
Jeep putih memasuki halaman rumah kayu. Raja yang sedang memberi makan kambing segera berlari menyambut Shendi dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Mas, akhirnya kamu pulang juga. Kamu tahu tidak , tadi sikembar hampir mogok gak mau kesekolah " ucap Raja setelah Shendi mematikan mesin.
"Bisa nggak cuci tangan dulu Ja, kebiasaan kamu!" Shendi menunjuk tangan Raja yang masih belepotan adonan pakan.
"Mogok kenapa emangnya??" tanya Shendi setelah turun dari Jeep.
"Tentu saja karena mas gak pulang semalaman. Mereka lebih terlihat sebagai anak kecil jika menghawatirkan mas Shendi. Merengek , menangis. Sedangkan kita gak tahu harus mencarimu kemana!" Raja menumpahkan kekawatirannya. Sepengetahuan Raja ini memang baru pertama kali Shendi tidak pulang.
"Mas kemana aja semalam gak pulang?? Mas habis berantem ya??" Raja memeriksa bekas keganasan Aubery semalam . Shendi tidak suka lalu buru buru menutupi dengan kerah jaket.
"Maaf Ja. Membuatmu kawatir?"
Shendi menyesal. Ditatapnya Raja dengan seksama.
"Kenapa kamu dirumah. Ini kan hari pasaran, kamu gak ikut Lingga ke pasar??"
"Enggak mas, aku mau selesaikan kerjaan yang dirumah "
Shendi mengangguk. Dia menoleh ke arah ke halaman samping. Sudah lama tidak melakukan kegiatan yang disukainya. Hampir tiga minggu ini dia harus berangkat subuh dan sampai ke rumah kadang sudah malam.
"Aku mendadak kangen pingin nganter telur dan ayam" gumamnya.
Andai sekarang Shendi tidak lelah dan mengantuk . Ingin sekali Shendi pergi ke halaman samping, menyibukkan diri dengan tanaman dan ternak yang biasa ia lakukan dulu.
"Baiklah, besok saja kita turun ke desa. Aku sudah kangen sama penggemarku"
"Salah satunya mbak Sari ya mas?" Raja menggoda.
***
09:40 pagi
Entah mengapa hari ini udara bukit Y terasa gerah. Shendi bertelanjang dada sambil berusaha memejamkan mata. Namun bayangan bayangan percintaan semalam. Terus berseliweran dan membekas dalam ingatan. Membuatnya kesulitan tidur.
Diamatinya guling yang berada di sampingnya. Entah kenapa tiba tiba berubah menjadi sosok Aubery dengan senyumnya yang menggoda.
"Tuh kan... , jadi gengsi mau peluk duluan" gumamnya pelan.
Padahal guling itu yang selalu menemani Shendi tiap malam. Akhirnya Shendi menjauhkan guling itu dan berbalik membelakangi. Lama lama Shendi terlelap juga, ia mulai terbuai kealam mimpi. Benar benar mimpi manis disiang hari, yang sangat mendebarkan dan menggairahkan.
Suara riang Yas dan Ramanda yang baru pulang dari sekolah membangunkan Shendi.
Sudah jam 14:40 rupanya. Shendi sudah tidur hampir 5 jam. Ini adalah rekor tidur terlamanya.
Ia pun menyingkirkan jauh jauh guling yang entah mulai kapan dipeluknya. Ia
menggeliat merenggangkan otot ototnya.
Sepertinya tenaganya benar benar terkuras gara gara semalam dan mimpi barusan.
Sikembar menyeruak masuk ke dalam kamar utama. Menyerbu Shendi yang masih malas bangun dari ranjang.
"Mas... kamu bikin kami kawatir tauuu..."!! Ramanda menjewer kedua pipi Shendi. Berharap kakak laki lakinya segera membuka mata.
"Katakan, kemana saja semalam tidak pulang??!" Yas dengan Galaknya berdiri diatas ranjang Shendi. Gadis kecil itu tidak sabar mendengar penjelasan dari Shendi. Tasnya saja masih belum ditaruh.
Shendi mengucek matanya yang masih sepat.
__ADS_1
"Ya Tuhan, setidaknya ganti seragam kalian dulu!!"
"Apa mas Menginap dirumah kakak ipar??" tanya Ramanda lagi. Shendi melotot dengan tebakan adiknya yang tepat.
"Ayo ganti baju anak anak... habis itu bantu kakak didapur. Kita bikin pizza bareng!!" Lingga tiba tiba menyusul masuk ke dalam kamar Shendi.
Sikembar mengeluh, namun diturutinya perintah Lingga.
"Mas harus menjelaskan nanti!" Yashinta dengan nada mengancam, Ramanda mendukung . Lalu mereka pergi menuju lantai atas.
Ahh... susahnya kalau punya adik kelewat pintar.
Shendi bernafas lega terbebas dari adik adiknya untuk sementara.
"Mas, Semalam Pak Arif terus menelfonku menanyakan dimana mas Shendi berada. Hpmu mati , satunya tidak diangkat. Anda kemana saja?." tanya Lingga beruntun setelah Shendi merubah posisinya menjadi bersandar .
Diperhatikannya Shendi yang masih tampak letih tidak bersemangat. Dan bekas bekas yang ditinggalkan Aubery tadi malam. Lingga jadi senyum senyum . Ia juga seorang pria dewasa, tentu sudah paham apa yang terjadi dengan bosnya tadi malam.
