
Arif menggelengkan kepala melihat penampilan Shendi. Seragam biru itu ingin sekali Arif merobeknya saat itu juga. Bagaimana CE WD merendahkan dirinya menjadi cleaning service di tempat lain. Dan baru saja , Arif sempat melihat Shendi nyengir kuda padanya.
Dasar bocah kurang ajar!!
Arif berlalu dari hadapan Shendi sambil berdecak. Berat sekali beban yang harus dia pikul dalam usia segini. Ada saja tingkah Shendi yang bikin kepalanya pusing.
Shendi sempat mendengar Arif berdecak. Perasaannya makin tidak karuan. Daripada menghadapi kemarahan Ayahnya dulu , Shendi lebih takut jika Arif yang marah.
"Sampai kapan Anda akan memakai seragam itu??" Tanya Arif sambil memelankan langkahnya. Berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Shendi. Shendi berfikir sesaat. Ia belum tahu sampai kapan.
Mungkin 2 minggu atau bisa jadi satu bulan lebih...
"Kenapa Anda sangat sembrono , berbuat tanpa berfikir lebih dulu. Anda tahu siapa Anda. Kenapa merendahkan diri dengan memakai seragam itu demi seorang gadis??"
"Anda tahu bagaimana karyawan WD memandang aneh dengan tingkah laku Anda yang... " Arif berhenti , memandang kembali Shendi dari atas ke bawah. Sekali lagi menggeleng dengan menekan pelipisnya.
"Sudah cukup anda membuat heboh kantor dengan tingkah konyol Anda. Kenapa anda senang sekali orang memandang rendah Anda mas!"
Mereka telah sampai dikantor CEO. Kantor yang seharusnya ditempati Shendi.
Pelan Shendi menutup pintu kantornya. Sedangkan Arif menuju sofa. Lalu ia duduk setelah itu kembali memperhatikan Shendi yang masih berdiri.
"Duduklah... ini kantor anda kan?" Arif mempersilahkan Shendi duduk di singgasananya.
"Kenapa dari tadi Anda diam ..."
Shendi pelan menuju meja kerjanya. Lalu duduk dikursi putar kebanggaan Ayahnya dulu. Dikursi ini Ayahnya telah bekerja keras hingga menjadikan WD salah satu produk berkualitas andalan dalam negeri.
"Paman, tidak ada pekerjaan rendah dimataku. Selama pekerjaan itu halal. Tidak merugikan orang lain."
Arif tertawa mendengar ucapan Shendi.
"Mas, anda menjadi cleaning service diperusahaan lain. Sedangkan anda sudah punya tanggung jawab yang harus anda pikul. Kursi yang anda duduki sekarang. Itu bukan sekedar kursi , Itu saksi bagaimana Orang tua anda mempertaruhkan jiwa dan raga."
"Paman, kamu berbicara seolah olah aku tidak bekerja untuk perusahaan orang tuaku... ,aku juga bekerja paman tahu itu! hanya saja aku belum cukup percaya diri untuk tampil dimuka. Dan ... dengan ilmuku yang masih sangat sedikit. Aku tidak yakin akan membawa WD lebih maju lagi."
Arif bangkit dari duduknya. Mendekat ke meja Shendi. Diraihnya beberapa tumpukan map dan surat di meja itu. Lalu meletakkan tepat didepan Shendi.
Shendi heran, memandang tumpukan map lalu perpindah menatap Arif.
apa ini...
"Anda merasa ilmu anda masih kurang. Lalu diam diam mendaftar ke universitas tanpa mendiskusikan dengan saya?"
Mata Shendi membulat mendengar penuturan Arif. Lalu buru buru mencari sesuatu ditumpukan map itu. Sebuah amplop berwarna putih, tertulis sangat jelas nama universitas bergengsi dari negeri tirai bambu sana. Namanya tercantum di depan amplop.
"Anda sungguh tidak memandang saya sebagai pengganti orangtua anda..."
Shendi mengacuhkan omelan Arif. Ia masih tak percaya akhirnya mendapat balasan dari universitas bergengsi itu, yah... walau telat.
Satu tahun yang lalu. Ia pernah mendaftar ke *U**niversitas Shin Hua* , Beijing. Namun sampai ajaran baru dimulai . Shendi belum mendapat surat balasan apakah dia diterima atau tidak. Hingga Shendi menyerah dan melupakannya.
