
"Sigi ?!"
Shendi seolah tak percaya setelah mengenali siapa tamunya . Dan Lingga terkesima melihat siapa yang datang. Gadis yang sangat manis , tomboi , dan juga imut.
"Hai jangkung!!" sapa tamu itu kepada Shendi , terdengar dari nadanya , mereka sudah sangat akrap.
"Ini belum hari raya, ngapain kamu pulang ?!" Shendi berjalan menghampiri tamunya dengan heran. Angin apa yang membuat gadis ini mendadak pulang. Biasanya setahun sekali pas hari raya saja.
"Apa itu Sigi ??" tanya Arif ditelinga Shendi.
"Iya..." jawab Shendi singkat.
" Tadi malam aku menghubungimu, Gadis nakal itu entah kenapa mendadak pulang tanpa memberitahu terlebih dulu . Dia baru menghubungiku ketika sudah di bandara Sidney , setengah jam sebelum lepas landas." suara Arif di telfon. Shendi tak memperhatikan jika masih terhubung dengan Arif.
"Aku menyuruh mas menjemput Sigi karena aku masih di kota P. Tapi hpmu mati , dan satunya tidak diangkat. Jadi apa boleh buat, akhirnya dia pulang sendiri." Sambung Arif.
Shendi mengerti. "Maaf paman, aku juga menyesal harus seperti ini. Tapi syukurlah , dia sudah sampai dengan selamat di bukit Y. Aku mau lihat dulu kejutan apa yang dia siapkan untukku. Sampai jumpa " Shendi menutup panggilan , tatapannya tak lepas pada Sigi.
"Apakah kamu terharu?? Demi kamu aku bahkan belum beristirahat. Setelah menaruh koper aku langsung kesini..." ucap gadis itu dengan gayanya yang santai. Gayanya lebih mirip mirip Shendi.
Dari bandara menaruh koper langsung kemari...
Demi kamu??
yang benar saja...
_ Lingga.
Pandangan gadis itu sempat tertuju pada pundak dan luka kecil di bibir Shendi. Sementara Shendi belum sadar dia masih bertelanjang dada , kaosnya masih nangkring dipundak dan hanya memakai celana kolor panjang kebesarannya.
Sigi mencoba tak menghiraukan. Senyumnya dipaksakan lalu beralih ke segelas kopi ditangan Shendi.
"Ah, kebetulan sekali aku sangat haus. Coba apakah kopi buatanmu masih seenak dulu!" serunya sambil merebut gelas itu. Tanpa canggung sedikitpun meneguk dari bekas bibir Shendi.
"Ahhhh... ternyata masih tetap nikmat"
"Hei... kamu gak bisa bikin sendiri. Itu kan gelasku!!" Shendi keberatan.
"Itu caramu menyambut teman kecilmu??" Sigi cuek.
"Sejak kapan kamu mulai hitung hitungan denganku. Kita sudah terbiasa minum dengan gelas yang sama??!"
"Heh..." Shendi tidak bisa menjawab. Sejak kecil mereka memang sering berbagi. Entah itu makanan, minuman. Kadang jaket Sigi dibawa Shendi , dan sebaliknya. Tapi entah mengapa sekarang rasanya berbeda. Minum dari gelas yang sama rasanya seperti gimana gitu.
"Yaudah aku bikin lagi... " Shendi malas berdebat dan berbalik menuju ruang belakang.
"Tunggu!!" seru Sigi.
"Nih, aku kembalikan . Sensi banget... Aku cuma coba apa rasanya tetap sama kaya dulu" memaksa Shendi menerima gelas itu kembali. Shendi terpaksa menerimanya. Diamatinya gelas itu , ia mikir mikir. Lalu meletakkan gelas itu di meja.
"Emm, siapa dia!?" Sigi menoleh ke arah Lingga.
"Lingga, dia yang menggantikanku menjaga anak anak dan bukit Y" jawab Shendi.
