
Tit tit tit tit...
Hening, hanya suara alat monitor disamping ranjang dimana Shendi terbaring. Pelan Shendi membuka matanya. Mulai mengembalikan semua kesadarannya.
Pertama yang Shendi lihat adalah plafon berwarna putih yang diyakininya dia berada dirumah sakit. Kemudian nyeri pada bekas operasi dan jarum infus yang tertancap di Tangan kirinya. Selanjutnya ia merasakan ada beban di paha dan perutnya.
Kaki ?, tangan ?
Ketika Shendi menoleh kesamping. Aubery tengah tertidur pulas sambil erat memeluknya. Shendi berusaha menyingkirkan kaki dan tangan itu. Sangat pelan agar gadis disampingnya jangan sampai terbangun.
Sejak kapan dan kenapa Tiara tidur diatas ranjangku...
Dan oohh...Berat sekali....
Tiara sepertinya kamu memang bertambah gendut...
Aubery menggeliat ketika kenyamanannya terganggu . Shendi kembali memejamkan matanya pura pura masih tidur. Ternyata Aubery kembali tertidur pulas , Shendi membuang nafas lega. Diamatinya wajah Aubery. Wajah polos tanpa kewaspadaan sedikitpun.
Kenapa Tiara masih disini. Walaupun ingatannya belum kembali, tapi Samy sudah mengatakan siapa jati dirinya yang sebenarnya.
kamu malah naik keranjang laki laki yang sudah kamu ketahui bukan suamimu.
Dan dimana Yas dan Ramanda.
Shendi mencoba bangun sambil menahan sakit pada bekas operasinya. Mengamati setiap sudut kamar itu. Ia tidak menemukan sosok kedua adiknya dan juga Samy.
Aahhhh... ranjang ini sangat sempit . Tiara kenapa tidurmu seperti cacing kepanasan gak bisa diam.
Jam dikamar itu menunjuk ke angka 5 pagi . Shendi kembali merebahkan tubuhnya. Mencoba mengingat kembali kejadian kemarin. Sampai pada saat dia sudah merasa sangat lemas . Ia memberi tahu Samy tentang barang temuannya didasar jurang minggu lalu. Apakah Samy sudah mengambil dashcam dan hp milik Tiara di brankas.
Hp , Shendi mencari dimana keberadaan jaketnya. Dimana ia menyimpan hpnya di saku jaket.
Flashback on
Aubery , Yas dan Ramanda sudah ganti baju bersih. Mereka langsung menuju ke kamar dimana Shendi dipindahkan.
Ketika memasuki kamar , beberapa suster masih mengerjakan tugasnya. Setelah selesai , mereka meninggalkan kamar itu setelah sempat melirik kearah Aubery dan saling berbisik.
Terlihat Rima sedang mengobrol serius dengan dokter. Entah apa yang mereka bahas . Samy langsung menghampiri saat melihat Aubery kembali.
"Nona, bagaimana kalau kita pulang kerumah dulu"
"Pulang?" Aubery bingung.
"Iya Nona, pulang kerumah nona sendiri. Dijalan Robinson,"
Aubery tidak menjawab , dilihatnya Shendi yang terbaring lemah diranjang. Lalu berpindah menatap Rima dengan pandangan yang entah sulit dimengerti Samy .
"Non, Anda punya Papa, punya rumah dan punya pekerjaan. Sampai kapan Anda akan membiarkan A.T , A.T sangat membutuhkan anda, sudah dua minggu anda tinggalkan."
Aubery menatap Samy dan Shendi bergantian. seolah tanpa daya , hatinya sedang bimbang.
"Tapi aku tidak ingat semuanya. Bagiku semua sangat asing. Ketika aku membuka halaman tentang Aubery ataupun A.T " diam sesaat ,
" Itu seperti orang lain. Tak satupun memory yang bisa aku ingat. Hanya rumah kayu tempat tinggalku dan mereka sebagai keluargaku." menatap kearah Shendi dan kembar.
"Apa nona tega melihat A.T jatuh. Apakah anda tidak kawatir terjadi sesuatu dan hasil kerja keras anda menjadi sia sia?" Samy tak menyerah membujuk Aubery.
Rima mendekat kearah dimana Samy dan Aubery berbincang. Ia sedikit mendengar kata kata terakhir Samy.
"Maaf mengganggu ngobrol kalian , saya hanya mau menyampaikan terima kasih kepada Nona dan Tuan sudah banyak membantu . Selanjutnya anda tidak perlu repot , saya akan merawat Shendi disini sampai dia pulih" ucap Rima dengan sopan.
"Apa!" Aubery tidak senang. Terdengar tawanya yang hampa.
__ADS_1
"Kenapa aku harus pergi ?, Shendi mengorbankan nyawanya demi melindungiku. Dan sekarang anda menyuruhku pergi begitu saja?"
"Bukan begitu maksud saya" sela Rima, Baginya ucapan Aubery terdengar lebih menunjukkan rasa bangga karena Shendi rela mati demi dirinya. Apakah Aubery sudah salah paham. Kehadirannya mengancam posisinya dihati Shendi.
Meskipun Shendi masuk kriteria pria idamannya. Tapi Rima tak cukup nyali untuk menggoda CEnya. Terlebih bersaing dengan seorang Aubery.
"Anda sudah melalui banyak kejadian hari ini. Anda istirahatlah biar saya yang menjaga Shendi malam ini" sambung Rima.
"Em sai lah ," Jawab Aubery langsung.
Rima mengernyit tanda tidak paham maksud Aubery. Samy menengahi perbincangan mereka.
"Maksud Nona tidak usah, maaf bahasa nona kadang campur bahasa cantonnis. Maklum karena nona memang besar di Hongkong."
