
"Setiap para pejuang hebat dan perkasa, selalu ada sosok wanita di belakangnya. Gambaran kontrak ini juga muncul dalam Dadak Merak . Singa Barong dengan gagah perkasa tapi juga anggun berhiaskan merak di atas kepalanya . Selesai..."
Tiara Terdiam sesaat sebelum menutup buku cerita berjudul Reog Ponorogo yang baru saja selesai dibacanya. Hatinya ikut tersentuh dengan kisah itu. Ia menoleh kearah Yas yang belum juga memejamkan mata.
" Sayang, Itulah kisah perjalanan Prabu Kelana Sewandana mempersunting wanita pujaannya Candra Kirana sang putri dari kerajaan Kediri" Membelai lembut kepala Yas.
" Kenapa belum tidur sayang ?".
Yas memandang wajah Tiara. Wanita cantik yang hampir dua minggu ini selalu menemani dan membaca dongeng untuknya sebelum tidur. Yas tidak memintanya, Namun Tiara yang selalu berinisiatif. Karena Raman hanya mau ditemani Shendi sebelum tidur. Mungkin dengan begitu akan lebih adil.
" Ibu..."
"Ehmmm?" Jawab Tiara.
Cukup lama Yas terdiam sebelum ia memulai pertanyaannya.
" Apa Ibu juga akan selalu menjadi wanita dibelakang Ayah??" .
Tiara memandang Yas heran. Tiara tahu bahwa Yas selalu kritis dalam bertanya. Jawaban yang tidak tepat akan membuatnya terus merasa penasaran ,sampai ia mendapatkan jawaban yang memuaskannya.
Jawaban apa yang diinginkan Yas??
"Tentu saja sayang , selain ibu juga ada kamu... , kamu juga wanitanya Ayah yang paling hebat " Mencium ujung kepala Yas.
" kalau begitu berjanjilah, Ibu jangan pernah meninggalkan kami, apapun kesalahan kami ... jangan pernah pergi.." mata Yas berkaca kaca.
Tiara terhenyak mendengar ucapan Yas ,
Knapa arah bicara Yas kali ini sedikit sensitif. aku bukan wanita gila yang tega meninggalkan Suami dan anak anaknya???...
"Iiiya sayang, Ibu janji" Ucap Tiara sambil menghapus air mata Yas yang mulai menetes keluar.
Yas memeluk Tiara erat , seolah tidak ingin membiarkan Tiara pergi dari sisinya. Meskipun Yas tahu Tiara bukan Ibunya. Yas ingin memiliki Tiara selamanya.
"Ibu, apa kamu sudah membuka hadiah dariku?? Tanya Yas tiba tiba.
Tiara tak mengerti. "hadiah??"
Yas paham mimik wajah Tiara.
jadi ibu belum membukanya....
" Ibu aku sudah mengantuk , kembalilah kekamarmu" Yas bangun dan mendorong Tiara ke arah pintu. " dan jangan lupa beresi belanjaan ibu kemarin" .
Tiara bingung dengan tingkah Yas. "sayang mana hadiahnya??" Setengah berbisik di celah pintu kamar Yas yang sudah tertutup. Tak ada jawaban.
Tiara akhirnya kembali kekamarnya. Merebahkan tubuhnya dikasur yang nyaman.
Kembali terngiang ucapan Yas barusan.
"Hadiah.... , beresi belanjaan" Menatap beberapa Paper bag yang teronggok dilantai. Tiara memang belum sempat memberesi belanjaannya kemarin. Dan hari ini ia dan Shendi sibuk menata barang barang yang baru datang. Mengeluarkan yang lama dan meletakkan yang baru.
***
Dikamar utama lantai satu.
Shendi dikejutkan suara berdebum dari lantai atas. Ia heran kebiasaan yang dilakukan Tiara yoga malam hari sebelum tidur.
"Sssshhhh jatuh karena ketidak seimbangan pasti sakit , kenapa selalu yoga dimalam hari, sore kan lebih enak". Menggeleng pelan lalu kembali fokus ke layar komputer.
Sebuah panggilan masuk dihp N70. Shendi yang sedang asik dengan komputernya hanya melirik layar hp , melihat siapa yang menghubunginya. Senyum kecil muncul disudut bibirnya.
