
Syauqi masih setia berteduh ria dipinggir jalan. Tangannya mengotak atik ponselnya, ntah scroll akun online shop atau membuat story alay di instagram.
Sedangkan Luthfi masih melangkahkan kaki tanpa kesadaran, dirinya seperti lupa arah jalan pulang.
"Brother !! Hiks hiks." Syauqi menangis seraya menghadap lurus kearah ponsel yang dipegangnya.
"Lah buset lu ngapa nangis disitu kak ?" Tanya seseorang di sebrang telpon.
"Gue sedih, butuh bantuan."
"Sumpah deh kak, lu mirip kek korban pemerkosaann tau gak." Ucap Kahfi yang ikut nimbrung.
"Amit-amit, mulut lu gue sobek mau ?" Tanya Bizar sinis.
Ya ketiganya sedang melakukan video call, Syauqi sudah buntu jadi membutuhkan bantuan kedua saudara serahim.
"Lu cerita deh kak kenapa begitu ?" Kahfi mulai serius.
Syauqi sesengukan, ingusnya masih ngalir tiada henti. "Gue ketemu Pasha tadi dek, terus..."
"Sialann, ngapain lagi sih bajingann itu. Gue pengen patahin leher dia sekarang. Jangan halangin gue dek jangan....". Bizar tersulut emosi, dirinya bergerak tak beraturan. Rasanya ia ingin sekali menghancurkan Pasha detik ini juga.
"Yang ngehalangin elo siapa bang ? Gue diam aja mandangin kakak." Ujar Kahfi terheran melihat Bizar. Dirinya juga emosi tapi nggak gila.
"Ohh."
"Dia minta maaf ke gue bang, dia ngajak ngulang semuanya dari awal. Gue tersentuh, gue luluh.." Syauqi menceritakan semuanya namun setiap kalimatnya selalu menggantung membuat Kahfi dan Bizar dibakar api emosi jiwa yang berkobar membara.
"Terus lo mau ? Lo balikan sama dia ?? Lo jangan gila kak. Gue nggak setuju." Kini Kahfi yang berteriak menyuarakan ketidakterimaannya.
"Gue bakal bikin perhitungan sama dia." Bizar sudah mulai geram, emosi nya sudah tidak mampu dia tahan.
"Masalahnya bukan itu hiks hiks." Syauqi semakin terisak.
Kahfi mengela nafas berat. "Terus apa yang bikin lo kayak gini kak ? Kenapa lo nangis dipinggiran jalan ? Diapain lo sama bajingann itu ?"
"Dia peluk gue tadi, kita sama sama nangis. Gue ga bisa nolak, gue juga rindu. Tapi saat itu Mas... Mas...".
"Lo dipeluk ?? Terus lo diapain lagi ha ? Lo ga dilecehin dia kan Kak ?" Bizar membentak. Dirinya takut jika Pasha akan nekad melakukan yang tidak-tidak demi bisa kembali memiliki Syauqi. Dia tidak terima itu.
"Bodohh. Diem dulu bang, kakak bilang tadi apa kak ? Mas siapa kak ?" Kahfi memukul bahu Bizar, dirinya menangkap satu hal yang aneh dari sang kakak.
"Mas Luthfi dek, dia liat kakak dipeluk Pasha. Kakak takut dia salah paham dan nggak mau nemuin kakak. Dia pergi gitu aja dek." Jelas Syauqi dengan nafas yang semakin tak beraturan.
Bizar dan Kahfi saling pandang dan menghela nafas lega.
Tapi sedetik kemudian, keduanya menegang membayangkan nasib sang saudari yang diujung tanduk.
"Ya Allah gimana dek ?" Tanya Bizar dengan mata yang melotot.
"Bantuin kakak dek, kasih saran dong. Kakak mesti gimana ?."
"Lah nanya gue, masih bocil nih." Kahfi mendadak bingung.
"Lah gue mana tau mesti bantu apa dek, lu tau kan gue mo ngejar cewe aja minta tolong nya ama elu." Jawab Bizar dengan tatapan menyipit, bisa-bisanya dia yang baru belajar menjalin hubungan dimintain saran.
"Dek please kakak kudu gimana ?"
"Lo kan pinter dek, buruan gih kasian kakak noh."
