
Keesokan harinya lagi, setelah sarapan pagi rombongan Argus dan Mitchell mulai melanjutkan perjalanan mereka menyusuri daerah tebing batu itu.
Argus benar-benar sudah bosan melihat tebing batu di sepanjang jalan.
namun untungnya Perjalanan itu berjalan lancar sampai siang hari dan pada akhirnya mereka mulai meninggalkan daerah tebing itu dan mulai melihat daerah hutan dan pegunungan Di depan mereka.
Dan pada sore hari akhirnya mereka mulai memasuki daerah Hutan dan benar-benar meninggalkan daerah tebing, Argus cukup senang saat memasuki hutan yang rimbun itu. pasalnya ia juga mengincar beberapa monster aneh yang mungkin memiliki kemampuan tak terduga.
namun sayangnya ia tak menjumpai monster yang ia minati sama sekali. Rombongan kemudian bergegas secepatnya sebelum malam hari agar bisa menempuh jarak maksimal pada hari ini.
Dalam dua hari berikutnya perjalanan mereka cukup lancar tanpa menemui Monster kuat apapun. Hanya ada beberapa monster Rank E yang langsung di bereskan oleh para semut, jadi perjalanan mereka tak mengalami hambatan apapun.
Pada hari ketiga mereka meninggalkan area hutan dan mulai memasuki daerah padang rumput yang luas. Terlihat di kejauhan ada pegunungan yang menanti, dan di balik pegunungan itu ada tujuan mereka. Kota Taito.
Dari sini ada sekitar waktu dua hari lagi perjalanan sebelum bisa sampai di kota Taito. Pada siang hari mereka memutuskan untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan padang rumput di samping sungai kecil.
Argus kemudian mendekati Tuan Mitchell untuk memberikan Jam yang sudah Argus buat. Pada awalnya ia ingin Memberikan saat sampai di kota, namun Argus tak tahan jika ia harus terus berpura-pura dan tinggal di dalam gerbong sepanjang waktu.
"Apakah sudah selesai secepat ini..? " Tanya Mitchell saat ia menerima dua buah jam tangan.
"Ya. Sebenarnya itu karena sebagian besar pekerjaan awal sudah selesai saat masih di desa sebelumnya.
Dan aku hanya tinggal merakit saja, karena sebenarnya aku memang sudah berniat membuat hal ini. Jadi dua buah jam ini tak membutuhkan waktu lama. " Kata Argus
"Rupanya seperti itu..
Hahaha tadinya Aku kira anda bisa membuat benda ini dengan mudah.. " Ucap Mitchell
Argus hanya tersenyum dan tak mengatakan apapun tentang itu.
"Oh benar, yang satu ini aku buat agar mudah di bongkar kembali untuk kalian teliti. Jadi jika kalian mau membongkar lebih baik yang ini saja. " Ucap Argus sambil menjelaskan.
"Terimakasih.. Renda, coba lihat apakah Nari bisa mengerti semua di dalam ini.. " Ucap Mitchell sambil memberikan Jam itu ke anaknya.
"Baik.. " Ucap Renda.
Kemudian ia membawa jam itu ke istrinya. Sepertinya istrinya Nari adalah seorang ahli dalam bidang teknologi.
Melihat Argus yang sepertinya penasaran, Mitchell pun akhirnya menjelaskan.
"Mungkin anda penasaran, kenapa aku memberikan ke menantu ku.. " Ucap Mitchell
"Sebenarnya Nari seorang ahli tekhnologi..
Ia suka meneliti semua jenis ilmu tentang tekhnologi dan ingin menjadi ahli di bidang itu.
Karena itulah, walaupun ia tak ahli dalam hal Dagang. Aku tetap membawanya ikut bersama kami keliling untuk mengumpulkan berbagai informasi yang mungkin berguna untuknya.. " Kata Mitchell
"Ternyata seperti itu.. " Ucap Argus
"Master.. Reruntuhan.. " Tiba-tiba Lisa berbicara kepada Argus dan mengatakan masalah reruntuhan.
"Reruntuhan..??
