IMAM KU

IMAM KU
Anak-anak


__ADS_3

Disaat para orangtua sedang bernostalgia dan merancang masa depan buah hati mereka masing-masing. Maka saat ini para anak sedang berkumpul disebuah meja besar yang sengaja disediakan pihak restoran tempat dimana orangtua mereka reuni.


Setelah diusir secara sepihak, para anak hanya mampu menghela nafas. Menikmati setiap kebebasan yang didapatnya, sudah lama juga nggak saling bully seperti yang tahun-tahun lalu.


"Kurang anggota nih." Keluh Gheza saat menyadari ada satu orang yang  tidak hadir malam ini.


"Eh iya, kak Naswa kemana ?" Tanya Rumaisa.


"Ikut bapaknya keluar kota." Jawab Kahfi singkat, padat dan menjelaskan kenyataan.


Azzam mengusap wajahnya. "Alhamdulillah kurang sebiji anggota tukang bully." Saut Azzam yang mensyukuri ketidakhadiran Naswa, kalo Naswa ada biasanya Azzam selalu jadi korban bully utamanya.


"Nggak adanya kak Naswa lu juga bakal dibully Zam, apalagi kalo Bang Pasha sama Bang Bizar tau elu mau disunat." Ujar Sasya dengan tatapan mengejek, emang kalo jiwa gampang dibully apa aja bisa dijadiin bahan.


"Mau sunat lu ? Makin kecil dong ?" Tanya Shazia seolah sudah pernah melihat milik Azzam sampai berani mencemeehnya dihadapan umum.


Azzam mendengus. "Kek dah pernah liat punya gue aja lu Kak." Ucapnya sinis.


"Mueheheheeh bocil mo sunat, pakek kapak apa golok ?" Tanya Gheza menaik turunkan alisnya, yang bener aja nih bocah yang takut jarum mo sunat.


"Gue aja yang bantu lu sunat Zam, Bang Bizar punya pisau daging baru, import dari Rusia." Sambung Kahfi antusias. Kapan lagi liat anak orang pucet karena takut.


Bizar mengangguk. "Dijamin sekali tebas khitan lu berhasil 100 %" Ucapan nya terjeda sesaat, membuat Azzam menyipitkan matanya menatap Bizar was-was. "Habis sampek pangkal." Lanjutnya sadis, bahkan Pasha dan Gheza auto menyentuh pusaka masing-masing.


"Gilakkk, yang bener aja. Maura mana mau sama gue kalo itu gue tinggal pangkal doang." Teriak Azzak yang memegang erat pusakanya, bahkan tanpa malu dihadapan para wanita.

__ADS_1


"Masih kecil lagak lu ngutamain pusaka dapetin cewe, kayak iya iya aja lu" Saut Pasha sambil tertawa, anak zaman sekarang udah tau pembahasan kayak gitu.


"Eh bang, sunat itu adalah modal awal pembentukan pusaka. Lu pada punya pusaka yang bagus awalnya juga karena sunat lu berhasil dan bagus." Azzam menjelaskan dengan gaya bak dokter spesialis perkhitanan.


"Percumah kalo punya lo bagus kek ulekan sambel tapi lo gak bisa setia. Cewe baek-baek juga nggak bakal ngelirik." Saut Sauqi yang ntah sadar atau tidak bahwa salah satu diantara mereka akan ada yang tersindiri oleh Ucapannya.


"Nah iya bener, mau kek mana bagusnya kalo gak bisa setia yaa tetep aja keliatan buruk." Sambung Gheza yang memanfaatkan peluang, udah lama rasanya mau nyindir Pasha tapi belom ada kesempatan.


"Pihak Kak Sauqi aku mah, nyari yang setia bukan yang itu nya uwuww doang." Jawab Sasya, bisa-bisanya anak SD kelas 5 ikutan nimbrung.


"Gue setia Sya." Jawab Danish malu-malu.


"Lah kalo pasangan nya gak bisa kasih yang dibutuhin gimana mau setia, pasti cari yang lain dong." Ucap Shazia membela diri, takut semakin disindir kalik ya.


"Bahas apaan sih, bocil juga nimbrung bae." Ketus Bizar yang tak suka ada perbacotan mengenai masalah itu, apalagi didepan para bocah.


"Hampir saja." Gumam Pasha, dirinya masih canggung pada Sauqi jadi dirinya lebih baik merespon Azzam agar tak terjadi perdebatan. "Lu mau ngerampok kita cil ?" Tanya nya.


"Lu padakan dah kerja, banyak duit." Jawabnya acuh tak acuh.


"Ntar kalo banyak duit bagi gue ya Zam, buat beliin Sasya gelang yang ada inisialnya." Ujar Danish yang wajahnya sudah bersemu merah. Melihat hal itu Sauqi memiliki ide untuk sedikit membully bocah sipit itu.


"Ahay, dek Sasya ada yang naksir kamu nih." Ucap Sauqy dengan senyuman manis nan menggoda.


"Ah kak Kiki apaan sih." Jawabnya dengan malu, bahkan wajahnya juga memerah seperti Danish.

__ADS_1


Melihat tingkah dua bocil yang memerah akibat malu-malu, Bizar mengelus dadanya nyeri. Anak kecil aja udah bisa jatuh cinta tapi kenapa dirinya belum sama sekali ?


Rumaisa menepuk bahu Bizar seolah menyemangati. "Sabar bang, InsyaAllah nanti nemu dijalan."  Ucap nya polos membuat Bizar beristighfafar dalam hatinya.


"Maisa, ucapan lu gue amiinin." Jawab Bizar memelas.


"Aamiin" Jawab semuanya Serempak, bahkan pelayan yang lewat pun ikutan menyuarakan aamiinnya.


"Kalo Danish sama Sasya, biarlah gue meninggalkan Maura dan Menyerahkan diri untuk mu Rumaisa." Ucap Azzam yang memberikan bunga kepada Rumaisa secara mendadak. Bahkan tidak ada yang tau itu bunga dari mana asalnya.


Rumaisa melototkan matanya. "Ehhh Azzam gue gak mau sama lu, gue maunya sama yang modelan Bang Kahfi." Teriaknya melengking, Terlihat jelas sekali jika Rumaisa tidak menyukai Azzam dari segi manapun.


"Jantungku tertusuk seribu duri." Ucap Azzam menjadi sad boy.


"Duh Rumaisa harusnya kamu bangga bisa merebut Azzam dari siapa tadi ? Mm iya Maura." Saut Shazia yang malah menanamkan sikap buruk Pada anak dibawah umur.


Sauqi terbatuk ringan. "Jangan memaksakan kehendak ya para bocil, jadilah diri sendiri dan jangan pernah merebut milik orang lain. " ucapnya dan di angguki para bocah.


"Mbak pelayan nya seksi uhuy." Ucap Kahfi tiba-tiba membuat Semuanya menoleh kearah pandang Kahfi.


Gheza mengangguk. "Bener bener menyenangkan mata memandang." ucapnya tak berkedip.


"Astaghfirullah ternodai mata ku yang suci ini." Saut Bizar menutup matanya, pantesan jomblo liat yang asik dikit langsung panas dingin takut.


Pandangan semuanya masih tertuju pada mbak pelayan seksi yang sedang membersihkan meja, semuanya tidak sadar bahwa telah ada beberapa orang yang berada didekat Mereka.

__ADS_1


Hanya gegara Kahfi semuanya ikutan menodai mata dengan pandangan yang terlalu terbuka bagian dada dan paha. Amal ibadah yang semula terkumpul seketika berubah menjadi dosa yang menggunung.


__ADS_2