
Perusahaan yang didirikan keluarga Wiradana ini cukup unik dan menarik. Karena, tidak banyak perusahaan produsen perhiasan yang cukup besar di Negeri ini. Terlebih, berani masuk ke pasar modal seperti almarhum Purwa Wiradana , ayah Shendi.
Perusahaan ini sebenarnya berdiri cukup lama. Sejarahnya, perusahaan ini berawal ketika Purwa Wiradana muda, hanya bekerja sebagai seorang marketing Gold jewellry sebuah perusahaan milik orang lain.
Sampai kemudian, sahabatnya ini berani memulai usaha sendiri. Yaitu membuka usaha makloon perhiasan kecil kecilan . Untuk para konsumen dan produksi dari handmade jewellry yang dilakukan dalam skala industri rumahan.
Purwa menghubunginya ketika bisnisnya mulai berjalan sesuai harapan . Ia membutuhkan seorang wakil karena tidak mungkin semua diatasi oleh Purwa sendiri.
Outlet ketiga didirikan lima tahun kemudian ketika Shendi baru lahir. Anak nakal itu seperti sebuah keberuntungan bagi Purwa Wiradana. Hingga usia Shendi menginjak sepuluh tahun , WD jewellry telah memiliki sembilan belas outlet tersebar dikota kota besar.
Shendi tumbuh sebagai anak yang mandiri dan rendah hati. Meskipun dia bandel tapi Shendi tetap menjadi anak yang bertanggung jawab.
Shendi sering curhat masalah orang tuanya, teman sekolahnya , atau teman gengnya. Pernah suatu hari Shendi menelfon hanya ingin melepas rasa jengkelnya.
Paman, gimana caranya agar mereka berhenti mengejarku. Setiap hari berlenggak lenggok jika jalan didepanku. Mereka seperti mau pentas !! berdandan tebal dan memakai parfum yang aromanya bikin aku pusing...
Dilain hari ,
Paman aku sekarang touring ke puncak , malam ini aku tidur di teras toko . jangan bilang pada Ayah ya. Telingaku sakit kalau dengar dia mengomel terus...
Setelah Purwa Wiradana meninggal. PT WD Jewellry dipegang Arif , Ia tetap menjabat sebagai Direktur utama WD jewellry . Dan membiarkan kursi Chief Executive kosong . Karena usia Shendi masih 17 tahun . Sambil menunggu sang ahli waris cukup umur dan memiliki kemampuan.
Perusahaan terus mengalami kemajuan yang signifikan. berbeda dengan perusahaan pesaing yang membatasi produksi perhiasan jika dalam situasi krisis. Arif malah melihatnya sebagai sebuah peluang saat PT WD mengalami krisis ketika sang pendiri perusahaan mangkat, Arif mengambil keputusan untuk bersaing dengan memperbesar produksi handmade WD jewellry.
Keputusan Shendi yang tiba tiba, untuk pindah ke pinggiran kota B disebuah daerah dataran tinggi . Hidup sederhana bersama adik dan neneknya. Tak menyurutkan semangat Arif.
Arif secara jarak jauh membimbing Shendi menjalankan bisnis peninggalan Orang tuannya. Menggemblengnya setiap malam, bahkan sampai tengah malam. Karena kelak Shendilah yang memegang bisnis ini.
Tiga tahun setelah Shendi pindah kedesa terpencil . PT. WD terus mengembangkan produksi dibawah pimpinan Arif. Selain bidang casting produk, yakni cincin, liontin, gelang, anting, dan giwang, perusahaan mengembangkan produksi kalung yang didukung dengan mesin berteknologi dari Italia.
Kini PT WD mengoperasikan sejumlah pabriknya sendiri. Dengan outlet tersebar hampir disetiap kota. Shendi ikut berperan atas berkembangnya WD jewellry. Meskipun hanya berada dibelakang layar.
"Siapa lagi yang akan meneruskan bisnis ayahmu selain kamu ?? adik adikmu masih kecil. butuh duapuluh tahun lagi untuk menyuruh mereka bisa mengelola perusahaan" Pesan Arif waktu itu.
Aku mengerti Paman, aku akan berjuang semampuku untuk menjaga apa yang ditinggalkan Ayah untuk adik adikku...
Tapi jangan paksa aku untuk duduk dikursi itu. Jika tiba saatnya aku sudah siap. Aku akan datang sendiri dan dengan bekal yang kamu berikan . PT WD akan baik baik saja sampai Yas dan Ramanda dewasa.
Satu yang membuat Arif merasa tak habis pikir dengan jalan pemikiran Shendi. Ia tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tuannya.
Shendi tidak pernah menyentuh sepeserpun kekayaan yang ditinggalkan orang tuannya. Kecuali dalam keadaan mendesak. Bahkan keuntungan hasil jerih payahnya di WD hampir utuh tidak dia sentuh . Untuk biaya keseharian, Shendi menggunakan uang pribadi hasil beternaknya.
Menjauh dari gemerlapnya ibu kota adalah pilihan Shendi, hidup sederhana bersama dua adiknya.
Shendi bekerja keras layaknya orang biasa, Padahal dengan kekayaan yang ditinggalkan orang tuanya . Cukup untuk menghidupi dirinya dan adik kembarnya. Bahkan sampai limapuluh tahun kedepan tanpa harus bekerja.
