
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, panasnya mentari diluar rumah telah berganti dengan senja nan indah. Sauqi berniat untuk segera pamit selepas memandikan bujang kecilnya, namun ntah sengaja atau Memang takdir Tuhan, mau tidak mau dirinya masih tertahan dirumah itu.
°° "Bunda, kakak pulang lambat hari ini."
°° "Sebelum jam 9 harus dah nyampek rumah, bunda nggak mau ngorbanin daster baru bunda cuma untuk bujuk ayahmu."
°° "Siap, yodah kakak bunuh telponnya."
"Telvon siapa Qi ?" Tanya Manda setelah Sauqi meletakkan Ponselnya diatas meja makan.
Sauqi menoleh "Bunda mbak, takutnya kalo nggak izin nggak dapet pintu ntar." Jawab Sauqi diiringi senyuman khas miliknya, nyengir.
"Ouhh anak berbakti yaa. Mbak kirain nelpon do'i minta jemput nanti." Ucap Manda.
Sauqi tertawa garing, do'i dari mana cobak orang lagi putus cinta. "Hahah, nggak lah mbak. Habis gagal." Jawabnya.
"Udah paling bener mbak saranin, kamu nya cuma respon senyum doang." Ujar Manda yang kembali mengungkit perjodohan antara Sauqi dan Lutfi. Kejadian nya baru beberapa jam yang lalu dan sudah diungkit lagi detik ini.
"Ikut takdir Allah aja mbak gimananya. Oh ya mbak, kita mau masak apa ?" Tanya Sauqi yang mengalihkan pembicaraan, niat deketin pak duda emang ada, tapi ya nggak berani langsung blak-blak an juga kan ?
"Liat lauknya Ghifa tadi kayaknya enak, kamu yang masak kan ?" Tanya Manda.
"Iya mbak." Jawab Sauqi.
"Yaudah kamu yang masak deh, terserah apa aja. Sekalian mbak belajar dari kamu." Ucap Manda membuat keputusan dan hanya diangguki oleh Sauqi.
__ADS_1
Kini keduanya sibuk dengan peralatan dapur, terlihat jelas bahwa Sauqi lebih mahir daripada Manda. Jari lentiknya sangat cekatan memotong cabe dan bawang-bawangan. Wajahnya yang manis dalam setingan serius membuat sosoknya menjadi lebih sempurna dimata siapa saja yang memperhatikannya.
Dari ruang keluarga, 3 cucu adam sedang memperhatikan 2 bidadari surga yang sedang bergelut di dapur. Mata ketiganya fokus pada objek pilihan masing-masing.
"Oh my God, why ? Kenapa Mommy Sao look so beautiful ?" Gumam Ghifa menggeleng kan kepalanya. Dirinya sangat terpesona dengan Sauqi yang sedang memasak sore ini.
"Where did you get him, boy ?" Tanya Lutfi yang masih memfokuskan pandangannya kearah Sauqi berada. Bahkan Argi yang sudah memandangnya pun tidak disadarinya.
"Itu papi yang dapetin, papi lupakah ?" Tanya Ghifa yang juga menatap Lutfi.
"Nah kan Fi, udah langsung gas aja jangan kelamaan. Gue denger tadi dia baru putus cinta, jadilah obat untuknya." Saut Argi, setelah puas memandang cakon istrinya lebih baik dilanjutkan dengan menjodohkan sahabatnya.
Lutfi mendengus. "Gak segampang itu, gue nggak mau jadi pelampiasan dia doang." Jawab Lutfi.
"Papi yang malang." Ucap Ghifa mengasihani, udah dicariin kandidat istri masih aja nggak gercep.
"Papi Surabaya boy." Jawab Lutfi acuh.
Argi dan Ghifa menghela nafas jengah, Bidadari surga udah nyata didepan mata tinggal perjuangin selangkah tapi masih slow respon, sebenarnya si Lutfi ini mau nya apa ? Mulutnya terus nolak, tapi matanya masih terpaku pada sosok Sauqi yang sedang berperang dengan cumi dalam wajan.
"Mommy Sao sayang Ghifa, baik, ternyata cantik nggak dekil, pinter masak, sabar, pinter bikin Ghifa ganteng. Uhh kapan Ghifa besar yaa ?" Ucap Ghifa memandang Sauqi dari kejauhan, es dihatinya sudah meleleh sejak Sauqi menjemputnya siang tadi.
"Lah apa hubungannya Boy ?" Tanya Argi nggak habis pikir, atau jangan-jangan ?
"Kalo papi nggak mau Mommy Sao kan bisa buat Ghifa Om." Jawab Ghifa dengan polosnya.
__ADS_1
Argi tak mampu menahan tawanya. "Bwahahahahaha, liat noh anak lu saingan terberat lu. Belom apa-apa dah mau ditikung wkwkwkwk." Ucap Argi disela tawanya.
Tanpa diduga Lutfi menatap tajam keduanya. "Liat aja ntar, Papi bakal bikin Mommy kamu itu ada dirumah ini. Se-la-ma-nya." Tandas Lutfi dengan serius. Argi dan Ghifa langsung berhenti tertawa setelah mendengar keputusan Lutfi yang tak disangka-sangka.
Ghifa mengedipkan matanya berulang tanda tak percaya. "Are you seriously, Papi ?" Tanyanya mencari kebenaran, sungguh kah sudah yakin si papi mengagakan kalimat itu ?
"Papi serius, demi kamu, demi papi sendiri dan demi masa depan kita dirumah ini." Jawab Lutfi yang sama sekali tidak sedang bermain-main dalam setiap ucapan nya.
Ghifa langsung memeluk sang Papi dengan rasa bahagia dalam dirinya. "Thank you very much, my hero."
"Haih, beneran nih ? Kok gue nge-lag barusan ?" Ucap Argi yang masih belum bisa mempercayai kejadian barusan, itu akting atau nyata ?
"Om Argi, Papi and me bakalan berjuang untuk dapetin Mommy Sao gimana pun caranya, dan Om Argi harus bantu okay." Ucap Ghifa menyadarkan kelemotan Argi.
"Jadi serius nih ?" Tanyanya memastikan.
"Keputusan gue nggak pernah main-main." Ketus Lutfi.
"Oh ya Papi, Ghifa boleh panggil Tante Sao dengan sebutan Mommy ?" Tanya Ghifa.
"Bukannya dari tadi dah panggil Mommy ?" Tanya Argi mengingatkan bujang kecil itu.
"Lah iya boy, tapi papi rasa nggak masalah. Ini bisa masuk dalam misi kita." Jawab Lutfi dengan senyuman licik dan dibalas senyuman yang serupa pula oleh Ghifa.
"Yah bapak sama anak lagi seotak." Gumam Argi memandang dua makhluk itu kagum.
__ADS_1