
"Paman.. Lupakan, aku tak masalah meski harus menjadi budak.. " Ucap Olivia.
"Tapi... " Ucap Sebastian.
"Maaf mengganggu kalian.. Tapi bukan kah keputusan hal ini ada pada ku..?? " Tanya Argus yang sedari tadi diam.
Mereka semua saling memandang dan ya memang benar, mereka sebenarnya membuat keributan yang tak perlu saat ini.
"Sebenarnya kalian tak perlu Membuat keributan tentang masalah ini, karena sebenarnya aku bersedia membawa Olivia bersama ku dalam perjalanan selanjutnya.. " Ucap Argus
"Namun untuk tunangan, aku minta maaf.. Aku belum bisa.. Selain karena Hawa juga belum terbiasa menerima Olivia, aku juga belum ingin terikat apapun saat ini.. "
"Tapi tenang saja, aku akan memperlakukan Olivia seperti keluarga ku sendiri dan takan membeda-bedakan dengan yang lainnya.. " Ucap Argus.
"Itu.. " Raja Rodrike ingin mengatakan sesuatu tapi Ratu Silvia mendahului nya.
"Ya kami mengerti dan kami akan menghargai keputusan mu.. Benar bukan Oliv..?? " Ucap Ratu Silvia
"Ya ibu.. Aku mengerti dan aku juga menerima ini..." Ucap Olivia.
Meski ia agak kecewa, tapi mengingat ia bisa ikut berpergian dengan Argus. Maka ia merasa itu bukan masalah untuk sekarang, karena
Ia masih memiliki banyak kesempatan agar Argus bisa menerimanya nanti.
"Baiklah sepertinya semua sudah selesai.. Aku akan pergi mencari Hawa dan yang lainnya dulu.. " Ucap Argus
"Benar.. Kemana anak bodoh itu membawa Hawa.. " Ucap Sebastian yang masih dalam keadaan kesal itu.
"Daripada memikirkan hal itu.. Lebih baik memikirkan untuk menyingkirkan tumpukan Emas ini dulu bukan..?? " Ucap Ratu Silvia sambil tersenyum saat melihat pintu masuknya terhalang oleh tumpukan Emas.
Mereka akhirnya menyadari bahwa mereka tak bisa keluar dari sini, terutama Argus yang merasa sedikit malu karena mengeluarkan semuanya sekaligus yang pada akhirnya menghalangi jalan keluar.
"Aku akan menyingkirkan sebagian Emasnya dulu.. " Ucap Argus.
Lalu ia berjalan maju dan berniat memasukkan kembali sebagian dari emas itu. Namun tiba-tiba..
"Hai... Oh sial...!!!! " Teriak seseorang
Saat intu di buka dari luar dan tumpukan emas itu langsung jatuh menimpa orang yang membuka pintu itu.
Lalu orang itu yang berdiri dari tumpukan emas yang menimbunnya.
"Apa-apa ini..?? Apakah ada yang memberikan kejutan kepadaku dengan semua emas ini..??!! " Teriak Roland yang ternyata ialah yang membuka pintu tersebut.
Sementara Alfred terlihat sudah menarik Hawa dari Roland sebelum ia terkena tumpukan emas juga.
"Ya sepertinya anak bodoh itu sudah membuatkan kita jalan keluarnya.. " Ucap Sebastian.
"Kalau begitu, aku akan permisi dulu.. " Ucap Argus.
Kemudian ia keluar dari sana bersama Hawa, Lisa dan Alfred.
.
.
. __________\=Skip\=_________.
Sesampainya di rumah yang Argus sewa.
Hawa langsung berlari dan bermain dengan kelincinya, sedangkan Alfred masuk untuk membuatkan makanan dan minuman untuk Argus dan Lisa yang saat ini sedang duduk menyaksikan Hawa bermain.
"Apakah semuanya sudah beres sekarang master..? " Tanya Lisa.
"Ya, semuanya sudah selesai.. " Ucap Argus.
"Lalu.. Apa tujuan master selanjutnya..?? " Tanya Lisa.
"Setelah ini aku bermaksud membuat senjata, karena senjataku tak bisa di gunakan lagi.. " Ucap Argus
"Walaupun aku sudah menyiapkan senjata lainnya, namun itu untuk pertempuran jarak dekat. Dan aku masih membutuhkan pedang lainnya.. "
"Jadi apakah master bermaksud membuat senjata sendiri atau membelinya..?? " Tanya Lisa.
"Silahkan Kopi anda Master.. " Ucap Alfred membawa secangkir kopi.
__ADS_1
Sedangkan untuk Lisa, ia lebih memilih Teh. Walaupun ia merasa kopi lebih enak, tetapi kebiasaannya untuk teh masih mendominasi.
