
Setengah jam sudah berlalu . Sejak bertemu dengan Riki , Sigi terus memperhatikan Shendi . Sedikit demi sedikit Shendi sudah mulai berubah. Shendi yang biasanya bisa mengontrol emosi. Yang biasanya dapat menahan untuk tidak menggunakan kekerasan. Sekarang bahkan berani sembarangan memukul orang ditempat umum.
Shendi tahu resikonya jika ketahuan memukul orang sembarangan. Ia akan kehilangan sabuk hitamnya. Dicoret dari gelar judoka dan di keluarkan dari organisasi.
Siang itu entah mengapa Shendi memilih makan di cafe yang berada di lantai dasar mall. Memesan beberapa menu dan minuman ringan. Shendi lebih banyak melamun. Mengaduk aduk makanan dan mempermainkan sedotan. Sigi menggeleng, tangan Shendi tidak bisa diam kalau lagi cemas. Ada saja sasaran untuk menutupi kecemasan. Padahal dengan seperti itu justru terlihat jelas dia lagi cemas.
"Apa kamu masih memikirkan ancaman Riki?" membuyarkan lamunan Shendi.
"Tidak...!"
"Lalu apa yang kamu pikirkan??"
"Tidak ada...!" Shendi mengintip hpnya. Kecewa lalu meletakkan kembali di atas meja.
"Trus sampai kapan kamu akan menggigiti sedotan itu ?" Sigi tidak tahan untuk menghentikan Shendi yang terus menggigiti sedotan. Sedotan itu sudah gepeng. Yakin udah gak bisa buat nyedot coca cola tuh.
Lalu sebuah pesan masuk di hp Shendi. Si empu hp buru buru membuka dan membacanya. Kemudian menyimpan kembali hpnya ke dalam saku jaket.
"Aku ke toilet bentar." Shendi bangkit lalu pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan Sigi.
"Eh... !" Sigi tidak sempat mencegah. Mau tidak mau dirinya harus menunggu. Duduk sendirian di kafe . Orang pasti berpikir dia jomblo , padahal iya.
Setelah hampir seperempat jam menunggu. Shendi tidak kunjung kembali. Padahal toilet cuma belok kiri trus jalan dikit juga sampai. Sigi mulai curiga. Shendi pergi ke toilet mall sebelah kah?
"Kurang ajar !! apa Shendi ninggalin aku??!" gerutu Sigi. Kalau kabur kayaknya gak mungkin . Kunci jeep masih tergeletak di meja. Sigi bertanya tanya. Kemana perginya...
***
.
.
.
.
Di gedung yang sama tepatnya di lantai 42. Aubery mengecek barang yang disiapkan Samy dari rumah. Laptop , powerbank , beberapa setel baju dan alat make up seperlunya.
"Serius mau pergi non?" tanya Samy.
"Emh, mereka sudah menunggu ku dibawah."
"Aku akan mengantar anda . Dibawah banyak sekali wartawan , aku kawatir mereka akan melakukan perundungan pada anda..." Samy membantu menata barang barang yang akan Aubery bawa.
Hari ini Aubery akan pergi ke kota D. Viona mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 23 di daerah pantai.
" Ok , tapi kenapa sekarang kamu takut Sam?? kita selalu berhasil melewatinya." Aubery tanpa melihat wajah asistennya. Ini bukan pertama kali dirinya dikejar kejar wartawan dan paparazi. Jadi ia masih menghadapi dengan santai.
"Situasi kali ini berbeda non. Semua menyudutkan nona. Nona dituding sebagai contoh buruk untuk generasi muda." menarik resleting tas jinjing.
Beberapa hari ini. Untuk sampai ke lantai 10. Batas antara shopping center dengan area perkantoran. Samy dan Aubery kesulitan karena wartawan yang mengejar dan mengepung.
"Ada yang mengendalikan mereka dari belakang. Mereka mempunyai dukungan materi untuk menyerang nona."
Aubery mencerna ucapan Samy. "Mereka orang bayaran??"