"Apa yang kamu tertawakan ?" Sadar tatapan Lingga tertuju pada leher dan luka kecil dibibirnya.
"Enggak mas" Lingga berusaha menahan untuk tidak tersenyum. Shendi memeriksa keadaannya lewat kaca almari. Kenapa masih belum hilang juga bekas yang ditinggalkan Aubery.
"Haiizzz... kenapa harus sebelah sini sih " Shendi menggosok leher dan pundaknya berharap setempel dan bekas gigi itu bisa dihapus.
"Entah jenis obat apa yang diberikan Riki. Efeknya sangat luar biasa "gumam Shendi.
Entah apa yang dibicarakan Shendi. Lingga tak ambil pusing urusan pribadi bosnya.
"Dua hari juga hilang mas, Disini siapa juga yang lihat. Paling cuma aku yang tahu itu bekas apa. Raja sama anak anak mana tahu" ucap Lingga sambil membuka korden kamar.
"Kalau nggak, kompres sama air hangat. Atau mau aku petikkan lidah buaya mas?? Dioles oles lebih cepat hilang"
"Mau pamer ya, kamu lebih berpengalaman dalam hal ini..." Shendi mendengus.
"Anda akan menelpon pak Arif kan?? Kayaknya ada hal penting yang harus dibicarakan."
Oh iya, Shendi lupa menghubungi Arif. Hal apa yang mendesak sampai menelfonnya berpuluh puluh kali. Bahkan mencarinya lewat Jimin dan juga Lingga .
"Aku tahu. Aku pasti akan menghubunginya... "
Lingga mengangguk lalu beranjak ke dapur membuat hidangan untuk tea time anak anak.
"Mas!"
Panggilan Lingga membuat Shendi harus mendongak ke arah lingga yang berdiri didepan pintu.
"Selamat, akhirnya perjuangan mas gak sia sia. Mas sudah mendapatkan kembali cinta Aubery"
Shendi sesaat menatap bengong Lingga, lalu mengangguk ragu ragu. Lingga kembali berjalan keluar menuju ruang belakang. Tiba tiba perasaan Shendi campur aduk. Setelah kejadian tadi malam. Apa Aubery akan berterima kasih atau malah membencinya.
Bagaimana Tiara sekarang. apakah dia sudah lebih baik... ?
Apakah dia kecewa karena berhenti ditengah jalan.
Apakah dia marah aku lelepin kedalam bathup...?
Shendi lalu memeriksa whatsapp. Pesan yang dia kirim untuk Aubery belum dibuka. Pesan untuk Samy cuma di read doang tp ga di balas. Samy pasti sebal banget. Asisten itu ternyata juga tipe pendendam.
Shendi kembali mengirim pesan untuk Aubery.
__ADS_1
Apakah kamu baik baik saja...
Balas aku...
Mengamati centang yang tidak juga berubah biru. Shendi menarik nafas panjang. Lalu dihubunginya Arif.
"Halo... paman... "sapa Shendi begitu panggilan tersambung.
"Halo mas, apa anda baik baik saja?" nada kawatir terdengar dari suara Arif.
"Semalam anda menginap dimana? atau anda touring lagi bersama teman teman lamamu??"
"Enggak... " jawab Shendi malas. Shendi sudah meninggalkan kehidupan bebasnya sejak pindah kerumah kayu. Bahkan ia hampir hilang kontak dengan teman teman lamanya.
"Sesuatu terjadi dengan Aubery semalam..." Shendi bangkit dari ranjang. Mengambil satu kaos dari tumpukan didalam almari.
Shendi lalu menceritakan kejadian semalam secara garis besar. Sambil berjalan ke dapur berniat membuat segelas kopi untuk menghilangkan kantuknya. Lingga yang juga sibuk didapur. Otomatis juga ikut mendengar.
"Sungguh tidak dapat dipercaya putra walikota bisa berbuat rendahan seperti itu"Arif menyesali kelakuan Riki.
"Aku sudah menyuruh Jimin menyelidiki Riki.
"Baiklah , jadi semalam anda menginap dirumahnya Aubery?"
"Aku juga tidak ingin paman, asisten itu... " Shendi menghentikan ucapannya. Ah sudahlah. Menjelaskan sesuatu yang malah membuat mereka semakin salah paham.
Shendi menuang air panas kedalam gelasnya. Seketika muncul Aroma kopi yang membangkitkan semangatnya.
"Oh ya, apa ada hal penting yang ingin paman sampaikan? Sampai paman menghubungi semua asistenku??"
"Ya , Tapi sekarang sudah tidak ada yang penting. Mungkin dia hampir sampai di bukit Y..."
Shendi mengernyit.
"Siapa yang paman maksud??"
Bersamaan bunyi klakson dari arah depan. Tidak mungkin sikembar bermain klakson. Mereka belum turun dari lantai atas.
Lingga dan Shendi pun bertanya tanya siapa yang datang. Mereka ke depan memastikan.
Shendi seolah tak percaya setelah mengenali siapa tamunya siang ini. Dan Lingga terkesima melihat siapa yang keluar dari mobil BMW dan berjalan mendekat kearah mereka.
"Hai... jangkung !!"
.
.
.
.
.Bersambung🤜🤛
.
.
👋 Sampai jumpa next episode.
__ADS_1
🙏Terima kasih yang udah like, rate, komentar , favorite , hadiah dan vote. Sangat berarti untuk Author.
😘 Lop yu😘