"Terimakasih.. " Ucap Argus.
"Aku akan mulai menyiapkan makanan sekarang.. " Ucap Alfred sambil berbalik masuk ke dalam rumah.
"Untuk senjata, aku tak ingin membelinya.. Sebenarnya aku ingin membuat sendiri, namun aku belum terlalu bisa melakukan penempaan.. " Ucap Argus
"Karena senjata sebagus apapun yang di buat dengan sihir akan kalah bagusnya dengan senjata yang di tempa oleh tangan pengrajin.. "
"Kalau begitu apa master bermaksud mencari Dwraf..?? " Tanya Lisa.
"Ya.. Aku bermaksud bertanya kepada Olivia, dimana aku bisa menjumpai Dwarf yang hebat.. Namun aku lupa menanyakannya tadi.. " Ucap Argus.
"Ya.. Jika di kota Taito ini aku memang tak paham apakah ada Para pengrajin senjata atau tidak. Namun yang aku tau Kota Baisi pasti terdapat banyak pengrajin senjata handal di sana.. " Ucap Lisa.
"Ya.. Jika bisa aku ingin melihat di kota ini saja, namun jika tak ada kita artinya harus pergi ke kota Baisi.. " Ucap Argus.
"Lalu.. Kapan Master berencana pergi..? " Tanya Lisa
"Mungkin dalam beberapa hari lagi, kita perlu bertanya dulu dengan Oliv dan juga karena mulai besok Oliv akan ikut bersama kita. Maka kita harus menunggu ia bersiap-siap dulu.. " Ucap Argus.
"Apakah artinya master sudah bertunangan dengan Oliv..?? " Tanya Lisa dengan gugup.
Argus tersenyum saat melihat Lisa terlihat gugup saat bertanya tentang ini.
"Belum.. Aku belum bertunangan dan aku belum berencana menerimanya sekarang.. " Ucap Argus.
"Huuuhhh.. Syukurlah.. " Gumam Lisa.
"Ada apa..?? " Tanya Argus.
"Ehh tidak.. Tidak ada apa-apa..
Aku akan bermain dengan Hawa sekarang.. " Ucap Lisa buru-buru pergi.
Argus hanya tersenyum melihat itu, walaupun Argus masih tak ingin terikat dengan hubungan apapun. Tapi ia masih tau bahwa Lisa juga menyukainya..
Dan ini juga alasan Argus belum menerima Olivia, karena bagaimana pun Lisa sekarang bukan budaknya lagi dan ia masih berpergian bersama.
Dalam kehidupan sebelumnya, Argus selalu di berikan nasehat agar menjaga perasaan orang lain terutama wanita oleh almarhum kakek neneknya..
Jadi saat ini karena Argus masih menerima Lisa untuk berpergian bersama, Artinya Argus masih memberikan kesempatan untuk Lisa. Dan karena itu ia harus menghargai perasannya walaupun ia belum ingin mengikat hubungan dengan siapapun sekarang.
Mungkin terdengar egois, namun ini pilihan terbaik yang bisa Argus ambil saat ini agar tak melukai perasaan siapapun.
.
.
. __________\=Skip\=_________.
Keesokan harinya.
Argus dan yang lainnya bersama Olivia berjalan-jalan bersama, dan di sana Argus melihat rumah yang hancur sudah mulai di renovasi lagi.
Banyak prajurit juga yang terlihat membantu proses pembangunan ulang bangunan yang rusak itu.
"Pagi tuan.. " Ucap salah satu prajurit yang melihat Argus berjalan di sekitarnya.
"Selamat pagi juga.. " Ucap Argus.
"Ohh itu Tuan mage yang sebelumnya.. !! " Ucap salah satu penduduk disana.
Kemudian ia berlari menemui Argus.
"Terimakasih.. Terimakasih sudah mengalahkan monster itu sebelumnya.. "
"Benar, terimakasih.. Berkat anda anak kami bisa selamat.. "
"Ya Tuan. Terimakasih.. "
Kemudian Semakin banyak orang yang datang mengerumuni Argus untuk berterimakasih.
Karena di saat mereka sudah berputus asa saat melihat Skeleton Dragon yang mengamuk di atas Zona Hijau, Padahal sudah banyak prajurit dan Mage lainnya serta para petualang yang mencoba membunuhnya namun gagal. Dan pada saat itu tiba-tiba Argus datang dan langsung menghancurkannya.
__ADS_1
Itu membuat orang-orang di sana sangat berterimakasih kepada Argus.
Untuk warga biasa seperti mereka, mereka sangat sederhana. Selama ada yang membantu mereka, maka mereka akan berterimakasih.
Terlepas entah itu tugas orang itu atau hanya sekedar lewat dan tanpa sengaja menolong mereka, bagi mereka orang itu tetap akan dianggap sebagai penolong mereka.
