
"Saya Shendi , Shendiaga "
Rima dan lainnya nampak terkejut hingga tidak menghiraukan salam Shendi . Rima celingukan kearah tempat parkir khusus mobil. Tidak ada mobil Ferrari atau BMW yang biasa jadi kendaraan para Executive muda.
Burhan menunjuk kearah mobil pick up warna hitam berkarat milik Shendi. Rima tak percaya, apalagi pemuda dihadapannya tidak seperti seorang Executive muda. Bergaya kasual dengan sepatu Puma yang harganya hanya satu jutaan.
Shendi menyerahkan Map yang berisi dokumen penting kepada Rima yang nampak bengong menatapnya. Shendi tersenyum menyadari bahwa Rima dan lainnya masih tak percaya bahwa dia benar benar Shendiaga Wiradana.
" Maaf , Saya telpon Bapak Arif dulu " Ucap Rima sambil mulai membuka hpnya.
"Tidak perlu, dia sedang jamuan makan dengan relasi bisnis disana" Sahut Shendi memotong ucapan Rima.
"lagipula rapat sudah molor setengah jam, masih mau buang buang waktu lagi?"
Karena Rima tidak segera menerima map dari tangannya. Shendi pun mempermainkan map itu, memutar seperti kincir angin sambil berjalan masuk tanpa mempedulikan orang orang yang masih bengong.
"Di , dia C ... C ... C ... E ?" Bahri gagap menunjuk Shendi yang berlalu.
"Tamat riwayatmu Bah ... " Burhan menepuk bahu Bahri. Wanda yang mendengar ikut lemas.
Bu Maya menyentuh lengan Rima yang masih saja bengong. " mbak Rima mari masuk". Rima tersadar segera membuka Hp dan mengirim voice message ke nomor Arif.
"Pak, bisa anda kirimkan foto Bapak Shendiaga. Saya takut salah orang ".
Setelah dua centang berubah biru, Rima hanya menunggu satu menit langsung mendapat balasan.
Mata gadis itu melebar ketika membuka balasan Arif. Bu Maya , Burhan dan Bahri ikut melongok kelayar hp. Beberapa waktu lalu Arif mengambil foto Shendi tanpa sepengetahuan Shendi. Sekali kali mereka bertemu untuk sekedar minum kopi dan membicarakan tentang perusahaan.
Bahri dan Wanda yang paling Syok. Mereka pergi dengan langkah gontai. Sedangkan Rima dan Bu Maya segera masuk kedalam .
Orang orang termasuk resepsionis yang tadi hanya menonton . Mereka sontak berdiri tanpa bisa berkata kata.
Rima memasuki ruang rapat , disusul Bu Maya dibelakangnya. Semua pandangan mata tertuju kepadanya. Solah meminta penjelasan.
Siapa pemuda ini.
Shendi duduk dikursi ujung , kursi biasa diduduki Arif. Menoleh kearah Rima lalu tersenyum dan mempersilahkan agar segera duduk dan memulai rapat.
Dengan gugup Rima memperkenalkan Shendi sebagai Chief Executive PT.WD Jewellry. Kepada semua yang hadir. Terlihat wajah mereka langsung berubah. Sikap mereka berubah segan dan hormat kepada Shendi.
Sebagian masih wajah wajah lama. Shendi masih mengenalinya. Selain mereka adalah wajah wajah baru. Tapi Shendi hafal semua yang duduk diruangan ini.
***
.
.
.
.
. Rapat sudah berjalan satu jam. Mereka menyampaikan laporan masing masing. Membahas berbagai problem perusahaan dan menyampaikan gagasan.
Walaupun sedikit gugup , namun semua berjalan dengan lancar. Berkali kali Rima melirik kearah Shendi. Orang tak akan menduga bahwa pemuda dengan tampang casual ini seorang CE dari perusahaan perhiasan yang cabangnya merata diseluruh negeri.