__ADS_1
Samy mengangguk. "Aku berhasil menyelidikinya." ucap Samy sengaja berbohong. Tentu saja Shendi yang berhasil menyelidiki. Shendi memiliki orang berkemampuan hebat dibelakangnya.
"Kita hanya butuh waktu yang tepat agar mangsa keluar sendiri dari sarangnya."
"Kerja bagus Sam. Setelah tertangkap , jangan biarkan orang seperti itu bebas berkeliaran." Aubery mulai bersiap siap pergi .
Samy diam diam mengirim pesan whatsapp kepada seseorang. Entahlah, memberi laporan apapun tentang kegiatan Aubery. Sekarang seperti sebuah keharusan.
Apa ini berarti aku sudah mempercayakan nona padanya ??
Aku akan mengantar nona turun . Hari ini nona akan pergi ke kota D. β β
Terkirim. Samy menatap pesan yang baru dia kirim. Dua centang langsung berubah warna hijau. Tanda sudah terbaca. Sangat cepat bahkan dalam hitungan detik. Betapa Aubery adalah prioritas utama. Samy tersenyum.
"Sam??" Aubery dengan tatapan dingin.
"Kamu masih ingin menelfon seseorang??"
Samy tergagap. "Tidak non ,??"
"Kalau gitu ayo !!" Aubery tak sabar dengan Samy yang sepertinya mulai lamban. Aubery mendengus kesal.
Buru buru menyimpan hpnya ke dalam saku jas. Mengangkat tas jinjing lalu mengikuti Aubery yang lebih dulu berjalan keluar.
"Apa kamu punya pacar baru?" tanya Aubery dengan gaya coldnya. Penasaran akhir akhir ini Samy lebih sering bermain hp.
"Tidak non?!" Samy menggeleng.
"Carilah pacar Sam, kamu sudah 35 tahun. Jangan sampai orang berpikir kalau kamu menyukaiku!" seperti biasa Aubery masih seperti dulu. Percaya diri level tertinggi.
"Kalau gitu kamu akan menjadi perjaka tua..." melirik ke arah Samy yang tertawa lepas begitu mendengar ucapannya. Keduanya terus terlibat dalam percakapan ringan. Tawa kecil sesekali menghiasi wajah Aubery.
Siapa bilang non. Aku yakin Mas Shendi tidak akan membiarkanmu bebas lama lama...
Dan jika waktu itu telah tiba, aku pasti akan menghampiri jodohku...
Hingga tak terasa lift sudah sampai di lantai 10. Mereka harus oper lift atau menggunakan eskalator untuk ke lantai dasar. Seperti dugaan Samy. Baru beberapa melangkah , beberapa wartawan yang siap dengan kamera langsung menghambur ke arah mereka.
"Bagaimana tanggapan Aubery tentang pernyataan mantan pegawaimu??"
"Benarkah kamu berkencan dengan cleaning service??"
"Aubery, tolong beri konfirmasi. Apakah benar kamu berkencan dengan 3 pria sekaligus?"
"Anda tidak buka suara apakah semua itu benar??"
Para wartawan langsung memberondong dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan dan menghadang langkah Aubery. Samy sigap berusaha melindungi nonanya agar jangan sampai tersentuh oleh mereka. Jumlah mereka seakan terus bertambah hingga Samy kewalahan.
Aubery no koment dengan pertanyaan pertanyaan itu. Seolah telinganya sudah tertutup rapat . Ia terlihat tegar dan terus berusaha menghindar dari desakan wartawan . Mencari celah untuk segera menjauh dari wartawan yang mengepungnya.
Samy dan Aubery semakin terdesak dengan kerja keras para kuli tinta itu. Ketika tiba tiba sebuah kaleng kosong mendarat tepat mengenai Aubery. Aubery terkejut begitu pula Samy. Tidak menyangka mereka akan bertindak anarki.
"Nona !! anda tidak apa apa??" Samy dengan nada panik. Aubery menggeleng.
