Istriku Tapi Bohong

Istriku Tapi Bohong
Masa Lalu #2


__ADS_3

"Kenapa Shen... ? Aku lebih dulu mengenalmu."


Flashback on


8 tahun yang lalu...


"Jangkung !! semangat !! kamu harus meraih juara satu !!" seru seorang gadis berseragam SMP di kursi penonton.


Shendi menyeka keringat yang membasahi keningnya. Lalu menghampiri gadis itu. Ia telah berhasil melewati babak semi final kejuaraan judo. Tinggal babak penentuan juara 1 , 2 , dan 3.


"Bisa tidak kamu panggil aku kakak. Aku lebih tua dua tahun darimu. Memanggilku jangkung ditempat umum sangat tidak sopan!!" menyentil kening gadis itu pelan.


"Kamu juga mana pernah memanggilku dengan benar . Tomboi tomboi !!" Sigi membela diri.


"Ya memang kamu tomboi, mana pernah rambutmu panjang?? Dan ini... " Shendi meraih tangan kiri Sigi yang memegangi perutnya. Diangkatnya tinggi tinggi, maka terlihatlah beberapa jari Sigi dihiasi cincin warna silver dan hitam. Dan pergelangan tangan yang tidak pernah sepi dari berbagai model gelang.


"Mana ada seorang gadis memakai gelang rantai sepeda , kulit durian ,dan kabel listrik kaya gini??" Sigi hanya nyengir dan Shendi menjatuhkan tangan Sigi gemas.


"Apa kamu bolos lagi ?!" tanya Shendi remaja pada anak perempuan Arif satu satunya . Sejak kecil mereka sudah sering bersama. Ketika orang tua mereka sibuk bekerja . Maka mereka berdua bermain petualangan ke tiap ruangan gedung WD .


Kebersamaan itu berlanjut sampai mereka remaja. Mengunjungi satu sama lain sudah biasa mereka lakukan . Sifat Shendi yang dewasa mampu menjadi sosok kakak yang bisa melindungi Sigi yang manja.


"Aku tidak bolos, hanya aku pulang lebih dulu"


"Sama saja itu bolos!!" Shendi memukul kepala Sigi pelan.


Sigi meringis maka terlihatlah dua lesung pipit di pipinya. "Aku gak boleh melewatkan pertandinganmu. Aku harus menjadi saksi atas kemenanganmu ."


Shendi hanya menggeleng. "Terserah deh... " lalu merebut sebotol minuman ditangan kanan Sigi.


"Weii... !!" seru Sigi. Tanpa mempedulikan Sigi, Shendi langsung meminumnya. Melihat Shendi menghabiskan minumannya Sigi melotot tak percaya.


"Week... asem banget!!" Shendi membersihkan lidahnya.


"Tentu saja, itu jamu datang bulan!" Sigi tertawa sambil menahan nyeri di perutnya. Wajah Shendi langsung berubah ingin marah. Namun diurungkannya. Ia menjadi tidak tega menyadari wajah Sigi yang nampak pucat.


Shendi pun menaruh botol kosong dan menyentuh pundak Sigi.


"Haihh... sakit perut lagi ya??"


Sigi mengangguk malu . Malu karena langganan sakit perutnya diketahui Shendi. Shendi ingin memarahi gadis ini. Disaat sakit masih nekat datang dipertandingannya. Dia punya nyawa berapa memangnya ? Shendi paling gak tega melihat orang kesakitan didepannya. Apalagi demi dirinya.


Shendi membuang nafas kesal. Dilihatnya sekitar. Penonton bersorak menyemangati jagoannya. Tinggal menunggu gilirannya dipanggil. Shendi tidak tahu bagaimana rasanya nyeri haid itu. Tapi Shendi tahu kapan Sigi datang bulan. Wajah Sigi akan pucat dan ada kerut dikeningnya. Tawa Sigi yang biasanya lepas berubah terlihat dipaksakan.


Shendi semakin tidak tega meninggalkan Sigi dikursi penonton. Bagaimana nanti jika dia pinsan . Pasti akan disalahkan Ayah dan paman Arif karena tidak bisa menjaga Sigi. Tapi tinggal beberapa babak lagi. Sigi mendorong Shendi agar kembali ke kursi peserta.


"Cepat kembali sana, jangan hiraukan aku."


Langkah berat Shendi meninggalkan Sigi. Namun baru beberapa langkah ia kembali menoleh menatap wajah Sigi yang seperti mayat hidup.


"Haiizz... benar benar merepotkan!" Shendi berjalan cepat menuju kursinya. Memberesi barang barangnya dan kembali menghampiri Sigi. Ditariknya gadis itu keluar dari tempat pertandingan.


