Istriku Tapi Bohong

Istriku Tapi Bohong
Sweet but Spycho #2


__ADS_3

"Dasar mesum ,cepat menyingkir brengsek!!" gadis itu mendorong tubuh shendi yang lumayan berat. Buru buru membenarkan jaketnya dan memegangi pundaknya yang terasa nyeri. Ia meringis sambil memeriksa , ternyata jaketnya sobek dibagian pundak dan ada luka disana.


Shendi sempat melihat luka dipundak itu, dan ia merasa bersalah. Raja berlari ketika ia melihat Shendi kesulitan ketika mencoba berdiri.


Dengan amarah gadis itu berjalan menuju mobilnya , meraih tas mungilnya dan mengambil satu lembar cek . Lalu berjalan kembali kearah Shendi yang tampak menahan sakit dibagian kakinya. Ditariknya lengan Shendi dengan kasar.


"Maumu ganti rugi kan??"


"Berapa?"


"Sepuluh juta?"


"Dua puluh juta?"


"Aku akan kasih!!"


"TAPI JANGAN HARAP PENGEMIS TAK BERGUNA SEPERTIMU MENERIMA MAAF DARIKU !!" melempar cek kosong itu kemuka Shendi.


Shendi terkejut begitu pula Raja , mereka berdua tak menyangka kata kata itu keluar dari mulut seorang wanita. Bahkan seorang Wanita yang kelihatannya dari keluarga terhormat . Pandangan matanya mulai terlihat menyeramkan. Raja yang menyadari hal itu buru buru menarik lengan Shendi.


"Mas, sudah lupakan saja. Percuma kita berurusan sama orang kaya , yang ada kita nanti yang malah dihina dan ditindas, dan apa kamu tak sadar kita udah jadi tontonan orang sekampung."


Shendi melihat ke sekelilingnya. Ternyata benar, banyak orang yang memandang kearah mereka dan saling berbisik.


Shendi membuang nafas dengan kesal, diraihnya cek kosong yang tadi terjatuh ke aspal jalan. Ditatapnya wajah gadis itu dengan tatapan penuh kecewa.


"Nona, awalnya aku ingin menyelesaikan ini secara baik baik . Aku hanya mau hakku dan meminta maaflah karena kesalahanmu. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Anda malah bicara kasar dan menghina orang. "


"Apa orang kaya sepertimu memandang kami hanyalah sampah yang tak berguna?" lanjutnya.


"Aku sudah tidak butuh uangmu Nona , tapi aku yakin suatu hari nanti, takdir akan merubah sifat burukmu dan hari itu dimana kau akan menjilat ludahmu sendiri," Shendi meremas cek itu lalu melemparkan kembali kemuka gadis itu.


"Ayo ja!" menepuk bahu Raja lalu berbalik menuju simanis. Raja mengangguk dan mengikuti Shendi dari belakang.


Gadis itu tampak syok Mendapat perlakuan yang tak terduga. Sepertinya baru kali ini ia mendapat perlakuan seperti itu.


"Aaaaacchh... !" ditendangnya remasan cek kosong tadi hingga terbang entah kemana. Nafasnya memburu. "Jangan sampai aku bertemu denganmu lagi. Kalau tidak kau akan memohon lebih baik mati!"


flashback off


***


17:45


Simanis memasuki halaman yang sangat luas . Lalu berhenti di depan rumah kayu yang tampak klasik namun terlihat kokoh. Suara mesin yang sudah akrap membangunkan lamunan hewan hewan ternak yang kelaparan. Suara dari samping rumah pun mendadak berisik dengan suara embek.


Shendi tidak mematikan mesin, ia menoleh kearah Tiara yang terlihat sedang mengamati sekitar. Ditepuk pelan pundak Tiara hingga gadis itu menoleh kepadanya.


"Kamu masuk dulu ya, aku jemput anak anak dirumah Mak Uta."


Tiara mengangguk lalu membuka pintu mobil. Raja yang duduk di bak belakang juga turun dan menurunkan anak anak kambing yang tadi dibeli Shendi.


