
"Daah Ayah, Daah Ibu... ," Ramanda melambaikan tangan pada Shendi dan Tiara.
"Bersenang senanglah... ," Yashinta dengan gaya centil menggoda kakaknya.
Sementara yang digoda hanya membalas dengan senyum sekilas saja.
"Daah sayang... , belajar yang rajin" Tiara membalas lambaian tangan sikembar sampai mereka hilang dibalik pagar sekolah.
"Bukankah anak anak kita sangat manis ?" ucap Tiara.
Shendi diam tak menjawab pertanyaan Tiara. Pura pura aja ga dengar. Shendi rutin kok periksa ke dokter THT setahun sekali.
Aahhh... bahkan mereka bukan anak anakmu. Aku gak nyangka kamu ternyata memiliki sifat keibuan. Dengan lembut kamu menyayangi mereka , dan mereka pun kini juga menyayangimu.
Shendi menelan ludah yang terasa pahit. Ada kegalauan dalam hatinya . Bagaimana jika adik adiknya tergantung kepada gadis yang ada disampingnya. Cepat atau lambat ia akan pergi ketika ingatannya kembali. Dan pada saat itu mungkin kebencian dalam gadis ini lebih besar dari sebelumnya. Dan adik adiknya yang tidak tau apa apa harus terluka karena terlanjur mencintainya.
Hari senin yang ditunggu Tiara akhirnya tiba juga. Turun bukit ikut mengantar sikembar kesekolah. Setelah itu langsung menemani kegiatan Shendi mengantar telur ke toko toko yang sudah memesan terlebih dahulu . Hari ini juga ada beberapa keluarga yang memesan beberapa ekor ayam untuk acara hajatan.
Tiara tampak menikmati kegiatan yang sebenarnya ini hal baru dalam hidupnya. Bertemu banyak orang dengan sifat yang berbeda. Tidak ada yang mencari muka disini. Semua apa adanya tanpa pura pura.
Tiara memperhatikan Shendi dari balik kaca mobil. Ia melihat bagaimana beratnya kehidupan Shendi . Harus bekerja keras menghidupi anak dan istrinya , sedangkan usia mereka bisa dibilang masih sangat muda.
Mengangkat keranjang dan membawa masuk kedalam toko. Keluar lagi dengan keranjang kosong. Bertransaksi dengan pemilik toko diselingi tawa tawa kecil. Membuat Tiara senyum senyum sendiri melihatnya.
Biasanya, setiap pagi ia hanya melihat Shendi turun bukit mengantar sikembar kesekolah. Dengan beberapa barang dagangan di bak belakang. Dan akan pulang menjelang siang. Sampai dirumah mandi lalu memasak untuk makan siang. Tiara hanya membantu Shendi ketika memasak. Karena Shendi masih belum membiarkan Tiara memasak apapun kecuali sarapan pagi. Kejadian kemarin lusa sudah membuatnya ketar ketir. Hari itu masih untung dapurnya tidak terbakar.
Kemudian siang jam dua kembali turun menjemput sikembar. Sesampainya dirumah Shendi akan kembali sibuk dikandang membuat racikan herbal dan menyiapkan pakan untuk yang kedua kali . Atau sibuk dikebun kecilnya menanam rempah rempah dan beberapa sayuran. Sampai sore hari, begitu kegiatan Shendi.
Sedangkan Raja hanya pagi hari membersihkan kandang. hanya kadang kadang saja Shendi menyuruh untuk datang jika Shendi butuh bantuan.
"Lagi ngelamunin apa?"
Tiba tiba Shendi sudah ada disamping Tiara menyalakan mesin mobil. Tiara menoleh kepada Shendi, beberapa peluh terlihat menetes di dahi Shendi.
Tiara tak tahan untuk segera mengusap peluh itu dengan tangan kirinya. Shendi tertawa kecil dengan sikap Tiara yang selalu tiba tiba.
"Kau kenapa" tanya Shendi.
"Enggak, cuma kamu kelihatan keren angkatin keranjang telur , berat ya?" jawab Tiara asal.
Kau sudah bekerja keras sayang,
Terima kasih...
Shendi heran dengan jawaban Tiara, "Mengangkat keranjang telur dimana letak kerennya sayang , apalagi kotor dan keringetan kaya gini" ucap Shendi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ga mau tau pokoknya kamu keren ya keren !" jawab Tiara dengan polosnya. Tangan yang semula mengusap peluh diwajah berpindah mengusap telinga kanan Shendi.
"Stop Tiara , aku tahu selanjutnya kamu pasti akan menarik telingaku !"
"Hehe..."
Terlambat, Tiara menarik telinga Shendi mendekat ke wajahnya , menyatukan dahi keduanya. Shendi meringis.
__ADS_1
Hobi banget sih menjewer telinga
"Cukup Tiara, lepaskan tanganmu kita masih ada satu toko lagi!" melepaskan tangan Tiara.
"Habis itu kamu ingin pergi kemana ,aku akan antar."
Tiara kembali duduk manis ditempatnya semula. memikirkan tujuan kemana sebaiknya ia pergi. Ketempat yang pastinya sangat sangat ingin sekali ia kunjungi. Tapi, ia masih terus berfikir. Sementara Shendi sudah menjalankan simanis menuju toko terakhir. Toko yang sebenarnya malas ia datangi. Tapi mau gimana lagi dari banyaknya toko langganannya. Toko terakhir ini yang paling banyak ordernya.