Orang yang selama ini seolah hanya karakter dalam cerita dongeng. Benar benar dihadapan mereka . Separuh lebih peserta rapat memang baru pertama kali berhadapan dengan Shendi termasuk Rima.
Shendi menguap untuk yang kesekian kali. Maklum semalam ia sama sekali tidak tidur. Manager pabrik yang kebetulan sedang Melaporkan dan menginformasikan semua aktifitas di lapangan terpaksa menghentikan laporannya.
Shendi merasa tidak enak menyadari situasi. "Maaf, lanjutkan ".
Kemudian manager itu kembali melanjutkan. Namun baru beberapa patah kata ia kembali berhenti karena suara hp berbunyi.
__ADS_1
Nada khas hp merk Nok** mengalun . Membuat semua yang ada diruangan itu merasa heran . Hp milik siapakah gerangan. Semua celingak celinguk.
Shendi mengeluarkan hpnya dan membaca siapa yang menghubunginya.
Tiara ...
Shendi bertanya lirih kepada Rima. " jam berapa istirahatnya?"
"Jam satu pak " merasa gugup karena panggilan PAK sepertinya tidak pantas untuk Shendi yang perkiraan sepantaran dengannya . "jam satu ,CE" Rima meralat.
"Istirahat sekarang dan dilanjutkan setengah jam lagi" Shendi mengangkat panggilan dari Aubery , berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan menuju ruang CEO.
Sepeninggal Shendi , para peserta rapat langsung heboh. antara percaya dan tidak percaya. Saling berbisik dan geleng geleng kepala.
CE mereka yang misterius. Hari ini tiba tiba datang dengan banyak kejutan. Mengerjai satpam depan. Memimpin rapat dengan gayanya yang santai dan terkesan cuek.
Terakhir, semua terpana ketika menyaksikan CE mereka mengeluarkan hp jadul N70 dari dari saku jaketnya. Sedangkan mereka bahkan karyawan dibagian produksi saja sudah menggunakan hp terbaru dan termahal.
"Tiara, kenapa menelpon?"
"kapan kau pulang?" Suara merdu Tiara dari seberang.
Shendi membuka pintu ruangan CEO. "Sebentar lagi, aku masih rapat".
"rapat ?" Tiara heran.
"ah, aku masih rapat sama teman temanku membahas reoni".
"oohh... "
"Cepat pulang, asisten gila itu terus menggangguku, melarangku mengerjakan apapun dan menyentuh apapun. Aku sedang bosan dikamar" . Rengek Aubery.
"Dia asistenmu kamu pasti bisa mengatasinya"
"Baiklah". Tiara menutup sambungan. Shendi memandang layar hpnya. "Dia mematikan duluan?". Shendi tertawa pendek.
Shendi berdiri memandangi setiap sudut ruangan. Delapan tahun yang lalu terakhir dia memasuki ruang CEO ini.
Ketika Ayahnya masih hidup. Persis dimana dia berdiri sekarang. Ayahnya memarahinya habis habisan.
Kau ini, apa yang bisa Ayah harapkan dari kamu. Setiap hari hanya keluyuran kumpul dengan geng vespamu. Mau jadi apa kamu.
Kala itu Shendi sedang bersama dengan teman temannya di studio musik. Ketika Ayahnya menelpon untuk segera datang ke kantor.
Ayahnya begitu murka mengetahui Shendi menggunakan kartu kredit untuk membeli sebuah gitar seharga hampir seratus juta.
Gitar apa yang harganya setara rumah di perumahan. Itu adalah gitar bekas seorang legendaris idola Shendi kala itu.
Shendi duduk dikursi dulu tempat Ayahnya biasa mengerjakan pekerjaannya. Meja ini , hampir patah karena digebrak berkali kali oleh Ayahnya.
Pokoknya Ayah melarang kamu menyentuh alat musik apapun. Belajar baik baik tentang bisnis.