Tangan Shendi gemetar membuka amplop putih itu. Arif yang menyadari bahwa omelannya tidak digubris. Berganti memperhatikan Shendi yang ternyata sedang gugup.
Satu persatu Shendi membaca dari atas sampai bawah. Diulanginya lagi dari atas. Lalu wajahnya mulai berbinar.
"Paman ... Paman... !"
"Apa... apa... Bagaimana ...!" Arif ikutan gugup.
"Aku diterima , !!" Shendi sekonyong konyong langsung berdiri dan berhambur kepada Arif. Ia menunjukkan lembar kertas edaran itu.
"Aku akan menjadi mahasiswa Paman!!"
"Ahaha... Selamat selamat!!" Arif memeluk Shendi bahagia.
BRAKK!!!
Shendi terkejut. Arif tiba tiba menggebrak meja kerjanya. Menatap tajam kearah Shendi. Tatapan itu sangat mengerikan.
"Ingin menjadi mahasiswa kenapa harus jauh jauh ke Beijing Mas!! , disini banyak universitas bergengsi . Gak kalah sama yang diluar negeri.!!"
__ADS_1
Shendi berusaha melunakkan hati Arif. Kembali dipeluknya laki laki yang umurnya hampir kepala enam itu.
"Paman... pepatah bilang. Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Mencari ilmu itu wajib bagi umat manusia."
"Tapi tidak harus ke China!!" Arif mulai jengkel dengan pemahaman tuan muda satu ini. Arif menepis tangan Shendi.
"Bagaimana dengan WD dan M&M??, apa anda akan menelantarkannya sampai bangkrut demi menuntut ilmu. Lalu setelah anda cukup ilmu. Kembali memulai usaha baru. Apa malah akan buang buang waktu."
"Kan masih ada Paman Arif..." Shendi membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Arif. Arif melotot kesal.
"Ayolah Paman. Dampingi aku beberapa tahun lagi. Setelah aku lulus ,aku berjanji akan mengurus perusahaan . Dengan mental baru tanpa ada lagi acara kucing kucingan. Dan aku akan jamin hari tuamu bahagia. Bahkan jika Paman ingin keliling dunia. Aku akan biayai."
Air muka Arif sedikit berubah. Membuat Shendi lebih semangat meyakinkan.
"Lagipula aku tidak akan begitu saja lepas tanpa mengurus WD. Aku akan tetap bekerja dari jauh. Belajar sambil bekerja. Bahkan aku mempunyai rencana untuk membuka beberapa outlet di Beijing."
Arif melunak. Walau pikirannya masih kacau. Ia mencoba mencerna ucapan Shendi. Sebenarnya cukup bagus jika Shendi akhirnya bersedia kuliah walaupun terlambat.
"Tapi kenapa harus ke Beijing sih Mas??,. Anda hanya cukup mencari ijasah . Tak perlu ilmu tinggi tinggi. Toh masa depan Anda sudah terjamin dengan infestasi yang ada di Swiss dan Singapore . Jika WD bangkrut sekalipun. Anda masih bisa hidup sampai anak dan cucumu!"
"Paman... sekali lagi. Mencari ilmu itu wajib bagi umat manusia. Lagipula aku masih muda. aku masih 24 tahun !!. Biarkan aku mencari ilmu ketempat paling jauh sekalipun."
Ahhh, sulit menyela jika Shendi sudah mempunyai keinginan. Arif duduk dikursi CEO. Sedangkan Shendi berdiri menunggu respon Arif.
Kedua tangan Arif mengepal menyatu di dagunya .Ia sedang berfikir keras. Tentang baik dan buruknya keputusan Shendi .
"Berapa lama anda akan belajar??"
"4 tahun , untuk jurusan Information Management dan Information Sistem" Shendi kembali menunjukkan kertas edaran itu.
Arif melirik kertas itu. Disana juga tercantum jadwal kapan Shendi harus melakukan herregistrasi atau daftar ulang. Dan kapan dia harus berangkat ke Cina untuk memulai kegiatan belajarnya. Waktunya sangat mepet sekali.
mengambil nafas panjang, lalu bersandar pada sandaran kursi. "Lalu bagaimana dengan anak anak??"
"Paman pikir siapa yang paling semangat menyuruhku untuk belajar lagi ??" Shendi tertawa.
"Aku sampai berfikir apakah mereka sudah tidak menyayangiku lagi... , pengen banget aku pergi jauh."
Teringat kata kata sikembar tiap kali menyemangatinya dalam waktu berbeda.
