
Aubery dan Shela fokus memperhatikan layar cctv. Seorang Cleaning service sedang membersihkan ruangannya . Dari sudut ke sudut menggunakan vaccum cleaner . Lalu mengelap seluruh permukaan perabot.
Tidak ada yang mencurigakan dari cleaning servise itu. Hanya saja wajahnya tidak terlalu kelihatan karena memakai topi dan masker debu yang menutupi wajahnya. Terakhir ia menaruh paper bag di meja Aubery.
"Itu dia" Aubery memicingkan matanya.
"Beraninya ! dia hanya seorang cleaning service !" pekik Shela geram. Apa motif cleaning service itu yang nekat mengirimkan sarapan untuk bos A.T.
Aubery melipat tangannya didada. Memperhatikan sosok itu dari layar komputer di ruang kontrol. Itu rekaman cctv tadi pagi.
"Non , lancang banget cleaning service ini."
" Jangan biarkan dia kembali bekerja besok pagi."
Ucap Aubery sambil melangkah meninggalkan ruang control. Dia sempat berpapasan dengan seorang cleaning service. Namun sosoknya tidak sama dengan sosok yang terekam cctv. Cleaning service itu membungkuk hormat karena ditatap Aubery segitunya.
Aubery menuju ruang Desain. Sedangkan Shela melaksanakan tugas dari Aubery , memeriksa siapa yang bertugas membersihkan ruang Aubery beberapa hari ini.
Setengah jam kemudian Shela menyusul Aubery diruang desain. Aubery sedang sibuk memadukan warna kain pada patung manekin. Ditemani beberapa desainer asisten kepercayaannya.
"Nama cleaning service itu Gery non... , Ia baru beberapa hari kerja dikantor ini. Namun dia sudah meninggalkan kantor lebih awal. Ia ijin katanya ada keperluan mendadak." lapor Shela.
"Nomer hp yang ditinggalkan tidak bisa dihubungi . Jadi sepertinya besok dia masih bekerja."
Aubery masih fokus dengan kegiatannya. Menyelipkan jarum pentul pada kain. Lalu menimbang nimbang apakah warna gabungan ini sesuai dengan temanya.
"Kita lihat saja besok apakah dia masih berani menaruh sarapan itu di mejaku." jawabnya tanpa menatap Shela.
***
"Gery!!"
Shendi menghentikan langkahnya. Matanya terpejam dan dia terlihat mengeluh. Disaat seperti ini dia harus bertemu dengan orang yang mengenalinya.
Hanya teman sekolah dan teman bermain yang mengenalnya dengan nama Gerald. Atau lebih sering dipanggil dengan sapaan Gery. Jarang ada yang tahu nama lengkap Shendi kecuali wali kelasnya.
Dan panggilan Shendi hanya berlaku dilingkungan rumah. Ia mulai melupakan panggilan 'Gery' sejak pindah kerumah nenek.
Sekarang lebih sering memperkenalkan diri dengan nama Shendi saja.
"Haaizz... apes banget sih, kenapa harus sekarang!" gumamnya pelan. Shendi dapat memastikan bahwa seseorang itu adalah teman lamanya . Tidak mungkin karyawan A.T , karena jam kerja dimulai jam 8.
Seseorang itu menghampiri Shendi yang berdiri membelakanginya. Lalu memastikan apakah dia tidak salah orang.
Setelah mengamati beberapa saat dia tampak terkejut , "Ternyata beneran kamu Ger !!" pekiknya. Shendi membetulkan topinya.
Sial... kenapa juga harus si mulut besar...
Shendi menyesal kenapa tidak segera memakai masker ketika keluar dari mobil. Ia masih menyimpan maskernya di saku dan belum sempat memakainya.
"Aku kira salah orang. Ternyata beneran kamu!"
"Hai ... , kebetulan sekali ketemu lu disini" sapa Shendi ogah ogahan. Ia paling malas dengan orang ini.
__ADS_1
Riki adalah teman sekolahnya. Meskipun tidak satu kelas. Namun dia sangat mengenalinya. Sejak dulu Riki selalu merasa tersaingi oleh dirinya. Soal kepopuleran dimata gadis gadis di sekolah.
Shendi merasa tidak pernah melakukan apa apa . Sekolah juga cuma bawa vespa hijau kesayangannya. Gadis gadis itu sendiri yang genit padanya. Jarang pula yang tahu siapa dirinya. Kecuali mereka yang nekat mencari tahu saking ngefansnya.
Dan Riki gerah karena ia kalah populer. Meskipun level gantengnya di atas Shendi. Namun karena dia bermulut besar dan sok merasa paling kaya. Dia tidak disenangi teman temannya. Kecuali mereka yang sama sama bermulut besar.
Dia selalu merasa Shendi adalah ancamannya. Kenapa miliknya bisa berpaling kepada Shendi. Sesuatu yang harusnya menjadi miliknya. Shendi juga bisa memilikinya.
"Dua kali aku melihatmu aku masih ragu itu kamu. Jadi hari ini aku memastikan. Ternyata beneran kamu!"
Shendi tertawa garing. Riki memakai kaos dan celana training . Yang sepertinya ia sedang lari pagi. Depan Megabox mall ada sebuah taman yang luas. Lengkap dengan area joging. Barangkali Riki melihatnya dari seberang.
"Seragam ini cocok banget buat lu , udah lama kerja disini ?? dilantai berapa ??" Riki menyentuh nama yang tertempel di dada Shendi. Pandangannya merendahkan dan nadanya nyinyir.