Shendi tak mau kalah waktu itu. Membangkang adalah keahliannya. Ia menyukai musik. Namun Ayahnya tak pernah mendukungnya. Bahkan diam diam sudah mendaftarkan namanya di universitas luar negeri.
Ibunya kala itu tak bisa membujuk dirinya maupun Ayahnya. Mereka sama sama keras.
Shendi jadi tambah parah bandelnya . Setelah pulang sekolah , ia bermain sebentar dengan adik kembarnya. Lalu keluar sebelum Ayahnya pulang dari kantor. Pulang pagi , lalu berangkat sekolah. Begitu seterusnya.
tok! tok!
Shendi menghentikan lamunannya. Karena keras kepalanya menyebabkan orang tuanya harus pergi untuk selama lamanya. Kini hanya penyesalan yang terus menghantui hari harinya.
"Masuk!" Shendi nmengusap air matanya yang sempat menetes.
__ADS_1
Rima membuka pintu. Ia sempat melihat Shendi menyeka air matanya. Ternyata seorang Shendiaga benar benar misterius. Dibalik gayanya yang cuek ternyata bisa menangis juga .
"Apakah rapatnya bisa dimulai lagi CE? " Tanya Rima.
"Aku akan kembali lima menit lagi" Jawab Shendi.
Setelah mendapat jawaban, Rima kembali ke ruang rapat.
Rapat kembali dilanjutkan dengan lancar. Shendi tidak mengalami kesulitan yang berarti. Selama ini ia mengikuti perkembangan perusahaan peninggalan Ayahnya. Namun itu membuat dia merasa bosan. Ia hanya mengiyakan ketika ditanya menurut pendapatnya.
Rapat selesai pukul dua. Mereka meninggalkan ruangan setelah membungkuk kepada Shendi.
"CE , maaf" Seseorang yang Shendi tahu bernama Keith menjabat sebagai Direktur Keuangan. Dia yang mengatur keuangan perusahaan , sekaligus mengelola 100% pendapatannya di WD .
Arif mempercayakan pada Keith untuk mengatur setengah pendapatannya. Kemanapun asalkan tepat pada sasaran. Sedangkan separuhnya. Keith memasukannya ke rekening pribadi Shendi.
"Keith, ada apa ?" Shendi menghentikan langkahnya.
Keith nampak terharu. Ia tak menyangka bahwa CE tahu namanya. Padahal ini pertama dia bertemu.
"CE tahu nama saya?"
"Tentu saja, anda yang mengatur keuanganku" Shendi tertawa melihat ekspresi pria muda agak lebar itu. "Terima kasih ya atas kerja kerasmu".
Keith kembali terharu. Ia menyerahkan tumpukan piagam kepada Shendi. "CE , ini adalah piagam dari berbagai panti asuhan , panti jompo dan yayasan Penderita Kanker dan Aids. Mereka sangat berterima kasih kepada anda telah menjadi donatur tetap mereka selama beberapa tahun ini".
Shendi hanya melihat beberapa lembar lalu mengembalikannya kepada Keith. " Kamu saja yang simpan"
"Masalahnya CE,..." Keith sedikit ragu. Shendi mengernyit.
"Kemana lagi saya harus menyalurkan dana dari anda. Hampir semua yayasan sudah ada didaftar penerima donasi"
" keith , masih banyak panti asuhan dan panti jompo didaerah pinggiran atau pedesaan . Kamu suruh manager ditiap outlet daerah untuk mencari informasi. Gampang kan?" Shendi tersenyum sambil menepuk bahu Keith.
Shendi melangkah keluar ruangan. "CE, Anda benar benar berbudi!" seru Keith sambil berkaca kaca.
.
.
.
.
.
.Bersambung🤗
.
.
.
.
.
.Keith dibaca Kif.
.☝️Ingat, like jika kalian suka cerita ini.
☝️Terima kasih masih setia sampai episode ini🙏🙏
__ADS_1
❤️sayang semuanya❤️❤️❤️