
Setelah beberapa saat Sten kembali dengan membawa sebuah gambar burung mekanik di tangannya.
Argus melihat itu ternyata jenis burung Hantu. Mungkin karena ia di ciptakan hampir seperti Golem, Argus tak mendeteksinya sebagai ancaman.
Dan lagi Burung Hantu itu hanya di gunakan untuk pengintaian saja, dan prinsip kerjanya mirip CCTV tanpa di lengkapi kemampuan pertahanan apapun..
"Baiklah.. Aku sudah tau, kalian mulai saja persiapan apapun yang di butuhkan untuk kalian bawa. Aku akan menunggu.. " Ucap Argus.
"Baiklah.. Mari kita bawa apa saja yang penting-penting saja.. " Ucap Basil.
"Emm.. Kami mengerti.. Aku akan mengatakan ini ke semuanya.. Kalian bisa mulai berkemas.. " Ucap Ouga.
"Lebih baik kalian lakukan dengan cepat.. Gelombang pasang Monster semakin mendekati kita sekarang.. " Ucap Argus.
"Deng...!!
" Deng...!!
Dan tepat setelah argus mengatakan itu Lonceng peringatan di bunyikan oleh para prajurit yang menjaga di gerbang kota.
"Sepertinya waktu kalian jauh lebih singkat.. " Ucap Argus.
"Ayo cepat ambil apa saja yang bisa kita ambil dan berkumpul kembali di alun-alun kota..!! " Teriak Basil.
Lalu di ikuti yang lainnya mulai berteriak untuk berkemas segera..
"Aku akan menunggu di alun-alun agar semuanya tidak rusuh, Argus bisakah kau menahan gelombang monster itu...?? " Tanya Sebastian.
"Tak masalah.. Ayo Lisa kita pergi.. " Ucap Argus.
"Emm baik master.. " Ucap Lisa.
Setelah itu Lisa dan Argus pergi dari sana. Dan di jalan Lisa bertanya kepada Argus.
"Kenapa master tidak menghentikan Gelombang pasang monster kali ini..?? " Tanya Lisa.
"Tidak untuk sekarang, dengan adanya Gelombang Monster ini maka akan mempercepat langkah para warga untuk berkemas.. Jika tidak, ini akan memakan waktu yang lama.. " Ucap Argus.
"Ya.. Memang, dilihat dari kecepatan mereka berkemas itu akan memakan waktu lama... " Ucap Lisa..
"Mereka seolah mengulur waktu terus-menerus.. "
"Apakah itu masih terjadi sekarang..?? " Tanya Argus.
"Ya.. Masih ada saja orang yang menghasut orang untuk tetap tinggal di sini.. " Ucap Lisa.
"Apakah anggota Tabut Cahaya masih ada di sini..?? " Gumam Argus.
"Baiklah Lisa.. Kau bantu para prajurit menghalau para Monster itu, aku akan pergi mengambil burung pengintai itu.. Aku cukup penasaran dengan benda yang bisa membuat para tetua Dwarf itu melihat mobil kita.. " Ucap Argus.
"Baik master.. " Jawab Lisa.
Lalu ia mengeluarkan busur miliknya dan naik ke atas tembok kota dan membantu prajurit di sana menghadapi gelombang pasang monster itu.
Sementara itu Argus memberikan perintah lainnya kepada para semut yang masih ada di dalam kota, ia ingin memastikan apakah orang yang menghasut para warga adalah anggota dari Tabut cahaya atau bukan.
Dan sementara para semut memastikan, Argus sendiri pergi ke lokasi burung hantu itu berada. Dan sesampainya di sana, Argus melihat burung hantu mekanik bertengger di salah satu pohon.
Kemudian ia memperhatikan burung itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia menyimpannya.
Setelah itu Argus memutuskan kembali ke kota dan ia juga naik ke tembok kota.
Di sana ia melihat jumlah monster yang datang sangat banyak, dari Goblin, orge, orc, Minotaur, lizardman monster serigala dan berbagai monster lainnya bisa di lihat di sana.
"Bagaimana keadannya saat ini..? " Tanya Argus.
"Semuanya masih aman.. Monster yang mendekati tembok hanya monster lemah tidak memiliki kemampuan serangan jarak jauh.. " Ucap Lisa.
"Emm.. Jika keadaan makin kacau katakan saja.. " Ucap Argus.
"Baik master.. " Ucap Lisa. Sambil terus menembakkan anak panahnya.
Beberapa prajurit dan petualang yang melihat Argus berfikir ia adalah tipe laki-laki kaya yang mengandalkan budaknya saja, karena selama ini Lisa selalu memanggil Argus Master..
Argus tak memperdulikan hal itu, dan ia kembali turun untuk melihat semua warga bersiap..
