
Hari berlalu begitu cepat, namun terasa lama bagi Syauqi dan Luthfi yang batinnya sedang tersiksa.
Rupanya sudah seminggu saja berlalu, keduanya juga belum mendapat kejelasan apapun mengenai restu dari orangtua kedua belah pihak.
Semuanya masih abu-abu.
"Kakak mau kemana ? Nggak sarapan dulu ??" Tanya Shena saat melihat putrinya sudah bersiap untuk meninggal kan rumah setelah hampir satu minggu full tidak keluar kamar.
Bahkan yang biasanya menyempatkan sarapan bersama, pagi ini Syauqi memilih untuk langsung berpamitan.
"Nggak bund, kakak ada job photo maternity dikebun buah pagi ini." Jawab Syauqi dengan segera menyambar tangan sang bunda dan menciumnya.
Kemudian beralih pada sang ayah.
"Kakak duluan Yah." Ucapnya.
Setelah kedua orangtuanya, Syauqi beralih pada Bizar dan adiknya Kahfi. Sejurus kemudian langsung melesat pergi setelah membaca salam.
Semenjak adiknya terpuruk, Bizar tak lagi bepergian. Dirinya standby dirumah demi menemani sang adik sama seperti dulu saat kejadian pengkhianatan Pasha.
Juan mengela nafas berat.
Ia tidak menyangka putrinya menjadi seperti sekarang ini. Lebih diam dan terkesan dingin. Bahkan kadangkala saat sendiri, putrinya itu terlihat sangat murung.
Shena mengusap lembut bahu suaminya. Dirinya juga tidak ingin memaksa kehendak Juan, tapi didalam hatinya ia juga tidak rela jika Syauqi akan bersikap seperti ini terus menerus.
"Ayah." Panggil Bizar.
"Hmmm". Juan hanya berdehem sebagai tanggapan.
Sekilas Bizar melirik sang bunda hingga mendapat anggukan. Barulah ia kembali berbicara pada sang ayah. "Maaf kalo abang lancang Yah. Tapi sepertinya ayah harus segera memberikan kejelasan untuk kakak, bagaimananya nanti keputusan ayah, setidaknya kakak merasa tidak digantungkan pada harapan yang semu." Ucap Bizar penuh kehati-hatian.
Dalam hal ini dirinya sangat menyayangkan sikap sang ayah yang tidak bijak.
"Maaf juga Ayah, adek kasian liat kakak kayak gini. Pasti ayah juga ngerasain hal yang sama dengan kita semua kan Yah ??" Walaupun sedikit gugup, Kahfi mencoba menyuarakan pikiran dan perasaanya untuk menimpali ucapan sang abang.
Juan tidak menyangkal ucapan kedua putranya, semua nya benar. Tapi dirinya sendiri bingung harus bagaimana ? Jika hanya dia yang mengatakan iya dan Aleta tidak, bukankah sama saja hasilnya nanti ?
Anaknya juga akan tersakiti bukan ??
"Ayah akan kembali pikirkan ini baik baik. Ayah janji pada kalian dan bunda, ayah akan memberikan keputusan malam nanti." Singkt Juan.
Setelah mendapat Jawaban, semuanya kembali pada niat utama. Yaitu sarapan pagi. Semua nya mencoba menikmati tanpa Hadirnya Syauqi, walaupun biasanya juga dengan formasi tidak lengkap tapi tidak dengan perseteruan melainkan karena urusan pekerjaan.
_______________________________
Siangnya, Syauqi dan kedua anak buahnya kembali ke studio. Lelah nya hati dan pikiran membuat Syauqi mudah merasakan lelah pada tubuhnya.
"Lu kenapa mpok ??" Tanya Gheza yang sejak pagi memperhatikan bosnya berlagak aneh.
Syauqi menggeleng pelan.
"Lu sakit ya mpok ?" Tambah Andre yang ikutan panik melihat si bos yang berubah pucat.