" ...Apa kubilang,Dia pasti akan segera menghubungiku" Gumamnya lirih.
Meraih hp itu lalu memencet tombol warna hijau.
"Paman kau memang tidak sabaran..." sapa Shendi dengan seseorang diseberang sana.
Terdengar suara tawa renyah seorang pria yang dipanggil paman oleh Shendi.
"Akhirnya aku tidak sia sia membayar biaya tahunan kartu kredit anda , setelah anda biarkan bertahun tahun tanpa ada transaksi".
ini gara gara Tiara . laporan transaksi menggunakan kartu kreditku juga masuk ke sistem komputer Perusahaan. Cepat atau lambat Paman Arif pasti akan menghubungiku...
"Apa yang membuat mas Shendi terdesak hingga terpaksa menggunakannya??" Berhenti sejenak. " Peternakan anda tidak bangkrut kan? Kambing kambing mas Shen baik baik saja kan? tidak terserang hama kan?".
Shendi menarik nafas panjang. Paman Arif selalu begitu. Menggodanya dan selalu mengejek profesinya. Meskipun Shendi tahu motif Paman Arif menjatuhkan semangatnya.
"Mas Shen?" Suara Paman Arif mengagetkan Shendi.
"Aku masih disini Paman...."
Suara mendesah Arif terdengar ditelinga Shendi.
" Ada transaksi terjadi ditoko pakaian dalam wanita di Point Plasa kota B, Lalu ada transaksi lain di toko Zara juga di Plasa yang sama, kalau tidak salah Toko itu juga khusus menyediakan pakaian wanita kan?" Nada Arif pura pura bodoh.
Shendi menggigit bibirnya mendengar suara Arif diseberang . Memejamkan mata menyadari Dirinya sudah ketahuan . Penjelasan apa sebaiknya diberikan untuk setiap pertanyaan Arif.
Hadiah teman ?? atau mentraktir pacar?? memenuhi kebutuhan wanita simpanan??aahhhh....
"Mas, Kartu kredit anda tidak dibobol kan?" Terdengar panik.
__ADS_1
"Tidak.... Paman"Jawab Shendi malas.
"Haahhhh.. sukurlah" Suara Arif terdengar lega.
" Baiklah mas Shen, Tidak masalah anda menggunakan untuk apa. Toh itu adalah milik anda. Sudah waktunya juga mas Shendi memikirkan calon pendamping. Gunakan kekayaan yang anda miliki untuk menarik para gadis. Dan berhentilah berpura pura miskin"
"Aku tidak akan melakukan itu Paman. Aku cukup percaya diri dengan wajahku jika hanya untuk menarik perhatian para gadis. Tapi yang mampu menerimaku apa adanya . Aku masih berusaha mencarinya" Shendi bangkit dari duduknya menuju jendela. pandangannya menerawang jauh ke kota dibawah sana.
" Ok . ok . Tapi pikirkan bagaimana aku . Aku sudah tua , kuharap tahun ini mas Shen sudah memutuskan ,
jadi masih ada waktu beberapa tahun untukku mendampingi anda sebelum aku pensiun ".
"Aku belum siap paman...." Shendi mengusap dahinya.
" Kapan anda siap mas?? setelah sikembar dewasa?? atau menunggu aku pikun dulu ??".
Shendi terdiam.
"Mas, kamu sudah memiliki kemampuan mengelola apa yang ditinggalkan Orang Tuamu. Segeralah kembali ke kota A. Aku sudah lelah cara membimbing jarak jauh seperti ini. Setiap malam begadang dengan anda seperti pasangan LDR " . Terdengar nada suara Arif mengeluh panjang.
Shendi tersenyum kecut.
masih sempat bercanda. berarti tidak serius
Tiba tiba, sepasang tangan melingkar diperut Shendi . Shendi tahu siapa pemilik tangan halus itu. Tiara sedang memeluknya dari belakang.
Darahnya tiba tiba terasa berkumpul diatas kepala. Jantungnya berdenyut lebih cepat dari menit sebelumnya. Hp N70 diremasnya kuat.
