
"Ohh Oliv kau sudah kembali.. " Ucap Raja Rodrike ketika ia melihat Olivia datang.
"Kemari lah.. Katakan apakah ada yang istimewa hari ini..? "
"Emm tak ada.. Aku hanya semakin dekat dengan Hawa dan Lisa saja.. " ucap Olivia.
"Benarkah..? Kalo begitu itu adalah awal yang bagus.." Ucap Ratu Silvia.
"Emm.. " Jawab Olivia sambil mengangguk.
"Oh benar.. Tadi sebelum pulang, Argus menyuruhku bertanya.. Apakah Ayah ingin mendapatkan salinan catatan yang asli atau yang terjemahan.. Ia berkata setiap modelnya memiliki kepentingan sendiri.."
"Apa maksudnya dengan kepentingan sendiri-sendiri..? " Tanya Raja Rodrike.
"Mungkin karena jika kita meminta catatan asli maka kita harus menerjemahkan sendiri..
Dan itu akan memakan waktu lama.. " Ucap Olivia.
"Dan jika kita meminta terjemahannya, jika tidak hati-hati itu mungkin akan mudah bocor keluar untuk informasinya.. "
"Jadi sepertinya Tuan Argus memberikan pilihan kepada kita. Agar kita bisa mempertimbangkan baik buruknya..
Dan ia sepertinya juga ingin mengisyaratkan bahwa setelah Catatan itu di Terima. Baik manfaat atau kerugiannya itu adalah apa yang telah kita pilih sendiri.. Jadi ia tak akan ikut campur atau lepas tangan jika ada masalah lain akibat pilihan kita.." Ucap Olivia.
"Apakah itu benar-benar perkataan Argus..? " Tanya Sebastian.
"Tidak.. Ini pikiran saya sendiri.. " Ucap Olivia.
"Hohohoo.. Sepertinya kau sudah memposisikan diri seperti istri Argus, kau mengatakan sesuatu yang membela Argus di sini.. " Ucap Ratu Silvia..
"Ibu..!! Itu tidak benar.. Aku hanya.. Aku hanya memikirkan kemungkinan itu saja.. Tak lebih.. "Ucap Olivia.
" Kalau begitu aku akan kembali ke kamar dulu untuk istirahat..
Aku permisi dulu.. "
"Saudara ku.. Bagaimana menurut mu..? " Tanya Sebastian setelah melihat Olivia lari dari ruangan itu.
"Walaupun itu perkataan Olivia, bukan perkataan langsung dari Argus. Tapi menurutku, ada benarnya juga apa yang Oliv katakan.. " Ucap Raja Rodrike.
"Ya.. Walaupun di sini Oliv sepertinya mengatakan semua itu demi kebaikan Argus, tapi apa yang ia katakan tidaklah salah..
Terlepas dari pilihan kita, semua akibatnya nanti adalah tanggung jawab kita sendiri.." Ucap Ratu Silvia.
"Emm kau benar.. " Kata Raja Rodrike.
Setelah itu ruangan itu menjadi sunyi karena masing-masing dari mereka memikirkan apa yang terbaik.
"Aku pikir.. Catatan yang sudah di terjemahkan akan lebih baik.. " Ucap Sebastian.
"Apa kau punya alasannya..? " Tanya Raja Rodrike.
"Ya.. Jika kita meminta salinan catatan aslinya, kita memang akan mendapatkan semuanya tanpa takut ada yang hilang selama perjalanan para peneliti atau di palsukan..
Namun itu akan memakan waktu terlalu lama bagi kita untuk meneliti ulang. " Ucap Sebastian.
"Dan jika kita memilih salinan yang sudah diterjemahkan, Walaupun itu akan sangat beresiko karena mudah bocor.. Kita bisa mengetahui isi lengkap dan maksud sebenarnya dari catatan aslinya, dan kita juga bisa menghemat banyak waktu.. "
"Selain itu, kita bisa menyembunyikan fakta bahwa kita memiliki salinan yang sudah diterjemahkan untuk mengetahui apakah ada peneliti yang mencoba berbohong atau tidak.. "
"Namun.. Karena ini adalah sebuah usaha yang sama dengan usaha banyak peneliti selama bertahun-tahun, maka kita mungkin harus memberikan Argus sedikit penghargaan lainnya.. "
"Ya kau benar..
Jadi pertanyaan selanjutnya adalah.. Apa yang harus kita berikan kepada Argus..? "" Ucap Raja Rodrike .
.
. __________\=Skip\=_________.
Sementara itu di Rumah yang di sewa Argus.
__ADS_1
Saat ini ia mulai membuka matanya dan menghela nafas.
