Istriku Tapi Bohong

Istriku Tapi Bohong
Siapa ngomong dibelakangku !?!


__ADS_3

Shendi keluar dari kamar utama sambil menguap selebar lebarnya. Ia baru memulai pekerjaannya. Namun kantuk terus menyerangnya. Maklum 3 hari ini dirinya harus bangun subuh membuat bekal sarapan untuk dirinya dan Aubery.


Shendi bermaksud membuat secangkir kopi hitam kesukaannya untuk menghilangkan kantuk. Ketika kembali dari dapur, ia mendengar suara gelak tawa adik adiknya dihalaman diluar.


Iapun penasaran apa yang sedang dilakukan mereka. Ternyata sikembar , Raja dan Lingga tengah memandikan siganteng dan simanis . Sambil bermain air dan busa sabun. Melihat mereka Shendi teringat tentang jadwal keberangkatannya ke Beijing bulan ini.


Tepatkah dirinya meninggalkan sikembar bersama Lingga. Lingga terlihat menyukai anak kecil, mungkin karena dia juga seorang kakak. Dan sikembar sepertinya juga cocok dengan Lingga.


"Mas!! ayo kesini!!" seru Yas. Shendi menggeleng. Yas dan Ramanda terlihat kecewa. Shendi baru saja selesai mandi masa harus basah basah lagi...


Kenapa tidak... !!!


Shendi menaruh kopinya dimeja teras. Melepas kaosnya dan menyisakan celana kolor panjang. Lalu berjalan menghampiri mereka. Merebut selang air yang dipegang Lingga. Menyemprotkan air kearah mereka. Lingga yang awalnya hanya sedikit kena air . Kini basah kuyup , begitu juga Raja.


Jeritan riang dari mereka membuat Shendi sejenak melupakan pekerjaan yang menumpuk dimeja kamarnya.


Momen ini entah kapan akan terjadi lagi. Anak anak sudah semakin besar . Kadang aku yang selalu menganggap mereka bayi kecil yang harus selalu aku awasi.


Dan sebentar lagi, aku akan meninggalkan mereka...Setelah kembali mereka sudah bukan anak anak lagi.


Dimana mereka sudah tidak akan bermanja dipangkuanku. Mulai menyimpan rahasia dan aku harus ekstra dalam mengawasi pergaulan mereka.


Bagaimanapun, mereka yang akan meneruskan perusahaan ayah .


***


"HHACHIUU... !!"


"Aneh ... tidak pilek tapi aku terus bersin. Jangan jangan ada yang lagi ngomongin??" Shendi mengusap hidungnya. Ia sedang menata bekal sarapan pada wadah


"Siapa berani ngomongin aku dari belakang!!"


"Mungkin karena kemarin main air sampai sore mas. Lebih baik Mas minum vitamin deh , biar penyakitnya gak jadi mampir " saran Lingga.


"Ah...Haha, benar juga.!" Shendi menggaruk kepalanya. Kenapa bisa lupa kemarin bermain air sampai hampir jam 6, "kalau gitu sebelum berangkat sekolah nanti kasih mereka vitamin juga ya?"


"Baik mas,"


Diperjalanan pun Shendi masih sesekali bersin. Ia menyesal ikutan bermain air. Akibatnya begini,


Ciiiittttt...!!!


Shendi menginjak rem mendadak ketika tiba tiba seorang gadis menyeberang jalan tanpa melihat rambu rambu. Untung saja temannya yang di belakang segera menarik kerah baju gadis itu.


Tin...Tiiinnn...


Dengan emosi Shendi menekan klakson mobilnya. "Hei... sudah bosan hidup ya!!!" gerutunya dari jendela mobil. Kenapa sering banget dia temui orang orang yang egois menggunakan fasilitas umum.


Udah disediakan rambu rambu lalu lintas. Kapan harus jalan dan kapan harus berhenti. Meskipun terburu buru , seharusnya mereka tetap mengutamakan keselamatan. Daripada mati konyol mending telat sekalian dimarahi.


"Maaf mas!" temannya membungkuk, sedangkan gadis itu terlihat linglung. Tentu saja nyawanya hampir hilang tubuhnya terkapar diaspal jalan raya karena disantap oleh mobilnya.


"Haiizzz...!!"


Shendi akhirnya menahan emosinya. Untung dia seorang pemaaf. Coba kalau mereka tidak meminta maaf. Urusannya bisa satu minggu atau satu bulan. Kalian beruntung.


