
Pada hari selanjutnya Argus bangun dan membawa yang lainnya ikut antrian panjang orang yang ingin pergi melewati perbatasan itu.
Argus berfikir ini hampir seperti orang yang ingin menyebrang ke negara lain atau kerajaan lainnya saja. Karena protokol ini menurut Argus terlalu berlebihan hanya untuk pergi ke kota lainnya, apa lagi ini masih dalam wilayah satu kerajaan yang sama.
Kali ini Argus tak membutuhkan peta di ibukota karena ternyata di sana hanya ada satu buah kota tanpa desa kecil lainnya.
Kota Taito adalah satu-satunya kota terbesar di sana, jadi sama sekali tak memerlukan peta. Argus hanya perlu mengikuti jalan yang sudah ada untuk sampai di Kota.. Dan juga kerajaan ada di pusat Kota, jadi itu mudah untuk di temukan.
Setelah Antri beberapa Jam Akhirnya Argus dan yang lainnya berhasil melewati perbatasan itu. Dan sejauh mata memandang, apa yang terlihat hanya bukit batu terjal di sekeliling jalan.
Di sana Argus berpergian ke kota taito bersama dengan rombongan pedagang yang kebetulan juga menuju ibukota.
"Halo apakah anda seorang petualang..? " Tanya pedagang itu yang duduk di depan gerbong keretanya.
"Ya benar.. " Ucap Argus.
Saat ini argus juga duduk di depan bersama Alfred yang mengendarai kereta kudanya.
"Kalo begitu apakah anda tidak keberatan jika kita pergi bersama mu..? Kebetulan petualang yang biasa kami sewa saat ini sedang melakukan misi lain, jadi kami tak bisa menemukan pengawal untuk perjalanan ini.. " Tanya pedagang itu.
"Tentu, tak masalah.. Kebetulan juga kita satu arah jadi aku tak keberatan.. " Ucap Argus.
"Terimakasih.. Oh benar, perkenalkan..
Namaku Mitchell. Dan ini anak ku Renda, sedangkan di dalam ada menantu ku Nari.. " Ucap Mitchell.
"Hallo salam kenal.. " Ucap Renda.
"Ya salam kenal juga. Namaku Argus, aku hanya seorang petualang biasa. Golem Ini bernama Alfred, ia adalah pembantu yang mengurus keperluan kami.
Di dalam ada Lisa dan anak ku Hawa.. " Ucap Argus memperkenalkan nama mereka.
"Ohh.. Kalian party dan juga keluarga petualang..? " Tanya Renda
"Tidak juga, sebenarnya hanya aku yang terdaftar sebagai petualang saja.. " Ucap Argus
Setelah itu mereka mulai melanjutkan perjalanan bersama-sama, Argus dan Mitchell mulai mengobrol sepanjang jalan.
Dari sana Argus tau bahwa Pedagang itu bernama Mitchell. Ia berpergian bersama anak dan menantunya yang bernama Renda dan Nari.
Sepertinya ia berniat membiarkan anak dan istrinya untuk terbiasa dengan bisnis miliknya agar ia bisa mewariskan usaha dagang miliknya kepada kedua anaknya.
Mitchell adalah seorang pedagang keliling yang menjual berbagai perlengkapan petualang dan juga pakaian.
Ia memiliki toko di kota Taito yang selalu di jaga oleh istrinya, sedangkan dia sering berpergian ke berbagai tempat. Selain berdagang, ia juga mengumpulkan berbagai material untuk bahan baku yang akan di jual di tokonya.
Ia berpendapat jika ia berkeliling dan mencari sendiri, maka ia bisa mendapatkan untung yang lebih besar daripada hanya menunggu di kota Taito.
Entah itu membeli dari pedagang lain atau memberikan misi di Guild, menurutnya akan lebih efisien jika ia pergi ke tempat yang memang memiliki sumberdaya yang ia butuhkan..
Sebenarnya bisa saja ia memesan dari Guild, namun beberapa bahan hanya ada di daerah tertentu saja. Dan jika ia memposting Quest untuk itu, keuntungan yang akan ia dapatkan akan lebih kecil daripada jika ia mencari sendiri ke daerah itu.
.
.
. __________\=Skip\=_________
Saat hari sudah siang, Argus menyarankan untuk istirahat bersama. Karena ia berpergian bersama Hawa, Argus tak terlalu ingin buru-buru.
Jadi ia memilih untuk beristirahat sejenak, dan memang saat itu sudah jam 12 siang. Jadi kondisi saat itu sedang terik, karena daerah itu masih daerah bebatuan dan belum masuk ke dalam area hutan.
Argus memilih tempat yang cukup landai untuk beristirahat. karena ia bersama dengan Mitchell dan keluarganya, Argus tak bisa mengeluarkan Kabin miliknya saat itu.
Jadi Argus terpaksa mendirikan tenda sementara agar tidak terlalu panas. Dan saat itu Argus melihat sudah hampir jam 1 saat semua siap.
Dan saat Argus bersiap mengolah makanan, Tiba-tiba Mitchell mendatanginya dan bertanya sesuatu.