"Kenapa?, kemana? sebentar lagi giliranmu !!" Sigi tak mengerti. Shendi makin dibuat kesal melihat Sigi yang terus meremas perutnya.


"Lupakan pertandingan, aku antar kamu pulang!! Berdiri tegak saja tidak bisa masih memaksa mau lihat pertandingan." memaksa Sigi naik ke punggungnya.


"Kamu gila ya. Tinggal selangkah lagi kamu jadi juara..."


"Aku hitung sampai tiga jika tidak segera naik ke punggungku, lihat apa yang bisa aku lakukan padamu!!" Shendi kehilangan kesabaran.


Akhirnya Sigi tidak bisa menolak perintah Shendi. Ia lalu naik ke punggung Shendi.


" Kamu tahu aku mengalami ini tiap bulan. Kenapa malah meninggalkan arena pertandingan??"


"Kamu juga tahu aku pasti menang. Masih nekat datang!! Sudahlah... lagian lemari dirumah sudah penuh piala. Nanti mau ditaruh dimana?"


"Ch... sombong..." Sigi menjewer telinga Shendi, lalu ia pasrah dalam gendongan Shendi yang masih memakai Judogi , baju khusus untuk olahraga judo . Mereka meninggalkan tempat acara. Tanpa mempedulikan dikejauhan terdengar MC berkali kali memanggil nama Shendi.

__ADS_1


"Berat sekali kamu? apa karena gelang rantaimu itu atau kamu yang tambah gendut??" mendengar dikatai gendut, Sigi menepuk pundak Shendi sebal . Tawa canda mengisi kebersamaan mereka siang itu. Tanpa mempedulikan orang orang yang menatap jengah kearah mereka. Shendi berusaha mengalihkan perhatian Sigi dari rasa nyeri diperutnya.


Sigi mengeluarkan sesuatu dari genggamannya . "Aku sudah menyiapkan ini jika kamu juara 1 . Tapi sepertinya aku tetap harus memberikannya walaupun kamu juara 3."


Sebuah kalung dengan liontin huruf 'SS' menggantung didepan mata Shendi.


Terima kasih Shen... Demi aku, kamu memilih melepas kesempatan menjadi juara 1.


Flashback off


"Semoga pilihanmu kali ini tidak berubah. Kamu akan tetap memilihku" Sigi menggenggam sebuah kalung dengan liontin SS . Kalung sepasang yang dulu ia pesan khusus. Singkatan dari namanya dan nama Shendi.


Sigi segera beranjak keluar untuk bergabung dengan mereka yang sudah siap dengan acara BBQ.


Bulan sudah terlihat penuh di ufuk timur. Membuat bukit Y tampak lebih terang ditambah api unggun yang dibuat Shendi.


"Wah... Ternyata Raja juga datang" Remaja 14 tahun itu membalas sapaan Sigi dengan lambaian tangan. Sigi menghampiri sikembar lalu mengacak rambut mereka yang tampak senang dengan marshmallow bakar. Sigi ikutan menghirup aroma manis yang keluar.


Lingga dan Raja sibuk didepan tungku. Mengoles madu dan membolak balikkan berbagai macam daging dan seafood diatas tungku. Ada juga berbagai macam bakso. Yang pasti aroma BBQ malam itu mampu menggugah selera siapa saja yang menciumnya.


Tapi Shendi... , entah mengapa tidak terlalu menikmati acara malam itu. Ia lebih memilih asik dengan hp androidnya dan duduk santai di bangku kayu .


"Bukan begitu caranya!" seru sigi melihat Lingga yang sedang mengoles madu pada sayap ayam.


"Tunggu matang baru dioles madu. Biar tidak mudah gosong... !!"


"Ah... , biasanya kita juga begini... " Raja menyelah.


"Aku itu sedang mengajari kalian... Tuh kan udah mau gosong !! , sini aku kasih lihat caranya!!" Sigi merebut capitan yang dipegang Lingga.


"Tidak perlu diajari, semua orang juga bisa kalau cuma bakar bakar" Raja. Lingga hanya menggeleng.


"Tentu aja enggak. Membakar itu butuh tehnik tidak asal bakar .Aku ini sudah terlatih diluar negeri!!" Sigi membanggakan diri.


"Wahh... dari mana nona Sigi mendapat kepercayaan diri seperti ini? Tau tidak artinya terlatih??" Lingga mengetuk pinggiran tungku dengan pencapit. Senyum menggoda pada Sigi.


"Menambah ini itu . Nanti kalau tidak enak , mau menghabiskan sendiri?"


