IMAM KU

IMAM KU
103


__ADS_3

Naima masih termenung di dalam kamarnya. Dia duduk diatas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya, menumpu dagu diatasnya.


Dia memikirkan kata-kata ibunya tadi. Ibunya menyuruhnya memikirkan dengan baik. Namun seolah-olah itu adalah sebuah permintaan. Bagaimana tidak ibu memuji pria itu didepannya seakan dia adalah pria yang tepat untuk mendampinginya.


Naima kemudian menarik nafas lelah dan membaringkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata, namun tak bisa.


Berulangkali merubah posisi tidurnya namun nihil. Sama saja matanya tak bisa terpejam sempurna.


Menerima berarti mengkhianati hatinya. Menolak pun ragu karena takut membuat harapan ibunya sirna.


Mencoba berulangkali menelaah kata-kata ibunya bahwa cinta akan datang karena terbiasa. Terbiasa bertemu dan bersama. Namun hatinya tetap ragu karena ada nama seseorang yang terselip di sana.


Keputusan harus segera dia ambil. Sulit memang namun tetap harus berani menentukan pilihan.


Akhirnya mata Naima berhasil terpejam, karena lelah berpikir Naima pun pergi kea alam mimpi. Berharap Esok hari akan ada takdir yang lebih indah untuknya.


Ditempat lain Alvian melirik ponsel yang tergelatak di atas bantal sebelah kirinya. Ponsel itu berulang kali bergetar namun dia enggan untuk menjawab panggilan tersebut. Sepertinya Alvian lelah, perjalanannya ke Yogyakarta yang tadinya direncanakan berangkat setelah ashar, akhirnya setelah magrib bahkan menjelang isya dia baru bisa berangkat. Dia kesal pada asistennya yang membuat jadwal dadakan untuk bertemu dengan klien. Akhrii dia harus menunda untuk bertemu dengan sosok yang tengah dia rindukan.


Kali ini dia hanya ingin memejamkan matanya agar ketika matanya terbuka hari sudah berganti dan malam pun telah berganti pagi. Namun suara ponselnya yang terus bergetar seakan mengganngu matanya yang hpir terlelap. Akhirnya dia mengambil ponsel itu, namun bukan untuk menjawab panggilan seseorang yang sedang menunggunya menjawab telepon melainkan lebih memilih menenggelamkan wajahnya ke bawah bantal dan mejamkam matanya. berharap hari akan cepat berganti.


Walaupun hatinya tidak secerah sinar mentari pagi ini, Naima cukup senang melihat ibunya yang sudah bisa beranjak dari tempat tidur. Itu berarti ibunya sekarang sudah membaik.

__ADS_1


Hari ini banyak yang harus Naima kerjakan. Hari ini adalah jadwal dia mengontrol konveksi yang selama ini dikelola ibunya. Walaupun tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah namun Naima tidak seperti ibunya yang setiap hari berada di sana. Naima hanya datang tiga hari sekali kesana, Naima tidak ingin mengambil resiko dan lebih menjaga ibunya saja. Sania adik satu-satunya sedang menginap dirumahtemannya dikarenakan ada tugas peneliian yang haus dikerjakan bareng dengan. temann. Naima tidak mau suatu hal buruk terjadi pada ibunya ketika dia sedang pergi ke tempat konveksi.


Setelah Naima selesai membuat sarapan, dia memanggil ibunya untuk sarapan bersama. Betapa bahagianya Naima melihat ibunya sudah bisa duduk di depannya sambil menikmati sarapan pagi yang dibuatnya sambil sesekali diselingi obrolan ringan.


Setelah sarapan bersama mereka memutuskan untuk melanjutkan bercengkrama di ruang depan sambil menikmati teh hangat.


Tak lama berselang suara salam membuat keduanya menoleh kearah pintu. Naima segera beranjak dan membuka pintu.


" Pagi" seorang pemuda yang kemaren malam datang kini bertamu lagi kerumahnya. Membuat perasaannya kembali tak karuan. Seperti kata ibunya dia tidak boleh mengulur-ulur waktu lebih lama untuk memberi keputusan.


