
Dilain tempat. Aubery menghabiskan hari minggunya dengan perawatan tubuh dan berolah raga dirumah . Namun karena kurang konsentrasi menjadikannya tidak seimbang saat melakukan Yoga, Aubery beberapa kali terjatuh. Akhirnya dia kelelahan dan menyerah.
Sambil berbaring diatas matras , Aubery iseng membuka galeri hpnya. Satu satu dibukanya lagi foto foto ketika berada di bukit Y. Foto dirinya tersenyum dan tertawa bersama Shendi dan dua anak kembar mengantarnya ke dalam mimpi.
Apa ibu juga akan selalu menjadi wanita dibelakang Ayah...
Aubery membuka mata seketika. Ketika samar samar mendengar sebuah suara gadis kecil ditelinganya. Ia langsung bangun begitu tersadar dari mimpi barusan.
Dilihatnya sekitar , ternyata dirinya masih berada ruang fitness . Hanya seperempat jam dirinya tertidur diatas matras olahraga.
Aubery menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya. Kenapa sebentar saja tidak bisa tenang tanpa memikirkan mereka. Bahkan di akhir pekan ketika biasanya dia dapat bersantai saat memanjakan diri.
"Tidak boleh begini terus , aku harus berusaha sendiri mencari memori yang hilang itu..." Dengan berapi api Aubery bersemangat, namun sebentar kemudian kembali ragu...
" tapi bagaimana jika aku tidak bisa menerima kenyataan" berpikir sejenak lalu kembali memperlihatkan wajah putus asanya.
Aubery kembali membulatkan tekad. Apapun yang terjadi , dirinya harus menerima kenyataan . Bahwa memang pernah terjadi sesuatu antara dirinya dengan Shendi.
"Em!!" Aubery mengangguk mantab . Ia sudah memutuskan untuk pergi ke suatu tempat siang itu juga. Setelah berganti pakaian . Ia segera menuju kota B.
Tak ada yang menyadari kedatangannya ditempat itu. Aubery sengaja mengenakan pakaian kasual dan memakai topi . Ia berdandan seperti yang lainnya.
Baru saja menutup pintu mobilnya. Jantungnya sudah berdetak kencang ketika melihat almamater yang terukir besar diatas gapura. Universitas Sejahtera.
Aubery teringat ucapan Aura tempo hari. Bahwa Aura pernah melihat dirinya bersama Shendi di kampus itu. Bagaimana jika dimulai dari sini. Mendapatkan potongan memori yang hilang mungkin akan lebih membuatnya tenang.
"Kuatlah Aubery... " Kakinya mulai melangkah memasuki halaman kampus. Walau terasa berat , Aubery terus memaksa melangkah. Menyusuri tangga dan ruang ruang tempat kegiatan belajar mengajar.
Ketika potongan potongan memori itu mulai tersusun menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang indah dan romantis.
Singkatnya kebersamaan belum tentu dan tidak selalu menghasilkan singkatnya sebuah kenangan. Aubery nanar menatap lapangan basket yang sepi. Ia seperti menyaksikan kembali sebuah kejadian. Ditempat dimana Shendi telah berhasil membuat seluruh penonton terpukau.
Dan dirinya menyambut dengan berlari dan meloncat dalam gendongan cowok itu. Ketika mereka berdua tersipu malu saat tepuk tangan riuh penonton menyoraki . Dan para mahasiswi yang ber huu dengan tingkahnya yang mungkin bagi mereka terlalu berlebihan.
Hp disaku jaketnya berbunyi. Nada dering yang Yas pilih , menggema di lapangan indoor itu . Aubery membiarkan saja lagu penggalan drama korea itu mengalun merdu. Kadang, meski kemarin dirinya yakin bisa melupakan , namun sebuah lagu mampu membawa semua kenangan indah bersama mereka selalu kembali ke pikirannya.