"Baru beberapa hari." jawab Shendi sambil menepis tangan Riki.
"udah ya Rik. ntar telat bisa bisa aku dipecat."
Shendi melangkah namun buru buru dicegah oleh Riki.
"Hei tunggu dulu bro... , Mall ini punya calon mertua gue. Kalau lu dipecat , bilang sama gue nanti tinggal bilang mau jabatan baru apa. Gue sampein."
"Kalau gak salah mall ini punya Tsang Group deh. Jadi kamu calon suaminya Aubery ?? bukannya orang bernama Shendi seperti yang dikatakan Anthony dalam berita??" Shendi berlagak penasaran.
Riki berubah mimik wajahnya. Ia kalah telak , Shendi lagi menyindirnya. Orang miskin macam Shendi tahu juga berita berita di media.
"Dia bawa lari paksa pacar gue. Anthony belum tahu aja siapa sejatinya cowok gak jelas itu. Kalau udah tahu. Anthony akan kembali mencariku , menyuruhku segera menikahi putrinya."
Shendi tertawa dalam hati. Riki belum berubah. Tetap saja bermulut besar. Dan sepertinya tambah besar karena tahun kemarin Ayahnya terpilih menjadi walikota A.
"Eh Ger , Jeep punya siapa yang kamu pinjam ?? kemana vespa butut lo dulu??"
Riki setengah berteriak. Dan sempat tertawa merendahkan. Namun Shendi terus berlalu tanpa menghiraukan Riki.
Riki mengamati Jeep warna putih milik Shendi. Tiga hari ini , dirinya melihat Shendi keluar dari Jeep ini.
"Gak mungkin milik Gery kan ??. Apalagi Jeep ini harganya lumayan. Mana dia mampu beli kalau cuma jadi cleaning service!"
"Mana baru dari dealer lagi..."
Riki bergumam. Gery yang dikenalnya dulu. Anaknya biasa saja , berangkat sekolah juga cuma bawa vespa. Pakaian miliknya juga ga ada yang berlabel . Paling paling KW yang belinya di pasar biasa yang harganya 100 ribu dapat 3.
Bocoran dari penulis: Labelnya dipotong sama Shendi broow... Mata kamu gak jeli sih , gak bisa bedain barang Ori sama KW . π€
***
Flashback on
Shendi melihat jam dipergelangan tangannya. Jam 10:50 . Jika dirinya keatas sekarang, mungkin tepat waktu sesuai perjanjian. Tadi pagi Shendi membuat janji ketemu dengan seseorang tepat jam 11. Di salah satu kafe lantai 8 Megabox mall. Mengatur waktu setelah dirinya menyelesaikan urusan beli mobil.
"Ling, tunggu aku disini ya ?"
Lingga mengangguk mengerti. Ditatapnya Shendi yang berjalan memasuki mall.
__ADS_1
Shendi langsung menuju lantai 8 lalu mencari letak cafe yang disebut. Ternyata tak sulit menemukan letak cafe itu. Begitu lift terbuka langsung terpampang logo cafe itu.
Shendi langsung mencari tempat duduk kosong. Namun, seseorang menghampirinya. Shendi ingat orang itu. Ia adalah asisten Anthony yang menghadang para wartawan yang ingin mengambil foto.
"Tuan sudah menunggu anda disana" Asisten itu menunjuk meja yang terletak dipinggir jendela. Anthony melambaikan tangannya. Lantas Shendi menghampiri diikuti asisten tadi.
Shendi tak menyangka Anthony akan tiba lebih dulu. Setelah bersalaman , Anthony mempersilahkan Shendi duduk.
"Mau minum apa?" tanya Anthony.
"Tidak Paman terima kasih. Teman saya menunggu dibawah, " tolak Shendi sopan.
"Ok, kalau begitu langsung saja. Kamu mencariku secepat ini ... , apakah sudah mempunyai trik baru untuk menaklukkan anakku kembali ??"
Shendi terhenyak. Tanpa basa basi Anthony langsung pada pokok permasalahan. Bahkan menyinggung tentang 'trik'. Apakah Anthony menganggapnya pemuda penuh dengan trik.
Anthony tertawa melihat wajah Shendi yang tiba tiba tegang.
"Biasa aja. Aku tahu kamu pemuda yang pintar. Kalau tidak mana mungkin Aubery bersedia pulang kerumahmu."
" Katakan padaku , apa rencanamu ... "
Shendi memainkan jarinya dibawah meja. Berfikir lebih dalam lagi. Semalam ia cukup bekerja keras memikirkan sebuah cara untuk memperjuangkan cintanya. Dukungan dari sikembar yang membuatnya menjadi tambah semangat. Toh Anthony memberinya lampu hijau waktu dirumah sakit .
Jadi Shendi memutuskan untuk tetap melanjutkan rencananya. Deal !
" Paman, ijinkan saya bekerja dikantor putri anda..."
Anthony sesaat diam mencari keseriusan diwajah Shendi. Namun tampaknya pemuda itu sudah sangat yakin. " Untuk bekerja dikantor anakku minimal adalah S2... , apa ijasah terakhirmu?"
" Kalau menjadi cleaning service , ijasah SMA apakah tidak cukup Paman??"
Anthony tercekat. Tidak menyangka Shendi mengejar Aubery dengan cara menjadi cleaning service.
"Cleaning service ??" mengulang ucapan Shendi seolah tak percaya.
.
.
.
.
.Bersambungπ€
.
.
.
.ππππ jangan lupa.
__ADS_1
ππππ terima kasih banyak.
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈI love youπ