"Sepertinya Oliv tak mengatakan sesuatu tentang segel budak.. " Kata Argus.
"Jadi mungkin ia bisa di percaya.. Tapi..
Haihh.. Lupakan saja, mari lihat apa yang akan terjadi saja.. "
"Entah mengapa aku sepertinya sudah lama melupakan sesuatu.. Sebenarnya Apa yang aku lupakan..? "
"Oh benar juga.. " Argus langsung bangkit dan kemudian ia masuk ke dimension Home miliknya.
Argus kemudian mulai mengolah biji kopi yang ia dapatkan sebelumnya. Selama ini Argus tak mempunyai waktu untuk mengolah mereka, jadi kali ini ia bermaksud untuk mengolahnya..
Karena biji kopi yang di simpan di sini sudah dalam keadaan kering dan siap di olah, Argus tak perlu menjemurnya lagi. Ia langsung memanaskan kopi dengan Sihir api miliknya.
Ia tak menggunakan gerabah atau alat lainnya untuk memanggangnya, karena berfikir itu akan terlalu lama dan merepotkan.
Jadi Argus menggunakan sihir api miliknya untuk memasaknya. Setelah semuanya sudah di rasa cukup, Argus kemudian membuat alat tumbuk..
Ia membuat alat tumbuk dengan prasasti di dalamnya jadi tak perlu menggunakan tenaga manual lagi. Dan Argus juga tak ingin membuat alat penggilingan karena menurutnya rasa kopi yang ditumbuk jauh lebih baik.
Argus kali ini hanya mengolah setengah dari biji kopi miliknya, dan membiarkan sisanya dalam keadaan masih belum ditumbuk.
Setelah itu ia keluar dari sana dan membuat secangkir kopi miliknya sendiri..
"Ini baru namanya hidup..
Sudah sangat lama aku merindukan rasa dari minuman kopi ini.. " Ucap Argus saat ia duduk sambil menikmati secangkir kopi.
Aroma yang khas membuat Lisa datang karena penasaran.
"Bau apa ini master..? Sepertinya ini bau sesuatu yang belum pernah aku rasakan.. " Ucap Lisa.
"Ini Kopi.. " Ucap Argus sambil menunjukkan secangkir kopi.
"Kopi..? Maksudnya Kopi yang master dapat dari reruntuhan, biji pohon Loimos..? " Tanya Lisa.
"Bolehkah..? " Tanya Lisa.
"Silahkan.. " Ucap Argus sambil memberikan secangkir kopi miliknya.
"Kalo begitu aku akan mencobanya.. " Lalu Lisa meminum sedikit kopi itu dan...
"Pahit... Ini sangat pahit... "
"Hahahaha.. Tentu saja, karena ini kopi.. Jadi pahit.. " Ucap Argus.
"Namun jika kamu tak suka pahit, kamu bisa menambahkan Gula kedalamnya.. "
"Benarkah.. Kalo begitu aku akan membuatnya.. " Ucap Lisa.
Kemudian ia mengeluarkan toples berisi gula di dalamnya yang di berikan oleh Argus.
Kemudian ia mulai membuat kopi sendiri kali ini ia menambahkan gula kedalamnya. Dan setelah itu ia mencobanya.
"Emmm... Ini enak. Ini lebih enak dari teh.. " Ucap Lisa.
Kemudian mereka hanya duduk di sana menikmati secangkir kopi sampai larut malam sebelum kembali beristirahat dan tidur. .
.
. __________\=Skip\=_________.
Keesokan paginya, Argus bangun dengan tangan yang sedikit mari rasa karena di pakai untuk bantalan Lisa..
Beberapa hari sebelumnya Lisa selalu tidur dengan Hawa dan jarang tidur dengan Argus lagi, namun tiba-tiba pagi ini Argus menemukan Lisa kembali tidur di sampingnya..
Argus bangun perlahan sebelum mencuci muka dan mandi..
Setelah itu Argus menyuruh Alfred menyiapkan makanan, dan kali ini Argus meminta Alfred memasak banyak makanan daging.
__ADS_1
Karena sebelumnya selalu menginap di penginapan, Argus sangat jarang makan banyak lagi. Jadi kali ini ia sudah cukup kelaparan menyuruh Alfred memasak dalam jumlah yang banyak.
Dan kebetulan saat itu Olivia juga sudah datang jadi mereka mulai makan bersama-sama. Di sana Oliv terkejut dengan jumlah makanan yang bisa di habiskan Argus.
Pasalnya selain makanan yang ada di meja, Alfred sepertinya juga terus menerus mengeluarkan banyak hidangan daging yang langsung di makan oleh Argus.