Tak seperti bangsawan.. Saat ada bahaya, mereka akan meminta pertolongan prajurit atau petualang, namun mereka takan mengucapkan terimakasih dan beranggapan itu sudah tugas mereka.
Dan bahkan ada yang menyalahkan mereka karena menganggap mereka yang menolong telah gagal melakukan tugas mereka dengan benar hingga rumah atau aset bangsawan itu rusak.
Setelah lebih dari setengah jam mencoba kabur dengan cara sopan, akhirnya Argus dan yang lainnya bisa menghindari orang-orang yang ingin berterimakasih kepadanya..
"Aku benar-benar tak cocok untuk hal semacam ini.. " Ucap Argus saat ia menaiki Kereta kudanya yang sudah di ambil oleh Alfred untuk menghindari kerumunan orang yang ingin mengucapkan terimakasih itu.
"Silahkan master.. " Ucap Lisa sambil menyerahkan minuman kepada Argus.
"Kau harus terbiasa dengan hal semacam ini..
Karena hampir semua penduduk di zona Hijau saat ini sudah mengenalmu, dan bahkan yang aku dengar di Guild petualang saat ini ada sebuah kehebohan juga.. " Ucap Olivia sambil tersenyum.
"Mereka semua memaksa Guild untuk menaikan Rank mu hingga menjadi Rank Ss atau setidaknya Rank S.. "
"Apakah bahkan ada hal seperti itu..?? " Tanya Argus.
"Ya.. Hampir semua petualang Rank S sudah melihat kekuatanmu.. Jadi mereka semua terutama petualang Rank A berfikir jika kau masih di Rank A, maka mereka mungkin takan memiliki kesempatan untuk mengambil Quest jika bersaing denganmu.. " Ucap Olivia.
"Jadi mereka ingin menaikan Rank petualang milikmu menjadi Rank Ss agar kau tak mengambil Quest Rank Rendah lainnya..
Dan juga ini agar sesuai dengan kekuatanmu.. "
"Padahal aku sendiri baru sekali datang ke Guild dan bahkan belum menyentuh papan Quest sekalipun.. " Ucap Argus.
Olivia hanya tersenyum menanggapi hal itu, pasalnya ia juga berfikir dengan kekuatan Argus saat ini. Jika ia masih di Rank A mungkin akan tak adil untuk petualang Rank A lainnya..
Dan jika dengan kekuatan seperti itu masih di Rank A. Maka para petualang Rank S mungkin bakan sedikit tak nyaman dengan Rank mereka saat ini.
Jadi pilihan terbaik di sini memang harus menaikan Rank Argus.
"Ayah.. Apakah Orang-orang itu orang jahat..?? Mereka mengganggu ayah, kenapa ayah tak memukul mereka saja seperti ini..
Ha..!! Ha...!! " Ucap Hawa sambil memeragakan gerakan memukul versinya sendiri.
"Tidak.. Mereka bukan orang jahat.. Mereka hanya ingin berterimakasih kepada Ayah saja.. " Ucap Argus sambil mengusap kepala Hawa.
"Dan Hawa tak boleh bersikap kasar ok.. Hawa itu wanita jadi harus lembut.. "
"Tidak.. Hawa ingin jadi kuat seperti Ayah.. Agar bisa melindungi Ayah dari orang jahat.. " Ucap Hawa.
"Yaa.. Ya.. Ayah akan mengandalkan Hawa jika ada orang jahat..
Tapi itu kalo Hawa sudah dewasa ok.. " Ucap Argus
"Hawa sudah besar.. Lihat hawa sudah lebih tinggi.. " Ucap Hawa sambil berdiri di depan Argus untuk menunjukkan tinggi badannya..
"Ok.. Ok.. Ok.. Hawa ayah sudah besar.. " Ucap Argus.
"Hehhee.. " Hawa hanya tertawa saat itu.
"Oh benar Oliv, apakah di kota ini ada seorang Dwarf pembuat senjata yang hebat..??" Tanya Argus.
"Untuk Dwarf yang membuat senjata di sini tak ada, kebanyakan Dwarf di sini hanya menjual senjata..
Sedangkan pembuatan Senjata hanya ada di kota Baisi.. " Ucap Olivia.
"Sepertinya kita memang harus pergi ke Baisi.. " Ucap Argus.
"Apakah Anda akan segera pergi dari sini..?? " Tanya Olivia.
"Ya benar, dan aku harap kau tak perlu bersikap sopan seperti itu. Karena kita akan mulai berpergian bersama-sama bukan..?? " Ucap Argus
"Ehh. Ia.. " Ucap Olivia dengan suara yang sangat pelan.
.
.
__ADS_1
. Bersambung