_______________________________________
09:40
Shendi memarkir simanis didepan sebuah toko yang lumayan besar. Suara mesin simanis yang khas membuat pemilik toko keluar menyambut Shendi.
Seorang wanita yang cantiknya pas pasan dengan balutan busana yang sedikit seksi. Terlalu berlebihan jika hanya untuk menjaga toko didaerah pedesaan.
"Mas, kok baru datang sih, stok telurku udah habis dari kemarin" sambutnya ketika Shendi sudah keluar meletakkan keranjang di halaman toko.
Dengan gaya centil sambil menyerahkan sebotol air mineral. Gaya yang membuat Tiara yang melihatnya dari dalam mobil merasa jijik.
"Maaf Mbak Sari , stoknya ga banyak jadi harus bagi bagi" jawab Shendi.
"Yeee... dilebihin dong buat tokoku . Telur kampung mas Shendi paling laris disini" bergelanyut manja dipundak Shendi. Shendi pun sudah mulai risih.
Sari nama wanita itu. Padahal usianya sudah cukup untuk menikah tapi Shendi heran kok belum nikah nikah juga. Pandangan Sari menangkap seseorang didalam mobil pick up milik Shendi. Memperhatikan dari tempat dia berdiri.
"Itu siapa Mas, didalam mobilmu?" tanya Sari tanpa melepas tangannya dilengan Shendi.
"Oohh... " berpikir sejenak.
Shendi tersenyum licik , ia mendapat ide. Lalu mendekat kesamping kanan Sari . membisikkan sesuatu ditelinga wanita itu.
"Dia istriku Mbak... , Orangnya cemburuan banget . Kemarin tetanggaku masuk ICU cuma karena senyum padaku."
Sari kaget, ia baru tahu kalau ternyata Shendi sudah punya istri. Laki laki yang jadi pujaannya selama ini apa jangan jangan menikah diam diam tanpa sepengetahuannya . Sari menatap Shendi tak percaya.
Shendi mengangguk meyakinkan Sari bahwa apa yang barusan ia pikirkan adalah benar.
Didalam mobil Tiara udah mulai geram. wanita itu centil sekali. malah berani bergelanyut dipundak suaminya. Dan sekarang malah Shendi yang mendekat .
Mereka sedang berciuman. Itulah dalam pikiran Tiara. Tiara semakin geram. Ia sudah tak sabar lalu keluar dari mobil. Ditutupnya dengan keras pintu mobil hingga membuat Sari semakin mencengkeram lengan Shendi.
Shendi dan Sari hanya memandang Tiara yang berjalan menuju kearah mereka. Shendi ingat mimik wajah Tiara seperti itu. Sama ketika kejadian di lampu merah dua minggu yang lalu. Wajah penuh emosi.
Tatapan itu...
gleg!
Shendi menelan ludah dan sepertinya susah sekali. Ia melepas cengkeraman tangan Sari dari lengannya. Namun Sari malah semakin erat saja . Menoleh ke Sari yang ternyata tampak sangat ketakutan.
Mbak lepasin dong...
Tiara sudah dihadapan mereka. Shendi gugup.
__ADS_1
"Sayang ,apa kau haus??" Shendi menawarkan botol minuman pemberian Sari.
Tiara meraih botol itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Sari. Membuka botol itu lalu meneguknya. Namun tanpa diduga oleh Shendi dan Sari. Tiara memuncratkan air yang baru saja diteguknya. hingga mengenai tangan Sari yang masih mencengkeram Shendi. Sari sadar lalu buru buru melepas tangannya dari lengan Shendi.
"Sayang kamu jorok sekali!!" Shendi mengusap tangannya yang terkena muncratan air.
"Mbak jangan salah paham, saya dan mas Shendi udah kenal lama jadi udah cukup akrab" ucap Sari dengan gugup.
Dalam hati Shendi tertawa puas. Sepertinya idenya cukup berhasil. Namun masalah lain muncul ketika melihat Tiara yang wajahnya seperti mau menelannya bulat bulat.
"Udah cukup lama yaa... , kalau begitu sepertinya ini menjadi akhir perkenalan kalian !" ucap Tiara.
"Sayang apa maksudnya. Mbak Sari ini pelanggan setiaku loo..." Shendi protes. Ia ga menyangka Tiara akan memutuskan kerjasama dengan Sari. Walaupun sebenarnya Shendi cukup risih dengan sikap Sari yang genit kepadanya.
"Aku ga mau tau, yang jelas ada bau bau pelakor disini. Aku gak yakin kamu cukup kuat iman."
Ucap Tiara sinis kepada Shendi. Dengan wajah kesal berbalik badan menuju simanis , "Cepat selesaikan transaksinya !!" menoleh sebentar lalu kembali ke mobil.
Sari buru buru menyerahkan beberapa lembar uang sesuai hitungan penjualan setoran hari ini. Ia gak ingin masuk ICU. Dia belum menikah dan dia tidak ingin wajahnya cacat yang dapat mengurangi kecantikannya.
"Mbak nanti telfon atau sms aku kalau stok menipis ya," Shendi memberi kode dengan jari kelingking dan ibu jari.
Walaupun centil namun Shendi ga ingin kehilangan pelanggan terbesarnya. Semoga kejadian hari ini sedikit membuat sikap mbak Sari lebih sopan kepadanya.
Semoga...
.
.
.
.
.
.
.
.
.Bersambung😍
.
.
.
.
.👍Thanks udah setia sampai di episode ini.
__ADS_1
.👍 Jangan lupa tinggalkan like komen yang membangun.
👍Dan sayank semuanya.😘