Oh benar, mungkin lebih baik kalian atau Nari pergi ke Desa Daka di kota Isak.. " Ucap Argus
"Mungkin informasi ini belum di sebar luaskan, namun yang pasti saat ini ada reruntuhan yang isinya adalah Tower sihir tentang berbagai tekhnologi. Jadi aku pikir Nari pasti akan tertarik untuk pergi kesana. "
"Reruntuhan dan Tower Sihir tekhnologi..? Apakah itu benar..? " Tiba-tiba Nari yang mendengar akan hal itu datang dan bertanya.
"Benar..
Aku yakin kau akan tertarik dengan hal ini. Namun aku sarankan untuk kalian, karena hal ini sepertinya belum di umumkan. Aku harap kalian bisa merahasiakan akan hal ini untuk sementara.. " Ucap Argus
"Emm tentu.. " Ucap Nari.
"Ayah.. Bisakah kita ke sana selanjutnya..?? "
"Ya.. Setelah kita sampai di kota dan mengurus semua bawaan. Kita akan menyiapkan perjalanan selanjutnya ke Daka.. " Ucap Mitchell
"Tidak bisakah kita langsung ke sana saja..? " Ucap Nari
"Sayang... Apakah kau tak mendengar apa yang Tuan Argus katakan barusan.. " Kata Renda
"Ia mengatakan bahwa hal ini masih menjadi rahasia.. Jadi Artinya para bangsawan masih memikirkan caya menangani hal ini dan memerlukan waktu untuk mengumumkannya.
Jadi kita tak perlu terburu-buru karena kita masih memiliki banyak waktu.. "
"Lagipula jika kita kesana sekarang dan reruntuhan itu masih di rahasiakan, maka ada kemungkinan kita akan membawa masalah untuk Tuan Argus nantinya.. " Ucap Renda
"Ehh.. Maafkan aku Tuan Argus.. Aku sedikit terbawa suasana.. " Kata Nari.
"Tak masalah.. Lupakan saja.. " Kata Argus
"Kalo begitu aku akan mulai melihat isi dari jam ini sekarang..
Aku permisi dulu.. " Ucap Nari.
Lalu ia kembali ke dalam gerbong keretanya bersama Renda. Sepertinya ia benar-benar tak sabar untuk melihat bagaimana cara kerja jam tangan itu.
Sementara itu Argus Lisa Hawa dan Mitchell mulai mengobrol di luar Gerbong di depan pengapian.
Mereka mengobrol tentang pengalaman masing-masing, terutama pengalaman dagang Mitchell yang sudah sangat lama berdagang.
__ADS_1
Karena perusahaan miliknya ternyata adalah perusahaan turun temurun dari keluarganya. Dan saat ini adalah generasi ke lima yang memegang kendali bisnis itu dan hendak di wariskan ke Renda yang merupakan generasi ke Enam.
Mitchell sangat antusias saat menceritakan kisah hidupnya, terutama saat ia bertemu dengan istrinya..
Mereka sangat asik mengobrol sampai tak terasa lebih dari satu jam terlewati, jadi Argus menyarankan untuk melanjutkan perjalanannya.
Jadi Mitchell pun akhirnya masuk untuk melihat Renda dan Nari yang sedari tadi masih asyik meneliti jam tangan itu di dalam.
"Apakah ada sesuatu yang menarik..??! " Tanya Mitchell
"Ayah coba lihat ini.. " Ucap Nari yang bersemangat.
.
.
. __________\=Skip\=_________
Sesaat sebelumnya. Saat dimana Renda dan Nari masuk kedalam gerbong.
Renda melihat Nari begitu antusias saat membongkar Jam tangan itu, terutama karena sebelumnya ia mendengar masalah reruntuhan yang membuatnya bersenjata. Dan sekarang saat ia melihat isi dari jam tangan itu, ia benar terpana dan sangat bersemangat.
Sudah setengah jam lebih Nari mengamati setiap komponen di dalam jam itu dan terus saja terpana dan kagum dengannya.
"Sayang.. Sepertinya kau sangat bersemangat dengan jam ini.. Sebelumnya kau tak terlihat tertarik bukan..?" Ucap Renda.
"Sayang kau tak tau... Setiap komponen di dalam benda kecil ini adalah penemuan yang sangat hebat..
Sebelumnya aku tak tau isinya dan masalah bisnis kau tau sendiri aku sama sekali tak paham.. " Ucap Nari.
"Namun saat melihat setiap komponen ini..
