
"Entah kapan aku mulai mencintaimu... "
"Kamu , berbeda dari saat awal kita bertemu " Shendi menunduk.
"Maaf..." Shendi merenggangkan cengkeramannya.
Jantung Aubery berdetak kencang. Shendi mengakuinya , mengakui cintanya . Haruskah sekarang dirinya bersorak. Lalu apa maksudnya tadi memberi bunga pada stafnya.
"Minggir!!" Aubery menggunakan kesempatan mendorong Shendi. Hingga tubuh Shendi terjatuh ke bawah. Aubery berdiri merapikan bajunya , lalu menatap tajam kearah Shendi yang mencoba berdiri.
"Jangan membuatku muak dengan kata cinta. Setiap hari akrap dengan staf wanitaku. Memberi bunga didepan umum. Kenapa aku harus percaya padamu ??!"
"Ha... ?" Shendi tidak faham maksud Aubery . Kapan dirinya memberi bunga kepada stafnya. Seingatnya memang tidak pernah bahkan sekalipun.
Tunggu, apa kejadian pagi tadi ketika Aubery baru tiba. Aubery menatapnya dengan sangat jutek. Tawa kecil muncul saat Shendi mulai faham. Ditariknya nafas dalam dalam memandang wajah cantik Aubery.
" Tiara, pria normal tidak akan merendahkan dirinya menjadi cleaning service di kantor wanitanya. Kecuali dirinya memiliki rasa menyesal yang begitu dalam. Rela dihina , tunduk di bawah kaki demi mengharap maaf dari gadis yang di cintainya."
"Menurutmu, apa aku melakukan semua ini hanya untuk bermain main dengan stafmu ??"
"Kamu akan menerima balasan setiap perlakuan yang kamu berikan!" ucap Aubery lirih.
Shendi merapikan baju dan rambutnya. Sepertinya ia harus mengakhiri untuk hari ini. Perasaannya tidak menentu. Emosinya terkuras. Mungkinkah terlalu buru buru untuk membuat Tiara kembali mencintainya.
"Luapkan semua marah dan bencimu , habis habiskan , jangan sisakan walau sedikitpun."
Shendi berbalik pergi meninggalkan Aubery yang berdiri mematung. Sesampainya diluar pintu, beberapa staf yang kebetulan lewat menyapanya. Dan Shela yang sedang berdiri di depan kantor Aubery. Tatapannya penuh misteri kearah Shendi.
Apakah tadi Shela mendengar semua ?
Shendi berlalu mengabaikan tatapan Shela. Dengan gontai ia meninggalkan kantor A.T.
"Hoamm... nyam nyam ... , nyenyak sekali tidur ditemani Tiara." gumamnya.
***
Flashback on
"Gery , bisa minta tolong isi air vas bunga ini ??" Ayu memohon dengan lembut ketika Shendi lewat didekat mejanya. Ayu menyerahkan vas bunga kosong kepada Shendi .
Shendi berhenti lalu pandangannya tertuju pada satu buket bunga cantik diatas meja Ayu.
"Wah cantik sekali bunganya. Dari pacar Ayu lagi ya ??" tanya Shendi penasaran. Ayu selalu mendapat kiriman buket bunga hampir setiap hari dari pacarnya.
Ayu mengangguk malu malu.
"Aihh... yang lagi jatuh cinta". Shendi tersenyum menggoda sambil meraih vas itu dari tangan Ayu.
" bolehlah , sini aku bantu isi air."
10 menit kemudian Shendi kembali dengan vas yang sudah terisi air. Lalu meletakkannya di meja Ayu.
"Sini sekalian aku bantu lepas bungkus bawahnya."
"Kamu tidak keberatan??" tanya Ayu ragu sambil menyerahkan buket bunganya.
"Enggak lah... "Shendi melepas kertas pembungkus batang bunga lalu membuang kertas itu ke tempat sampah. mengembalikan buket itu pada Ayu.
"Terima kasih Gery, kamu memang baiiikkk banget " ucap Ayu sambil menerima buket bunga dari Shendi. Shendi tersenyum lebar mendapat pujian dari Ayu.
Flashback off
***
Sejak meninggalkan kantor A.T. Wajah Shendi terlihat murung. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Langkahnya pelan diantara pengunjung mall yang lalu lalang. Bahkan beberapa kali ditabrak pengunjung mall.
