Istriku Tapi Bohong

Istriku Tapi Bohong
Pejuang Cinta


__ADS_3

Flashback masih di mode 'on'


Samy setengah berlari diikuti 3 pelayan menuju rumah belakang. Ia tidak menemukan Aubery di kamarnya.


Kemana perginya Aubery. Tuan besar menyuruhnya beristirahat malah sekarang menghilang lagi. Beberapa pelayan mengatakan sempat berpapasan dengan nona.


" Nona Aubery menuju rumah bagian belakang."


Akhirnya Samy menemukan Aubery yang berjalan dari arah belakang. Langkahnya terlihat anggun berjalan dengan santainya ketika melihat Samy yang panik setengah mati.


"Ada apa Sam, apa ada perang Dunia ke 4 ??"


Aubery terus berjalan melewati Samy yang tak habis pikir. Apa yang dilakukan Aubery di belakang. Disana bukan daerah kekuasaannya.


"Anda dari mana saja Non ?" Samy segera menyusul langkah Aubery.


"Aku kelaparan , jadi baru saja aku membuat mie."


"Anda kan tidak perlu repot repot kebelakang. Kan bisa telfon dapur seperti biasa."


"Aku sedang bosan dikamar terus dari pagi. Jadi tidak ada salahnya pergi ke belakang."


"Tapi non..."


"Sudahlah Sam, jangan cerewet," Aubery memotong perkataan Samy. "Oh iya, jam berapa mereka pulang sekolah??"


"Mereka?" tanya Samy.


"Dua anak kecil yang tadi pagi sarapan dibawah." jawab Aubery sambil terus melanjutkan langkahnya.


"Ohh... , adik adik mas Shendi" Samy baru ngeh.


"Jam dua Non!" pungkasnya.


"Ayo kita jemput mereka. Sepertinya waktunya masih keburu." Aubery melirik jam tangannya yang menunjuk angka 12:20. Langkahnya tiba tiba berhenti. Mereka bersekolah di kota B kan ? Jadi masih ada waktu untuk sampai kesana.


"Bagaimana kalau kita menelfon mas Shendi dulu non, jangan jangan Mas Shendi sendiri menjemput. Atau menyuruh seseorang menjemput mereka."


"Tidak perlu, Shendi pasti masih dirumah sakit. Dan mereka belum memberi kabar untuk menjemput anak anak" Aubery menaiki tangga menuju kamarnya.


Sepuluh menit kemudian. Aubery turun dengan sudah berganti pakaian.


"Sudah berapa hari mereka tinggal dirumah??"


Tanya Aubery pada Samy yang sedang fokus menyetir.


"Dua malam non. Mereka sangat senang tinggal dirumah besar. Mereka akan lebih senang saat mereka tahu hari ini nona yang menjemput."


Senyum kecil muncul disudut bibir Aubery. Pastinya dirinya sangat dekat dengan dua anak itu . Kalau tidak Samy mana mungkin bicara begitu. Mereka sangat lucu . Tidak sabar Aubery untuk kembali mengingat semua kejadian selama 14 hari bersama mereka.


Mobil Samy menepi di seberang sekolah sikembar. Waktunya bertepatan dengan jam pulang sekolah. Namun sepertinya seseorang yang amat Samy hafal. Sosok jangkung yang begitu mencolok , sedang berdiri diantara wali murid yang lain di depan gerbang. Mobil BMW warna hitam juga terparkir tidak jauh dari mobil Samy.


"Non, sepertinya benar apa kata saya. Mas Shendi sendiri menjemput adik adiknya."


Aubery memandang ke arah gerbang sekolah. Dengan jelas dia melihat Yas dan Ramanda menghambur ke pelukan Shendi. Shendi berjongkok lalu menciumi adik adiknya. Sesaat kemudian menggandeng mereka masuk ke mobil BMW. Shendi terlihat sangat menyayangi adik adiknya. Begitu juga sebaliknya.


Pemandangan itu membuat perasaan Aubery berkecamuk. Sekelebat potongan sebuah peristiwa kembali melintas di ingatannya. Ia menunduk kepalanya tiba tiba terasa berat.