"Iya iya ah elah. Gini ya kak, kalo mas Luthfi pergi emang tadi nggak ada inisiatif lo kejar gitu ?" Tanya Kahfi.
Syauqi mengangguk. "Ada, tapi nggak kekejar."
"Lah, lo udah kerumahnya ?" Giliran Bizar yang bertanya dan diangguki Kahfi.
"Dia lurus aja nggak belok kerumah, ini gue didekat rumah dia jarak dua rumah." Jawab Syauqi seraya menampilkan sekelilingnya.
"Gue capek." Sambungnya lagi.
"Lah dia lupa arah jalan pulang." Saut Bizar.
"Jadi gimana ? Kayaknya dia sengaja menghindar." Syauqi melemas, rasanya tenaga nya sudah menguap ntah kemana.
__ADS_1
"Lu tunggu aja disitu kalo lo mau, ntar kalo dia dah keliatan pulang lo samperin. Siap itu lo jelasin tanpa ada yang lo tutupin dan lo rekayasa. Jangan nunggu dia nanya, harus lo yang inisiatif ngejelasin." Saran Kahfi panjang lebar. Mendengar adiknya berceloteh bak seorang guru percintaan yang penuh pengalaman, Bizar tersenyum bangga.
Syauqi mengangguk paham. "Tapi ntar kalo dia nggak mau dengerin gue gimana ?"
"Lo begok amat sih kak, lo usaha dong ngapain gitu. Biasanya juga lo bar-bar kan ? Lu peluk kek, lu hadang didepan dia kek, lu pegang tangan dia kek." Jawab Kahfi.
"Lu iket digerbang Kak kalo dia nggak mau. Nggak usah repot, masak preman cengeng." Ujar Bizar yang juga memberi solusi.
"Inget, hubungan itu harus dilandasi dengan kepercayaan, saling menerima, memahami dan terbuka satu sama lain jangan ada yang ditutupi. Kalo ada masalah selesaikan baik-baik, jangan nunggu ditanya baru dijelasin. Kalo kayak gitu mah nggak ada selesainya, yang ada baku hantam sama adu bacott." Ucap Kahfi kembali memberi nasehat. Kedua kakaknya hanya ngangguk patuh tanpa membantah.
"Berlaku untuk kalian berdua nih. Ya kali malah anak bontot yang nasehatin." Lanjut Kahfi mencebik kesal.
Memang diantara ketiganya, Kahfi adalah sosok yang paling bisa diandalkan. Otaknya yang bijaksana dan sikapnya yang adil membuat dirinya menjadi tempat meminta pertolongan.
Walaupun nggak berakhlak dan semua saran sedikit tak bermoral tapi cukup memuaskan. Akhirnya Syauqi merasa mendapatkan kehidupan kedua.
Setelah selesai video call, Syauqi meratapi nasibnya. Memandang jalanan menuju gerbang putih tempat kedua pangerannya tinggal.
Angin berhembus menerbangkan rambut Syauqi yang hanya terikat sembarangan dengan karet gelang hasil nemu dijalan.
Matanya menyipit, sesekali berkedip.
Hingga saat lamunannya menyapa, tak sadar ada sosok tegap yang lewat tepat dihadapan nya. Namun kedua nya tak saling menyadari keberadaan masing-masing.
"Huhhh" Hembusan nafas terasa kasar.
"Ehh tunggu barusan kayak ada yang lewat ?" Gumamnya seraya menoleh kekanan.
Dan benar, sosok yang ditunggunya berada dijarak yang lumayan darinya.
Tanpa aba-aba satu dua tiga, Syauqi langsung berdiri dan berlari. Air matanya kembali menetes, dadanya semakin bergemuruh. Saran dari sang adik terngiang di kepalanya.
"Gue harus jelasin, gue harus selesain. Terserah gue dibilang ngejar dia atau apa, yang jelas memang itu kenyataannya." Gumamnya dalam hati.
Langkahnya semakin dipercepat dan...
Grebbbb !!!
Pelukan hangat ia daratkan dan semakin ia eratkan. Langkah keduanya terhenti tepat didepan gerbang putih yang menjulang tinggi.
Luthfi terdiam, dia tidak menyangka jika akan ada kejadian ini. Ternyata kesadarannya yang menipis dan melupakan letak rumahnya membawa berkah.
"Aku minta maaf, aku mau jelasin semuanya." Ucap Syauqi yang masih menenggelamkan wajahnya dipunggung Luthfi.
