
"Siapa yang akan Anda tangkap pak polisi!!"
Tiba tiba sebuah suara membuat semua yang ada diruangan itu menoleh kearah pintu.
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan berwibawa. dibelakangnya Samy dan dua orang berpakaian seperti intelejen. Berdiri dengan senyum penuh kharisma.
Ada beberapa wartawan yang sengaja dibawa Anthony untuk mengklarifikasi berita berita miring hari ini.
Anthony membisikkan sesuatu kepada asistennya. Setelah itu sang asisten meneruskannya kepada para wartawan yang datang bersamanya.
"Sesuai kesepakatan ,silahkan meliput, tapi jangan mengambil gambar" ujar sang asisten.
Pandangan Samy menyapu ke semua sudut ruangan, mencari sosok nona mudanya. Kenapa Aubery tidak ada di ruangan ini. Lalu ia segera pamit keluar.
"Anda ... , " Polisi mengernyit. Mengamati Anthony dengan seksama. Wajah itu seperti tidak asing. Tapi siapa ...
"Saya Anthony, papanya Aubery"
Semua yang ada disitu terkejut. Termasuk Shendi ,seketika nyalinya langsung ciut . Rasa takutnya muncul. Seorang papa pasti tidak terima jika anaknya dipermainkan. Dan sekarang riwayatnya sudah tamat dengan kedatangan papanya Aubery kemari.
"Oh .. haha !! . Pantas saya seperti pernah lihat. Ternyata tuan Anthony" Polisi itu tiba tiba jadi bersikap konyol setelah berhadapan dengan Anthony. Orang kaya raya yang biasanya hanya ada di Tv dan majalah bisnis. Kini berdiri dihadapannya.
"Anda ternyata lebih tampan daripada di tv"
Anthony tersenyum sebelum berkata ,"Maaf pak polisi, sepertinya ada kesalah pahaman. Calon menantuku hanya berusaha menyelamatkan putriku. Jadi tidak ada yang menculik atau diculik disini."
"Me, menantu?!" Mereka saling pandang. Shendi yang nyalinya menciut langsung terbelalak mendengar ucapan Anthony.
Wow !! ini akan menjadi berita paling fenomenal. Anthony Tsang sengaja mengundang kami untuk mengklarifikasi berita yang simpang siur, dan secara resmi mengumumkan calon menantunya.
Para wartawan dengan cekatan merekam dan merekam. Dua asisten Anthony mengawasi mereka jangan sampai ada camera.
"Benar pak, tolong cabut kasus ini. Masalah anak muda tak perlu dibesar besarkan bukan?? biar mereka yang menyelesaikan." lanjut Anthony kemudian.
"Ya ... ya ... , anda benar pak Anthony. Tapi kepala desa Z yang membuat laporan." ucap polisi itu sambil menunjuk kearah parno.
"Jika dia tidak mencabut maka kasus ini akan tetap dilanjutkan ."
"Tuan Anthony, dia sungguh calon menantu anda??" Parno masih tak percaya.
Yah, seorang Anthony mana mungkin punya calon menantu Shendi yang hanya peternak kambing. Dan Parno masih sangat ingat bualan Shendi waktu itu. Mana yang benar.
"Kenapa pak, ada yang salah?? Putriku berhak memilih calon suaminya. Asalkan dia bahagia, saya sebagai papanya bisa apa"ucap Anthony bijaksana.
Parno menggaruk kepalanya, tak menyangka seorang milyarder seperti Anthony ternyata memiliki pemikiran seperti itu. Biasanya para orang kaya lebih memandang status untuk calon menantu.
Anthony mendekat lalu setengah berbisik ditelinga Parno. "Saya dengar jalan masuk kedesa anda masih sulit dilalui. Saya berencana memperbaiki jalan diseluruh kampung anda , juga membangun pasar modern didaerah dimana putriku diselamatkan, "
Parno tak mengerti. Anthony kembali berdiri dengan penuh wibawa.
"Ini sebagai bentuk terima kasih saya karena telah menyelamatkan putriku."
"Membangun desa kami pak!!" kembali Parno seakan tak percaya. Berapa nominal uang untuk memperbaiki desanya. Ditambah pembangunan pasar modern yang pastinya sangat megah.
"Jadi, apakah saya perlu menemani calon menantu saya ditahan kekantor polisi dan membatalkan rencana yang sudah saya atur, atau ... "
"Pak, saya akan segera mencabut laporannya" Parno segera memotong ucapan Anthony.
Shendi yang hanya diam semenjak kedatangan Anthony. Tak habis pikir dengan papanya Tiara. Kepala desa itu sangat mesum ! . Tahukah dia bahwa putrinya juga hampir digagahi kepala desa itu. Menyogok kepala desa hanya untuk membebaskan dirinya dari tuduhan . Jika harus ditahan, Shendi sudah sangat siap. Ia mengakui semua kesalahannya. Trus masalah selesai sampai disini. Dirinya harus senang atau ...
"Ee .. Paman sebentar ... " Shendi menyela.
__ADS_1
"Baiklah begitu saja. Jadi sudah diputuskan. Aku akan segera mengesahkan tim untuk mulai perencanaan pembangunan" Sambil menyimpan tangannya disaku celana Anthony berucap tanpa menghiraukan Shendi.
Hei ... aku diabaikan !
Parno merasa sangat senang. Segera menyalami Anthony dan semua yang ada diruangan itu. Tak ketinggalan, ia menyalami Shendi dengan sikap yang sok akrap.