" Ayo pulang !"


Flashback off


Kenapa hatinya terasa sakit setelah merendahkan Shendi di Showroom tadi. Seperti biasa mulutnya lancar tajam mengucap hinaan namun entah mengapa kali ini hatinya terasa diiris. Sakit sekali.

__ADS_1


Aubery meremas tangannya sendiri sambil menatap nanar wajahnya di cermin.


Terlalu banyak yang sudah terjadi. Apa kamu sudah melupakan semuanya.


Bersamaku , bersama anak anak ...


Terngiang kembali kata kata Shendi ditelinga Aubery. Nafasnya mulai memburu.


Apa!! apa yang sudah terjadi !!


Pranggg!! glontang !! brakk!!


Para pelayan yang berdiri diluar kamar Aubery tampak panik mendengar suara berisik dari dalam.


" Nona mengamuk!" pekik mereka saling berpegangan tangan.


"Bagaimana ini Samy tidak ada dirumah, setelah menurunkan nona, ia kembali keluar."


Mereka saling mengeluh. Apa mereka lupa? Ada Samy pun percuma . Tidak ada yang bisa mereka lakukan jika nona Aubery marah. Samy sekalipun . Mengunci dikamar atau menghancurkan barang barang.


Siapa yang membuat Nona marah kali ini. Bukankah tadi sebelum berangkat dia baik baik saja.


***


Mobil pick up memasuki daerah bukit Y. Lingga terus menduga duga dalam hati. Dimana sebenarnya rumah Shendi. Sudah melewati pedesaan tapi mobil ini masih belum berhenti . Malah sekarang memasuki daerah perbukitan.


Lingga tidak berani bertanya. Sesuai wejangan Arif. Ikuti saja ...


Demi gaji 15 juta. Disuruh menggunduli bukit pun Lingga bersedia. Barangkali Shendi punya proyek membangun pabrik perhiasan berikutnya. Mungkin...


Shendi terus mengajak ngobrol Lingga untuk mencairkan suasana. Bertanya bagaimana club binaraga yang diikuti Lingga. Sampai bercerita tentang dua adik kembarnya. Sambil sesekali mengikuti lagu yang dia putar.


Tak terasa sampailah mereka dipuncak bukit Y. Raja, Yas dan Ramanda berlari menghampiri.


"Mas, apakah dia Lingga yang kamu ceritakan??" tanya Ramanda.


Tangan Yas dadah kearah Lingga , begitu juga Ramanda dan Raja.


"Ling, dia adik adikku. Dan ini Raja yang akan mengajarimu bagaimana mengurus peternakan" Shendi merangkul Raja.


"Halo!" sapa Lingga.


Shendi menyuruh mereka kembali bermain. Tinggal dirinya dan Lingga yang masih berada di halaman rumput.


"Ling. Kamu lihat disebelah sana ?? Itu adalah peternakan kambing yang aku kembangkan dengan tanganku sendiri" telunjuk Shendi menunjuk ke arah kandang.


Lingga mengikuti arah telunjuk Shendi. Bangunan yang cukup luas ada disebelah kiri kurang lebih 30 meter dari rumah. Lingga manggut manggut.


"Aku membesarkan adik adikku dari hasil kebun dan peternakan kecilku. Kau tahu ?? aku hanya menggunakan 1% uang dari perusahaan peninggalan orang tuaku."


Lingga menoleh kearah Shendi. Dia tak percaya.


Shendi tertawa kosong. Ia mengerti Lingga bingung dengan ucapannya. "Tapi hari ini aku menggunakannya untuk membeli mobil. Penghasilanku dari sini mana cukup untuk beli mobil. Kecuali mobil rongsok ini." kakinya pelan menendang simanis.


"Kenapa begitu Mas? anda juga bekerja keras untuk perusahaan . Hingga sekarang anda memiliki 4 pabrik dan 400 toko. Kenapa anda tidak menggunakan hasil jerih payah anda??"


"Entahlah. Ketika aku menggunakan. Setelah itu selalu muncul rasa bersalah yang malah membuatku tidak bisa tidur. Aku yang menyebabkan adik adikku menjadi yatim piatu diusia satu tahun."


