
Tiara mengikuti arah telunjuk Shendi. Bufet ? Shendi menyuruh duduk di bufet ? Pintu kamar ditutup dengan kasar.
Brakk!! Disusul suara Shendi mengumpat dari dalam.
Heii kenapa dia mengumpat ?? gak salah dengar ??
"Sikap apaan yang kamu perlihatkan padaku Aga!!" teriak Tiara sambil menggedor pintu. Sikembar yang tadi hanya menertawakan tingkah Tiara dari mulai didalam kamar sampai marah marah didepan pintu , seketika menghentikan tawanya.
Yas lalu menarik tangan Tiara agar duduk di sofa depan Tv.
"Ibu, kamu telah membuat Ayah kesal."
"Kesal kenapa ?, ibu hanya capek minta tolong untuk dipijit," Tiara membela diri.
"Kalau begitu biar kami yang memijit ibu. Ayah pasti juga lelah kan?" ucap Ramanda dibalas anggukan Yas.
Tubuh sikembar yang kecil imut imut mana terasa. Sedangkan Tiara merasakan tulangnya seperti mau lepas semua. Tapi gak ada salahnya. Hitung hitung mendekatkan diri kembali dengan mereka. Jujur kadang Tiara masih asing dengan sikembar yang katanya adalah anaknya.
Akhirnya Tiara setuju, dengan telaten Yas dan Ramanda memijit tangan dan kaki Tiara. Sikembar tahu beberapa hari sudah Ibu palsu mereka telah bekerja keras membersihkan rumah , dan memasak untuk mereka. Atau lebih tepatnya Shendi mengajari ketika Tiara memasak. Sikembar berfikir Ini adalah hadiah atas kerja keras Tiara.
Benar . Tangan tangan mungil mereka sama sekali tidak terasa apa apa bagi Tiara. Namun Tiara menikmatinya juga. Memandang dua bocah yang begitu manis dan penurut. Membuat tiara merasa bangga sudah melahirkan mereka.
"Terima kasih sayang...,"
mengecup kedua pipi Yas dan Raman bergantian.
"I love you."
Sikembar terkejut dengan ucapan Tiara. Reaksi sikembar membuat Tiara berfikir bahwa mereka sangat terharu dengan ucapannya , Hingga timbul rasa ingin memeluk mereka. Ia merentangkan tangannya. Sikembar bingung.
"Sini, peluk ."
Sikembar menurut , menjatuhkan tubuh kecil mereka dalam pelukan Tiara.Diam tak bergeming ketika Tiara mengusap rambut dan bergantian mencium dahi mereka.
***
Flashback on
Tadi pagi jam enam lewat lima menit. Suara berisik berasal dari dapur. Suara Shendi yang terdengar tidak sabar dan Putus asa mengajari Tiara membuat sarapan. Ditambah lagi teriakan panik Tiara dan suara alat alat dapur yang saling bertemu.
Sikembar hanya menyaksikan dari meja makan.
"Hhhhhh... , mereka seperti anak anak," Ramanda geleng geleng kepala.
"Ayah, rambutku belum disisir ," Yas tak tahu kapan perang dapur itu berakhir.
Raja yang sudah sibuk dengan tugasnya dikandang , memilih untuk menyalakan Radio keras keras. Baginya suara dari dalam rumah sangat mengganggu pendengarannya.
"Tiara , taruh telurnya pelan pelan bukan dilempar seperti itu , kau lihat ini bukan telur mata sapi , tapi telur mata keranjang!!"
"Aku menyuruhmu tambah sedikit air, bikin bubur oat gak perlu air satu ember begini , kau mau mereka kekenyangan sampai gak bisa jalan." Shendi yang terus mengomel. Kira kira Tiara panik nggak , ya panik lah.
"Aaaahhhh...kau saja yang memasak!!" Tiara mulai hilang kesabaran. Ia meninggalkan Shendi didapur sendirian. Berjalan menuju pintu belakang , berteriak sekencang kencangnya kepada Raja.
"RAAJAAA,, APA KAU TULI , KECILKAN RADIOMU!!" lalu kembali ke meja makan dimana sikembar sedang menunggu sarapan mereka.
