
Arif dan Lingga mengikuti arah pandangan Shendi. Apa dunia sangat kecil hingga disini pun bisa bertemu mereka.
"Mas Shendi kebetulan sekali ... " Sapa Samy yang berjalan di samping Aubery.
Aubery dan Samy berhenti dihadapan mereka bertiga. Shendi, Arif dan Lingga. Shendi mengangguk membalas sapaan Samy. Lalu memandang ke arah Aubery.
Aubery sungguh tampak berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Imagenya sebagai nona besar yang dingin dan angkuh kini kembali . Tidak ada lagi senyum ceria dan tingkah manja gadis bernama Tiara.
" Ini adalah showroom mobil berkelas. Apa yang anda lakukan disini ?" tanya Aubery dengan mimik muka penasaran.
"ssshh... bahkan mobil yang paling murah di showroom ini. Saya tidak yakin anda mampu membelinya ?? Walaupun dengan cara kredit pun anda tidak mampu membayar angsurannya." Aubery mulai memperlihatkan kembali hobinya merendahkan orang.
Shendi tertawa kecil mendengar ucapan Aubery. Entah mengapa ucapan pedas gadis ini, kini tak melukai hatinya. Yang ada Shendi merasa gemas melihat Aubery yang sinis plus jutek.
" Tiara ternyata sangat memahamiku. Terima kasih sudah perhatian." Balas Shendi yang membuat Aubery kesal karena tidak berhasil memancing emosi Shendi.
Suasana sepertinya tidak terlalu enak. Arif berdehem lalu menarik Lingga menjauh. Samy juga salah tingkah dengan sikap Aubery. Oh ya, Samy masih merahasiakan identitas Shendi. Aubery belum tahu kalau laki laki dihadapannya ini juga lumayan tajir.
"Nona, saya lihat kesana dulu... " Samy bergegas berjalan menuju deretan mobil yang berjajar. Ia lebih baik menyingkir dari hawa panas yang berasal dari mereka berdua. Samy yakin , nonanya bisa menyelesaikan sendiri masalahnya.
Shendi masih memandang gadis dihadapannya. Aubery seperti Ratu arogan yang sudah menguasai hatinya. Ingin sekali memeluk dan menumpahkan semua kerinduannya
Flashback on
Minggu pagi ketika sarapan.
"Sayang ... tolong buka segelnya !" tiba tiba Tiara muncul didepannya dengan menyodorkan kotak susu yang belum terbuka. Senyum manis dan manja memohon Shendi untuk membuka segelnya. Shendi menghela nafas.
"Buka segel susu apa susahnya, takut tanganmu lecet ya !!" jawab Shendi hendak meraih kotak susu. Namun tangannya menggantung karena Tiara sudah tidak ada didepannya.
Yas dan Ramanda memandang aneh kearah Shendi yang tiba tiba ngomong sendiri.
"Mas, sepertinya penjahat itu tidak memukul kepalamu? ada apa denganmu??" Yas menghampiri Shendi. Lalu menyentuh kening kakak laki lakinya.
Shendi menampik tangan mungil Yas pelan.
Sialan ... Batinnya.
Siang hari ketika makan siang ...
"Sayang ... ambilkan gelas diatas itu!" Shendi menoleh ke dapur. Ia melihat Tiara sedang kesusahan karena tidak dapat meraih gelas di rak atas. Tiara selalu memanfaatkan dirinya yang memiliki tinggi 183 cm untuk mengambilkan barang yang tak terjangkau . Tiara tidak mau susah susah mengangkat kursi. Curang banget!
"Apa kamu memecahkan gelas lagi!!" Seru Shendi.
"Mas, aku tidak memecahkan gelas kok!" Ramanda kali ini . Shendi kembali menghadap ke meja makan. Menutupi mataya agar kedua adiknya tidak curiga dengan perilaku anehnya.
Sialan ... Batinnya lagi.
Sore hari ...
"Sayang... !"
Shendi menoleh ke sumber suara. Tiara tengah mengintipnya dari balik pintu kamar mandi.
"Air panasnya sepertinya rusak. Aku kedinginan... !" rengek Tiara sambil mengeratkan giginya.
"Shendiaga Wiradana!!"