"Ja ,kamu kasih makan kambing dulu ya ,aku jemput Yas sama Raman, aku bantu nanti Setelah kembali."


"Siap mas!!" Raja dengan gaya hormat.


"Oh ya , kunci rumah ada ditempat biasa, kamu bukain buat dia," Shendi mengangkat dagunya kearah Tiara.


"Beres."


Shendi kembali membawa simanis ke rumah Mak Uta , nenek Raja. Biasanya jika pulang terlambat entah dari pasar hewan atau mengirim telur ayam ke toko toko didesa dibawah sana, maka adik adiknya akan langsung menuju rumah Mak Uta. Mereka sudah seperti saudara.

__ADS_1


Rumah Mak Uta tidak jauh , tiga menit juga sudah sampai jika dengan membawa simanis. Jika jalan kaki mungkin sekitar sepuluh menit. Melewati jalan setapak yang jarang terdapat rumah.


Ya ,rumah Shendi berada diatas puncak bukit , jarak rumah satu dengan lainya cukup jauh. Rumah Mak Uta adalah yang paling dekat, tetangga yang lain berada cukup jauh . Untuk turun kedesa dibawah biasanya Shendi membutuhkan waktu dua puluh menit. Dan untuk naik sekitar tiga puluh lima menit ,karena menanjak dan jalanan yang terbuat dari tatanan batu membuat tidak gampang untuk dilalui.


Shendi membunyikan klakson , lalu keluarlah dua bocah yang sangat lucu keluar dari rumah Mak Uta. Berlari menghampiri simanis dangan memasang muka cemberut. Shendi tersenyum melihat adik adiknya yang begitu lucu dan menggemaskan.


Dua bocah itu naik kemobil dan langsung memasang muka bete , "mas kok lama sih, tadi Bang Sobari yang antar kita," protes Yas , adik Shendi yang perempuan.


"Iya ,kita kan kangen," imbuh Raman adik yang lali laki.


Sobari adalah tukang ojek. Jika terlambat menjemput , Shendi akan menghubungi Sobari agar mengantar adik adiknya ke atas bukit Y tempat tinggal mereka. Tapi tadi dia lupa gara gara kejadian didesa sebelah.


"Maafin mas, tadi ada sesuatu terjadi jadi mas terlambat pulang." Shendi membelai pipi mereka satu satu.


Dua bocah itu tampak terkejut lalu ribut berebut untuk melihat apakah Shendi terluka atau tidak .


"Mas gak papa kok, haha!" tertawa dengan tingkah sikembar.


"Mas, kalau mas ada apa apa ,lalu kita bagaimana??" Raman merengek. Matanya berkaca kaca hendak menangis. Raman memang begitu, meskipun laki laki dia malah lebih cengeng dibanding Yas.


"Jangan sampai terjadi apa apa sama mas Shendi . kalau tidak kita akan marah," Yas yang kali ini berkata.


Shendi mematikan mesin. Melihat kedua adiknya bergantian, "Mas janji , tidak akan terjadi apa apa sama mas."


Sikembar mengangguk lalu mencium pipi Sendi bergantian. Air mata Shendi berusaha ingin meluber keluar , melihat betapa adik adiknya juga sangat menyayanginya. Ada kegetiran di hati setiap kebahagiaan datang menghampiri.


Ayah , Ibu , kami baik baik saja.


"Apakah kalian merindukan ayah dan ibu ?" tanya Shendi pelan. Sikembar tidak paham, kemudian terlihat berpikir.


"Tidak," Yas.


Shendi mengernyit.


"Iya benar!" Raman ikut mendukung yang dikatakan saudarinya.


Mendengar kata kata Yas, Shendi sudah tidak bisa menahan air matanya , akhirnya jebol juga pertahanannya. Shendi tidak menyangka Yas akan menjawab begitu. Ia hanya anak berumur tujuh tahun.


Shen menghapus air matanya, "Baiklah , sebagai permintaan maaf, Mas kasih kalian hadiah!" sikembar berbinar, "apa hadiahnya?" serentak.


