IMAM KU

IMAM KU
Ternyata Iya - End


__ADS_3

Seminggu sudah Syauqi bertingkah tak masuk akal di pikiran manusia normal. Matanya terbuka hanya saat mengerjakan kewajiban nya sebagai umat yang beriman. Selebihnya dia tetap mempertahan kan kemalasannya dan memejamkan mata.


Dia tidak tidur, hanya malas buka mata saja. Untung saja tidak malas bernafas juga.


Hari ini ia dirumah sendiri, Luthfi bekerja dan Ghifa sekolah. Ia benar benar memanfaatkan waktunya dengan rebahan sekaligus peluk guling nyaman.


Dan disaat waktu menunjukkan pukul 11 siang, ia beranjak dan memaksakan diri membuka mata walaupun sebenarnya berat. Ia tiba-tiba ingin makan es batu.


Dengan dorongan keinginan yang membuncah, mata nya tebuka, langkah nya yang sedikit gontai karena malas mulai menapak dan meninggalkan kamar.


Sesampai nya didapur ia langsung mengambil kotakan es batu dan memindahkannya kedalam mangkok kaca. Membawanya kemeja makan dan menikmati nya.


Pandangannya menilisik dan mengamati. Hingga tatapannya terkunci pada toples selai coklat kesukaan Ghifa. Sepersekian detik kemudian, kepalanya terasa berat, matanya berkunang-kunang serta perutnya mulai bergejolak tak nyaman.


Ia mual, kerongkongan nya mulai ada lendir aneh yang memaksa untuk dikeluarkan. Ia merasa jijik dengan selai coklat itu.


Semakin dilihat semakin menjijikam hingga dirinya tak sempat berlari kekamar mandi, muntahannya sudah mendesak dan keluar tepat saat Luthfi dan Ghifa tiba didepan pintu dapur.


Hoeeekkk !!


Luthfi langsung panik, dengan menarik tangan Ghifa, ia lari menghampiri sang istri.


"Are you okey sayang ??" Tanya Luthfi seraya menekan tengkuk Syauqi pelan.


"Mommy sakit ?" Tanya Ghifa cemas.


Syauqi menggeleng, disela sela mualnya ia menunjuk selai coklat.


"Buang......" Lirihnya dan kemudian kembali memuntahkan cairan bening.


Tanpa bertanya, Ghifa langsung menyembunyikan selai coklat itu seaman mungkin dari pandangan sang mommy. Ia adalah pria kecil yang sangat peka dan pengertian. Unchh gemes....


Luthfi mengambilkan air hangat kuku dan menyodorkan dihadapan Syauqi.


Syauqi nenurut dan meminum nya perlahan.


"Sudah lebih baik ??"


Syauqi hanya mengangguk lemah, wajah nya pucat pasi dengan keringat dingin mengalir.


Dengan hati hati Luthfi membawanya dalam gendongan. Dan menuju kamar.


Ghifa mengikuti dari belakang dengan membawa segelas air hangat kuku.


Sesampai nya dikamar, Syauqi direbahkan diatas ranjang. Dengan telaten Ghifa langsung mengoleskan minyak angin kepangkal hidung, jari kaki, tangan dan perut sang mommy dengan lembut.


Luthfi kembali ke dapur untuk membersihkan muntahan Syauqi yang berserai dilantai.

__ADS_1


° ° °


Hari menunjukkan pukul 2 siang, Luthfi tak kembali bekerja dan memilih menemani Syauqi dan putranya Ghifa.


Syauqi masih lemah tak berdaya, matanya berair dan hidungnya memerah. Ia masih nerasa mual.


"Sayang, ini tanda tanda hamil kayaknya. Ayolah besok pagi kita cek sayang." Ucap Luthfi dengan lembut mengusap tangan sang istri.


Ghifa sudah terlelap dengan tangan yang memeluk erat perut Syauqi. Tadinya bujang kecil itu mengusap lembut perut sang Mommy supaya enakan, dan malah berakhir ketodyran.


Syauqi tersenyum samar. Kemudian tangan nya menunjuk kearah kamar mandi. "Aku udah cek tadi pagi, tapi aku nggak berani lihat hasilnya." Lirih Syauqi yang kembali menutup mata rapat.


Luthfi berbinar. "Kamu taro dimana sayang ? Aku nggak liat pas mandi tadi ?" Tanya Luthfi.


"Didalam laci obat, aku sembunyiin disitu." Jawab Syauqi lagi.


Tanpa bertanya lebih banyak, Luthfi segera beranjak dan menuju kamar mandi.


Tangannya mulai gemetar, jujur ia juga takut dengan hasilnya saat ini. Namun rasa penasaran nya cenderung lebih besar.