Namun lagi dan lagi Syauqi hanya menggeleng pelan.
"Serius ah mpok lu kenape ?"
"Gue nggak papa, cuma lagi lelah hati." Syauqi menjawab dengan hembusan nafas frustasi.
Gheza dan Andre saling pandang.
__ADS_1
"Ada masalah ya mpok ?" Tanya Andre.
"Iyaps, gue terancam nggak dapet restu dari kanjeng bapak."
Gheza menatap Syauqi dengan seksama. "Kok bisa mpok ?? Tapi ini restu sama siapa mpok ?"
Andre langsung menoyor kepala Gheza. Bisa bisanya ngelag tu bocah.
"Apaan sih Ndre ?" Kesal Gheza.
"Lu geblek bet. Pakek nanya restu sama siapa lagi, jelas jelas kan si boss lagi deketnya sama mas duda yang anaknya punya mulut boncabe level 10 itu." Jelas Andre sengit. Kebanyakan makan gaji buta nih makanya lemot dan lupa ingatan.
"Ohhhh iya ya". Gheza mengangguk.
"Sabar atuh mpok, doanya banyakin supaya bapak boss berubah pikiran dan jadi kasih restu." Lanjutnya bijak.
Dan langsung diaminkan oleh Andre.
"Kita doain yang terbaik dan sangat baik buat lu mpok.." Ujar Andre seraya menepuk Bahu Syauqi.
Syauqi hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. Dalam hatinya ia berdoa semoga restu orangtuanya ia dapatkan begitu juga orang tua Luthfi.
Disaat begini biasanya ia akan mengeluh dan mencurahkan isi hatinya pada sang Aunty. Namun saat ini, Naswa sedang tidak berada ditempat karena harus mengikuti kursus pasang suntiang di kota aslinya.
Ingin curhat pada sang bunda tidak mungkin, apalagi pada kedua saudaranya.
Hendak curhat via telpon rasa kurang puas kalo nggak pakek acara peluk tabok dan jitak.
______________________________
Dirumah Luthfi, Ghifa sedang memperhatikan sang papi yang bersikap aneh. Tatapan papinya lurus kedepan namun terlihat kosong, seperti banyak beban pikiran.
Ghifa yang dasarnya memang pintar walaupun masih anak anak, sangat tau perubahan besar yang terjadi pada sang papi.
Dirinya sangat menyadari jika ada suatu masalah yang sengaja papinya sembunyikan dari nya dan ini menyangkut mommy saonya.
"Papi, are you okay ?" Tanyanya seraya menepuk pundak sang ayah cukup keras.
Lamunan Luthfi seketika buyar. "Iya boy ? Ada apa ??
"Are yo okey papi ?"
"I'm fine boy, why ??"
Ghifa hanya menggeleng, dari sorot matanya nya yang sayu Ghifa bisa melihat jika sang ayah dalam keadaan tidak baik baik saja.
Lagi dan lagi Luthfi kembali dalam lamunan.
Ghifa yang tidak tahan melihat semua itu langsung beranjak pergi dan menghubungi Oma dan Opanya meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada papinya.
Bocah itu berpikir jika sang papi menjadi seperti pasti karena ada campur tangan sang kakek dan nenek. Tidak mungkin jika tidak.
Karena dengan Syauqi pun masih seperti biasa walaupun sedikit terlihat ada kesedihan diantara keduanya.
Tut tut tut...
Telpon berdering.
Ghifa sengaja mengurung diri dikamar dan bahkan mengambil posisi dipojokan dekat jendela.
Tak berselang lama telpon pun tersambung.
__ADS_1
Ditempelkanya benda pipih itu ke telinga.
"Halo, assalamualaikum oma."
"Walaikumsalam sayang, ada apa nak ??" Saut Aleta dari sebrang sana.
"Apa oma dan opa tau jika papi sedang tidak baik baik saja ?? Apa Oma dan opa tau jika papi sekarang sering bengong seperti ayam yang habis nelen karet ??" Cerca Ghifa.