"Ibu!"


Sikembar tidak paham.


Shendi mengerti lalu pelan pelan memberi penjelasan kepada sikembar. "Dirumah sudah ada kakak yang cantik , pintar , dan baik hati.kalian boleh memanggil dia Ibu."


Sikembar tampak mulai mengartikan satu satu, lalu memandang wajah Shendi. Shendi mengangguk.


"Kalian boleh ngapain aja sama kakak itu , minta dimasakin apa aja boleh minta, bebas!!"


Sikembar mulai kena suap, "Boleh minta apa aja!?" berbinar binar.


"Tapi ada syarat!" ucap Shendi membuat mereka berhenti berhayal.


"Jika kalian minta sesuatu bilang aja tapi diakhir kalian harus bilang, seperti yang biasa ibu buat , mengerti ?"


Sikembar saling bertatapan.


O**ke sabar, mereka masih anak umur tujuh tahun.


"Nah , misal kalian mau ayam goreng, kalian cukup bilang , mau ayam goreng yang biasa ibu buat , paham ?? Shendi menjelaskan.

__ADS_1


*K*alau belum jelas aku telan bulat bulat nih setir.


Sikembar manggut manggut.


Hufft sukurlah.


"Syarat kedua, panggil aku Ayah... " Sikembar melongo memandang Shendi. Shendi mengatupkan kembali mulut mereka, " satu minggu saja , panggil mas ayah."


*S*atu minggu waktu yang cukup untuk membayar kekurang ajaran gadis itu.


"Mas Shen apa kau lagi ingin main rumah rumahan?" tanya Raman heran.


"Apa mas Shen lagi halu ?" Yas tak kalah heran.


Tentu saja. Selama ini belum pernah kakak mereka berpacaran atau dekat dengan cewek, walaupun ada beberapa yang naksir. Tapi kakaknya tak pernah merespon. Tapi tiba tiba sekarang. Sikembar saling bertatapan.


Ram, bagaimana kalau kita iyakan dulu, siapa tau kakak yang dirumah itu yang disukai mas Shen. Yas.


Y**a OK lah, lagipula mas Shen capek ngurus kita terus. biarin deh kali ini nurutin maunya . Raman


H**o oh , sekali kali kita yang ngikutin maunya mas Shen. Yas.


"Halo halo... , udah selesai telepatinya ??" Shen melambai lambi membuyarkan konsentrasi si kembar, "jadi mau nggak sama hadiahnya , syaratnya juga gak susah lo malah dapat untung."


Akhirnya sikembar memutuskan setuju. Shen tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Senang semua rencananya berjalan lancar.


" Kalau kalian lupa panggil, denda potong uang saku!" Shendi.


"Huaa." Sikembar menangis dalam hati.


Shendi kemudian menjelaskan dengan bahasa yang mudah untuk dipahami anak anak usia tujuh tahun. Skenario yang akan mereka jalani jika nanti sudah sampai kerumah.


"Tapi mas, siapa kakak itu sebenarnya, mas Shendi gak nyulik orang kan," tanya Raman curiga. Shendi terhenyak, lalu berpikir dalam.


"Tentu aja nggak , malah mas sudah menyelamatkan kakak itu dari orang yang mau jahatin dia. Lagipula kakak itu hilang ingatan, jadi anggep aja kita sedang menyelamatkan dia."


"Benar?" Yas.


"Ya elahhh gak percaya ma Mas sendiri, Mas janji akan cari informasi siapa kakak itu dan dari mana asalnya," Shendi mengangkat tiga jarinya.


"Mas janji gak ngapa ngapain kakak itu , kita cuma main main bentar kok," Shendi mengelus rambut keduanya bergantian. Dibalas dengan anggukan keduanya.


.


.


.


.


.


Bersambung🤗


.


.


.


.☝️ Ingat, Like jika kalian suka.

__ADS_1


.☝️ Ditunggu epidode berikutnya.


.🙏terima kasih dan sayang semuanya.😘


__ADS_2