
Siang menjelang sore, lalu lalang kendaraan semakin padat merayap. Para helm ijo terdampar sana sini bagaikan lumut dipinggiran kali, suara bising klakson dan deru kendaraan saling bersautan layaknya paduan suara tukang ikan dipasar.
Lampu lalu lintas masih enggan berubah warna. Panas dan engap menjadi pelengkap ditengah nestapa.
Semua orang dipenuhi peluh didahi, asap mengepul hendak emosi. Namun semua itu hanya berlaku untuk orang dengan sertifikat kewarasan. Tapi tidak untuk pemuda dengan wajah tampan rupawan yang malah tersenyum senang.
Membuat sang adik bergidik.
"Serem bangkke." Umpat Kahfi. Wajah Bizar yang mengembangkan senyum menawan membuatnya ingin memukul dengan sebongkah es batu rasa durian.
"Bang lu bisa ga sih normal kek pengendara lain, sumpek gue liat elu begini." Gerutunya dengan suara tinggi, suara bising diluaran membuatnya semakin ingin memaki.
Bizar menoleh, senyum masih tak lepas dari wajah tampannya. "Lah ngapa kudu samaan mereka, gue nyaman begini." Jawabnya.
Kahfi mendelik sengit, ini macet dan Bizar bersikap biasa seolah sedang piknik dihamparan padang rumput nan luas. Budeg kah dia jika diluar sana sudah terjadi keributan.
"Lu gila bang, ini kejebak macet bang bukan lagi ngemall. Itu bibir senyum mulu kek menang undian pepsodentt." Balasnya dengan emosi, ya kalik ditengah panas seperti malah pamer Gigi.
"Gue lagi seneng aja dek, kapan lagi kan bisa menikmati hidup." Jawab Bizar dengan tanpa dosanya. Bahkan senyum memuakkan yang membuat Kahfi meradang malah terlihat semakin mengembang bak adonan roti awan.
Cihhh.
Rasanya Kahfi ingin menjambak rambut si abang hingga botak.
"Orang normal mah kejebak macet emosian, hareudang euy. Ini malah menikmati, sertifikat kewarasannya udah kadaluarsa anjimmm." Omel Kahfi tepat saat lampu hijau menampakkan eksistensinya.
Dan selama melanjut kan perjalanan, Kahfi hanya diam. Dirinya sudah cukup jijik melihat sang abang yang senyum senyum sendiri.
Bahkan hingga menapakkan kaki dirumah, senyum Bizar tak juga lenyap.
Syauqi yang melihatnya tak tahan untuk tak menggoda. "Ada apakah gerangan abang kembar ku ?" Tanyanya dengan alis turun naik seperti jungkat jungkit.
"Gurunya Kahfi beneran cantik euy." Jawab Bizar dengan senyum lebar. Matanya melirik sang adik yang manyun lima senti.
"Widih langsung ketemu aja, gimana cerita nya ?" Jiwa kepo Syauqi tak bisa diredam, jiwa ke emak emakan nya sudah mulai on.
__ADS_1
Kahfi yang hanya sebagai pendengar berdecih malas. Jadi si abang selama perjalanan pulang senyum nggak jelas sampek bikin merinding disko cuma gegara ga sengaja ketemu sama gurunya. Ooohh biadabb memang, batin Kahfi sebal.
"Gimana bang ? Cerita dong, jangan malah cengar cengir kek otan dapet pisang." Desak Syauqi.
"Dek ceritain dong." Lanjutnya mendesak Kahfi, pasalnya Bizar hanya menanggapinya dengan senyum.
"Tadi gak sengaja bu guru nyamperin gue pas nungguin elu jemput kak, kebetulan juga moment nya pas. Ketemu deh dia. Sumpah kak sejak tadi dia begono, jijik gue liat senyumnya." Jelas Kahfi panjang lebar. Syauqi melirik sang abang dan masih terlihatlah senyum mengembang itu, membuat Syauqi ikutan mual dan merinding tak karuan.
Benar kata Kahfi, abangnya menjijikan dengan senyumannya. Batin Syauqi ngeri.
Tak lagi memperdulikan si abang yang tersenyum senang, Syauqi memilih untuk meninggal kan rumah. Kahfi memilih mengurung diri dikamar dan berendam, berharap menghilang kan sawan yang menempel akibat ulah seram sang abang.