" Sayang sedang menelfon siapa malam malam??" Tanya Tiara pelan tanpa melepas pelukannya.
"Halo , mas Shen??"
"Seperti ada suara wanita disana". Suara Arif Tak ada jawaban dari Shendi.
Shendi melirik bayangan Tiara dari pantulan kaca jendela. Samar terlihat lekuk tubuh Tiara dengan gaun malam yang dikenakannya.
Seakan tersengat listrik ribuan vol, Shendi mengejang dan tanpa sadar N70 terjatuh ke lantai hingga tutup casing dan baterai terpisah. Panggilan terputus.
Shendi melepas pelan pelukan Tiara. Namun Tiara justru semakin erat memeluk. Ia ragu untuk berbalik menghadap Tiara.
"Tiara , kenapa tidak mengetuk pintu" Berusaha lebih keras melepas pelukan Tiara.
"Aawh!!" Tiara melepas pelukannya segera. Tanpa sengaja kuku Shendi melukai tangan Tiara. Shendi panik langsung berbalik menghadap Tiara.
Meraih tangan Tiara dan meniup bagian yang terlihat memerah karena goresan kukunya.
"Kamu sih selalu bikin aku kaget" Ucap Shendi disela sela meniup.
Shendi baru menyadari bahwa Tiara hanya diam memperhatikannya. Otomatis pandangan matanya jatuh pada gaun tidur yang dikenakan Tiara. Warna tosca yang lembut sangat cocok dengan kulit Tiara.
Tiara menarik tangannya dari genggaman Shendi. Pelan membelai dada Shendi , lalu belaiannya naik ke pipi. Tiara mendekatkan wajahnya pada sekitar leher Shendi. Memejamkan mata berusaha menghirup aroma Shendi yang masih wangi bercampur aroma sabun mandi.
Shendi diam terpaku melihat mata Tiara yang terpejam. Lalu pandangannya turun pada bibir Tiara yang menggoda. Selalu terlihat lembab dan berwarna merah delima meskipun tanpa dipoles lipstik.
"Glek"
Berlahan Shendi membungkuk mengarahkan bibirnya pada bibir Tiara. Shendi mulai menutup matanya ketika bibirnya telah menyentuh bibir Tiara. Awalnya Tiara terkejut Shendi akan merespon secepat ini. Namun segera disingkirkan rasa terkejutnya. Pelan namun pasti Tiara menyambut sentuhan bibir Shendi.
Merasakan reaksi Tiara yang menyambut ciumannya. Shendi menarik nafas panjang membiarkan bibirnya tetap menyentuh bibir Tiara dengan sedikit sudut. Berlahan bersandar pada Tiara, Ia mulai menekan lembut , mengecup dan menjepit bibir bawah Tiara.
Untuk pertama kalinya Shendi menyentuh lidah Tiara menggunakan lidahnya , berusaha menaikkan intensitas lebih daripada sebelumnya. Menjaga lidahnya dalam gerakan yang teratur .
Membuat gerakan sedikit kencang, menyapu di sekitar lidah Tiara dalam gerakan yang lembut dan melingkar.
Tiara terkejut dengan teknik baru Shendi dalam berciuman, apalagi dengan memainkan lidahnya.
Tak lama kemudian tekanan berubah menjadi lebih kuat dan mendesak. Hingga akhirnya Tiara tak sanggup menopang berat tubuh Shendi. Tubuh keduanyapun jatuh diatas ranjang.
Rumah kayu semi permanen dua lantai dipuncak bukit Y. Kandang ada disebelah kanan rumah jarak sekitar tigapuluh meter dari rumah. πππ
(Gak kelihatan ya?? coba geser lagi ke bawah.)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.(masih gak kelihatan??)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Dikit lagi...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(penasaran banget sama kambing)
***
.
.
.
.
.
.bersambungπππππππππππ
.
.
.
.
π£οΈπ£οΈπ£οΈπ£οΈ Perhatian Perhatian !!! Update hari senin malam yaa. Author kalau ketemu hari minggu males mikir , pinginnya bobog syantik. π΄π΄
.πJangan lupa tinggalkan jejak Like setelah membuka episode ini.
__ADS_1
.πSampai jumpa besok
.πSayang kalian semuaππ