__ADS_1
"Aku tidak ingin terjadi salah paham antara aku dan Tiara" gumam Shendi. Langkahnya berhenti didepan toko perhiasan WD jewellry. Toko ke 2 di kota A. Cabang ke 268 yang 2 tahun lalu dia resmikan sendiri. Sejenak terlihat memikirkan sesuatu.
Begini nih orang dewasa harus bersikap. Dia akan mencari cara untuk menghindari curiga. Bukan sebaliknya.
Seorang manajer penjualan panik menghampiri Shendi yang mematung menatap etalase. Manajer itu masih ingat betul wajah Shendi saat peresmian 2 tahun lalu. CE tiba tiba mampir dan mengamati etalase , apakah ada yang salah dengan penataan perhiasan yang dipajang.
"Tuan muda , selamat siang ... , suatu kehormatan anda berkunjung sendiri ke toko" sapa manajer itu dengan gugup.
"Sst..."Shendi menutup mulutnya dengan telunjuk lalu tersenyum simpul. Ia kembali mengamati perhiasan yang berjejer di etalase. Manager itu mengangguk paham .
"Itu ... apa hanya ini model cincin couple di WD ??"
"Ahhh... Ini hanya model terbaru yang dipasang di etalase luar . Untuk model yang lama masih lengkap di etalase dalam" manajer itu menunjuk ke dalam toko. "Apakah anda ingin mengeceknya ??"
Shendi melongok ke dalam toko. Ada beberapa pengunjung yang sibuk memilih perhiasan. Para karyawan toko juga sibuk melayani.
" Tidak perlu , aku hanya mampir sebentar. Kamu tidak perlu menjamuku" ucap Shendi sambil merogoh hp di sakunya.
Manager itu mengangguk sopan mengiyakan. Tuan muda Wiradana belum berubah. Tetap seperti ini sejak terakhir bertemu. Berpenampilan biasa . Siapa sangka bahwa dia memiliki 400 toko perhiasan.
Shendi menghubungi Arif. Yang ternyata sedang ada urusan keluar kota . Shendi memiliki sebuah ide . Kebetulan sekali Arif tidak ada , jadi tidak ada yang akan banyak tanya. Senyumnya mengembang lalu bergegas ke parkiran . Manager itu keheranan . Tiba tiba mampir lalu pergi begitu saja.
***
Ketika baru menyalakan mesin siganteng. Sebuah pesan masuk di hp jadulnya. Shendi membuka dengan tangan kiri. Ternyata dari Riki.
Jangan lupa nanti jam 8 di The Win. Kami menunggumu.
"Ah kenapa dia sangat berharap aku datang ke reuni itu." Shendi mengeluh. Males banget jika harus bertemu dengan geng lama. Terutama geng dari Riki. Mereka segerombolan anak konglomerat yang tingkah lakunya membuat siapa saja pasti muak.
Untunglah kemarin Lingga menaruh beberapa setel baju di mobil. Katanya jika sewaktu waktu ada keperluan mendesak dirinya tak perlu repot .
Suatu saat nanti pasti berguna mas,
"Apa ini ? kalau ini sih kelewat inisiatif ," Shendi keki setelah mengintip pakaian yang dipilih Lingga. Kemeja , Jas , coats pria , t-shirt dan hoodie . Ada sekitar tiga box sepatu yang diletakkan dibawah. Semua adalah koleksi Shendi yang disimpan di lantai atas.
"Luar biasa, bahkan dia tahu dimana aku menyimpan barang barangku." Shendi menggeleng takjub. Shendi mengganti seragam birunya dengan Hoodie warna hitam dan sepatu Nike.
Shendi menelfon Lingga. Meminta asisten barunya itu untuk tidak cuti besok. Karena nanti malam dia akan datang disebuah acara.
"Tidak apa apa mas, anda tenang saja. Tapi kemana anda akan pergi??" Tanya Lingga. Sepanjang dia tahu, Shendi jarang datang di acara acara baik besar ataupun kecil.
"Aku reuni dengan teman lama di The Win , Oh ya tanyakan pada anak anak . Bagaimana kalau besok kita ke pantai ..." Shendi ingin menebus karena satu minggu ini hampir tidak ada waktu untuk adik adiknya.
" Baik mas , saya akan tanyakan pada mereka?"