Lihat benda ini.. Lingkaran bergerigi ini jika di manfaatkan ini akan benar-benar mengubah seluruh kerajaan.
Dan ini lihat ini.. " Nari terus saja menunjukkan setiap bagian dari dalam jam itu dan sangat bersemangat saat ia menjelaskan kegunaan dari setiap komponen.
Konsep roda bergerigi di dunia ini masih belum di temukan, jadi saat Nari melihat hal ini dan mengamati cara kerjanya.
Ia benar-benar tertarik dan sangat bersemangat.
"Ini bukan tekhnologi.. Ini adalah seni..
Setiap komponen benar-benar sempurna, ini melengkapi komponen lain dan benar-benar pintar.. "
"Tuan Argus benar-benar orang terpintar yang pernah aku lihat.. Bahkan aku yakin dalam sejarah sekalipun tak ada yang bisa menandinginya dalam hal pengetahuan.. "
"Mendengar penjelasan mu tentang komponen jam ini, aku kali ini mungkin juga sependapat..
Aku tak tau, apa yang tak bisa di lakukan oleh Tuan Argus.. " Ucap Renda
"Tunggu.. Bukankah Tuan Argus hanya seorang petualang..? " Tanya Renda tiba-tiba
"Benar, ia seperti hanya seorang petualang..
Memang ada apa..? " Ucap Nari
"Jika ia hanya petualang biasa, lantas darimana ia mendapatkan informasi penting tentang reruntuhan..?? Terlebih lagi ia bahkan tau isi reruntuhan itu adalah Tower sihir dan isinya juga tentang Tekhnologi..? " Ucap Renda
"Eehhh...?? Kalo di pikir-pikir lagi, ini memang aneh..
Ia bisa mengetahui rahasia penting seperti itu, dan ia membicarakan seolah-olah itu hal biasa tanpa ada ekspresi aneh.. " Ucap Nari
"Hanya ada dua kemungkinan.
Pertama ia bukan petualang biasa, melainkan juga bangsawan atau berasal dari keluarga bangsawan.. " Ucap Renda
"Ke-dua, ada kemungkinan ia adalah orang yang menemukan reruntuhan itu dan isinya.. "
"Tapi.. Bukankah hanya petualang Rank S dan para kesatria saja yang berhak memasuki reruntuhan yang belum di ketahui..??
Sedangkan Tuan Argus sepertinya ia mengatakan bahwa ia hanya Rank A bukan..? " Ucap Nari
"Kau benar.. Jadi mungkin ini adalah kemungkinan ketiga yang tak kita duga..
Tuan Argus adalah petualang Rank A hanya dalam status.. " Ucap Renda
Melihat Nari yang tak paham Renda pun melanjutkan prediksi miliknya tentang Argus
"Maksudnya adalah Tuan Argus itu memang Rank A petualang..
Namun kekuatannya sudah di akui oleh Guild dan Bangsawan setempat bahwa ia sudah sepadan atau bahkan lebih kuat dari petualang Rank S.. "
"Kau juga melihat sendiri bukan kekuatan Tuan Argus saat ia mengalahkan para Death Worms itu.. "
"Kau benar, kekuatannya aku rasa tak sama seperti kekuatan petualang Rank A kebanyakan..
Aku melihat dari celah gerbong saja merinding melihat para Death Worms itu, namun Tuan Argus sepertinya sangat mudah mengalahkan mereka.. " Kata Nari
"Emm.. Kau benar..
Lupakan, yang manapun yang benar itu tak maslah. Yang penting ia adalah orang yang baik.. " Kata Renda.
"Kau benar sayang..
__ADS_1
Terlebih lagi ia sangat pandai.. " Untuk Nari
Kemudian ia mulai meneliti lagi setiap komponen di dalam jam kecil itu. Ia masih saja kagum dengan semua komponen kecil itu.
Mereka begitu kecil namun presisi, setiap komponen benar-benar memiliki fungsi yang tepat dan efesien yang hebat.
"Apakah ada sesuatu yang menarik..??! " Tiba-tiba suara Mitchell terdengar saat keduanya asyik melihat komponen itu.
"Ayah coba lihat ini.. " Ucap Nari yang bersemangat.
Kemudian ia mulai menjelaskan semuanya yang ia pahami dari jam saku itu yang membuat Mitchell juga cukup terkejut dengan isinya.
