
Sigi ragu untuk memasuki sebuah toko yang ada dihadapannya . Sebuah toko kecil yang melayani jual beli barang bekas tapi berkualitas . Tangannya erat menggenggam sebuah kalung dengan liontin huruf SS.
Akhir akhir ini setiap melihat kalung itu hatinya menjadi sangat sedih . Kenyataan bahwa Shendi tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya.
Dirinya merasa sudah tidak mempunyai harapan lagi . Cinta Shendi hanya untuk Aubery. Tersenyum getir karena kebersamaan sejak usia dini dipatahkan oleh pertemuan yang sangat singkat diantara mereka.
Dibulatkan lagi tekatnya, Sigi tidak ingin bertahan pada sebuah perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Tidak akan meratapi sisa hidupnya dengan kesedihan karena penolakan dari satu orang. Lalu mengesampingkan orang lain yang mungkin lebih peduli padanya.
Pasti masih ada diluar sana. Jodoh yang Tuhan siapkan sedang menunggunya atau bahkan sedang memperhatikannya dari jauh . Lalu untuk apa berlama lama menyimpan kenangan yang justru membuatnya terus mengingat.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri. Sigi melangkah memasuki toko itu. Sapa pemilik toko terdengar ramah menyambut kedatangannya.
Hampir setengah jam , Sigi baru keluar dari toko itu. Ditatapnya satu gepok uang pecahan seratus ribuan. Senyumnya terlihat sangat dipaksakan.
"Hhhh... sampai jumpa kenangan... " mengucap perpisahan sambil menatap ke dalam toko.
Sigi segera berpaling dan melangkah meninggalkan tempat itu. Takut hatinya akan kembali goyah.
Sementara di seberang jalan. Di sebuah toko yang menerima pesanan kue tart dan menyediakan berbagai jenis dessert. Seseorang terus memperhatikan dari balik pintu kaca. Dari awal Sigi berdiri ragu di depan toko. Sampai Sigi keluar dengan wajah yang berat hati.
Apa yang dilakukan gadis kecil itu...
Pikirnya dalam hati. Ia segera melunasi pesanannya.
"Tolong diantar jam tiga sore ya, jangan sampai terlambat..." ucapnya pada penjaga toko.
"Baik tuan... terima kasih sudah datang di toko kami." ramah penjaga itu melepas kepergian pelanggannya. Merasa sangat senang kali ini menerima banyak pesanan dari pelanggan setianya . Sepertinya si pelanggan akan mengadakan sebuah pesta yang amat besar .
***
Sigi berjalan menyusuri kawasan pertokoan yang penataannya seperti layaknya di luar negeri. Toko toko kecil dibangun dengan gaya ala Perancis. Sehingga menampilkan kesan romantis jika berada di kawasan itu.
Mendadak Sigi menghentikan langkahnya . Ia tak rela jika harus kehilangan kalung itu . Kalung yang sudah menemaninya selama lebih lima tahun. Kalung yang menyimpan banyak kenangan. Walaupun milik Shendi sudah hilang entah kemana.
Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Belum ada seperempat jam , semoga tidak terlambat . Ia segera berlari kembali ke toko itu.
"Maaf, tapi lima menit yang lalu seseorang sudah membelinya... " pemilik toko sangat menyesal.
"Hhaaahh...secepat itu ?" Sigi tidak percaya. Ia benar benar harus kehilangan kalung itu. Bingung , menyesal karena gegabah menjual kalung yang dia desain sendiri.
"Jika anda menyusulnya sekarang , sepertinya belum terlalu jauh." pemilik toko menyarankan. Sigi seolah mendapat pencerahan. Setelah berterima kasih ia bergegas keluar dan mencari seseorang dengan ciri ciri yang disebutkan pemilik toko.
Sigi berlari, sambil menatap satu satu pejalan kaki yang melintas. Kawasan itu memang lebih banyak pejalan kaki karena jalanan yang sempit.
Tanpa putus asa, ia terus berlari. Hingga akhirnya dia menemukan seseorang yang sesuai dengan ciri ciri yang disebutkan.