"Dasar jalang!!, kelakuanmu lebih buruk dari pel**cur!!" teriak seorang pengunjung mall. Menyusul pengunjung lain melempar sampah ke arah Aubery. Remasan tisu , kaleng kosong bahkan kulit buah menghujani Aubery.
__ADS_1
Samy berusaha melindungi Aubery agar tidak terkena lemparan mereka. Sementara wartawan terus mengarahkan kamera on kepada Aubery dan Samy.
Keadaan mereka semakin terpojok. Makian dan hujatan terdengar sangat menyakitkan. Aubery syok dan terpukul . Tindakan mereka sungguh diluar dugaanya. Seburuk itu penilaian mereka terhadapnya. Ia diam selama ini berharap semua akan membaik dengan sendirinya seperti biasa. Tapi ternyata salah , semakin diam semakin tidak terkendali.
Samy sekuat tenaga melindungi Aubery. Menghalau mereka yang melakukan perisakan dan perundungan terhadap nonanya . Wartawan masih saja mengepung dengan pertanyaan pertanyaan yang terdengar berdengung di telinga Aubery. Tanpa mempedulikan Aubery yang semakin terpojok.
Tiba tiba seseorang berjalan membelah kerumunan. Langkahnya pasti menuju Aubery dan Samy yang tak berdaya. Dengan menggunakan lengannya menangkis setiap sampah yang mendarat ke arah Aubery.
Samy menengadah, menengok siapa gerangan yang datang membantu. Aubery yang terpejam pun menyadari ada orang lain yang melindunginya selain Samy.
Aroma tubuh ini...
Berlahan membuka mata dan menatap siapakah dia. Sesaat situasi mereda. Kasak kusuk mulai terdengar. Penasaran siapa yang datang melindungi Aubery.
"Siapa dia!"
***
Sementara itu ditempat lain. Berjarak kurang lebih 2.568 km dari mereka berada. Tepatnya di gedung The Harbourfront Landmark. Salah satu gedung pencakar langit yang ada di Hongkong. Anthony menghentikan sejenak mittingnya dengan sekretarisnya. Ketika sebuah panggilan videocall dari tanah air.
Tiba tiba video call ,pasti ada yang penting.
Anthony buru buru mengangkat. Sejenak dia menyimak video yang tertangkap camera ponsel di negeri seberang sana. Tiap detik Anthony terus menyimak dan mendengarkan dengan seksama. Lambat laun wajahnya mulai berubah . Dan akhirnya...
"HOU ... ( bagus, baik, ok) !!!" serunya tiba tiba. Tangannya tanpa sadar menggebrak meja hingga sekretarisnya dan dua asistennya yang juga berada di ruangan itu melonjak kaget.
Tuan besar tidak sedang marah kan ?? Wajahnya sumringah puas.
"A Lin, maaf. Lupakan apa yang aku katakan tadi. Dan kosongkan jadwalku mulai besok sampai seminggu ke depan." perintah Anthony pada sekretarisnya. Tentunya menggunakan bahasa Kantonis.
"Tapi Tsang Sang... ( Tuan Tsang ) !" sekretaris itu terkejut dengan perintah yang tidak masuk akal. Mengosongkan jadwal selama seminggu. Itu berarti dirinya harus atur ulang semuanya. Termasuk berurusan dengan rekan bisnis yang pastinya keberatan dengan keputusan Anthony yang mendadak.
"Jangan ada tapi !!, tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain putriku. Jika mereka keberatan batalkan saja kerjasamanya... " Anthony menjawab dengan entengnya.
Sang sekretaris mulai mengerti dengan keputusan Anthony yang tiba tiba. Tidak heran jika ini mengenai Thai Siuche (nona besar).
"A Hong, A Gei... atur segala sesuatunya. Besok kita pulang ke tanah air." perintahnya kini kepada dua asisten pribadinya.
.
.
.
.
.Bersambungπππ
.
.
π Terima kasih yang masih setia disini. Meskipun gak up tiap hari.
π jangan lupa Like nya ya...
__ADS_1
πdan sayang semuanya.π