"Ya sudah kalian saja. Awas nanti kalau gak bisa dimakan" Sigi terus mengomel dan bergabung dengan Shendi.


"Darimana kamu dapat asisten itu. Dia sama bodohnya dengan Raja. Makanan gosong seperti itu mana bisa dimakan . Mereka malah kompak menindasku ." duduk dengan muka ditekuk.


Shendi hanya tertawa dengan Sigi yang mengadu. Sigi tetap sama seperti dulu , cerewet dan manja.


"Hahhh... !" menarik nafas panjang.


"Baiklah lihat apa yang sudah mereka buat." Shendi meletakkan hpnya dan bergabung dengan Lingga dan Raja.


"Ajari dengar benar. Mereka tidak mau mendengarkan aku!!" Sigi tersungut.


Tiba tiba ada panggilan masuk di hp Shendi. Tak ada suara karena Shendi memasang mode silent. Ingin dipanggilnya Shendi , tapi diurungkan setelah melihat nama yang tercantum. Sigi menatap tajam pada nama itu.


no.1


Apakah dia Aubery ?


Sebentar ia menengok ke arah Shendi , tangannya berkeringat saat pelan menggeser tombol warna hijau.


" Halo" sapa Sigi tanpa menyentuh hp itu. Tak tahu apakah seseorang yang ada disana sedang terkejut dengan suaranya. Sigi mengulangi.


"Halo."


"Wei !, Sayap ayammu udah mau gosong nih!! atau kamu bakar buat aku ..." Shendi berteriak mengagetkan Sigi. Ia menjadi gugup.


"Emh... , makanlah !! Aku khusus membakarnya untukmu. Spesial pake bumbu kesukaanmu"


buru buru menekan tombol merah saat Shendi kembali fokus dengan sayap ayam . Panggilan terputus. Dengan cepat Sigi menghapus riwayat panggilan. Lalu kembali bergabung dengan lainnya.

__ADS_1


Malam semakin larut. Shendi menyuruh sikembar untuk kembali ke kamar karena besok harus ke sekolah. Tinggallah mereka berempat menikmati hidangan yang tersisa sambil bermain kartu. Kaleng kosong minuman soda berserakan diatas bangku itu.


"Ja ! Giliranmu nih!" Seru Shendi. Raja yang sedang bicara dengan seseorang tampak gugup.


"Iya mas bentar!" teriaknya dari teras.


"Nah, aku sudah memberi tahu apa yang ingin kamu tahu. kakak ipar , kamu jangan besar kepala ya. Aku tidak sedang mendukungmu... !! " suara Raja kembali pelan setengah menekan. Lalu menutup percakapan.


"Telfon dengan siapa sih sembunyi sembunyi.Kamu udah punya pacar ya" Shendi curiga karena Raja sembunyi sembunyi mengangkat telfon.


Sigi Ariesta Budiman




***


.


.


.


.


"Sayang, aku mengaku salah. Maafkan aku." Aubery menghentikan langkah Shendi yang lebar. Kekasihnya sedang marah dan bermuka masam . Berlalu meninggalkan dirinya jauh dibelakang.


"Sekarang minta maaf 100 kali sudah ga ada guna. Kamu tidak pernah mendengar kata kataku. Aku sudah muak denganmu !!" menoleh ke belakang dan menuding kasar kearah muka Aubery.


"Tapi aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu. Kamu juga sudah melihat setiap jengkal tubuhku. Pasti tidak ada yang mau lagi denganku ..." berlari menyusul Shendi.


"Suamiku , Jangan pergi..." memohon dan berusaha memeluk Shendi.


Tapi pria ini tidak mempedulikan Aubery. Melepas pelukan dengan kasar dan dengan telunjuk menjauhkan muka Aubery yang berusaha mencium bibirnya.


"Kamu yang terus menggodaku... . Aku tidak mau punya istri yang hobi clubing dengan pria lain!!" bentaknya sambil berlalu.


"Sayang kamu membuatku menangis , padahal aku sungguh sungguh mencintaimu..." pantang menyerah. Aubery menyusul tapi Shendi kembali menoleh dan mengancam.


"Jangan mendekat, kalau tidak aku akan membuangmu ke hutan!"


"Kamu tega?!"


Aubery menghentikan langkahnya. Matanya mulai berkaca kaca.


***


.


.


.


.


.


Bersambung⚡


.


.


🙏Tahan emosinya.


🙏terima kasih banyak yang udah Like. favorite , coment, dan vote. Sangat berarti buat author.

__ADS_1


👋Sampai jumpa next episode. Dan...


😘Sayang semuanya.


__ADS_2