"Kau ini , memasak kan tugasmu sebagai istri. malah pergi begitu saja!!" gerutu Shendi . Walau sebenarnya dia merasa lega . Lebih baik Tiara meninggalkan dapur daripada gadis itu membuat kacau.
Nona besar ini benar benar membuat dia pusing. Ini kesalahannya membawa Nona besar pulang kerumahnya. Bukankah seorang Nona besar kerjanya tinggal menunjuk nunjuk saja. Tanpa perlu bersusah payah menyiapkan ini itu.
__ADS_1
Tiara memandang Yas yang masih belum rapi.
"Sini ibu bantu sisir."
Yas mendekat , duduk dengan patuh ketika Tiara mulai menyisir rambutnya. Ia pun mulai terkikik mendengar Tiara mengomel.
"Lihat Ayahmu , mengomel seperti perempuan. Apa hebatnya bisa memasak!" mendengus kesal.
"Baru kemarin terlihat manis , sekarang melihatnya saja aku ingin mencakar mukanya!" dengan gaya mencakar kearah Shendi yang berada didapur. Shendi yang sadar sedang diomeli hanya membalas dengan tatapan mengejek.
Awas kau ! Tiara.
"Sudah selesai , segera habiskan sarapanmu. Jangan sampai terlambat," Tiara merapikan sisir dan tali rambut milik Yas. Menaruhnya kembali dalam satu wadah toples.
Sarapan sudah selesai disiapkan Shendi. Tiap porsi berisi satu lembar roti dengan telur mata sapi dan sosis ,semangkuk bubur oat dan satu gelas susu . Cukup untuk memenuhi gizi mereka dipagi hari.
Yas meraba rambutnya, seperti ada yang beda. Lalu berlari menuju sebuah cermin yang ada di dekatnya. Matanya membulat tak percaya ketika melihat pantulan dirinya dalam cermin. Rambutnya tidak dikuncir ekor kuda seperti biasa Shendi menguncir rambutnya.
Tiara mengepang rambut Yas dibagian samping. lalu membiarkan bagian belakang tergerai begitu saja. Poni segaris dengan alis membuat Yas tambah cantik. Gaya ini sama kaya Tiara. Cuma poni Tiara disisir kesamping. Gak kaya poni Yas yang udah mirip pagar bambu diluar sana.
Flashback off
***
Shendi keluar dari kamar , wajahnya sudah terlihat biasa seperti tidak terjadi apa apa . Ia lalu duduk disofa disamping Tiara . Sofa yang hanya cukup untuk tiga orang dewasa.
Anak anak sudah masuk kekamarnya masing masing. Meskipun besok hari minggu, namun Shendi tidak membiasakan mereka begadang. Harus tidur jam sepuluh malam.
"Mana tanganmu."
"Apaan?" Tiara tidak mengerti.
"Oooohhh...." Tiara mengangkat kedua kakinya lalu menaruh di atas paha Shendi.
Wooe tangan , bukan kaki !
Shendi menampik kaki Tiara. Kembali ia mengumpat dalam hati. Baru saja dia bisa meredam hasrat lelakinya. Sekarang harus tersiksa lagi menyaksikan kaki mulus milik Tiara .
Tiara bahkan hanya mengenakan daster batik sebatas lutut, dan Tiara tidak mempedulikan ketika daster model emak emak itu tersingkap, sedikit memperlihatkan kulit pahanya yang mulus.
Ini salah nenek moyang dulu kenapa memberi warisan berupa daster model begini. Shendi menyesal kenapa ia membeli daster itu kemarin.
"Kakiku sayang, dari kemarin berjalan mondar mandir dari depan kebelakang , dari belakang ke depan ternyata cukup melelahkan," ucap Tiara dengan santai sambil mengangkat kembali kakinya.
Shendi menarik nafas berat , ia takut gak kuat dengan godaan . Akhirnya tangannya memijit tanpa melihat apa yang dipijitnya.
Tuhan, godaan apa lagi...
"Laki laki pembohong memang seharusnya mati ditabrak kereta!!"
Shendi terkejut dengan kata kata yang diucapkan Tiara,
"Apa maksudmu !!" jantung Shendi berdetak kencang.
"Tv, aku sedang menonton tv,"
Tiara ternyata sedang mengomentari acara sinetron yang ditontonnya. Shendi bernafas lega. Pikirannya kemana mana hingga tidak fokus dengan TV yang menyala.