"Ini benar-benar penemuan yang luar biasa.. " Ucap Mitchell
"Benar.. Ayah, aku sarankan untuk mencantumkan nama Tuan Argus dalam jam ini.. " Ucap Renda
"Itu benar.. Bagaimana pun juga Tuan Argus adalah penemu hal ini. Jadi dunia ini harus mengenal kejeniusan Tuan Argus.. " Ucap Nari
"Ya.. Bagaimana jika menamakan merek jam ini sebagai Argus.. ?? " Ucap Mitchell
"Sepertinya itu terlalu berlebihan, karena sepertinya Tuan Argus tak terlalu ingin terkenal, bagaimana jika memakai nama belakang Tuan Argus saja..??
Oki... Okinawa bukan kalo tidak salah..? " Ucap Renda
"Kau benar, lalu kita akan memakai nama Okinawa untuk Merek jam ini nantinya.
Aku yakin Tuan Argus takan marah jika kita memakai nama belakang miliknya. Dan ia takan merasa risih, tak seperti jika kita memakai nama panggilannya.. " Kata Mitchell
"Itu benar.. " Ucap Nari
"Baiklah, kalian bereskan semuanya, jangan sampai ada komponen yang hilang..
Kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita, Tuan Argus sudah menunggu kita untuk kembali melanjutkan perjalanan di luar.. " Ucap Mitchell
"Baiklah, aku akan membersihkan yang di luar, sayang kau bereskan semuanya dan kemas lagi. Jangan sampai ada yang hilang nantinya.. " Ucap Renda
"Emm.. Aku mengerti.. " Kata Nari
.
.
. __________\=Skip\=_________
Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan lagi.. Dan kembali beristirahat pada malam harinya.
Pada hari selanjutnya mereka sudah memasuki area pegunungan dan hanya tinggal satu hari lagi sampai mereka melek gunung itu dan kemudian sampai di kota Taito.
Dan saat mereka melewati pegunungan itu, Tiba-tiba mereka melihat ada sebuah kayu yang melintang dan memblokir jalan mereka.
Argus yang melihat itupun tersenyum.
"Hehh.. Trik klasik..
Apakah masih ada yang menggunakan trik klasik seperti ini..? " Gumam Argus.
Lalu ia melihat kedalam gerbong melalui jendela depan.
"Sayang.. Apakah kau melihat ada tikus yang bersembunyi di depan sana..? " Tanya Argus kepada Hawa.
"Ehh.. Hawa tak melihat tikus ayah.. " Ucap Hawa.
Lisa juga penasaran kenapa Argus bertanya-tanya soal tikus..? Apakah ia ingin memakan daging tikus kali ini..? "
"Ehh..?? Ohh ma'af maksud Ayah adalah orang jahat yang bersembunyi di depan sana..? " Kata Argus mengoreksi Kata-katanya.
Setelah mendengar Kata-kata Argus, Hawa kembali melihat ke arah depan dan mengamati sekeliling.
"Ya ada..!! Ada sekitar.. Satu.. Dua.. Tiga.. Ohh ada lima di kanan dan Empat di sebelah kiri..
Ohh dan ada juga yang bersembunyi di atas pohon sebelah sana.. " Kata Hawa sambil menujuk ke arah salah satu pohon besar.
"Terimakasih sayang.. Tetap di kereta dan jangan keluar ok..." Ucap Argus sambil mengelus kepala Hawa.
"Lisa, setelah melihat tanda dariku.. Kau langsung bunuh saja yang ada di atas pohon.
Aku yakin mereka adalah bandit dan yang di atas adalah job Archer.. "
"Emmm.. Mengerti Master.. " ucap Lisa
"Hawa, ingat jangan keluar kereta ok.. tetap di sini bersama kak Lisa.. "
"emm Hawa tau.. " ucap Hawa
"apakah ada yang bisa saya bantu Master.. " tanya Alfred
"Tak perlu, aku akan mengurus semua serangga itu. Alfred kau cukup jaga kereta saja. jangan biarkan siapapun diantara bandit itu mendekat.. " kata Argus
"jika ada yang mencoba macam-macam, bunuh saja.. "
"baik Master.. perintah di Terima.. " ucap Alfred
.
__ADS_1
.
. Bersambung.