
08:20
"Ach " Aubery mendesah sambil menekan pelipisnya. Tiba tiba sakit kepala menyerangnya.
"Sayang , kepalamu mengalami benturan beberapa kali. Kamu tidak boleh berpikir terlalu keras untuk segera mengingat semuanya" Anthony memperhatikan Aubery yang duduk didepannya yang tiba tiba mengeluh.
Ya , aku terlalu berpikir keras untuk mengingat kejadian selama dua minggu bersama pemuda itu .
Sedekat apa dirinya dengan Shendi dan adik adiknya. Sampai adik adiknya pun ia bawa pulang. Sejak kapan dirinya akrap dengan anak kecil.
Tadi pagi setelah dirinya selesai berdandan. Ia bermaksud menyapa dua bocah itu. Ada rasa kecewa ternyata mereka sudah pergi ke sekolah. Perasaan macam apa ini. Sampai dirinya berbaik hati menyapa anak kecil.
Lalu berita yang sampai hari ini masih dibahas dan banyak dicari di pencarian. Dirinya berada satu ranjang dengan Shendi ketika dirumah sakit. Setidak tahu malu kah dirinya sampai memeluk pemuda brengsek itu.
"Ch... " Aubery mengusap tengkuknya yang tiba tiba meremang.
Apa yang terjadi sampai Shendi masuk rumah sakit dengan luka tusukan. Dan Aksi heroik Shendi menggendongnya. Ahhhh , Aubery meremas gaunnya. Segera ia menutupi rasa cemasnya dengan meneguk Kuk Fa Cha dihadapannya.
"Sayang, banyak kejadian yang sudah kamu alami. Apa ... , kamu tidak berencana pergi mengunjungi Po Po sekalian berlibur??"
Sejenak Aubery diam menggenggam erat cangkir tehnya. Apa yang diucapkan Papa ada benarnya. Tapi sejauh apa dirinya lari , tetap dia akan terus memikirkan kejadian ini. Dan satu lagi, sudah seperti apa A.T sekarang. Tiga minggu dia tinggalkan.
" Setelah selesai peluncuran parfum musim ke 6 , aku akan pergi mengunjungi Po Po. Aku juga sangat merindukannya."
Anthony manggut manggut. Hampir satu jam setelah sarapan mereka duduk di taman sambil berjemur matahari pagi. Putrinya masih jarang bicara. Sering melamun dengan memainkan kukunya. Walaupun dirinya ada dihadapannya.
Pelan ia mengusap tangan putrinya. "Sayang istirahatlah , jangan berpikir terlalu keras. Papa tidak ingin kamu stress terlalu memikirkan kejadian kemarin."
Aubery mengangguk lalu memeluk tubuh papanya. Anthony mengusap lembut punggung putri kesayangannya.
"Papa ada urusan . Nanti papa usahakan mampir ke A.T."
Anthony memberi kode pada Samy yang berdiri dibelakangnya untuk mendekat.
"Antarkan nona untuk istirahat" perintahnya.
"Sampai jumpa Pa," Aubery lantas mencium pipi Anthony kanan dan kiri. Lalu berjalan diikuti Samy menuju kamarnya.
***
.
.
.
__ADS_1
.
"Ling , bagaimana kalau kamu ikut aku?" ucap Shendi serius sambil mengecek dokumen kerja sama dengan perusahaan Myanmar yang baru saja diantar Galih. Tentu saja Lingga kaget dengan tawaran yang tiba tiba.
"Ikut , dalam arti apa Mas?" tanya Lingga hati hati. Karena dari yang dia dengar dari Ketua Yayasan . Bahwa job pertamanya adalah menjaga seseorang kaya raya namun sangat low profil . Sederhana dan tidak suka fasilitas yang di prioritaskan . Seperti asisten atau pengawal pribadi. Lalu tiba tiba dia memberi tawaran itu.
"Dalam arti menjadi kaki tanganku.
Jujur ... , aku merasa tidak enak atas perlakuan Arif padamu. Gara gara aku kamu mendapat hukuman seperti itu."
"Tapi ini hukuman dari ketua yayasan mas , bukan dari pak Arif. Ini job pertama saya tapi saya sudah mendapat komplain. Saya sudah mengecewakan costumer. Jadi saya pantas menerimanya."
Shendi menghentikan pekerjaannya. "Jadi kamu dari yayasan? bukan pengawal tetap paman Arif??"
" Bukan mas, saya dari Yayasan Club Binaraga. Kadang ada lowongan pekerjaan tambahan menjadi pengawal atau bodyguard untuk kalangan atas. Dan ini pertama kali saya berani ambil karena saya butuh biaya untuk kuliah adik saya."