"Tuan!!" Sigi menghentikan langkah orang itu. Nafasnya turun naik karena habis berlari.
"Tolong kembalikan kalung saya!"
Orang yang sedang mengobrol di telepon itu menoleh. Pandangan mereka bertemu.
"Anda ??" Sigi kaget. Untuk kesekian kalinya bertemu dengan Samy , asisten Aubery. Kebetulan yang sangat kebetulan. Samy tidak lepas pada sosok Sigi yang masih tampak terkejut.
"Nanti saya hubungi lagi" pamit Samy pada teman ngobrolnya . Lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Nona Sigi ? kenapa anda di sini??"
"Bisakah kamu kembalikan kalung itu padaku??" Sigi menunjuk kalung di leher Samy.
Samy pura pura bingung. "Non, kenapa saya harus mengembalikan kepadamu. Saya tidak merampas atau mencuri. Ini kalung saya beli seperempat jam lalu?"
Sigi buru buru mencari sesuatu dari dalam tasnya. Segepok uang hasil jual kalung tadi ia serahkan kepada Samy.
"Ini lima juta hasil aku menjualnya tadi. Tidak kurang satu lembarpun..."
__ADS_1
"Lima juta ?" Samy tertawa singkat.
"Nona, tapi aku membelinya seharga tujuh juta !" menunjukkan kwitansi pembelian.
"Hah!!" Sigi melotot melihat angka yang tertera. Apa itu tidak terlalu mahal. Pemilik toko benar benar ga ada akhlak , mencari untung banyak banget.
"Untuk kalung seindah ini, sepertinya sebanding dengan harganya..." Samy mengusap liontin inisial SS.
"Saya tidak bawa uang cash. Bagaimana jika anda terima lima juta dulu. Nanti dua juta saya tranfer ke rekening anda."
Samy mikir mikir. " Emm... berhubung kamu pernah membantu saya... Baiklah !!" Samy setuju.
"Tapi dengan satu syarat " ucapan Samy yang membuat Sigi senang mendadak langsung down. "Syarat ??"
Samy mengetuk pipinya dengan telunjuknya. Sigi memiringkan kepala.
Apa maksud Samy...
Samy sedikit membungkuk wajahnya hampir tak ada ekspresi. "Cium saya dulu!"
"What??!" Sigi terhenyak.
Samy tahu Sigi pasti keberatan. Ia kembali berdiri tegap dan menyembunyikan kalung itu dalam kemeja. "Gak mau gapapa , saya juga menyukai kalung ini."
"Ehh tunggu!!" Sigi putus asa melihat kalungnya disembunyikan.
"Hanya cium pipi kan??"
"Bibir saya juga tidak keberatan..."
Samy ini , ulahnya sukses membuat Sigi menciut . Pria dewasa yang mengerjai gadis kecil seperti Sigi.
Sigi menggerutu dalam hati. Berapa kali Samy mengerjainya . Diambilnya nafas pendek lalu melangkah mendekat ke arah Samy. Biarlah kalau hanya mencium pipi . Demi kalung itu Sigi tahan untuk dikerjai Samy selama batas kesabarannya.
Sigi mulai mengangkat tumitnya. Bibirnya mencoba menggapai pipi Samy yang sehalus pipi cewek itu. Namun hal yang tak ia duga. Tawa Samy meledak sampai terpingkal pingkal.
"Maaf , aku hanya bercanda ."
Samy setelah tawanya mereda. Sigi cemberut merasa dikerjai lagi.
Samy tidak tega melihat ekspresi Sigi. "Gadis kecil maafkan aku. Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu..." ucap Samy sambil melepas kalungnya.
Sigi ragu Samy menyerahkan kalungnya begitu saja tanpa imbal balik. "Beneran tanpa imbalan??"
"Emm... bagaimana kalau temani aku memilih bunga . Habis itu aku traktir makan siang . Kamu ingat masih punya satu janji padaku kan?"
Sigi ingat di Megabox waktu itu. Ia pernah berjanji untuk menemani minum teh.
"Baiklah..."
***
Shendi menyetir dengan gelisah . Jarinya mengetuk kemudi tanpa irama . Beberapa kali ia menoleh ke samping dimana Aubery duduk sambil asik dengan ponselnya.
