
Hari pernikahan sudah semakin dekat, namun kegelisahan di hati Naima seakan tak menghilang sedikitpun. Haruskah Naima membatalkan semuanya, namun pertanyaan itu hanya berputar di kepalanya saja. Melihat persiapan sudah hampir sempurna, keluarganya pun sangat berbahagia menjelang hari pernikahannya. Apalagi sang ibu tercinta yang terlihat bahagia, semua itu terlihat dari semua persiapan yang dilakukan. Rahma sangat antusias, penyakit tua yang di deritanya seakan hilang melihat anak gadisnya akan segera menikah. Maka tugas beliau pun akan berkurang karena tanggung jawab mengurus Naima akan berakhir ketika Alvian mengucapakan ijab qobul. Bukan dia ingin segera melepas beban itu namun Bu Rahma ingin ketika beliau menyusul suami tercintanya suatu hari, anak-anaknya sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing.
Naima tidak bisa hanya duduk diam menunggu hari pernikahan tiba, dia memutuskan harus mencari tahu kebenaran tentang semuanya.
Naima bersiap-siap untuk pergi, dia akan ke kota X. Menemui Alvian atau siapa saja yang bisa membuat hatinya tenang. Apalagi Alvian yang tidak menghubunginya sejak hari itu, semakin menambah kegelisahannya. Kenapa sikap Alvian seakan membenarkan semua prasangka yang bersarang di benaknya.
Naima akhirnya pamit pada ibunya akan menemui seorang teman, ibunya yang merasa heran kenapa Naima pergi dengan terburu-buru. Namun prasangka buruknya segera dia tepis. Bu Rahma percaya pada Naima. Ya, Naima memang anak yang penurut, hampir tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu mengikuti apa yang dikatakan orang tuanya.
Naima berangkat dengan penerbangan pagi, setelah dia memesan tiket secara online.
Walaupun dia sebenarnya tidak memiliki tujuan pasti namun dia melangkah dengan pasti menuju kota X.
Ketika Naima sampai di kota X. Dia memutuskan untuk pergi ke hotel Zayara, itu adalah hotel milik Reynan, calon kakak iparnya. Dalam perjalanan menuju hotel Naima, tak henti-hentinya merapalkan doa dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan untuk datang ke kota ini adalah yang terbaik.
Naima yang duduk di kursi penumpang hanya memperhatikan jalan yang dilewatinya dibalik kaca taksi yang dinaikinya. Naima melihat gedung-gedung tinggi yang berjejer rapi, pohon-pohon hijau yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan sekitar, pikirannya pun hanyut pada peristiwa lalu ketika beberapa kali dia melewati jalan ini bersama Alvian.
__ADS_1
Namun tunggu, ada satu pemandangan yang membuat hatinya bergemuruh bagai petir di tengah badai lautan. Matanya memanas siap meluncurkan deraian bulir bening yang membasahi pipinya. " Alvian" satu nama yang bahkan hanya terucap dalam hatinya.
Naima melihat Alvian yang sedang duduk di sebuah taman yang Naima lewati, namun bukan itu yang membuat hatinya sakit. Naima melihat kebersamaan Kinan, Alvian dan juga Zahra yang terlihat seperti sebuah keluarga kecil nan bahagia.
Keputusan Naima yang datang ke kota X. Tidak ingin menjadi sia-sia. Dia tetap meneruskan niatnya mendatangi hotel. Dia ingin bertemu dengan calon kakak iparnya dan menanyakan langsung kebenarannya. Dia tidak ingin bersikap egois dan mempunyai pikiran yang picik.
Taksi berhenti tepat di depan hotel Zayara. Bergegas Naima turun setelah membayar ongkos taksi. Langkahnya mantap memasuki lobi hotel, Naima di sambut dengan senyuman ramah pegawai di sana.
Naima berjalan mendekati resepsionis dan bertanya keberadaan sang pemilik hotel.
" Maaf, anda ada siapanya Pak Reynan dan ada keperluan apa mencari beliau?" pertanyaan Naima malah dijawab dengan sebuah pertanyaan kembali oleh resepsionis itu.
" Saya Naima, ca..." Perkataan Naima terpotong oleh sebuah suara yang berada dibelakangnya.
" Kamu Naima, tunangannya Vian, kan?" Tanya seorang perempuan yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan Naima dengan resepsionis.
__ADS_1
Naima pun membalikan badannya, dan menatap wanita yang berbicara tadi.
Sebelum Naima membuka mulutnya, Zahwa sudah terlebih dahulu membuka suara kembali. ya, wanita itu adalah Zahwa.
" Kamu benar Naima, tunangannya Alvian?" Zahwa kembali mengulang pertanyaannya. Dan hanya dibalas dengan anggukan pelan oleh Naima.
"Kalau begitu ayo ikut denganku!" Zahwa menarik tangan Naima tanpa menunggu jawaban mau apa tidak dari mulut Naima.
Mereka kini tengah duduk di taman belakang hotel yang menyambungkan hotel tersebut dengan hotel belakang yang dibangun Alvian bersama Zahra ketika Reynan terbaring koma. Walaupun memang hotel itu selesai setelah Reynan kembali memimpin hotel tersebut.
Mereka tengah diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya seorang pelayan membawakan minum untuk mereka. Zahwa sengaja meminta pada seorang pelayan untuk membawakan minuman ketika dia berjalan tadi menuju taman ini ketika bertemu dengan seorang pelayan.
Happy reading 💜💜
Maaf ya, benar-benar disibukan di dunia nyata sehingga tidak bisa pergi ke dunia halu dengan waktu yang sangat lama 🤣🤣
__ADS_1
terimakasih untuk semua nya yang masih mendukung novel ini 🙏🙏🙏