Terlihat di antara semuanya, para bangsawan adalah yang paling repot karena mereka tak mau meninggalkan sedikit pun barang mereka di sini.
"Saat berada dalam keadaan seperti ini saja mereka masih memikirkan Harta mereka.. " Gumam Argus.
__ADS_1
Lalu ia melanjutkan perjalanan ke alun-alun kota, terlihat sudah banyak orang yang berkumpul di sana.
"Apakah masih banyak lagi..?? " Tanya Argus.
"Ya.. Dari laporan yang aku Terima, ini hanya sebagian dari warga di sini.. " Ucap Sebastian.
"Sepertinya masih membutuhkan waktu seharian agar semua orang selesai berkemas.. "
"Tak masalah.. Aku akan membukakan gerbang sekarang dan membiarkan yang sudah siap untuk pergi terlebih dahulu, tak perlu menunggu yang lainnya.. " Ucap Argus.
"Ya itu ide bagus.. " Ucap Sebastian.
Lalu Sebastian berjalan ke arah salah satu prajurit di sana untuk mulai mengatur semuanya orang yang sudah siap.
Setelah beberapa saat semuanya sudah siap dan menunggu dengan tertib, Argus yang melihat cukup puas karena mereka tak terburu-buru dan tertib.
Argus kemudian membuka gerbang dengan ukuran besar dan membiarkan semuanya masuk ke dalam.
Dan saat orang-orang itu masuk, terlihat banyak orang yang mulai datang menggunakan kereta ingin masuk juga, namun orang-orang itu terlihat tak mau mengantri dan memaksa di dahulukan..
Bahkan mereka tak segan menjatuhkan atau melukai warga yang ada di depannya agar menyingkirkan dari jalan.
Argus memperhatikan mereka adalah para bangsawan, melihat itu Argus mengerutkan keningnya..
"Mengikat - Bind..!! "Ucap Argus.
Lalu banyak rantai mulai mengikat semua kuda orang-orang yang mencoba mendahului dan tak mau mengantri itu.
" Apa-apaan ini..?? Lepaskan..!! " Teriak salah satu orang itu.
"Ya lepaskan..!! Apa kalian tak tau siapa kami..?? " Ucap orang lainnya.
"Kami adalah bangsawan di Baisi.. Kami adalah Viscont di sini..!! " Ucap orang lainnya.
"Lantas kenapa..?? " Ucap Argus mendekati mereka
"Di mataku kalian hanya beberapa babi gemuk saja, tak ada yang istimewa.. "
"Siapa kamu..?? Kau berani menghina kami..?? " Ucap orang satunya lagi.
"Aku..?? Aku bisa menjadi orang yang menyelamatkan kalian dari kota ini atau bisa juga menjadi orang yang akan mengirim kalian ke dunia mati.. " Ucap Argus sambil tersenyum.
Lalu Argus mengalihkan pandangan ke warga lainnya yang ada di sana..
"Kurang ajar..!! Prajurit..!! Tangkap orang ini..!! " Teriak salah satu bangsawan itu.
"Ya cepat tangkap dia..!! " Ucap lainnya.
Namun tak ada satupun yang mau mendengarkan perkataan mereka. Para prajurit melihat para bangsawan seperti orang-orang idiot..
"Ada apa..!! Kenapa kalian diam saja..?? Cepat laksanakan perintah ku..!! " Teriak bangsawan itu.
"Kau..!! Prajurit rendahan di sana, cepat datang dan tangkap dia..!! "
Namun prajurit itu tetap diam dan melihat ke samping, lalu ia mengangguk dan mundur ke belakang.
Setelah itu Sebastian berjalan ke arah bangsawan itu di sana.
"Apakah kalian tak memikirkan perbuatan kalian..?? Kalian melukai banyak orang hanya karena ingin masuk ke sana..??! "Ucap Sebastian.
" Siapa kau tua bangka sialan berani memberikan ceramah kepada kami..!! Mereka hanya warga miskin, tak pantas mereka mendahului kami.. "Ucap bangsawan itu.
" Benar..!! Jika kau ingin menghalangi juga, kami akan memasukan mu kedalam penjara juga.. "Ucap Bangsawan lainnya.
" Hai..!! Kenapa kalian diam saja..??!! "
Lalu salah satu prajurit datang ke sana dan berjalan ke arah Sebastian.
"Benar tangkap laki-laki ini juga..!! " Teriak bangsawan itu.
Namun prajurit itu tak melakukan seperti yang bangsawan itu perintahkan.
"Tuan Sebastian.. Apakah perlu kami menangkap orang-orang ini..??!! " Tanya Prajurit itu.
"Ya.. Lebih baik kalian tangkap mereka semua, dan biarkan nanti aku yang akan menulis laporannya.. Kalian takan mendapatkan masalah apapun.. " Ucap Sebastian.