Rasa malu dan canggung nya ia hempas jauh-jauh. Yang jelas sekarang adalah menahan Luthfi agar mau mendengarkannya.
"Nggak disini." Ucap Luthfi dingin.
Syauqi menghela nafas berat, walaupun pertama kali bertemu diperlakukan dingin namun untuk saat ini dirinya tidak sanggup.
Dengan perlahan dirinya mengikuti Luthfi masuk kehalaman. Dan setelah gerbang kembali ditutup, dirinya lagi-lagi memeluk Luthfi, tapi kali ini dari depan.
"Kenapa ?" Luthfi bertanya tanpa melihat kearahnya. Membuat nya semakin ngilu didalam hati.
"Aku minta maaf, aku nggak ada maksud buat permainin mas Luthfi." Syauqi mulai mejelaskannya.
"Aku sadar diri Qi, aku yang nggak pantes buat kamu. Aku tau posisi ku." Luthfi menjawab, dirinya jauh lebih dewasa, dirinya bukan lagi remaja.
"Mas, aku yang salah. Seharusnya aku bisa menghargai kamu bukan malah kayak tadi."
Syauqi sesengukan, sesekali menarik ingusnya yang hampir keluar . "Aku sadar aku udah jatuh hati sama kamu mas, walaupun memang aku masih menyimpan rasa untuk dia. Dan tadi kami tak sengaja bertemu, dia meminta maaf dan meminta ku untuk kembali. Awal nya aku luluh dengan semua ketulusannya, tapi ada satu tempat yang terdalam dihati ku menyangkalnya."
"Apalagi saat aku menyadari ada Mas Luthfi di sebrang jalan dan melihat aku dipeluk dia, aku takut nenyakiti mas Luthfi. Aku takut akan ada salah paham dan Mas Luthfi pergi ninggalin aku. Aku nggak mungkin sanggup untuk kehilangan yang kedua kali mas. Aku minta maaf, jangan pergi."
Deg !
Luthfi membeku, dirinya selama ini tak memiliki keberanian menyatakan isi hatinya. Dan apa sekarang ? Gadis yang ia harapkan dan sempat akan ia ikhlaskan menangis di pelukan nya dengan pengakuan akan perasaannya ?
'Gue pengecut' Batin Luthfi.
"Aku nggak akan bisa kembali sama dia mas, luka yang dia buat terlalu dalam. Dan luka itu perlahan pulih karena hadirnya Ghifa dan dirimu." Syauqi mengesampingkan ego nya, dirinya tak mau lagi menyia-nyiakan cinta yang ada untuknya. Mungkin dulu dirinya memang memiliki kekurangan, tapi kali ini dia akan memperbaikinya. Bersama dengan sosok yang ia dekap sekarang.
Luthfi memejamkan matanya. Hatinya menghangat, dirinya lega. Tapi....
__ADS_1
"Apa aku pantas untuk gadis hebat seperti mu mom ?" Tanya Luthfi yang masih terpejam.
Syauqi mendongakkan kepalanya, panggilan istimewa dari Luthfi menyadarkannya pada dunia nyata.
"Apa yang kamu takutkan mas ?"
"Aku seorang duda, aku punya anak. Bahkan aku hanya seorang dosen yang mungkin jauh lebih rendah dibanding mantan mu jika membicarakan soal materi."
Syauqi terperangah.
"Apa aku pantas disisi mu ? Bukankah dirimu bisa mendapatkan yang lebih pantas ?"
"Aku juga tidak ingin memaksa perasaan mu, jika kamu masih sayang padanya, berjuanglah bersama. Untuk Ghifa dan perasaanku, aku bisa mengatasinya." Air matanya menetes.
Begini kah pengorbanan cinta, dulu saat dirinya memperjuangkan Humaira, tidak pernah ia serapuh ini.
Tangan Syauqi terulur, mengusap air mata yang terjatuh di pipi pria itu. Dari mata yang masih terpejam, buliran air luruh perlahan.
"Maaf kan aku." Hanya itu yang keluar dari bibir Syauqi. Bahkan saat ini tangan nya bergetar hebat.
"Seharusnya aku yang meminta maaf, aku telah menyeretmu dalam kehidupan kami."