Suara lantang yang membuat Shendi reflek menoleh arah ke pintu menuju ruang depan . Tiara berdiri sambil berkacak pinggang. "kau sembarangan lagi menaruh baju kotormu . lihat... ! lihat ...! dimana mana ada bajumu !"
"Sayang... aku lapar , buatkan aku mie instan ... " Tiara tiba tiba sudah ada didekatnya. Suaranya lembut membelai telinga Shendi. Membuat tengkuk Shendi tiba tiba merinding .
__ADS_1
"Aaaacchh... !!! kenapa bayangan Tiara terus menggangguku!!" Shendi berjalan cepat meninggalkan ruang belakang. Menuju kamar utama dan menutupnya dengan kasar.
Yas dan Ramanda hanya memperhatikan tingkah aneh kakaknya.
"Sejak keluar dari rumah sakit kemarin. Mas Shendi jadi aneh" ucap Yas sambil menaruh lengannya dipundak Ramanda. Dibalas anggukan Ramanda.
Kedua bocah itu lantas menghela nafas bersamaan.
Flashback off
"Aku tidak mengenalmu, kenapa aku harus perhatian padamu. Dan satu lagi... , aku Aubery. Bukan Tiara !" ucap Aubery tanpa ekspresi. Ia berhasil menguasai emosinya lagi.
Hahh... Shendi lupa lagi untuk membiasakan memanggil nama Aubery.
" Saya lupa kalau anda adalah Nona Besar Aubery Tsang. Maaf ... Tiara yang saya maksud ada di hati saya. Jadi maklum kalau saya selalu salah memanggil orang."
Aubery terpaku dengan ucapan Shendi. Ia lalu memutar kearah lain berusaha menutupi perubahan wajahnya.
"Apapun yang sudah terjadi diantara kita. Tolong lupakan. Jalani hidupmu seperti biasanya. Dan jangan menyapaku ketika berpapasan. Anggap kita tidak pernah saling mengenal" ucapnya.
" Terlalu banyak yang sudah terjadi. Apa kamu sudah melupakan semuanya ?? , bersamaku , bersama anak anak ... " tanya Shendi hati hati.
" Tidak ada yang berkesan !" jawab Aubery cepat , pandangannya masih ke arah lain.
"Kau memanfaatkan amnesiaku . Lalu membawaku pulang kerumahmu. Aku tidak melaporkanmu ke polisi seharusnya kamu bersyukur."
Aubery menoleh kearah Shendi yang diam terpaku. " Jadi selanjutnya jangan muncul lagi dihadapanku. Menjauhlah sejauh yang kamu bisa."
" Nona Aubery jangan kawatir, setelah ini saya yakin anda tidak akan bertemu saya lagi. Anda bisa memegang janji saya."
"Baguslah... kamu cukup tahu diri. " Aubery bergegas pergi menyusul Samy. Ia tak sempat melihat senyum Shendi yang tersembunyi.
Shendi menatap punggung mutiara hatinya yang menjauh pergi. "Maaf Tiara, kali ini aku berjanji untuk aku ingkari" gumam lirih.
"Diakah Shendi ? orang yang bersama Aubery itu??"
"Wahh... apa mereka janjian bertemu di showroom kita?"
"Sepertinya tunangan Aubery juga bukan orang biasa. Ia membeli Jeep seharga 1M dengan tunai."
"Wah pasangan yang serasi... !"
"Gaya berpacaran kaum jetsett memang beda ya... cuek diluar. Tapi didalam lengket kaya perangko."
Shendi tersenyum samar samar ketika mendengar mereka bergosip . Ia berjalan keluar showroom. Arif dan Lingga berdiri menunggunya diluar bersandar pada mobil .
Lingga sudah memindahkan kopernya ke bak belakang simanis. Sesuai kontrak kerja. Mulai hari ini ia akan tinggal dibukit Y bersama Shendi.
***
.
.
.
.
Aubery menghempaskan pintu kamar dengan kasar. Ia meluapkan kekesalannya dengan mengacak meja riasnya. Terbayang saat Shendi tersenyum padanya saat di showroom.
"Apa dia tidak sadar senyumnya sangat menjengkelkan !!" Aubery memandang wajahnya di cermin.
__ADS_1
"Dunia sesempit ini kah ??, di showroom mobil pun bisa bertemu dengan dia."
