasha harus tetap menerimanya. Sebelum sang ayah benar-benar mengirimkan dirinya kembali keperbatasan, dia harus meluangkan waktu untuk kembali bertemu dengan Sauqi tanpa sepengetahuan orangtuanya.
________
~Rumah Dion~
Berbeda rumah namun hampir bersituasi sama, saat ini dikediaman Dion juga sedang diliputi dengan amarah dan kekecewaan. Jika di keluarga Pasha, Rudi yang sangat emosi jiwa maka di rumah Shazia yang beperan sekarang adalah sang ibu, Ara.
"BERHENTI, MAMI NGGAK NYURUH KAMU MASUK KAMAR." Bentak Ara saat Shazia hendak melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Apalagi sih Mi, aku capek." Jawab Shazia seakan tidak memiliki masalah.
"KAMU!! SADARKAH KAMU DENGAN PERBUATAN MU SHAZIA?? BISAKAH KAMU PIKIRKAN PERASAAN MAMI DAN PAPA MU??" Tanya Ara dengan suara yang meninggi, bahkan anak bungsunya tak berani menyambut kedatangan nya.
"Mi, ini semua bukan salah aku. Sauqi aja yang gak bisa bikin nyaman Pasha sampek berpaling ke aku." Lagi-lagi Shazia bersikap enteng dan tak memperdulikan amarah ibunya.
__ADS_1
"APAKAH PAPA PERNAH MENGAJARKAN MU UNTUK BERKHIANAT ZI?? KAMU TIDAK KAH BERPIKIR BAGAIMANA PAPA? PAPA MALU DAN KECEWA!!!" Bukan hanya Ara yang marah, namun Dion juga tak bisa menahan emosinya. Anak yang selalu dimanjakannya, terlihat polos dan lembut tapi berduri dibelakang. Dirinya sebagai orangtua merasa sangat tidak berguna ketika buah hatinya bertingkah sangat terhina.
"Papa jangan baperan deh, jangan kemakan omongan Om Juan dan Tante Shena, mereka tu nggak tau apa-apa. Aku itu cuma manfaatin kesempatan, kalo aku bisa jadi yang terbaik untuk Pasha itu udah keberuntungan aku dong." Jawab Shazia yang masih keras kepala, dirinya tidak mau disalahkan dalam hal ini. Mendapatkan Pasha adalah tujuan utamanya, sebab itulah dia merasa menang ketika Sauqi memutuskan untuk melupakan kehadiran Pasha.
"SEJAK KAPAN KAMU MENJADI MURAHAN? MENYUKAI DAN MEREBUT KEKASIH SAHABATMU SENDIRI HAA?? SEJAK KAPAN?? APAKAH KAMU PIKIR MAMI AKAN BANGGA DENGAN PERBUATAN MU INI?? APAKAH KAMU SUDAH MERASA MENANG DENGAN MENDAPATKAN PASHA??" Amarah Ara semakin terpancing, putrinya menjadi keras kepala dan selalu menjawab setiap pernyataan yang dirinya sampaikan. Apakah rasa iri membuat putrinya semakin hilang akal.
"Haha, Mami harusnya juga sadar. Bagaimana Mami dulu yang berusaha merebut Om Juan dari Tante Shena? Kita sama-sama murahannya Mi, bedanya aku berhasil Mami nggak."
PLAKKKK!!
Tamparan keras mendarat lagi dipipi mulus itu, Dion tak bisa mengontrol emosinya. Jawaban sang putri membuat sang istri lemah tak berdaya dan hanya biaa terisak.
"YAA, MEMANG MAMI MU JUGA PERNAH MELAKUKAN ITU, TAPI TIDAK SEMURAH KAMU YANG MENGANDALKAN TUBUH DEMI MEREBUT PASHA DARI SAUQI. INGAT BAIK-BAIK SHAZIA, PAPA TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN MU KEMBALI MENGUSIK SAUQI DIMASA DEPAN. PAPA SUDAH MUAK DENGAN PERILAKU MU, JIKA KAMU TETAP INGIN BERSAMA PASHA MAKA PAPA TIDAK AKAN MELARANG, TAPI JIKA NANTI KAMU TERSAKITI KARENA TIDAK MENDAPAT APA YANG KAMU INGINKAN, JANGAN PERNAH MENGADU DENGAN PAPA DAN MAMI MU." Putus Dion pada akhirnya, dengan segera dia membawa Ara masuk kedalam kamar untuk menenangkan diri. Dirinya sudah cukup malu dengan perbuatan darah dagingnya hingga dia tak lagi peduli dengan apa yang akan dilakukan Shazia kedepannya.
Dirinya dan istri cukup memastikan bahwa Shazia tak lagi mencoba mengusik Sauqi dimasa depan. Untuk bagaimana Shazia nantinya, dirinya tak lagi peduli karena sudah sangat malu dengan semua perbuatannya.
Rasa canggung akibat masalah istrinya dulu baru mereda setelah kelahiran Raditia putra bungsunya. Namun sekarang sang putri sulung malah membuat masalah yang kembali menyinggung Shena. Dirinya yakin jika saat ini dan kemudian hari Juan tidak akan memafkan keluarga nya terutama Shena.
||||||||||||||°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°|||||||||||||||
Assalamu'alaikum warga🙏
__ADS_1
Maapkan aku ya yang baru nongol, kemaren nggak bisa update karena henpun nya aku kecemplung aer pas hari hujan jadi harus perawatan dulu di spesialis 🙏 Dan Alhamdulillah sore ini udah sehat kembali makanya lamgsung update, sekali lagi maap ya warga😇