Aleta disebrang terdiam. Kemudian Ghifa kembali berucap.
"Ghifa memang masih kecil oma, tapi Ghifa bisa menilai apa yang terjadi pada papi. Maaf oma, Papi seperti pasti karena Opa dan Oma kan ?? Dan ini ada kaitannya dengan mommy iyakan ??" Skak matt, Ghifa yang memang terlahir dengan anugrah mulut bon cabe langsung to the point.
"Ghifaa..." Lirih Aleta pelan.
"Iya oma, what ?? Apakah ada yang ingin ona jelaskan pada Ghi ??"
"Maafkan Oma sayang, ini salah oma nak.".
Ghifa berkerut kening, kenapa omanya meminta maaf ?? Apa benar semua keanehan sang Papi disebabkan oleh oma nya ??
Otak kecilnya mulai berpikir hingga sampai pada sesuatu hal yang mungkin anak seusianya belum tau apa itu.
"Apa oma tidak setuju jika mommy sao jadi mommy nya Ghi ?? Dan Papi jadi seperti ini karena kecewa dan takut kehilangan mommy lagi setelah kehilangan mama ??" Ghifa bertanya dengan suara semakin pelan.
Jika iya begitu maka bukan hanya sang ayah yang akan hancur perasaan nya, tapi hatinya nya yang mungil juga akan ikut merasakan sakit dan hancur bukan ??
Ghifa menggelengkan kepalanya. Dia tidak terima ini.
"Ghifa sayang mommy sao, bahkan mama pernah datang dalam mimpi jika mama juga suka mommy. Papi juga sayang mommy. Ghifa mau mommy omaa. Apa salah mommy ???" Ghifa teriak dengan kencangnya. Dia menangis.
Aleta tak mampu menjawab. Dirinya juga sudah berderai air mata sekarang.
"Mommy menerima Ghifa dan papi tulus. Ghifa bisa rasain kehangatan kasih sayang mommy. Ghifa mau mommy." Ghifa kembali bersuara. Namun suaranya semakin menghilang tergantikan isakan pelan.
"Sayang.... Maafkan oma nak. Omaaa...." Aleta tak sanggung mengatakan apapun saat ini. Hatinya teriris mendengar isakan cucunya.
"Ghifa nggak mau ketemu oma. Oma dan opa jahat. Ghifa hanya meminta mommy sao tapi kenapa Ghifa tidak diizinkan ??"
"Sampai mommy sao jadi momny Ghifa, Ghifa nggak akan mau ketemu oma ataupun opa." Ancam Ghifa dan kemudian memustuskan sambungan telponnya.
Aleta yang mendapat ancaman dari sang cucu langsung lemas tak berdaya. Ghifa marah padanya.
Luthfi juga mendengar suara putranya, tanpa dia sadari bujang kecilnya mengetahui apa yang terjadi.
Hatinya hancur melihat kekecewaan sang putra. Dia sama sakitnya.
Tapi apa mungkin dia akan menikahi Syauqi tanpa adanya restu ??
"Apa salah Ghifa pengen punya mommy ???"
"Mama, bukankah mama bilang mommy adalah wanita baik ?? Lalu kenapa Ghifa tidak bisa memiliki nya ???"
Ghifa memandang photo sang mama dengan tangisnya. Pipinya chubbynya sudah memerah.
"Apa karena Ghifa nakal ??".
Luthfi yang sedang mengintip dari pintu kembali tertusuk tepat dalam hatinya. Bagaimana bisa anaknya mengadukan hal semenyedihkan itu dihadapan photo mendiang sang ibu.
Keputusan nya membuka pintu kamar dengan kunci cadangan membuat hatinya tersayat sayat. Putranya bersembunyi disudut kamar membeberkan semuanya, mengancam omanya, dan terakhir apa ??
Curahan hati yang menyakitkan untuk ia dengar.
__ADS_1