"Hati hati lain kali, utamakan keselamatan!!"seru Shendi lagi. Kedua gadis remaja itu kembali membungkuk mengucapkan maaf.


Shendi kembali menjalankan mobilnya menuju Megabox. Ia masih tak percaya pagi pagi udah ada yang bikin dia emosi.


Gadis tadi terlihat benar benar syok. Tidak bisa menyeberang atau memang ada yang dipikirkannya. Hingga membuatnya tidak fokus.


Tidak bisa menyeberang...


Membuat Shendi ingat dengan seseorang yang tidak bisa menyeberang.

__ADS_1


Flashback on


" Hei... tunggu lampu merah menyala baru menyeberang , memang jalan ini punya bapakmu !! "


Shendi menarik kerah baju Tiara. Hingga langkah gadis itu tertahan dan seketika mundur. Punggungnya menyentuh dada Shendi.


Mereka baru saja keluar dari area food street. Shendi memarkir Simanis didepan supermarket diseberang jalan.


Sesaat Tiara diam tetap dalam sandaran. Shendi tersenyum sekilas.


"Kamu keenakan ya , atau takut sampai syok begini??" Tanya Shendi ketika Tiara masih tak bergeming bersandar didadanya.


Tiara berbalik menghadap Shendi. Menatap wajah Shendi dengan senyum manisnya.


"Apa kamu menghawatirkan aku??" tanya Tiara.


"Apa?"


"Jantungmu berdetak kencang !" Tiara menyentuh dada Shendi.


"Dug dug dug ..." Dengan polos Tiara mengikuti irama detak jantung Shendi yang memang tiba tiba berdetak lebih cepat!"


"Tentu saja kencang. Ada gadis bodoh gak bisa nyebrang ngeloyor gitu aja tanpa lihat kiri kanan. Bagaimana kalau nan.. nan...!" Shendi mendadak gugup. Tiara gantian meletakkan telinganya didada Shendi. Mendengarkan dengan seksama irama jantungnya.


Shendi diam memaku ketika tangan Tiara kini malah melingkar di punggungnya.


"Tiara, hentikan..., ini jalan raya..." Shendi melepas pelukan Tiara. Wajahnya memerah ketika beberapa pengguna jalan menggoda. Dua insan berpelukan dipinggir jalan raya. Siapa saja yang lewat bisa melihat dengan jelas.


Tiara cemberut wajahnya menengadah memandang wajah Shendi.


"Bisakah kamu sedikit membungkuk?? kamu terlalu tinggi!!"


Tanpa berpikir jauh Shendi menurut saja perintah Tiara. " Aku bersyukur Tuhan memberiku anggota badan yang lengkap , aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak punya kaki !!"


Cup!!


Tiara ini benar benar tidak melihat situasi. Sepanjang berada dikampus gadis ini bahkan tidak lepas bermanja di lengannya. Memaksa tangannya melingkar dipundak Tiara. Atau Tiara yang erat memeluk lengannya. Seolah olah takut dirinya kabur.


Dan itu tidak cukup. Reaksi Tiara ketika keluar dari lapangan basket sungguh tidak ia duga. Meloncat kedalam gendongannya. Entah berubah seperti apa wajah Shendi menahan malu.


"Apa yang kamu lakukan,!! tanya Shendi santai.


"Berterima kasih... , terima kasih sudah menghawatirkanku."


"Gadis bodoh..." Shendi kembali berdiri tegap. Segera meraih tangan Tiara lalu menggandengnya menyeberangi jalan raya yang cukup ramai. Ia menyembunyikan wajah malunya. Dan Tiara masih bisa melihat wajah Shendi yang bersemu merah. Senyumnya mengembang melihat reaksi suaminya yang sangat imut karena hadiah kecil darinya.


"Tiara , masih ada waktu. Bagaimana kalau kita belanja ." Shendi menarik Tiara memasuki supermarket. Ia ingat stok susu dirumah juga habis.


Selain susu ada beberapa kebutuhan yang juga hampir habis. Tak terasa satu troli sudah penuh dengan belanjaan. Mereka menuju ke kasir untuk mengantri.


"Kenapa tidak segera bayar belanjaan. Malah berdiri disini??" tanya Tiara polos sambil menunjuk kasir. Shendi yang justru aneh dengan pertanyaan Tiara.


"Ya , ini kita antri mau bayar!!" Shendi menarik tangan Tiara mendekat padanya. Beberapa pengunjung memperhatikan tingkah Tiara . Supermarket lumayan ramai. Dan Tiara menghalangi orang orang yang mau belanja.