" Ahhh... Tidak bisa , aku udah gak tahan lagi !!" ucapnya sambil mengedarkan pandangan ke jalanan sekitar. Mencari tempat yang aman untuk menuntaskan hajat kecilnya.
Aubery akhirnya menoleh sebentar . " Kamu kenapa ??" lalu lanjut asik dengan ponselnya.
"Kebelet sayang... " jawab Shendi sambil menepikan jeepnya. Ia akhirnya menemukan tempat yang pas.
"Tunggu sebentar, aku segera kembali." Shendi keluar dari mobil dan menuju tanah kosong yang ada di kanan jalan. Aubery hanya menjawab Hemm.
Haachhiu...!!
Aubery bersin untuk kesekian kalinya. Ga tau napa dari tadi bersin terus. Iseng lalu Aubery menghubungi Samy.
__ADS_1
"Sam, Bagaimana kantor hari ini?" tanya Aubery begitu tersambung.
"Seperti biasa non , mereka lebih bersemangat membahas tentang anda dan mas Shendi ." lapor Samy.
Aubery sudah menduga. Ia cukup hafal dengan staf dan pegawainya. Hari senin. Adalah hari yang paling sibuk dan paling membosankan untuk mereka. Biasalah sehabis cuti hari minggu.
"Catat mereka yang paling malas dan gak bersemangat bekerja. Lebih baik suruh segera menyerahkan surat pengunduran diri." perintah Aubery. Auranya sebagai bos arogan muncul.
"Baik non. Anda sudah sampai mana??" tanya Samy.
Aubery celingukan melihat sekitar. "Sepertinya sudah sampai di perbatasan kota B."
Suara berisik ditempat Samy berada sampai ditelinga Aubery.
"Samy kamu ada dimana??"
"Dirumah non. Ah... dikantor maksud saya." Samy segera meralat.
"Sebaiknya anda langsung menuju rumah saja non. Jangan mampir kemana mana. Sekarang ada yang harus saya kerjakan !" Samy buru buru menutup telfon.
"Apa apaan Samy?" Aubery merasa aneh.
HAACHIIU...!!
Aubery kembali bersin. Diusapnya hidungnya yang terasa gatal. Shendi kenapa lama banget. Aubery turun dari mobil. Mengedarkan pandangan mencari sosok Shendi diantara semak semak.
"Sayang sudah belum??" teriaknya.
"Bentar !!" jawab Shendi gak kalah kencang.
"Ahhh... " lega banget rasanya setelah menahan cukup lama.
"Kenapa lama banget !!"
"Iya... ga sabar amat...!" Shendi gerundel sambil menuntaskan tetesan terakhir. Gak tahu ya susah cari pohon yang sesuai. Biarpun cuma pipis harus pilih pohon . Kalau pohonnya lebih kecil dari badannya kan sama aja ga sembunyi .
"Mau mengintip gak ??" Shendi menengok dari balik pohon. Dibalas dengan tatapan sarkas Aubery.
" Pin dhai... !"
Shendi malah membalasnya dengan mengerling nakal. Sontak membuat wajah gadis itu bersemu merah. Malu sekaligus kesal. Ia kembali masuk ke mobil dengan mendengus kesal.
"Sempat sempatnya bercanda ditempat beginian. Serem... , mana sepi lagi." gumam Aubery. Ia lebih memilih menghadapi penjahat daripada makhluk yang gak kelihatan.
"Hayo lagi mikirin apa??" Shendi mengagetkan Aubery. Tau tau Shendi nongol di jendela. Shendi masuk ke mobil dan langsung mendapat pukulan ringan di lengannya.
"tadi ngomong istilah asing kan ?? tau hukumannya apa?"
"Jangan bercanda!!"
.
.
.
.Bersambung🌸🌸🌸
.
.
🙏Agak garing ya.mohon bantu koreksi 😐
🙏terima kasih untuk Like , vote. hadiah , komentar , favorite . Sangat berarti untuk author.
__ADS_1
👏Sampai jumpa next episode.
♥️ love you.