"Baik laksanakan.. " Ucap prajurit itu.
"Kalian..!! Tangkap orang-orang yang telah melukai warga ini..!! "
__ADS_1
Lalu banyak prajurit datang menangkap para bangsawan itu.
"Apa-apaan ini..!! " Teriak bangsawan itu.
"Kami adalah count dan Viscount di sini..!! " Teriak yang lainnya.
"Diam.. Apa kalian tak tau dengan siapa kalian berurusan..??!! " Ucap prajurit itu.
"Siapa memang mereka..?? Mereka hanya laki-laki tua dan bocah sialan belaka.. " Ucap Bangsawan yang mengaku Count itu.
"Laki-laki tua yang kau bicarakan adalah Tuan Duke Sebastian de Illia.. Apa kau tau..??!! " Ucap prajurit itu.
"Dan bocah sialan yang kau bicarakan adalah urusan Raja, aku mendengar bahkan raja tak berani macam-macam dengannya.. Sedangkan kalian berani mengancamnya..?? "
"Apa..?? Duke..?? " Ucap bangsawan itu.
"Berakhir.. Berakhir sudah semuanya.. "
"Bawa mereka pergi dari sini..!! " Ucap prajurit itu.
Lalu para bangsawan itu di bawa oleh para prajurit memasuki gerbang itu.
Setelah itu semua warga yang ada di sana masuk dengan tertib dan tak ada insiden lainnya.
Dan terlihat Olivia kembali ke Baisi melewati gerbang itu. Terlihat Sebastian saat ini sedang berbicara dengan Olivia dan juga sedang mendapatkan laporan dari prajurit.
Setelah itu mereka berjalan ke arah Argus lagi.
"Sekarang sudah setengah warga masuk, tinggal setengah lagi yang masih belum selesai mengemas barang mereka.. " Ucap Sebastian.
"Baiklah.. Aku akan menunggu sampai pagi hari kedua.. Setelah itu keesokan harinya aku akan mulai membuka gerbang lagi, Jadi biarkan para prajurit mengatakan itu ke sisa warga di sana.. " Ucap Argus.
"Ya.. Itu juga bagus.. Jika sampai dua hari mereka belum juga selesai, maka kau bisa melupakan mereka.. Tak perlu membukakan gerbang lagi.. " Ucap Sebastian.
"Aku akan menjelaskan hal ini ke saudara ku nanti, aku yakin dia paham.. "
"Emm terimakasih.. " Ucap Argus.
"Aku akan pergi ke tembok kota untuk membantu menangani Gelombang pasang monster.. "
"Ya.. Aku akan menangani para warga.. " Ucap Sebastian.
"Oliv, apa kau mau ikut denganku atau dengan Argus..?? "
"Aku akan ikut Argus.. " Ucap Olivia.
"Baiklah, kalau begitu kalian hati-hati.. " Ucap Sebastian.
"Emm.. " Angguk Olivia.
Setelah itu Argus dan Olivia berpisah dengan Sebastian, dan mereka berjalan menuju tembok kota.
Di jalan, Argus dan Oliv masih bisa melihat beberapa warga yang terlihat santai seolah-olah tak ada yang terjadi.
Ini membuat Argus sedikit kesal. Ia sebenarnya tak terlalu perduli, namun jika ia berniat membantu tapi tak di hargai. Ia juga merasa kesal.
Awalnya ia tak ingin menolong mereka, namun karena ia bersama Lisa dan Olivia. Argus masih mencoba memikirkan perasaan mereka jika melihat orang di sini menderita dan ia tak membantu.
Sebenarnya bisa saja Argus menolong mereka agar selamat dari para monster, namun itu bukan tanggung jawab Argus.
Baginya hanya ada tiga tipe orang di dunia ini..
Pertama Keluarga dan teman, untuk ini Argus akan menolong mereka dan menjaga mereka semua apapun yang terjadi.
Kedua adalah musuh.. Jika musuh, maka Argus akan berusaha memusnahkan mereka.
Dan yang ketiga.. Itu adalah orang lewat, jika orang lewat maka hidup dan matinya bukan urusan Argus. Agus akan menolong mereka jika ia mau dan akan meninggalkan mereka mati jika ia tak mau..
"Kenapa mereka sepertinya sangat santai. .?? " Tanya Olivia.
"Biarkan saja mereka.. Jika dalam dua hari lagi mereka tak pergi, itu bukan urusan kita lagi.. " Ucap Argus.
"Itu.. " Olivia ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya ia tak berbicara.
"Aku tak suka orang yang tak menghargai kesempatan yang telah di berikan kepada mereka tapi tak di hiraukan.. " Ucap Argus.
"Karena mereka tak ingin pergi, maka biarkan saja mereka.. "
.
__ADS_1
.
. Bersambung