"Maaf..? Apakah aku boleh tau, apakah itu sesuatu yang kau gunakan untuk melihat waktu..? " Tanya Mitchell.
"Oh ini hanya jam tangan biasa.. " Ucap Argus
"Jam tangan..? Bolehkah aku melihatnya. ?? " Tanya Mitchell
"Tentu.. " Setelah itu Argus memberikan jam tangan itu ke Mitchell. Dan setelah itu Mitchell mulai memperhatikan setiap detail dari jam tangan itu.
__ADS_1
"Renda, coba lihat ini.. " Ucap Mitchell memanggil anaknya yang sedang mempersiapkan makanan bersama istrinya.
"Ini..?? Ini luar biasa..!! Apakah ini bisa menunjukkan waktu..? " Ucap Renda yang bersemangat.
"Ayah jika kita bisa menjual benda seperti ini, aku jamin toko kita akan terkenal.. "
"Kau benar, namun kita harus bertanya kepada pemilik benda ini dulu.. " Ucap Mitchell
"Tuan Argus, bolehkah saya membeli benda ini..?? Berapapun yang kau inginkan kami akan membayarnya.. "
Butuh beberapa waktu sampai ia memberikan kembali jam tangan itu kepada Argus.
Ternyata ia penasaran dengan jam tangan Argus, pasalnya di dunia ini belum ada konsep jam tangan.
Konsep waktu saat ini hanya berdasarkan matahari saja. Dan penemuan saat ini hanya sampai pada Jam Matahari.. Jam yang menggunakan cahaya matahari untuk menunjukkan waktunya, jadi hanya bisa di pakai pada siang hari saja.
Sedangkan untuk malam hari mereka masih tak ada konsep waktu yang tepat. Jadi saat melihat Argus bisa menentukan waktu hanya dari benda kecil di tangannya, Mitchell cukup penasaran.
"Apakah kalian ingin mereplikasi benda ini nantinya..? " Tanya Argus.
"Benar, kami berniat membuat benda seperti ini untuk di jual di toko kami.. " Ucap Mitchell
"Tenang saja, Kami akan tetap memberikan upah setiap bulan untuk penjualan benda ini sebagai kompensasi.. "
"Tak perlu, sebenarnya kau bisa membuat sebanyak-banyaknya tanpa harus membayar Loyalty apapun. " Ucap Argus
"Namun benda ini terlalu kecil dan terlalu rumit jika kalian ingin meneliti nya. Jadi bagaimana jika aku membuatkan jam lainnya yang mungkin akan lebih mudah untuk di teliti..
Itu adalah jam saku.. "
"Benarkah..? Kalo begitu terimakasih.. " Ucap Mitchell
"Tunggu..! Apakah maksud anda bahwa benda ini adalah buatan dan ciptaan anda sendiri tuan Argus..?? Maksudku ini bukan di temukan tapi di ciptakan oleh anda..? " Tanya Renda
Saat mendengar perkataan Renda, Mitchell pun baru sadar dengan pernyataan Argus barusan dan dia menantikan jawaban Argus.
"Benar, ini adalah ciptaan ku sendiri.. Jadi aku bisa memutuskan bagaimana membaginya..
Dan aku bisa membuat dua lagi untuk kalian, satu bisa kalian teliti nanti sedangkan satunya bisa kalian simpan untuk hal lain.. " Ucap Argus
"Tidak ayah.. Itu terlalu Rendah, ini adalah penemuan terbaru dan aku yakin banyak yang akan tertarik terutama para bangsawan..
Jadi kita tidak bisa merugikan tuan Argus. " Ucap Renda
"Kalo begitu bagaimana jika dua koin Platinum.. Satu untuk masing-masing jam nantinya bagaimana..? "
"Kau benar, keuntungan akan hal ini pasti di luar keuntungan kita selama ini.. Ini bahkan bisa menjadi spesialis dari toko kita nanti.. " Kata Mitchell
"Ayah.. Apakah itu tidak terlalu berlebihan..? " Tanya Nari.
"Sayang kau tidak paham.. Benda ini bisa mengubah toko kita.. Tidak ini bisa jadi penemuan yang akan mengubah dunia ini..
Harga ini sama sekali tidak berlebihan, jika saja kondisi toko kita lebih baik saat ini. Aku pasti akan menyarankan harga lebih tinggi.. " Ucap Renda
"Renda benar.. Ini adalah penemuan yang akan menggemparkan seluruh kerjaan, tidak bahkan seluruh dunia..
Konsep waktu saat ini terlalu berantakan, dan dengan benda ini semuanya akan jauh lebih mudah.. " Ucap Mitchell
Sebenarnya Argus ingin mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan beberapa baju untuk Lisa dan Hawa sebagai gantinya.
Namun melihat interaksi antara mereka bertiga dan percakapan mereka, Argus menarik kembali kata-kata yang ingin ia ucapkan..
Bagaimanapun juga, Argus sebenarnya ingin menyebarkan teknologi di duni ini secara perlahan. Jadi ia sama sekali tidak membutuhkan banyak uang.
Terlebih lagi uang untuk Adamantoise sendiri belum ia Terima, dan ada kemungkinan itu akan sangat banyak.