"Halo senang bertemu denganmu!!" sapa Sigi ceria. Ia mengulurkan tangan pada Lingga. Lingga yang dari tadi diam. Tergagap dan buru buru membalas uluran tangan Sigi.
"Lingga"
Lingga masih terpesona dengan gadis didepannya ini. Sangat manis dengan lesung Pipit di salah satu pipinya. Tingginya sekitar 165cm , kulitnya kuning Langsat. Beberapa helai rambutnya dicat ungu. Sangat cocok dengan gayanya yang tomboi.
Siapakah Sigi? Kenapa ekspresinya terlihat tidak suka saat melihat bekas bekas ditubuh bosnya. Apa gadis ini naksir bosnya?
__ADS_1
"Dia anaknya paman Arif. Tinggal di Sidney bersama mantan istrinya pak Arif" Shendi menjawab tatapan Lingga yang penasaran.
"Kami tumbuh bersama sejak kecil , sampai kita harus pisah karena dia ingin meneruskan SMA di Sidney"
Lingga manggut manggut. Begitu ternyata. Pantas mereka terlihat akrap. Sigi tersenyum membalas tatapan Lingga.
"Kamu mau bikin pizza ya, biar aku bantu" Sigi menuju dapur. Mencuci tangan lalu melanjutkan menguleni adonan yang setengah jadi.
"Kalau gitu aku siapkan topingnya" Lingga setengah gugup.
Shendi menghela nafas panjang. Mencari tempat duduk dan kembali menatap aneh teman kecilnya itu. "Apa yang membuatmu pulang mendadak"
Sigi menatap Shendi , sesaat senyumnya muncul.
"Aku sudah hampir menyelesaikan kuliah pasca sarjanaku . Jadi aku pulang memintamu menyiapkan satu posisi untukku"
"Dengan bekerja di WD apa tidak terlalu menyia nyiakan gelarmu??"
"Enggak lah, setelah aku bergabung di WD aku pastikan WD akan semakin maju. Toko cabangmu akan ada diseluruh dunia" Sigi dengan percaya diri .
"Ch... " Shendi tertawa singkat.
Sikembar turun sudah berganti pakaian. Melihat siapa yang bersama Lingga, mereka langsung teriak senang.
"Kak Sigi kenapa disini?? sekarang bukan hari raya kan...??!"
"Haha... Mereka saja tahu ada yang tidak beres tiba tiba kamu pulang" Shendi dengan tawa khasnya.
Sigi cemberut , Shendi tidak peka. Apa alasannya sebenarnya dia pulang mendadak.
"Bodoh!"
***
Ia tak menyangka, Sigi ternyata serius memutuskan pulang. Setelah tahu gosip tentang seseorang yang dekat dengan Aubery Tsang . Ternyata benar Shendi teman kecilnya.
Seminggu yang lalu...
"Pokoknya aku pulang minggu depan Pah, aku harus tahu siapa dihati Shendi sebenarnya. Aku atau anak milyader itu !"
"Tapi Shendi sejak dulu hanya menganggapmu teman , tidak lebih. Papa tahu bagaimana Shendi tergila gila dengan Aubery Tsang. Dia bahkan rela menjadi cleaning service dikantor Aubery. Demi apa coba?" ucap Arif waktu video call dengan Sigi minggu lalu.
"Kami sudah berteman 22 tahun. Mustahil jika Shendi menyukai dia , cuma bertemu beberapa minggu saja. Itu hanya rasa penasarannya Shendi" Sigi tetap tidak percaya dengan ucapan papanya.
"Papa tahu sifat Shendi selama ini kan ?? Dia anti wanita. Bahkan aku yakin teman wanitanya hanya aku." sambung Sigi percaya diri.
"Ahh... " Arif bingung mau ngomong apa lagi. Menghadapi Sigi sama sulitnya menghadapi Shendi. Ngeyelan. Arif takut Sigi jauh jauh pulang dan kenyataan tidak seperti yang diharapkan. Mata Shendi hanya dipenuhi cinta jika itu tentang Aubery. Dan itu tidak terjadi saat bersama Sigi putrinya.