Parno dan para polisi meninggalkan ruangan. Dua asisten Anthony menunggu didepan pintu dan penjaga penjaga yang ditugaskan Arif kembali ke posisi yang mereka atur. Mencegah apapun yang tidak diinginkan. Terutama wartawan yang berusaha menyusup mencari berita.
Tinggal Anthony dan Shendi yang berada diruangan itu. Suasananya terlihat kaku. Shendi masih kawatir kira kira seperti apa balasan Anthony atas perlakuannya terhadap putrinya.
***
.
.
.
.
Samar, Aubery mendengar orang sedang mengobrol. Ia masih belum berani membuka mata. Karena merasa tenaganya sangat lemah, dan kepalanya berat sekali.
Tangannya terikat dan mulutnya tertutup lakban. Terakhir kali sebelum pinsan. Seseorang memberinya air minum di atap rumah sakit. Setelah itu tidak ingat apa apa lagi.
Tuhan, tunjukkan aku jalan keluar dari sini. Aku tidak ingin mati disini...
Sambil mata masih terpejam . Aubery memajamkan indera pendengarannya.
"Hei ... kira kira apa yang ingin bos lakukan dengan nona kaya ini" Suara salah satu dari mereka.
"Apa lagi. Membuat masa depan gadis ini hancur sampai dendam bos terbalas" yang lain menimpali.
"Kita kebagian gak ya ... , hahaha !!"
ch, jangan berharap bisa menyentuhku , walau ujung rambut pun kalian akan menerima balasan.
Shendiaga. Datanglah kumohon...
Aubery masih pura pura belum sadar. Mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sedikit mencuri pandang ke sekitar.
Ternyata dirinya berada di sebuah bangunan mangkrak. Bahan material seperti batako dan besi teronggok di tiap sudut. Mereka ada empat orang. Mustahil Aubery bisa menyelesaikan mereka. Sedangkan keadaannya masih lemas.
Pelan pelan Aubery melepas tali simpul. Entah kapan dia mulai bisa menguasai teknik cara membebaskan diri. Yang jelas dirinya kini bersyukur menjadi Aubery yang seorang multitalent. Begitu Aubery mulai menggerakkan tangannya . Ia seperti ada yang menuntun. Hingga tali itu kini benar benar renggang.
Hampir dua jam Aubery menunggu waktu yang tepat. Namun entah mengapa mereka masih asik saja sambil bermain kartu.
"Bentar aku cari kamar kecil ya , mules nih. Jaga baik baik sandera kita. Kalau sampai terjadi apa apa, Oscar bisa membunuh kita sekalian"
Aubery buru buru memegang erat tali itu. Kembali berpura pura masih pingsan dan terikat. Salah satu dari mereka beranjak pergi setelah memperhatikan Aubery yang masih pinsan dan terikat.
Oscar, akan kuingat nama itu.
Ok ! tinggal tiga orang...
"Eh lapar nih. Beli sesuatu sana gih mumpung nona itu belum siuman"
Entah Aubery yang dinaungi dewi keberuntungan. Salah satu beranjak pergi . Sepertinya hendak membeli makanan. sekarang tinggal dua orang , yang masih asik dengan kartunya tanpa menyadari keberadaan Aubery.
Baiklah ini saatnya Tiara ...
Setelah beberapa menit menunggu waktu yang pas, Aubery mulai melaksanakan strateginya. Pelan melepas tali dan lakban dimulut.
__ADS_1
Dengan Slow motion ia mengambil satu batako didekatnya dan berjalan kearah mereka.
"Hei!! nona itu lepas!" teriak salah satu.
Segera ketika rekannya menoleh. Aubery langsung menghantamkan Batako tepat mengenai kepala. Benda berbahan semen itu cukup membuat laki laki itu langsung tersungkur bersimbah darah. Melihat rekannya sudah tak berdaya. Laki laki yang berbadan tidak terlalu besar segera menyerang Aubery.
Syukurlah. Laki laki itu tidak terlalu bisa berkelahi. Hingga mudah untuk Aubery melumpuhkan.
Sebelum mereka kembali , aku harus segera pergi dari sini.
Lari Tiara ... !! , lari ... !!
Tanpa mengulur waktu lagi. Aubery lari kearah kemana orang tadi keluar membeli makanan. Terus berlari menuruni tangga yang masih berwujud beton.
Sampailah ia dilantai dasar gedung mangkrak itu. Terus berlari sesekali menoleh kebelakang menuju jalan raya yang lumayan jauh.
Entah diposisi mana Aubery sekarang. Kendaran hilir mudik. Suara klakson sangat bising membuatnya pusing. Dia belum makan dari pagi ,dan jam berapa sekarang bahkan dia tidak tahu.
Aubery terus berlari menyusuri pinggir jalan raya. Pandangannya menangkap samar sosok Shendi diseberang jalan.
Ingin sekali berteriak memanggil Shendi. Namun tenaganya sudah sangat lemah , bahkan suaranya hanya terdengar sampai ditenggorokan. Langkahnya kian tidak terarah seperti orang linglung. Hingga akhirnya sebuah motor menyerempetnya.
Aubery terguling beberapa kali. Dan berhenti ketika tubuhnya menyentuh trotoar. Kepalanya menghantam pinggiran trotoar.
Langit terlihat terang. Ini belum malam...
Namun kenapa berubah gelap dalam sekejap.
Aubery tidak ingat apa apa lagi.
.
.
.
.
.
.
Bersambung☀️☀️☀️
.
.
.
.
.
.
.Tahan nafas, sisakan untuk besok lusa 🌪️
.Jangan lupa Likenya👍
.Terima kasih 🙏
__ADS_1
.Dan sayang semuanya❤️❤️