"Jadi aku gunakan saja uangku untuk mereka yang lebih membutuhkan. Itu lebih membuat aku merasa jauh lebih tenang dan tidur dengan nyenyak."


Benar, tadi pagi ketika di warung. Kami hanya habis sekitar 20 ribu. Shendi membayar dengan uang ratusan dua lembar tanpa meminta kembalian. Dapat dilihat betapa penjual warung itu sangat bersyukur dan mendoakan Shendi .


Shendi mendapat berkat dan doa dari orang orang yang telah mendapat bantuannya. Anak anak yatim piatu di panti asuhan, orang lanjut usia di panti jompo, tunawisma , orang orang kurang mampu yang menderita penyakit parah. Dan orang yang kurang mampu yang dia temui disekitarnya. Pantas jika usahanya maju dengan pesat walaupun Shendi hanya lulusan SMA.

__ADS_1


"Mas , bisakah anda tidak sembarangan jajan ditempat seperti itu ! itu kotor , debu dari jalan raya. Dan anda tidak tahu seberapa higienis mereka mengolah makanan yang mereka jual."


Teguran Arif tadi pagi ketika Shendi dan Lingga kembali ke tempat dimana Arif menunggu didepan showroom.


"Ini caraku membantu mereka Paman. Dengan membeli dagangannya. Dan aku tidak akan mati jika hanya makan satu bakwannya."


Itu mungkin sebagian kecil. Lingga yakin , Shendi masih memiliki banyak tabungan akhiratnya.


"Aku dulu begitu egois. Tidak pernah mendengarkan nasehat orang tua. Membuat mereka jengkel. Keluyuran , kumpul dengan teman teman , dan menekuni bidang yang tidak disukai Ayah Ibuku."


"Aku harus menebus atas semua yang sudah aku lakukan dulu. Membuat mereka tersenyum bangga dari surga. Putranya yang selalu membuat mereka terluka . Kini mampu menjalankan perusahaan meski dari balik layar."


"Semua milik adik adikku. Kelak aku akan mengembalikan semua kepada mereka ketika sudah dewasa."


"Dan aku, akan tetap berada disini menjaga wasiat nenek." Shendi menutup kisahnya.


Lingga mulai mengerti. Jadi ini alasan Shendi begitu menjaga jati dirinya dari publik. Meskipun nama WD jewellry begitu tersohor sebagai perusahaan besar dengan kekayaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun sosok pemilik sahnya sampai sekarang masih misterius.


Lingga pernah mencari nama Shendiaga di pencarian. Ia hanya ingin tahu siapa eksekutif muda yang akan dia jaga. Yang katanya bla dan bla bla.


Shendi ternyata sengaja membatasi jejaring sosialnya. Satu satunya hanyalah Facebook yang sepertinya juga mati suri sejak tiga tahun yang lalu.


Lingga ragu ragu , ia mulai bertanya sesuatu.


"Mas, tadi anda bilang berjuang. Kalau boleh tahu apa maksud anda. Hingga anda mempercayakan semua kepada saya."


Shendi tersenyum sambil menunduk.


"Kalau kamu jatuh cinta. Apa kamu akan memperjuangkan cinta itu?"


"Ini karma karena aku mempermainkan nona muda itu. Dan sekarang karma itu berbalik padaku. Aku seperti orang gila, kenapa dimana mana ada Tiara."


Lingga tidak tahu apa yang terjadi antara mas Shendi dan Aubery Tsang. Dan sekarang Shendi mengakui perasaannya. Nanti lama lama juga tahu sendiri. Lingga tertawa getir. Dirinya termasuk tipe pria pengobral janji. Apakah kelak akan menerima balasan juga.


Ah... mungkin Mas Shendi saja yang terlalu baper.


Mungkin saat ini kamu bisa lari dari tanggung jawabmu. Tapi tidak dengan karmamu.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung🎉


.


.


.


.


Jangan lupa Like👍

__ADS_1


Terima kasih 🙏


Sayang semuanya❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2