"Aku akan tetap pulang. Semoga pilihan Shendi kali ini tidak berubah." ucap Sigi sebelum memutus sambungan.
***
"Ling, potong dua ayam. Kira bikin ayam bakar buat menyambut kedatangan nona Signa Ariesta" perintah Shendi dengan gaya sok bossy.
"No !! Nanti malam bulan purnama. Aku sudah membawa bahan untuk BBQ nanti malam. Tadi aku mampir supermarket belanja. " Sigi dengan senyum diakhir kalimat.
"Yess!!!" sikembar semangat. BBQ selalu mereka adakan tiap Sigi mengunjungi bukit Y. Shendi gemas dan memukul pelan kepada adik adiknya yang keganjenan. Yas dan Ramanda cemberut.
"Nanti malam?? gimana kamu pulang nanti. Turun dimalam hari sangat berbahaya lo . Apalagi kamu cewek"
"Yaa... aku menginap" jawab Sigi enteng.
__ADS_1
"Tidak ada kamar kosong disini. Kamarmu sudah dipakai Lingga . Ling potong dua ayam ya!!" perintah Shendi lagi membuat Lingga bimbang.
"No no no... BBQ. yes!!" tos dengan Yashinta. "Aku bisa tidur dikamar almarhum nenek .!!" Sigi menunjuk kamar utama.
"Tidak bisa, itu sudah jadi kamarku. Ling , pilih yang jantan yang usianya jangan terlalu tua!!"
"NO!!" seru Sigi menghentikan langkah Lingga yang hendak melangkah . "kalau gitu aku akan tidur dikamarmu dilantai atas. Lingga bisa tolong aku ambil dua kantong plastik di bagasi mobilku??!" kunci mobil melayang ,Lingga dengan sigap menangkap.
"Itu kamar Tiara!!" saut Shendi cepat. Sigi terkejut.
"HAIYAAHH... BAKAR AYAM ATAU BBQ !!" Lingga stress dengan perdebatan dua orang ini. Sigi dan Shendi saling menatap tajam tanpa mempedulikan Lingga yang kebingungan. Sikembar tidak peduli perdebatan orang dewasa , mereka asyik menikmati pizza.
"Haiizzz... terserah lah!! tapi jangan sentuh barang barang disana... " Shendi akhirnya menyerah. Sigi ngotot ingin menginap. Sedangkan dirumah itu sudah tidak ada kamar kosong lagi.
***
.
.
.
.
Di rumah besar.
Aubery melempar hpnya begitu saja setelah mendapat notifikasi pesan whatsapp dari Shendi. Ia tidak berani membukannya. Perasaannya tidak karuan.
Beberapa ia ingat tentang kejadian tadi malam. Ketika ia dengan tak tahu malu terus menggoda Shendi. Dan terakhir yang dia ingat, Shendi membawanya ke dalam kamar mandi dan menenggelamkannya beberapa kali.
Kenapa...
Dia menolakku... ??
Ingat suara Shendi samar samar sebelum menyelam di bathup.
Maaf sayang, ini belum tiba waktunya. Kita akan lakukan ketika kamu benar benar dalam keadaan sadar...
"Gimana ini... " Aubery menutup mukanya. Samy yang duduk ditepi ranjang hanya diam mengamati tingkah nonanya.
"Nona benar tidak ingat kejadian kemarin??" akhirnya Samy bertanya. Ia masih penasaran bagaimana mereka menghabiskan malam. Kamar berantakan dan kamar mandi juga berantakan. Aubery hanya menggigiti kukunya.
"Dia menolakku Sam. Dia belum menyentuhku!!"
.
.
.
.
.
Bersambung🤜🤛
.
.
👋 Sampai jumpa next episode.
__ADS_1
🙏Terima kasih yang udah like, rate, komentar , favorite , hadiah dan vote. Sangat berarti untuk Author.
😘 Lop yu😘