Air matanya mulai menggenang. Dan berlahan jatuh mengalir di pipi Aubery. Saat indah yang dilalui bersama Shendi dan anak anak telah terkumpul lengkap. Aubery terduduk memeluk lututnya.
Sore itu Aubery telah mendapatkan kembali semua ingatannya. Banyak yang datang dan menghilang dalam perjalanan hidup kita. Beberapa menjadi kenangan. Beberapa menjadi pelajaran. Namun, hanya satu akan menjadi akhir perjalanan.
***
__ADS_1
"Kenapa kamu membiarkan Au pergi sendiri !! Dia bahkan baru pulih !!. Sam , sepertinya kamu benar benar ingin pensiun dini ya!!?"
Samy menjauhkan gagang telfon dari telinganya. Suara Anthony melengking bahkan terdengar oleh para pelayan didepannya. Mereka yang gelisah dan ketakutan.
Apapun jika ini menyangkut nona, maka akulah yang paling disalahkan.
Bagaimana aku bisa mempercayakan nona pada para pelayan ini.
Samy geram menatap para pelayan yang menunduk takut. Ketika terdengar suara langkah sepatu memasuki ruang utama.
Semua mata menoleh kepada siapa yang datang. Dan betapa terkejutnya mereka saat tau bahwa Aubery datang dengan muka kusut membawa beberapa bungkusan kantong plastik. Sangat kontras dengan imagenya sebagai nona besar.
"Tuan, nona sudah kembali" ucap Samy tanpa lepas menatap Aubery yang berjalan ke arahnya. Samy meletakkan gagang telfon pada tempatnya.
"Makanlah ... kalau tidak mau buang saja" ucap Aubery lemah sambil menyerahkan kantong kantong itu kepada Samy. Lalu tanpa ekspresi berlalu pergi meninggalkan Samy yang masih terbengong. menatap nonanya yang menaiki tangga menuju lantai 3.
Siang tadi tanpa Aubery ia pergi sendiri ke pabrik konfeksi di pinggir kota. Dan saat kembali , nona tidak ada dirumah. Tidak ada pelayan yang tahu kemana nona pergi. Mereka hanya mengatakan nona pergi dengan membawa mobil yang biasa digunakan untuk belanja kebutuhan sehari hari.
Samy melihat apa isi kantong kantong plastik yang di bawa nona besarnya. Dan betapa terkejutnya Samy saat membuka kantong itu. Bau wangi semerbak keluar.
" Cilok bakar , sate cumi , takoyaki , tempura , tahu gejrot ... " Samy tak percaya. Pelayan yang mendengar ucapan Samy saling pandang.
Nona membeli jajanan pinggir jalan ??
Samy membuang nafas seolah masih belum percaya. Dimana nona membeli jajanan yang sudah dingin ini. Tidak mungkin seseorang memberikan pada nona. Samy menyerahkan kantong kantong itu kepada para pelayan.
"Habiskan... hargai pemberian nona." ucapnya dengan nada menekan. Ya, Samy masih marah kepada mereka. Kenapa membiarkan nona pergi dan tidak memberi tahunya. Samy meninggalkan mereka yang bingung harus ngapain dengan makanan sebanyak ini.
Aubery melempar tubuhnya ke ranjang king size. Menenggelamkan wajahnya pada boneka rabit empuk kesayangannya. Hari ini sangat melelahkan. Berkeliling kampus dan berjalan jalan di area food street.
Kini hatinya menginginkan seseorang dari masa lalu , untuk kembali dengan kenangan indah dulu. Bersama dia...
***
Sepanjang perjalanan Aubery hanya diam disamping Samy. Semenjak kemarin entah dari mana saja . Nona jadi lebih banyak diam. Menjawab hanya 'hemm' setiap Samy bertanya sesuatu.
Samy akhirnya hanya menghela nafas panjang. Apapun pertanyaannya hanya dijawab hemm oleh Aubery. Akhirnya Samy menyerah, membiarkan Aubery sibuk dengan lamunannya.