Aku tersiksa karena ulahmu, dan kamu hanya membahas acara TV !
__ADS_1
" Kalau dia ada didepanku, aku pasti akan kebiri dia, wajahnya sangat menjengkelkan!"
"Hemmm... " jawab Shendi malas setengah mati. Ia tak lagi semangat menanggapi Tiara. Tangannya masih melanjutkan memijit dan pikirannya kembali ke misi yang akan dimulainya besok. Mas Shen punya misi apa sih bikin penasaran.
Sedangkan Tiara yang tak lepas dari layar tv menganggap jawaban hem berarti setuju.
"Sayang, bukankah TV kita sudah ketinggalan jaman , bagaimana kalau ganti yang baru??"
"Hemm ." jawab Shendi dengan asal. Shendi masih berpikir Sebaiknya misinya besok dimulai dari mana. Perlukah mencari teman atau berangkat sendiri. Misi beberapa hari kedepan semoga membuahkan hasil.
Harus !
"Baiklah."
Tiara menarik kakinya, memeluk bahu Shendi dari depan. "Terima kasih sayang.. ," sambil menempelkan dahinya ke dahi Shendi. Shendi mundur dan wajahnya tegang karena reaksi Tiara yang lagi lagi tanpa aba aba.
Selalu begini...
Hanya memijit tak perlu berterima kasih dengan cara begini kan??
"Eehemmm!"
Shendi mencoba menguasai diri. Baginya ini adalah godaan dunia yang paling berat.Ia belum pernah berpacaran. Dulu banyak teman disekolahnya yang naksir padanya. Bahkan Shendi pernah menjadi idola disekolah. Kakak kelas juga tidak sedikit yang mencoba mendekati dan menggodanya. Namun Shendi tidak pernah tertarik.
Shendi adalah Kakak , Ayah , sekaligus Ibu bagi kedua adiknya. Orang tua mereka meninggal ketika Yashinta dan Ramanda masih berusia satu tahun. Usia dimana mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua.
Sedangkan Shendi diusia 17 tahun harus kehilangan segalanya, melepaskan impian dan cita citanya. Ketika teman sebayanya asik berkumpul jalan jalan di mall. Mengenal lawan jenis dan berpacaran. Shendi harus merawat kedua adiknya dan membesarkan mereka.
Jika dia mau saat itu bisa saja mempercayakan kedua adiknya pada baby sister dan dia tetap bisa menggapai cita cita atau menikmati masa mudanya . Tapi ini adalah pilihan Shendi. Ia sangat menyayangi kedua adiknya. Ia ingin melindungi kedua adiknya dari kejamnya dunia.
Shendi merasakan pelukan Tiara sudah tidak erat seperti tadi ,sekarang lebih tenang dan nafasnya teratur. Ia mencoba memeriksa Tiara yang ternyata matanya sudah terpejam.
"Hhahhh... bisa bisanya dia tertidur , sangat tidak waspada." gumam Shendi sambil merapikan anak rambut Tiara.
"Kamu itu nona muda yang ngeselin , kadang juga nyebelin ,bertingkah sesuka hati ... "
"Dan kamu jelek banget , matamu terlalu kecil, pipimu terlalu tirus, untung hidungmu mancung..., jadi masih ada yang bisa aku cubit." Gak tahan Shendi mencubit hidung Tiara , pelan , kalau keras bisa bisa ada perang teluk malam ini.
Kembali Shendi menikmati tiap inci wajah polos Tiara yang tertidur sambil memeluknya. Gadis sombong ini walaupun tanpa make up ataupun dengan make up. namun tetap saja cantik.
Shendi mengangkat tubuh Tiara dan membawanya naik ke kamar atas. Menyelimuti tubuh ramping itu sampai batas leher.
Shendi ikut membaringkan tubuhnya disamping tiara. Memandang tanpa bosan wajah cantik Tiara hingga ia pun ikut ketiduran.
***
.
.
.
.
.Bersambung.๐ค
.๐Sampai jumpa di part selanjutnya.๐
.๐Jangan lupa tinggalkan like ๐
__ADS_1
.๐Terima kasih dan sayang semua.๐