Selain itu makanan tiap piring yang di berikan kepada Argus adalah jumlah yang bisa di makan lebih dari sepuluh orang sekali gus, dan itu hanya satu piring. Sedangkan Argus sudah makan lebih dari dua puluh piring saat ini Dan masih terus makan.
"Benar Oliv, apa keputusan Raja..? " Tanya Argus di sela makannya.
"Ayah mengatakan untuk meminta salinan yang sudah di terjemahkan saja.. " Ucap Olivia.
"Baiklah, aku akan menuliskan semaunya nanti.. " Ucap Argus.
"Terimakasih.. Dan Ayah juga mengatakan sudah menyiapkan sebuah perahu sebagai imbalannya..
Dan juga jika ada hal lain yang kau inginkan, kamu bisa mengatakannya.. " Ucap Olivia.
"Perahu..?? Ya sepertinya itu memang yang aku butuhkan. Katakan terimakasih dariku, dan aku sepertinya tak membutuhkan hal lainnya lagi. " Kata Argus.
"Emm baiklah, aku akan menyampaikannya lagi nanti.. " Ucap Olivia.
Setelah itu Argus dan yang lainnya menyelesaikan makan mereka. Seperti sebelumnya, Argus kemudian pergi sendirian ke perpustakaan lagi.
Kali ini Argus langsung ke lantai tiga dan mulai membaca banyak catatan sihir, terutama sihir element api.
Ada beberapa tipe sihir yang Argus minati dari sana, salah satunya adalah teknik elementasi.. Dimana di sini penggunaan bisa mengubah sebagian tubuhnya menjadi element api dan Air.
Argus berfikir ini mungkin bisa mirip buah iblis api milik Ace jika di kembangkan. Dan di sini Argus juga berfikir untuk mengembangkannya lebih lanjut lain kali.
Selain itu, Argus juga membaca ada sebuah rune sihir yang bisa menyerap sihir. Namun itu juga hanya Rune rusak atau mungkin tak lengkap.
Tapi Argus tetap mempelajarinya, karena ia memiliki niat tersendiri untuk mengembangkan Rune itu.
Argus bermaksud mengubahnya menjadi sihir yang bisa menelan semua jenis sihir. Jika bisa di gunakan ini jauh lebih berguna untuk mengatasi semua serangan musuh yang diarahkan kepadanya..
Walaupun ia kebal terhadap beberapa sihir atau bahkan semuanya, ia masih harus memperhatikan keselamatan orang lain di belakangnya.
Sementara itu tak ada Sihir lain yang membuat Argus tertarik, tapi ia tetap mempelajari semuanya yang bisa ia baca di sana.
Setelah menyelesaikan semua buku dan catatan di sana, ia kemudian turun ke bawah menemui pustakawan di sana.
"Hallo aku ingin memasuki ruang bawah.. " Ucap Argus.
"Oh hallo.. Baik mari ikut denganku, aku akan membawa anda ke sana. " Ucap pustakawan itu.
Kemudian Argus mengikuti pustakawan itu ke ruang di balik meja pustakawan itu, di sana ada sebuah pintu yang terdapat Rune segel di depannya.
Lalu pustakawan itu mulai membuka segel di sana, butuh beberapa menit untuk menyelesaikannya sampai akhir pintu itu terbuka.
Argus menghafal semua urutan cara membukanya dan juga menghafal Rune pada segel itu. Jika Argus mau, ia bisa langsung membukanya sendiri tanpa harus menunggu lama.
"Maaf segel ini terlalu rumit jadi memakan waktu cukup lama.. Ini demi keamanan semua catatan di bawah.. " Ucap pustakawan itu.
"Tak masalah, aku memahami kerahasiaan catatan di sini sangat penting.. " Ucap Argus sambil tersenyum.
"Anda benar.. Catatan di sini memang sangat penting..
Silakan, Anda bisa masuk sendiri sekarang. Saya harus kembali ke meja untuk mengawasi semuanya.. " Ucap pustakawan itu.
"Terimakasih.. Benar, bagaimana caraku keluar nantinya.. " Tanya Argus.
Walaupun ia bisa mencari tau sendiri atau bahkan menggunakan Gerbang, namun untuk sopan santun Argus memutuskan untuk bertanya.
"Oh Anda tak perlu khawatir, di dalam setelah melewati lorong itu dan sebelum memasuki ruangan. Ada sebuah segel yang akan membuat ku tau ada yang melewatinya, jadi saat itu aku akan datang untuk membuka kembali.. " Ucap pustakawan itu.
"Baiklah.. Aku mengerti.. " Ucap Argus.
.
.
__ADS_1
. Bersambung