Sudah sampai dilantai 42. Lift terbuka , Aubery berjalan pelan dan Samy hanya menggelengkan kepala. Nonanya sudah seperti orang patah hati. Kenapa harus seperti ini. Toh Shendi tidak meninggalkannya.
Sapaan dari para stafnya seperti biasa Aubery tidak meresponnya. Namun ketika suara laki laki menyapa. Aubery menghentikan langkahnya dan menatap seseorang itu.
__ADS_1
Shendi berdiri 5 langkah didepannya. Tersenyum manis seperti biasa. Dadanya bergetar menatap senyum maut itu.
Senyum ini yang kadang membuatku jengkel dan gemas.
Tanpa sadar kakinya melangkah menuju dimana Shendi berdiri. Tatapannya lurus pada wajah seseorang yang telah membawa hatinya. Semua staf yang masih berdiri menyaksikan tanpa mereka faham. Apalagi saat pelan Aubery menyandarkan kepalanya di dada Shendi.
"Wahhh!!" mereka terpekik tertahan sekaligus tak percaya yang mereka lihat. Bos mereka tiba tiba memeluk Gery yang seorang cleaning service. Shendi terkejut dengan ulah Aubery yang tiba tiba memeluknya. Apalagi Samy. Didepan para stafnya nona membuat ulah.
Aubery terpejam. Mendengar suara dan mencium aroma membuat Aubery mengingat semua dengan jelas. Tiap detik berganti yang dilaluinya saat itu. Tangannya memeluk Shendi yang masih terpaku diam.
Samy buru buru mendekat menyadarkan Aubery. Menarik lembut tangan nonanya. "Nona apa yang sedang anda lakukan. Mereka semua sedang melihat!" bisik Samy.
Aubery melepas pelukannya. Lalu mengikuti Samy yang menarik tangannya menuju ruangannya.
Suara berdengung dari para staf mulai bergosip. Sesekali pandangan mereka tertuju kearah Shendi yang masih bengong.
"Wahh... ,apakah ini acara deklarasi kepemilikan??"
"Gery adalah milik nona , aku patah hati!"
"Aku tidak berani menggoda Gery lagi"
Beberapa terdengar sampai ditelinga Shendi. Shendi pun tertawa garing dengan ulah Aubery yang membuat heboh stafnya pagi pagi. Oh ya, sepertinya ada yang lain. Aubery terlihat berbeda. Shendi mengingat ingat kira kira apa yang berbeda ya.
"Nona apa apaan tiba tiba memeluk mas Shendi . Itu sangat memalukan. Tidak lihat semua staf kaget begitu !!?" Samy komplain begitu pintu ditutup. Sekilas Samy masih melihat mereka heboh saling berbisik.
"Itu agar mereka tahu diri. Setelah hari ini tidak ada lagi yang berebut menggodanya." Aubery tenang berjalan menuju mejanya. Seperti satu minggu sebelumnya. Pagi ini masih ada paket sarapan dimeja kerjanya.
"Nona ingin bersaing dengan mereka ?"
"Tidak ada yang berani bersaing denganku!" jawab Aubery kemudian. Ditengoknya isi paper bag itu. Satu set sarapan dan ...
Aubery meraih satu kertas ucapan yang terikat pita merah bersama setangkai bunga mawar dan satu kotak perhiasan. Samy ikut penasaran dengan paket sarapan Shendi yang tidak biasa. Iapun mendekat , namun sayang Aubery buru buru menyembunyikan dibelakang punggungnya.
"Bahkan sekarang sudah main rahasia dengan saya" tangan Samy hendak meraih paper bag itu. Namun Aubery keburu menariknya. Tangan Samy menggantung karena kalah cepat.
"Biasanya nona tidak mau memakan sarapan buatan mas Shendi??" tanya Samy heran menatap Aubery.
"Siapa yang bilang??"
๐Sampai jumpa next episode๐
__ADS_1
๐ yang udah Like terima kasih.
๐ sayang semuanya ๐ค๐ค๐ค