__ADS_1
Itu milik adik adikku paman, ... aku yang telah membuat mereka kehilangan Ayah dan ibu disaat mereka masih sangat membutuhkan.
"Tapi ini adalah hasil kerja kerasmu juga mas, kamu pantas mendapatkan. ini adalah hakmu yang bebas kau gunakan untuk apa saja . aku yakin ayah dan ibumu sangat bangga dengan pencapaianmu walau hanya dibelakang layar"
Shendi tetap tidak mau menyentuh uang itu. terakhir ia menggunakan kartu kreditnya ketika Shendi membeli sebuah alat musik tanpa ijin ayahnya. Satu bulan sebelum kecelakaan itu terjadi.
Dan kemarin untuk pertama kalinya Shendi menggunakan kartu kreditnya setelah hampir delapan tahun dia biarkan.
"Kamu juga adalah putra Wiradana. kamu berhak menggunakannya . Nikmati hasil kerja kerasmu, Jangan kawatir uangmu akan habis. Bahkan jika Mas Shendi menganggur sampai limapuluh tahun kedepan "
Donasikan saja paman. kalau perlu semuanya , yang penting paman sisakan untuk masa depan Yas dan Ramanda.
Shendi yang keras kepala. Ingat ketika itu membuat Arif senyum senyum sendiri. Putra Sulung Wiradana memang bandel dan keras kepala.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Arif. Seseorang masuk keruangan setelah mendapat ijin dari Arif.
"Permisi pak. ini berkas untuk anda , dan ini berkas yang harus CE yang tanda tangan" Lapor Rima , gadis 24 tahun yang menjabat sebagai sekretaris Dirut WD jewellry. sambil menyerahkan beberapa tumpukan map terpisah .
Arif menerima berkas itu, memeriksanya sebentar lalu menaruhnya dimeja.
" Tinggalkan ini disini ya, seperti biasa butuh beberapa hari untuk mendapatkan tanda tangan sang Sultan " Ucap Arif dengan senyumnya yang bijaksana.
Nama Shendiaga Wiradana memang tidak asing ditelinga para karyawan WD. Tapi bagaimana wajah dan sosoknya hanya sebagian kecil karyawan lama yang tahu.
Sedikit gambaran bahwa putra sulung Wiradana terakhir kali yang mereka lihat. Masih berumur 17 tahun , jangkung , lumayan ganteng dan sedikit selengekan . Jika dihitung sekarang sudah 24 tahun. Kira kira Seperti apa sosoknya sekarang.
"Pak, kenapa ... " Rima berhenti sejenak untuk mengeja sebuah nama di bawah tulisan Chief Executive .
"Bapak Shendiaga tidak pernah datang ke kantor, padahal kami sangat ingin berhadapan dengan CE" Rima memberanikan diri bertanya.
" Dia lagi sibuk mengurus kambing kambingnya" Jawab Arif santai.
"kambing ?? " Rima tidak mengerti . Seorang CE mengurus kambing.
"ah, bapak Arif bisa aja bercanda "
"kenapa ... ?? Mungkin kamu pernah bertemu , bahkan ngobrol dengannya . Kamu saja yang tidak peka " Ucapan Arif tambah membuat Rima penasaran. Ia undur diri dari ruangan Arif. Dan mulai bergosip dengan rekan kerjanya diluar ruangan .
Ah, Kenapa Chief Executive MD jewellry begitu misterius...
***
Malam ini Anthony akan kembali ketanah air. Jadwalnya lebih padat dari waktu sebelumnya. Karena dapat dipastikan akan banyak media yang mengerumuninya.
__ADS_1
Dua hari ini. Samy kewalahan menghadapi para pemburu berita. Banyak wartawan berkumpul di pintu masuk Megabox Mall. Bahkan ada yang berkumpul didepan rumah besar.
Semua penasaran tentang bagaimana perkembangan Aubery. Samy tidak dapat menjawab karena dia memang tidak memiliki kabar yang berarti.
Jam sudah menunjuk diangka 13:45 . Perjalanan Hongkong ke Ke tanah air akan memakan waktu 4 jam 45 menit. kemudian Anthony akan tiba dirumah besar kurang lebih jam delapan malam .
Samy menatap gerbang depan dari balik jendela. Beberapa wartawan stand by dengan mendirikan tenda kecil disisi gerbang. Seorang pelayan menemui mereka sambil membawakan makanan kecil .
Samy yang memerintahkan tadi ketika di dapur belakang. Dan mengingatkan agar tidak menjawab apapun jika mereka bertanya , apapun itu.
Hp dual sim milik Samy berdering. Sebuah panggilan masuk di sim 2. Samy melihat nomor itu tidak dia kenal. Siapa kira kira yang menelfonnya. Nomer di sim 2 ini adalah nomer khusus bisnis , tidak sembarang orang tahu nomer ini.
Digesernya tombol ke warna hijau.
"Halo selamat siang, dengan Samy disini" Sapa Samy deg degkan. jika ini dari wartawan ia siap untuk segera menutup telfonnya.
"selamat siang" Jawab suara diseberang sana membalas sapaan samy.
.
.
.
.
.
.
Bersambung😍
.
.
.
.
.
👍sampai jumpa next episode.
👍sayang semuanya😍😘
__ADS_1