
Disebuah toko brand ternama yang menyediakan pakaian khusus Pria. Sigi sibuk memilih jaket Coat musim dingin yang berbahan campuran wool . Selain ringan juga tidak memakan tempat didalam koper.
"Kamu terlihat keren kalau pakai Coat. Jadi yang ini saja." Sigi memilih 3 coat dengan warna warna netral.
"Kamu pengen aku bawa lemari saat naik pesawat nanti !!" Shendi mendelik. Ia berencana membawa baju beberapa saja. Toh disana bisa beli lagi. Beijing yang terkenal dengan surga fashion . Shendi tidak takut kekurangan baju. Ngapain repot bawa baju banyak banyak.
"Setelah tiba disana kamu akan langsung sibuk. Mana ada waktu buat belanja" Sigi tidak mau mendengarkan Shendi. Langsung saja membawa coat pilihannya ke meja kasir.
"Sekarang jaman digital. Tinggal buka market place mau apa udah diantar sampai depan pintu."jawab Shendi enteng. Tentu saja Shendi sudah riset bagaimana keadaan disana. Tempat tinggalnya. Dan lingkungannya.
"Dengarkan aku. Aku sudah mengalami ini. Menganggap remeh hal kecil seperti ini. akhirnya aku tidak ganti baju sampai seminggu. "Sigi kukuh.
2 orang kasir tampak senyum senyum. Dengan sabar menunggu mereka yang tengah berdebat di depan meja kasir. Untung saja siang itu tidak banyak pelanggan. Jadi tidak ada yang mengantri.
"Sudah pokoknya begini saja. Kamu akan berterima kasih setelah tiba di Beijing nanti!!." Sigi dengan percaya diri.
Pede banget... _Shendi menggerutu. Dapat dibayangkan betapa repotnya nanti dengan banyak koper yang dia bawa.
"Tolong hitung mbak." ucap Sigi dengan mbak kasir. Dijawab dengan anggukan sopan. Ada beberapa baju tebal yang sudah di pilih Sigi. Termasuk sweater , dan kaos dalam heattech yang kerahnya menutupi leher.
Beberapa karyawan pria tampak berbisik. Orang dengan tampang sederhana seperti itu masuk ke toko brand ternama. Apa mereka tidak melihat harga yang tertera di bandrol ?. Untuk satu potong Coat saja harganya mencapai 15 juta. Belum lagi baju berteknologi tinggi yang dipilih sudah menumpuk di meja kasir. Pasti ujung ujungnya alasan lupa gak bawa dompet.
"Totalnya tujuh puluh enam juta rupiah. Anda ingin bayar cash atau menggunakan kartu kredit ?" mbak kasir bertanya tetap dengan nada sopan. Sigi lalu menoleh ke Shendi . Tangannya menengadah kepada Shendi.
Credit card please...
Dengan malas Shendi mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya. Lalu menyerahkan pada mbak kasir. Sigi hanya tersenyum penuh kemenangan. "Pokoknya jangan lupa berterima kasih padaku."
Setelah selesai , kasir 2 menaruh barang belanjaan ke dalam paper bag. Dan kasir 1 mengembalikan kartu dan mengecek nota pembelian. Senyumnya masih ramah kepada Sigi dan Shendi. "Kartunya saya kembalikan dulu..."
Mendadak senyumnya berubah kaku saat mengecek nota pembelian. Nama ini... Dua orang kasir itu saling berpandangan.
Shendiaga Gerald Putra Wiradana.
Shendiaga Wiradana ?
"Uh... !" tampak terkejut menatap nota dan pelanggannya siang ini. Nama misterius yang sedang menghangat diberbagai media .
"Anda... " mbak kasir yang semula ramah mendadak seperti orang bodoh. Shendi dan Sigi sadar apa yang membuat mereka mendadak bodoh.
Dengan cepat Sigi dan Shendi meraih 7 paper bag barang belanjaan mereka. Termasuk merebut nota pembelian dari tangan mbak kasir.
"Sudah beres kan mbak?" tanya Shendi tergesa gesa. 2 mbak kasir mengangguk kaku tanpa lepas menatap Shendi. Dengan buru buru mereka segera meninggalkan toko itu.
__ADS_1
Tinggallah 2 kasir itu masih tidak percaya. Mereka bertemu dengan Eksekutif muda yang sosoknya sangat misterius dan sedang ramai diperbincangkan karena dikabarkan dekat dengan Aubery Tsang. Mereka menghambur dengan karyawan lain.
"Kalian tahu dia siapa ?" kasir satu begitu antusias. Karyawan lain hanya merespon enteng.
"Gembel gitu. Siapa yang peduli dia siapa..." dibalas tawa karyawan pria lainnya. 2 kasir tampak membuang nafas kesal.
"Dia Shendiaga Wiradana yang digosipkan dekat dengan Aubery Tsang.!!"
Karyawan karyawan tampak terkejut seolah tidak percaya.
"Pantas saja sulit mencari informasi tentangnya. Rupanya kesehariannya sangat sederhana." kasir 1 begitu terharu.