Shena pergi mengekor sang suami dinas keluar kota, tumbenan juga nyonya rumah meninggalkan kandangnya. Sejak ada serial drama layangan potek, Shena tak ingin terpisah jauh dari Juan. Jikalau bisa jangan sampai ada jarak diantara dirinya dan misua, walaupun itu hanya 1 senti sekalipun.
° ° °
Saat ini Syauqi sedang berada dipondok es milik Farhan. Dirinya tak sendiri melainkan bersama Manda dan Juga Ghifa tentunya.
Ketiganya kini sedang menikmati sore dengan segelas minuman favorit. Awalnya Syauqi tak ingin kemana mana karena sedang masa haid, males gerak biasanya.
"Mommy kenapa kok cemberut, jelek tauk kayak bebek." Terus terang Ghifa tanpa filter.
Syauqi hanya tersenyum tipis.
"Ngapa sih lu gitu amat mukanya. Lecek tauk kek duit seribu kagak laku buat beli terasi." Ucap Manda yang juga memperhatikan Syauqi dengan seksama.
"Lagi masa masa mood awut awutan mbak, dirumah malah ngeliat abang kembar gue kek biawak menang arisan nyengir mulu." Jelas Syauqi.
Manda hanya mengangguk saja, dirinya paham betul kalo lagi masa anu itu hal kecil aja jadi perkara. Liat semut seneng aja kita susah.
Sesama perempuan pasti saling memahami.
Ghifa tidak tertarik dengan dua toa masjid berkedok bidadari itu. Baginya es pokat kocok lebih menggoda.
Selagi calon mommy nya nggak di serobot orang mah dia tetep kalem dan anteng. Selepas itu serah dah mau ngapa.
__ADS_1
"Lu gimana ama bapaknya bocah Qi ?" Tanya Manda sedikit menggali informasi. Lumayan bisa jadi bahan ledekan buat si duda.
"Aman mbak, ternyata pak duda gak dingin dingin amat." Jawab Syauqi dengan senyum malu. Wajahnya pun sedikit merona.
Manda menganga tak percaya. "Maksud kamu gimana Qi ?"
"Yaa gitu mbak, pak duda itu aslinya kek mocacino anget tapi berkedok es kepal milo."
"Wihhh bisa nih buat godain dia Qi. Asal kamu tau yaa, semenjak Ghifa umur 1 tahun setengah, gue ama calon udah sering banget bujukin dia buat deket ama perempuan, tapi gagal terus. Eh sampek ketemu sama elu sekarang ini."
"Gak nyangka aja gue, kalo dia masih bisa luluh. Apalagi sama gadis kayak lu." Celoteh Manda tanpa titik koma.
Bahkan tanpa sadar, yang sedang digunjingkannya sudah berdiri dengan tatapan sinis.
Syauqi yang sadar sejak dirinya mengucapkan es kepal milo hanya tersenyum kikuk seraya mengelus tengkuknya yang meremang.
Habislah kau mbak Manda. Batin Syauqi mengasihani.
"Kalo bisa ya Qi kamu harusnya manfaatin tuh kesempatan, bikin dia sebucin bucinnya. Kayak cerita pak duda di novel novel." Sambung Manda masih menggebu, sepertinya dia tak kan puas jika tidak sekalian mengompori Syauqi.
"Kompor aja terus." Ucap Luthfi sinis.
Namun lagi dan lagi, Manda belum tersadar. "Diem ah lu, kapan lagi liat tu duda bengek bucin ama gadis bar bar kek elu Qi."
Syauqi tersenyum ngeri, sedangkan Argi si calon suami Manda hanya mampu menepuk jidadnya sendiri tak habis pikir.
"Aunty Manda ngeledekin Papi pas ada orangnya, ini baru real ngomongin orang didepan." Ghifa mengacungkan dua jempol nya bangga.
Aunty Mandanya the best lah.
Seakan sadar situasi, Manda perlahan menoleh kan kepalanya. Matanya bersitatap dengan Luthfi, Senyum canggung terukir.
"Puas ??" Hardik Luthfi dengan seringaian.
"Ampun pak Bos, nggak ngulang deh. Bulan madu tiketnya jadikan ke Lombok." Manda memelas.
__ADS_1
Dalam benaknya nggak lagi-lagi deh. Ngeri amat nih singa hutan berkedok duda. Pawangnya aja keliatan ciut.