Setelah menutup hpnya. Shendi meluncur ke gedung WD. Ada hal yang akan dia selesaikan disana. Siang yang sangat terik. Shendi melindungi matanya dengan kaca mata mirror koleksinya. Musik tik tok yang sedang tren akhir akhir ini menggema didalam mobil.
Memaksa Shendi untuk menggerakkan kepalanya mengikuti hentakan musik yang ngebass.
***
.
.
.
.
.
Suara motor vespa yang khas memasuki halaman parkir The Win. Shendi mengurungkan langkahnya memasuki pintu masuk. Menoleh dan memperhatikan siapa pengendaranya. Senyumnya muncul ketika sesuai yang dia harapkan. Fathan melambai ke arahnya.
Setelah memarkir motor vespa diantara deretan mobil mahal. Fathan berlari menghampiri Shendi yang siap menyambut dengan rentangan tangan.
__ADS_1
"Bro , akhirnya ... !" Mereka berpelukan melepas kangen. Hampir 7 tahun mereka tidak bertemu. Semenjak ujian akhir Shendi langsung menghilang tanpa pamit.
"Kamu gak ada yang berubah ya , cuma kayaknya tinggimu tambah sepuluh senti. " Fathan memperhatikan Shendi dari bawah ke atas. Shendi tertawa fisiknya dikomentari.
"Yaa... sekarang banyak yang menawarkan suplemen kalsium penambah tinggi. kamu mau coba biar tambah tinggi?"
"Yang benar aja Ger, aku udah gak dalam masa pertumbuhan. Makan suplemen satu ton juga gak bakalan tambah tinggi."
Shendi memasang wajah iba pada sahabat lamanya. Selain wajahnya yang hitam manis , Fathan hanya memiliki tinggi 169 cm.
"ck ck ck ... padahal cewek sekarang suka yang tipe kayak aku nih... " Shendi memutar menyombongkan diri. Sekali kali sombong boleh lah.
Fathan merangkul Shendi dengan susah payah. Shendi pun terpaksa harus merendah menyamakan tinggi Fathan. Mereka berjalan memasuki The Win yang mewah.
"Kamu berani sombong sekarang. Katakan kamu udah berani kencan belum??"
Fathan mengejek. Ia tahu sahabatnya ini paling alergi dengan cewek. Apalagi yang centil.
"He he ... ada yang kelupaan . Tapi cewek lebih suka yang pake jas dan mobil mewah. Aku ini apa sih ?"
" Bener Ger, fisik OK kalau kita kere. Cuma dipandang sebelah mata aja. Oh iya, dimana vespamu??" Fathan penasaran. Diparkiran tadi ada vespa lain kecuali miliknya.
"Jangan bilang kamu naik taksi!"
"Ojek!"
Fathan tak percaya.
"Becanda Than... " Shendi nyengir lalu ganti merangkul Fathan. Fathan membuang nafas kesal.
"Oh iya, menurutmu berlebihan nggak ya kita reuni SMA digedung mewah kaya gini??" Fathan melihat sekeliling. Orang orang berpakaian rapi dan berkelas . Para pelayan berseragam lengkap hilir mudik membawa nampan nampan ke tiap ruangan yang disediakan.
"Kamu ada firasat aneh nggak??" Fathan berbisik. Tatapan para pengunjung lain saat melihat kehadiran Shendi dan Fathan yang hanya memakai baju casual .
Shendi sebenarnya tahu tempat seperti apa The Win ini. Hanya orang orang kelas atas yang mampu mengunjungi tempat ini. Ruangan ballroom yang mewah. Satu menu hidangan yang disediakan mungkin setara dengan biaya hidup satu bulan untuk keluarga sekelas Fathan.
Dan The Win juga menyediakan minuman anggur termahal di dunia. Shendi hanya penasaran. Pertunjukan apa yang disediakan Riki untuknya.
"Setelah Kita kedalam baru tahu... " Shendi membalas tatapan seseorang yang berpapasan dengannya.
"Sial diruangan sebelah mana sih?" Fathan mengintip ke tiap pintu. Ada jendela kaca kecil di tiap pintu itu. "Telfon Riki gih !!"
Shendi mengeluarkan hpnya dan menghubungi nomor Riki.
"Halo Rik, ... aku dan Fathan udah di koridor ... halo ... halo ... !!"
"Sial!!" Shendi mengumpat . Hpnya mati kehabisan baterai .
.
.
.
.
.Bersambung🕵️
.
.
🤗Trims yang udah mampir dan ninggalin Like.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1