Aubery membutuhkan mobil untuk kesehariannya. Ada kalanya dia menyetir sendiri tanpa didampingi Samy . Jika hari ini tidak buru buru pergi ke Showroom mobil. Mungkin tidak akan bertemu dengan laki laki menjengkelkan itu.
Flashback on
Hari Sabtu ...
Langkahnya gontai menuruni tangga. Aubery merasa bosan terus berada dikamar. Hingga ia memutuskan untuk turun. Barangkali ada sesuatu yang bisa dia dilakukan.
Beberapa pelayan wanita tampak sibuk bekerja diruang tengah. Aubery hanya sekilas memperhatikan kegiatan mereka.
krukkkkk...
Suara dalam perutnya tiba tiba. Pagi tadi dia tidak terlalu berselera dengan sarapan yang dihidangkan. Dan sekarang perutnya mulai keroncongan sebelum jam 12 siang.
Aubery menuju ke kebelakang mencari dimana dapurnya berada. Kapan terakhir dirinya pergi ke dapur hingga lupa letaknya dimana.
Sesaat Aubery mengeluh. Susahnya kalau rumah sebesar ini. Rumah ini hampir seluas kantor A.T. Jika satu lantai dalam mall muat untuk 30 toko , 10 Restoran , 1 supermarket 1 bioskop. Belum halaman yang mengelilingi.
Walaupun sempat beberapa kali berpapasan dengan pelayan. Aubery gengsi untuk bertanya dimana dapurnya.
Setelah berputar melewati 7 tanjakan 7 tikungan. Sepertinya terlalu berlebihan. Beberapa ruangan dan beberapa lorong . Akhirnya Aubery menemukan dapurnya. Disana 3 kokinya sedang sibuk menyiapkan makan siang untuknya. Ada daging sapi, daging ayam dan berbagai macam sayuran sedang disiapkan oleh mereka.
Sebentar Aubery memperhatikan kesibukan mereka tanpa mereka sadari. Menunggu makanan siap mungkin dirinya harus menunggu satu jam atau dua jam. Dan sekarang perutnya sangat lapar.
"Apa ada mie instan??"
Pertanyaan yang tiba tiba membuat para koki langsung menoleh ke sumber suara. Suasana yang semula hening hanya suara alat alat dapur bertemu. Mereka terkejut ketika tahu yang berdiri di belakang mereka adalah Aubery.
Seumur umur bekerja disini. Mereka belum pernah melihat Nona menapakkan kakinya ke rumah belakang. Apalagi bagian dapur.
Tidak ada mie instan di dapur utama. Tidak ada dalam sejarah keluarga Tsang makan mie instan. Mereka bingung tiba tiba Aubery menanyakan mie instan.
"Aku lapar, bisakah kalian membuatkanku mie instan??" Aubery sekali mengulangi pertanyaannya melihat para kokinya masih kebingungan.
"Saya ambilkan dulu non!" Salah satu koki cepat menangkap maksud Aubery. Ia berlari ke dapur belakang. Dapur khusus untuk para pelayan. Lima menit kemudian ia kembali dengan satu bungkus mie instan.
Dengan cekatan sang koki segera menyiapkan mie untuk Aubery. Aubery duduk memperhatikan.
Sepertinya bukan begitu cara memasak mie instan. Itu terlalu terpaku pada teori para koki yang pastinya njelimet .
Aubery bangkit lalu menghampiri mereka. Menyuruh para koki untuk memberinya ruang bergerak. Aubery membuat mie instan dengan caranya sendiri. Cara yang tiba tiba melintas dalam benaknya.
Para koki tampak terpukau. Dimana Nona Besar mendapatkan ilmu memasak mie instan. Simpel, cepat dan praktis.
Tidak ada lima menit. sudah terhidang satu mangkuk mie dengan telur ditambah irisan cabe.
Aubery melahap mie nya di dapur itu juga. Ada meja makan kecil yang disediakan disana. Tanpa mempedulikan tatapan jengah para koki. Aubery menikmati mie selagi panas.
.
.
.
.
.Bersambung🍜
👍Jangan lupa Like , Like , Like. vote juga boleh .
__ADS_1
🙏Terima kasih.
😘Dan sayang semuanya❤️