Jangan biarkan waktu berlalu tanpa belajar. Buat kami semakin bangga dengan prestasi mas Shendi.
Mas sudah membesarkan kami juga perusahaan Ayah. Mas juga harus membesarkan diri sendiri.
Mas , kami sangat mencintaimu. Dan kami tahu mas juga sangat mencintai kami. Tapi... Bisakah mulai sekarang, cukup perhatikan kami dari jauh.? Kami sudah bisa bedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Arif mencari sesuatu di tumpukan map. Lalu menarik satu lagi amplop , menyerahkan amplop itu kepada Shendi.
"Ini apa lagi?" tanya Shendi sambil membuka amplop.
"Undangan acara tahunan dari Yayasan Penderita HIV AIDS dan KANKER. Anda selalu mengabaikan undangan ini selama lima tahun. Padahal anda donatur tetap mereka "
"Biar diwakili Keith. Atau Paman juga boleh..."
"Lalu apakah anda akan...!"
"Aku tidak akan hadir..." Shendi memotong ucapan Arif. Ia rebahkan tubuhnya disofa. Ia masih memiliki waktu sampai tiba waktunya menjemput Yas dan Ramanda.
"Maksud saya , apakah anda akan sibuk bersiap siap untuk ke Beijing sekarang??"
"Jadi Paman tidak keberatan aku ke Beijing??" Shendi langsung berdiri menghampiri Arif dan bersiap untuk memeluknya.
"Minggir!!" Arif menghindar sebelum Shendi berhasil menyentuhnya. Namun Shendi bergerak lebih cepat. Dengan cepat mendekap tubuh Arif dari belakang.
"Paman.. , aku mencintaimu !!"
"Ini kantor mas !! berhenti bertindak cabul disini!!"
Arif tidak dapat bergerak dalam dekapan Shendi . Shendi terlalu semangat mengungkapkan kegembiraannya.
Beijing ... Tunggu aku ...
__ADS_1
***
.
.
.
.
.
Jeep Wrangler warna putih memasuki halaman rumah kayu. Setelah Shendi memarkir dengan baik . Sikembar berebut untuk turun.
"Berhenti berebut!! Mobil ini lebih tinggi daripada simanis!!" seru Shendi pada adik adiknya.
"Mas, bagaimana kalau kita namai mobil ini Siputih??"
"Ssshhhh... tidak mau!! itu seperti penyakit wanita!!" jawab Shendi sewot dengan usul Yashinta. Yas pun melengos.
"Bagaimana kalau 'Siganteng' ?? simanis dan siganteng !!" Ramanda kini memberi usul.
"setuju!!" Shendi mengacak rambut adik laki lakinya.
"yeeeeeyy.. ..!!" sikembar berlari masuk kedalam rumah diikuti pandangan Shendi.
Dengan wajah menyesal , Lingga menghampiri Shendi yang baru turun dari mobil.
"Mas, maafin aku harus mengatakan semua kepada pak Arif. Dia terus mendesak menanyaiku dimana keberadaan mas Shendi."
"Gapapa, semua sudah beres. Aku memang tidak berniat menutupi. Tapi juga tidak berniat memberitahunya. Santai saja ..." Shendi menepuk pundak Lingga.
Shendi mengambil belanjaan di bagasi belakang . Ia menyempatkan belanja ke supermarket untuk membeli kebutuhan sehari hari. Lingga membantu membawakan kantong kantong itu.
"Bantu beresi ini ya , taruh ke tempatnya. Aku mau mandi dulu habis itu kerja lagi." Shendi menggaruk kepalanya yang memang gatal. Bekerja menjadi Cleaning service emang gak jauh jauh dari debu dan kotoran. Ada beberapa pekerjaan yang dia bawa dari kantor WD yang perkiraan akan baru selesai sebelum makan malam.
"Baik mas,!"
.
.
.
.
.
.Bersambung😉
***
Free Obat untuk penderita Kangen Akut.
Mas Shendi udah mandi nih. Langsung seger lihatnya...
Sssttt... Jangan ganggu, doi lagi serius ngitung untung jualan perhiasan.🤗🤗
Ntar selisih satu angka bisa ribet urusannya.
Siapa yang disalahkan??
Keith lah ... !! Dia kan manager bagian keuangan. Mas Shendi mah cuma cek doang.🙄
.
.
.
__ADS_1
.🙏Thanks for Like🙏
❤️Love you❤️