"Ternyata dia masih sangat muda... aku kira sudah 35 tahunan gitu." kasir 2 masih tampak antusias. Pelanggan lain yang mendengar kehebohan karyawan toko ikutan penasaran dengan sosok yang dibicarakan. Sayangnya sosok itu sudah melesat pergi entah kemana.
***
Shendi dan Sigi bernafas lega. Setelah tiba di parkiran mereka langsung menaruh barang belanjaan di bagasi.
"Gak nyangka kamu sepopuler ini. Kamu sih pakai menyembunyikan identitas. Jadi bikin semua penasaran kan?" celoteh Sigi.
"Artis bukan, bintang film juga bukan. Kenapa mereka malah tertarik dengan eksekutif muda seperti kamu ? Yang bahkan bisnismu jauh dari bidang entertainmen." Sigi tidak habis mengerti.
Shendi menutup bagasi belakang lalu mengetuk pintu depan dimana Sigi sudah duduk manis di dalam.
"Kamu mau terus ngoceh atau temenin aku makan?"
"Dilantai dasar saja, cari makanan yang ringan untuk mengganjal mulutmu." Shendi berjalan menuju pintu masuk Mall. Sigi pun keluar dari mobil dan mengikuti Shendi dari belakang.
"Yoo... Gery !! Ah , salah. Tuan muda Wiradana. Kebetulan sekali." sapa seseorang dari arah depan.
Akhirnya kamu berani muncul. _Shendi sebenarnya tahu orang ini sudah mengikutinya sejak awal memasuki mall. Namun Shendi pura pura tidak tahu.
"Kenapa selalu kamu ... , kamu ga ada habis habisnya ya ??" berjalan menghampiri orang itu. Sesaat melihat sekitar memastikan tidak ada yang mendengar. Kemarahan yang menumpuk karena manusia berdarah dingin didepannya ini mempunyai seribu cara untuk mencelakai Aubery. Sigi menghentikan langkah. Merasakan Aura mematikan dari dua cogan ini.
" Santai bro..., tidak perlu tiap kita bertemu. Kamu selalu berwajah muram seperti ini." dengan gaya yang memuakkan.
"Sudah lelah menguntit ?? mau aku traktir minum kopi?" mencoba bersikap tenang .
"Jangan jangan kamu abnormal hobinya menguntit."
"Menguntit?? Hahaha... " tertawa meremehkan.
"Iya benar !!. Menguntitmu ... biar aku bisa meniru gaya pacaran tuan muda. Bermesraan dan berangkulan ditempat umum mentang mentang tidak ada yang kenal." sengaja memancing kemarahan Shendi.
__ADS_1
"Ga nyangka ya Gery yang dulu anti cewek . Sekarang Selain berpacaran dengan Aubery ternyata masih punya pacar gelap." menengok kearah Sigi.
"Benar benar bakat terpendam."
Kemarahan Shendi sudah memuncak. Giginya mengerat menahan amarah yang sudah sampai di ubun ubun. Ia lalu menarik kerah baju orang itu dan siap menghadiahi satu pukulan di rahang. Tapi sayangnya orang itu berhasil menghindar. Dengan cepat Shendi melayangkan pukulan ke dua dengan tangan kiri . Tepat menghantam bagian pencernaan . Orang itu kaget dan tersungkur ke belakang.
Shendi menariknya lagi dengan kasar hingga orang itu bangun keteteran.
"Dengar Rik ! apa kamu tidak bisa menggunakan otak udangmu untuk berpikir secara sehat. Atau kamu memang seekor anjing gila yang selalu ingin mencakar tiap orang yang kamu temui??!" Shendi penuh amarah.
Begitu juga Riki . Kebencian yang teramat besar terpancar dari mata sipitnya. Dua cogan saling mencengkeram dan menatap tajam lawannya.
Sigi panik dan berteriak. "Hentikan!!"
Sigi menarik cengkeraman tangan Shendi. "jika kalian ingin duel, jangan disini !!" Melihat sekitar. Siang itu lumayan ramai karena bertepatan jam makan siang.
Mereka pun melepas cengkeraman masing masing. Shendi membetulkan jaketnya yang menyingsing.
"Kau salah sudah berurusan denganku Ger !!" Riki dengan nada mengancam.
"Kenapa?? mau bayar orang lagi buat hujat aku? atau bayar orang buat motong selang rem mobilku??"
Raut wajah Riki mendadak berubah. Ia menutupi rasa terkejutnya dengan membetulkan kemejanya. Mundur beberapa langkah. "Awas kau Ger..."
Riki kemudian pergi begitu saja. Sigi menghampiri Shendi.
"Itu kan Riki... kamu masih berseteru sama dia?" tanya Sigi.
"Siapa juga yang mau berurusan sama dia." Shendi berbalik lalu memasuki mall. Sigi hanya mendesah melihat Shendi yang masih penuhi amarah.
.
.
.
.
Bersambung🤜🤛
☝️Karena novel ini masih berstatus On-going . Jadi mohon maklum kalau ceritanya gantung terus 🙃🙃🙃sabar ye😘
👋 Sampai jumpa next episode.
__ADS_1
🙏Terima kasih yang udah like, rate, komentar , favorite , hadiah dan vote. Sangat berarti untuk Author.
😘 Lope yu😘