"Sayang, jangan bilang kalau kamu lupa cara mengantri??" bisik Shendi.


"Belanja di supermarket harus mengantri kah??" seperti tanpa dosa Tiara balik bertanya.


Shendi menelan ludah. Tiara apakah benar benar baru pertama kali menyeberang jalan dan mengantre di supermarket.


Flashback off


Shendi tertawa sendiri. Mengingat kenangannya bersama Aubery. Nona besar itu seperti orang yang baru turun dari gunung. Ada hal hal yang memang baru dia alami untuk pertama kali . Dan itu lucu sekali .


Tak terasa ia telah sampai di pelataran Megabox. Ketika baru menutup pintu mobil. Seseorang merangkulnya dari belakang.

__ADS_1


"Bro... !"


Shendi langsung bisa mengenali suara itu. Siapa lagi kalau bukan Riki. Ga ada kerjaan banget ya pagi pagi udah di depan mall. Pakai SKSD lagi.


HHHACCHIIUU...!!!


***


Pintu kamar Aubery terbuka. Seperti biasa , Aubery akan membuka pintu sekitar pukul 6:30 pagi. 3 pelayan ditambah satu make up stiles sudah siap didepan pintu.


Namun Aubery sudah terlihat rapi. Ia sudah berganti berpakaian dan merapikan rambutnya sendiri. Aubery mengikat rambutnya keatas. Menyisakan poninya yang dia sisir menyamping.


"Kalian boleh pergi... " ucap Aubery pada para pelayannya. "Dan kau , ikut aku kedalam," tatapannya tertuju pada tukang make up nya.


Para pelayan tertegun. ini tidak biasanya. Setiap pagi Aubery selalu merepotkan para pelayan. Ia akan heboh memilih baju dan aksesoris yang akan dipakainya.


Namun akhir akhir ini. Semenjak nona mereka kembali. Aubery mulai berubah drastis. Sekarang jarang merepotkan pelayannya. Aubery akan melakukan hal hal kecil sendirian tanpa ada acara teriak.


Walaupun akhirnya mereka pergi meninggalkan kamar dengan penuh tanda tanya. Setelah Aubery duduk, make up stilesnya bersiap melakukan tugasnya. Merias wajah Aubery.


"Nona ingin make up seperti apa hari ini??" tanya gadis itu sambil memoleskan pelembab ke wajah aubery.


"Seperti kemarin saja..."


Gadis itu mengangguk. Ia segera melakukan tugasnya. Ia cukup senang bekerja paruh waktu disini. Tugasnya hanya mendandani Aubery . Setelah itu bisa langsung kuliah. Gaji yang ditawarkan juga lumayan . Walaupun bekerja hanya setengah jam dalam satu hari. Atau jika ada acara mendadak . Ia harus siap kapan saja jika dipanggil.


Tanpa gugup sedikitpun ia bisa menyelesaikan tugasnya dalam waktu setengah jam. Senyumnya mengembang melihat hasil karyanya.


"Nona, anda terlihat sangat cantik sekali." pujinya.


Aubery hanya tersenyum kecil melirik gadis itu. Merapikan poninya kembali dengan hair spray.


"Nona hari ini terlihat tergesa gesa. Apakah ada acara mendadak?? "


Aubery menatap tajam kearah gadis make upnya . Jarang ada yang berani berkomentar atau banyak bertanya padanya selain Samy. Sepertinya gadis ini cukup berani.


"Ya... , aku mau menangkap pencuri!" jawab Aubery santai menuju rak tempat menaruh koleksi tasnya. Gadis itu mengernyit. Pencuri??


Aubery menimbang nimbang. Mana tas yang cocok dengan pakaiannya. Gucci atau Chanel.


"Chanel sepertinya lebih cocok dengan gaun Nona!" Gadis itu memberi saran. Aubery kembali menatap gadis itu dari kaca. Lalu berbalik menghadap kearah gadis itu.


"Kau cukup berani ya??, siapa namamu??"


nada Aubery datar bertanya pada tulang make upnya.


"Aura non!" jawab gadis itu dengan senyum lebar. Tidak ada ketakutan sedikit pun. Malah wajahnya terlihat senang. Aubery tertawa kecil.


Menarik...


.


.


.


.


.


.


Bersambung😔


📣Like donk.

__ADS_1


🙏 Terima kasih.


❤️sayang semuanya


__ADS_2