Dengan hati-hati ia membuka laci itu. Batinnya berulangkali mengucap basmallah. Berharap apa yang akan ia lihat tidak mengecewakan.


Tangannya terulur mengambil cup bening yang terdapat alat tes kegamilan disana.


Dengan mata yang terpejam ia mengangkan alat itu dan mulai mebaliknya. Matanya sedikit demi sedikit terbuka. Menatap benda itu ragu ragu dan takut.


"Alhamdulillah." Spontan nya kegirangan.


Dengan raut sengan dan bahagia, ia keluar kamar mandi dan berlari menuju sang istri. Ia langsung mendekap hangat istrinya, memberi banyak kecupan dimuka bahkan gerakannya yang membuat ranjang bergoyang membangunkan Ghifa.


"Terimakasih sayang, terimakasih. Alhamdulillah ya Allah terimakasih atas amanah mu pada kami." Ucap Luthfi disela kegiatannya mengecup seluruh wajah Syauqi.


Dengan gerakan tiba-tiba, Ghifa langsung terduduk dan berteriak. "Alhamdulillah, Ghifa jadi abang. Ada dedek bayi, Terimakasih Ya Allah." Tangan mengadah ke atas.


Syauqi yang masih lemas, mulai bingung dengan tingkah kedua pangeran nya.


"Mas,Boy, kalian kenapa sayang ?" Tanya Syauqi lirih.


Ghifa dan Luthfi sadar secara bersaman.


Kemudian Luthfi tersenyum dengan memamerkan alat tes kehamilan di tangannya.


Menampakan garis dua yang terlihat sangat jelas dan nyata.


Syauqi seketika meneteskan air mata bahagia, tangannya meraba perut ratanya dengan senyum yang mengembang.


Luthfi memeluk Ghifa dan Syauqi yang terbaring secara bersamaan. Ghifa yang sudah tau alat apa yang dipegang ayahnya dan garis dua artinya apa, juga tersenyum bahagia.

__ADS_1


Bocah 7 tahun itu selalu mengharapkan perut mommynya berisi bayi kecil. Itu sebabnya ia tahu apa arti garis dua itu karena sering menemani Syauqi menatap alat tes kehamilan beberapa bulan silam.


Kini ketiganya menangis bahagia, bahkan sepasang ayah dan anak itu bergantian mengusap dan mengecup perut Syauqi dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Syauqi banyak bersyukur dalam hatinya, ia mendapat Suami yang baik dan pengertian, mendapat bujanng kecil yang sayang padanya, dan hari ini, Tuhan mengamanahkan dirinya untuk menjadi ibu yang sesungguhnya. Dia jadi perempuan yang sempurna.


"Terimakasih sayangnya mommy." Syauqi mengusap kepala Ghifa dan Luthfi sayang.


"Terimakasih mommy." Ucap Ghifa.


"Terimakasih sayang ku." Sambung Luthfi.


Kini kebahagiaan keluarga kecil itu terasa lebih sempurna. Allah mengamanahkan makhluk kecil nan lembut didalam perut Syauqi.


Bayi kecil yang dinantikan setiap saat oleh Luthfi dan Ghifa.


Bayi kecil yang selalu tersebut dalam doa yang mengudara.


Bayi kecil yang selalu diminta dalam pengaduan sepertiga malam.


Kini sudah terwujud dan terkabulkan. Beribu rasa syukur kembali mengudara, ucapan Hamdalah dan Syukron Lillah tak hentinya diterbangkan untuk sang Maha Pencipta, untuk sang Maha Esa.


°°°°° E N D °°°°°


||| _____________ |||


Assalamualaikum warga....


Sampai sini aja ya kisahnya Mbak Sao dan Mas duda. Dengan happy ending tentunya.


So, pesannya adalah tetaplah menjadi diri sendiri dan mampu menerima segala sesuatu nya dengan lapang dada.


Apa yang kita miliki saat ini belum tentu akan tetap menjadi milik kita dikemudian hari.


Jadi jagalah itu selagi ada dan ikhlaskan apa yang harusnya pergi dari kita.


Jika kita tak punya dan orang lain punya, jangan pernah merebutnya. Apapun itu.


Syukuri apa yang sudah ada untuk kita, dan jangan berharap secara berlebihan akan apa yang kita inginkan.


Tuhan Maha Tau akan segala kebutuhan hamba-Nya. Kita hanya perlu beserah dan melantunkan doa agar mengudara.


Tunggu hingga tiba waktunya, dan sabar jika kita diuji akan lamanya waktu itu tiba.


Tuhan tidak akan pernah menyulitkan setiap umat-Nya yang patuh.


@efny.febriana

__ADS_1


__ADS_2