Rima ber O mendengar penjelasan Samy. Aubery hanya diam. Jadi begitu, kadang tanpa sadar bahasanya campur campur membuat Shendi dan anak anak bingung.
"Non, benar apa kata nona Rima. Sebaiknya anda istirahat dirumah"
"Aku bilang tidak usah!" Aubery berjalan mendekat keranjang dimana Shendi masih belum siuman.
"Aku tetap disini malam ini. Bawa saja anak anak pulang kerumahku karena tidak bagus seusia mereka tinggal dirumah sakit" Mengusap kepala Yas dan Ramanda. Lalu sedikit membungkuk menyamakan tinggi sikembar.
"Sayang, pulang kerumah kakak ya. Rumah sakit banyak kuman dan virus. Tidak bagus untuk perkembangan kalian," ucap Aubery. Yas menengok kearah Shendi lalu mengusap rambut kakak laki lakinya. Ramanda ikutan membelai rambut kakaknya.
"Kakak akan menjaganya" Aubery menenangkan sikembar. Kemudian menggandeng tangan mungil itu dan membawanya pada Samy.
"Sam, tolong jaga mereka baik baik. Buat mereka senang hingga lupa kejadian hari ini."
"Tapi non!"
Aubery tidak menghiraukan Samy dan Rima yang masih berdiri. Ia berjalan kembali kesisi ranjang.
Samy menghela nafas panjang. Ia tidak tau lagi harus bagaimana membujuk Aubery. Terlebih Rima yang merasa sungkan sendiri.
"Tiara ... !" tengah malam ,tiba tiba Aubery dikejutkan teriakan Shendi memanggilnya. Ia segera mendekat , namun ternyata Shendi hanya mengigau.
"Tiara ... !" Shendi kembali memanggil nama itu. Dahi Shendi berkerut memperlihatkan kekhawatiran yang amat sangat. Aubery mengusap wajah Shendi berusaha menenangkan.
"Aku baik baik saja, jangan khawatir" Seperti seorang ibu yang berusaha menenangkan bayinya. Aubery dengan sabar terus mengusap Wajah shendi.
flashback off
.
.
.
.
.
"Sedang cari apa?"
Shendi menoleh, ternyata dia telah membangunkan Aubery. Iapun berusaha bersikap sewajarnya. Meskipun perasaannya tak menentu karena semalaman tidur satu ranjang dengan Aubery.
"Jaket"
"Aku menggantungnya didalam lemari. Kamu tidur saja biar aku yang ambil," ucap Aubery sambil turun dari ranjang. "kau ini, lukamu belum sembuh malah turun dari ranjang. Tinggal membangunkan aku atau pencet bel panggil suster bisa kan ."
Shendi menurut , senyum tipis terlihat disudut bibirnya. Aubery tetaplah Tiara yang cerewet.
"Kalau lukamu terbuka lagi bagaimana?"
__ADS_1
Tiara menyerahkan jaket jeans kepada Shendi.
"terima kasih... . Oh ya, dimana Yas dan Raman?" akhirnya Shendi bertanya hal yang dari tadi mengganggu pikirannya. Tangannya meraba saku jaket.
ahh, syukurlah hp masih disini...
"Aku menyuruh Samy membawa mereka pulang kerumahku."
"Rumahmu? kenapa kerumahmu?" Shendi kaget bercampur heran.
"Tak mungkin kan mengantar mereka ke bukit Y, siapa yang menemani mereka. Juga tidak baik untuk mereka terus berada dirumah sakit."
Benar, ada aturan tertulis dirumah sakit ini. Bahwa anak anak dibawah 10 tahun dilarang berkunjung. Tubuh anak anak rentan terhadap penyakit. Lingkungan rumah sakit tentunya sangat berbahaya bagi mereka. Karena disini adalah sarangnya.
"Setidaknya di rumahku pasti banyak pelayan yang akan menemani mereka."
"Lalu ... ,kenapa kamu masih disini ?" tanya Shendi lirih.
Hening, beberapa saat mereka saling diam. Aubery menuangkan air minum dalam gelas. Lalu menyerahkan kepada Shendi.
"Kenapa aku tidak boleh ada disini ? , Apa kamu juga tidak ingin aku berada disini?" menatap lekat mata Shendi. Mencari jawaban dalam sorot mata itu.
"Bukan begitu, Tiara bukankah asistenmu sudah memberitahu siapa kamu sebenarnya" Ucap Shendi sambil menerima segelas air lalu meminumnya beberapa teguk.
"Kamu pantas membenciku karena aku merampas kehidupanmu. Dan juga membohongimu. Tapi sekarang kamu sudah tahu dirimu yang sebenarnya "
"Kembalilah ke duniamu. Tetap berada disini hanya akan menambah kebencianmu suatu hari nanti" Shendi meletakkan gelas kosong ke meja yang berada disisinya.
"Apa kamu sangat membenciku?" tanya Aubery tiba tiba. Shendi terhenyak.
" Dua minggu ini tidakkah ada cinta tumbuh dihatimu untukku?"
Deg!
Cinta ... , cinta yang seperti apa. Dua minggu ini bukankah cuma sebuah sandiwara semata.
Lalu bagaimana caranya agar tahu sudah tumbuh cinta atau belum.
Shendi tersenyum getir. Dua minggu ini dilaluinya dengan sangat indah bersama Aubery. Kejadian kejadian konyol yang yang dilakukan nona besar dirumahnya.
"Tidak... "
.
.
.
.
.
.Bersambung😭
.
.
.
.Jangan lupa like.vote.favorite👍
.Sampai jumpa di episode selanjutnya.👋
__ADS_1
. Terima kasih dan sayang semuanya. ❤️❤️😘❤️❤️