Shendi mencerna apa yang dijelaskan Lingga. Ternyata dia juga seorang kakak yang membiayai adiknya. Andai dia bukan pewaris WD jewelry. Tentu diapun akan pontang panting mencari biaya untuk Yas dan Ramanda dewasa kelak.
"Jadi kamu seorang binaragawan ... ,pantas kamu memiliki tubuh berotot" Shendi manggut manggut sambil memperhatikan tubuh Lingga yang memang terlihat kekar berotot. Lingga hanya mengangguk sopan.
" Kalau gitu kebetulan kan ?? Sebenarnya aku cukup kerepotan mengurus perusahaan dan peternakan," Shendi mengemasi dokumennya. Ia ingin lebih fokus mengobrol dengan Lingga.
"Disamping aku harus mengurus adik adikku. Siang hari mengurus peternakan. Aku masih harus begadang malam hari untuk mengurus perusahaan."
Lingga mendengarkan ucapan Shendi dengan seksama.
" Kamu cukup menjadi tangan keduaku. Jadi mengerjakan apapun yang biasa aku kerjakan. Seperti ... memasak dan memberi makan kambing ."
Lingga masih belum paham. Ia tampak berfikir tentang penjelasan Shendi. Seorang bos besar pemilik 400 toko perhiasan sedang membicarakan tentang kambing.
Shendi paham Lingga masih bingung dengan penjelasannya. Siapa yang paham dengan hidupnya. Tapi justru itulah yang dimaui Shendi.
"Tidak apa apa , pelan pelan saja . Kamu akan tahu sendiri setelah nanti ikut denganku."
" Aku bisa menggaji kamu sama dengan Rima sekretarisnya paman Arif , bahkan lebih jika kamu mau. Jadi pikirkan baik baik." pungkas Shendi sambil menyimpan dokumennya ke dalam tas genggam.
Gaji sekretaris rata rata adalah 10 sampai 16 juta. Lingga membayangkan gaji sebesar itu cukup untuk biaya ibu dan adiknya kuliah. Sekaligus masih bisa menabung untuk hari tuanya. Selama ini dia hanya mengandalkan gaji dari yayasan yang tidak seberapa. Jika dirinya ikut Shendi menjadi kaki tangannya. Toh pekerjaannya terdengar tidak begitu sulit. Kurang lebih seperti asisten.
"Saya bersedia mas !"
Shendi menatap wajah Lingga memastikan keseriusan Lingga. Secepat itu Lingga memutuskan? Dirinya memberi waktu berfikir tapi Lingga tidak mengambil kesempatan itu.
"Baiklah, aku akan suruh paman Arif mengatur semuanya."
***
__ADS_1
Siang itu juga . Shendi menghubungi Arif untuk mengurus segala sesuatu untuk merekrut asisten baru. Arif menghubungi Lingga untuk bertemu dikantin rumah sakit.
Dua orang beda generasi sedang mengobrol serius. Dengan pelan dan penuh wibawa , Arif menjelaskan hal hal yang harus diketahui Lingga.
"Untuk menjadi tangan kanan Shendi mungkin akan gampang gampang susah. Karena dia bukan orang tajir pada umumnya. Kamu hanya perlu mengikuti kemauannya."
"Akan ada banyak hal yang tidak kamu sangka sangka . Menjadi asistennya berarti kamu harus menjadi seperti dia. Sederhana , tidak gengsian ."
"Jangan membuka jati dirinya pada orang lain. Dia lebih suka orang lain mengenalnya apa adanya."
"Bersama Shendi bersikaplah biasa saja. Seperti kepada temanmu. Jangan memanggilnya Tuan muda. Panggil Mas, itu sudah cukup untuk menghormatinya."
"Jangan kawatir. Dia tidak akan menyuruh diluar kemampuanmu. Malah mungkin dia akan menyuruhmu melakukan sesuatu tidak perlu menggunakan kepintaranmu."
Itulah semua wejangan yang disampaikan Arif kepada Lingga. Secara garis besar Arif menuntut Lingga untuk siap dengan segala sesuatu yang mungkin diluar perkiraan. Shendi orangnya sangat sederhana, tapi tidak sesederhana itu.
Ahh.... bikin orang penasaran.
Kemudian Arif berpesan akan ada orang yang menjemput Lingga dirumahnya pada hari senin . Arif menyuruh Lingga pulang untuk bersiap siap.
"Oh ya!"
Panggil Arif menghentikan langkah Lingga yang akan keluar dari kantin rumah sakit. "Siang ini Mas Shendi sudah boleh pulang. Kamu tidak perlu kembali ke rumah sakit."
"Baiklah Pak, sampai jumpa hari senin."
***
.
.
.
.
Bersambungπππππππ
.
.
.
Po Po :/ Nenek (Ibu dari ibu)
__ADS_1
Kuk Fa Cha:/ teh bunga crysantemum