Naima pun mempersilahkan pria itu masuk yang disambut dengan sapaan dan senyuman ramah dari sang ibu. Naima pun pamit ke dapur untuk membuatkan minuman untuk pria itu.


Naima berpikir keras haruskah dia memutuskan sekarang. Namun sepertinya memang harus, Kemal datang kemari bukan tanpa sebab. Tidak mungkin hanya sekedar menjenguk ibunya. Pria itu pasti tahu keberadaannya di sini. Naima menarik nafas dalam, dia percaya pada takdir baik yang akan dia jalani. Jika saja ini adalah takdir itu maka dia akan menerima dan menjalankannya sesuai dengan sekenario sang pencipta.


" Diminum mas, teh nya!" Kemal pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis untuk mengiyakan.


" Bagaimana keadaan ibu sekarang? maaf baru sempat menjenguk. Kemal baru pulang dari pekerjaan di luar kota." ucapnya sambil memandang Bu Rahma.


" Tidak apa-apa nak Kemal, seperti yang nak Kemal lihat ibu sudah baik-baik saja." Ucap Bu Rahma menimpali. Pria itu pun mengangguk.


Sesaat suasana terasa canggung untuk Naima. Melihat ibunya yang terlihat cukup akrab dengan pria didepannya. Naima juga memang mengenal Kemal, dia adalah kakak kelas Naima ketika sekolah dulu. Namun mereka hanya sebatas mengenal dan tidak terlalu akrab. Entah apa yang terjadi pria itu justru lebih mengenal ibunya.

__ADS_1


Melihat hanya Naima diam saja dari tadi, Kemal pun berinisiatif untuk berbicara padanya.


" Ima, apa kabar? sudah lama sekali tidak bertemu. Terakhir ketika kamu pulang Enam bulan lalu." Naima terdiam, bahkan pria itu masih mengingat kepulangannya waktu itu. Naima ingat pria itu dulu mengatakan tertarik padanya. Namun Naima ketika itu tidak begitu peduli dan perkataan Kemal itu terlupakan seiring berjalannya waktu yang disibukkan dengan pekerjaan.


"Baik mas." Naima menjawab singkat.emang Naima tidak tahu apalagi yang harus di katakan atau ditanyakan pada pria ini. Kemal mang pria yang baik dan juga ramah pada semua orang, Naima tahu itu. Mungkin itu alasan yang menguatkan Naima jika benar-benar saat ini dia harus memberi jawaban pada Kemal.


Bu Rahma kemudian meminta ijin untuk beristirahat ke kamarnya sekaligus memberikan waktu pada keduanya untuk saling bicara. Bu Rahma berharap Naima mengambil keputusan yang bijak dan lebih berharap Naima bisa menerima Kemal untuk menjadi pendampingnya.


Sepeninggal Bu Rahma sesaat kembali hening. Kemal yang berinisiatif memulai pembicaraan. Awalnya hanya sekedar berbasa-basi menanyakan pekerjaan Naima di sana. Sebelum kemudian dia ingin segera menanyakan jawaban Naima, tentang lamarannya pada ibunya. Kemal adalah pria dewasa yang tidak ingin main-main dengan sebuah hubungan dia ingin serius menjalaninya. kalau Naima setuju dia tidak akan menunggu lama untuk segera merancang sebuah pernikahan yang dia dan Naima inginkan.


" Ima, apa ibu sudah bicara padamu?Kemal beranya tanpa menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya. Kemal yakin Naima sudah mengeri apa yang dia maksud.


Naima mengangguk, setelahnya dia menarik nafas sebelum menjawab.


" Mas, aku..."


Maaf aku gantung biar penasaran🤭


Apakah jawaban yang akan dikatakan Naima??? Ayo aku tunggu komentarnya...


Happy reading 💜💜💜

__ADS_1


Kemalkah atau Alvian yang akan Naima pilih sebagai pendampingnya?


Jangan lupa dukungannya ya... biar author semangat untuk melanjutkan bab berikutnya 🤗


__ADS_2