Jadi Argus sama sekali tak membutuhkan banyak uang saat ini.
"Master, makanannya sudah siap.. " Tiba-tiba suara Lisa terdengar dari belakang.
"Ada apa itu..? " Tanya Lisa saat melihat tiga orang lainnya sedang sibuk berdiskusi membahas jam tangan.
"Tak ada apa-apa, mari tinggalkan mereka dan mulai makan.. " Ucap Argus.
Setelah itu Argus dan Lisa kembali ke tenda mereka dan di sana sudah ada Hawa yang menunggu. Sedangkan Alfred saat ini sudah mulai menyajikan makanan.
__ADS_1
Masakan yang di buat Alfred kali ini adalah sup sayuran dengan potongan daging. Daging bakar. Tumis jamur liar yang di dapat di desa sebelumnya.
Dan juga ada olahan daging lainnya.
"Hawa.. Makan sayuran ini juga, jangan hanya memakan dagingnya saja.. " Ucap Lisa saat melihat Hawa hanya memakan daging dan menyisakan sayuran di piringnya.
"Tidak.. Hawa ingin makan daging seperti ayah.. " Ucap Hawa.
"Master.. Anda juga harus makan sayuran, lihat Hawa sekarang tidak mau memakan sayuran gara-gara master.. " Ucap Lisa kesal melihat Argus yang sama saja hanya memakan daging dari tadi.
"Benar, Master harus memberikan contoh untuk Hawa dan mulai memakan sayuran.. " Tambah Alfred
"Ehh.. Hawa.. Anak kecil harus memakan banyak sayuran agar cepat tumbuh.. " Ucap Argus
"Tapi Hawa ingin seperti Ayah.. Bisa memakan banyak daging.. " Ucap Hawa.
Lisa yang mendengar itu memelototi Argus, karena ia merasa Argus mengajari Hawa sesuatu yang tidak bagus.
"Tidak, jika Hawa hanya makan daging.. Nantinya Hawa akan jadi gemuk seperti babi.. " Ucap Argus mencoba membujuk Hawa.
"Apakah Ayah tidak suka Hawa jika Hawa jadi gemuk..? " Tanya Hawa
"Tentu saja tidak, Ayah akan tetap sayang Hawa apapun yang terjadi.. " Ucap Argus
"Kalo begitu Hawa akan tetap makan daging banyak-banyak.. " Ucap Hawa sambil tersenyum
"Eh.. Itu..." Argus terdiam dan tak tau harus mengatakan apa.
Karena ia sama sekali tidak memiliki pengalaman akan hal semacam ini.
"Master..!! " Teriak Lisa yang kesal karena Hawa makin ngotot untuk memakan daging saja setelah berbicara dengan Argus
Kemudian Lisa mulai membujuk lagi Hawa, dan setelah beberapa saat. Akhirnya Hawa mau memakan sayuran nya.
"Mulai sekarang Master harus memakan banyak sayuran di depan Hawa..!! Apakah Master paham..! " Ucap Lisa yang berubah menjadi seperti ibu-ibu ketika menyangkut Hawa.
"Eee.... Ok aku akan makan sayuran juga.. " Kata Argus tak berdaya..
"Ayah..!! Ada monster yang datang dari sana..
Itu dari dalam tanah..! " Ucap Hawa tiba-tiba, Kata-kata itu membuat Argus berhenti makan dan kemudian langsung keluar tenda dan melihat kearah dimana Hawa menunjuk sebelumnya.
Argus tak melihat apapun dari arah itu, namun mengingat kata-kata Hawa barusan bahwa monster itu dari tanah. Argus akhirnya sadar jika dari atas tanah Monster itu memang takan terlihat.
Kemudian Argus me dekati Hawa untuk bertanya arah monster itu.
"Hawa.. Tunjukkan arah monster itu.. " Ucap Argus
"Di sana..! Di belakang batu besar itu.. " Ucap Hawa sambil menunjuk ke arah salah satu batu besar yang ada di sana.
"Lisa, siapkan panah milikmu..
Aku akan mengeluarkan monster itu, dan saat mereka keluar. Langsung tembak saja, tak perlu memperdulikan aku.. " Ucap Argus
Kemudian ia mulai melompat tinggi dan mendarat tepat di mana Hawa menunjuk barusan dengan posisi meninju tanah di sana..
"Boommmmm....!!!!
Dan saat Argus meninju tanah itu, Argus langsung menghancurkan tanah dan bebatuan di sana..
Dan saat itu juga ada beberapa monster yang besarnya sekitar dua meter dengan panjang masing-masing mencapai sekitar sepuluh meter itu terlempar ke udara akibat serangan Argus barusan.
Monster itu berbentuk seperti cacing dengan mulut lebar penuh dengan gigi tajam di mulutnya.
Lisa yang melihat itu langsung menembaki mereka..
Dan saat itu Mitchell dan anaknya keluyuran tenda dan melihat apa yang terjadi.
"Death Worms..!! " Teriak Mitchell dan Renda bersamaan saat melihat monster itu.
.
.
. Bersambung
__ADS_1