Keduanya sama diam, Syauqi masih memeluk tubuh tegap itu. Luthfi masih memejamkan matanya. Tak sanggup untuk melihat wajah sembab yang menyandar di dada nya.
Angin sore semakin berhembus dan mulai terasa dingin.
'Hubungan itu harus dilandasi dengan kepercayaan, saling menerima, memahami dan terbuka satu sama lain jangan ada yang ditutupi.’
Ucapan Kahfi kembali teringat, Syauqi kembali pada kesadaran dunia nyata. Tangannya bergerak cepat menangkup wajah pria yang berdiri dihadapannya.
"Mungkin aku tidak sempurna, dan ini terkesan jika aku terlalu mengejar mu mas. Tapi..."
Syauqi menarik nafas dan menghembus kannya perlahan. Lalu kembali berucap. "Aku berterus terang aku mengharap kan mu mas. Aku memang masih menyimpan rasa pada masa lalu tapi tak sebesar rasa berharap ku pada mu. Kamu tau ? Aku tak ingin ada yang aku tutupi diantara kita termasuk perasaanku saat ini. Yang kamu lihat tadi adalah hal yang membuat ku sadar bahwa dihatiku sudah terisi oleh mu dan Ghifa. Aku sudah memutuskan untuk bersama mu dan aku juga memberitahu nya jika dia sudah tergantikan olehmu."
"Apalagi yang perlu kita takutkan ? Kamu cukup pantas untuk ku. Kamu lelaki yang hebat, kamu ayah yang luar biasa. Apalagi yang bisa aku dapatkan dari pria lain jika semua yang ada pada dirimu sudah sangat sempurna untukku ?"
Syauqi mengungkapkan semuanya dengan tegas. Isak tangisnya berubah menjadi keyakinan.
"Tapi....." Luthfi masih menyangkal semua yang Syauqi ucapkan.
"Tidak ada tapi, mari kita sama sama untuk belajar saling percaya dan terbuka, saling memahami dan menerima satu sama lain." Syauqi masih menangkup wajah tampan itu. Tatapan keduanya beradu.
Hanya ketulusan yang tergambar dimata mereka. Dan mereka menyadari itu.
"Maaf, aku selama ini hanya mendekati mu dengan mengatasnamakan Ghifa. Maaf aku yang tak memiliki keberanian untuk berterus terang padamu. Maaf." Akhirnya Luthfi juga mengakuinya. Rasa lega setelah saling mengaku membuatnya kembali memiliki keberanian yang nyata.
"Kita sama sama mengharap dalam diam mas, dan sekarang kita sudah saling tau. Apa lagi yang harus kita sembunyi kan ?"
"Terimakasih, terimakasih." Luthfi memeluk Syauqi, dan Syauqi membalasnya dengan lembut. Menyalurkan kasih sayang dan ketulusan.
"Gimana ?" Tanya Syauqi.
"Lega." Jawab Luthfi dengan senyum yang mulai terbit.
"Kamu gimana ?" Lanjutnya.
"Plong banget, kek dapet kehidupan kedua. Saran raja cebong emang terbaik." Jawab Syauqi seraya terkekeh ringan.
"Raja cebong ?."
"Si Kahfi, tadi pas ngejar mas Luthfi terus gak ketemu. Sempet curhat sama bang Bizar dan Kahfi." Jelas Syauqi.
"Emang apa saran mereka ?"
"Intinya perjuangin, dan jelasin tanpa perlu ditanya. Harus saling percaya, saling menerima dan memahami nggak boleh ada yang ditutupin harus terbuka satu sama lain. Nah kalo mas Luthfi tadi nggak mau dengerin aku yaa saran bang bizar iket aja digerbang gitu. Kalo saranya Kahfi sih peluk aja."
"Emang bener, seharus aku mikir gitu bukan malah lari dan sembunyi. Aku ngerasa kalah dewasa jadinya."
"Hahah yang penting sudah clear sekarang. Jadi lupakan mau anter Ghifa potong rambut."
"Besok aja nggak papa kalik ya, sekarang mau santai aja dirumah."
Langit pun perlahan menggelap, adzan magrib akan segera berkumandang.
__ADS_1
Luthfi mengajak Syauqi masuk kerumahnya, karena Ghifa sendirian disana.
Senyum keduanya tak juga luntur, tangan bergandengan. Mata yang sembab semakin menyipit karena senyum yang kian mengembang.