
Flashback masih di mode ON.
Kaki Shendi belum bergerak satu langkah pun. Namun tepuk tangan riuh dan tatapan mata semua tamu menyambut seseorang yang berjalan menuju podium.
"Siapa dia, apa kamu mengenalnya??" tanya Aubery sambil pandangannya pada sosok yang berjalan menaiki tangga podium. Siapa dia, sedangkan Shendiaga Wiradana ada didepan matanya.
Shendi menoleh, melihat siapa yang menggantikannya naik ke podium. Nafas lega begitu ia tahu siapa orang itu. Aubery kembali menatap Shendi aneh. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Dan kenapa sikap Shendi harus seperti itu. Shendi seperti anak kucing yang ketakutan.
"Dia Romy, asistenku ... "
Aubery sekilas tersenyum . Bahkan Shendi yang dia tahu seorang peternak kambing mempunyai asisten.
Romy menerima cek ukuran satu meter. Tertulis nama Shendiaga dan jumlah yang di donasikan total selama satu tahun. Sebelum ia menyerahkan cek itu pada ketua yayasan. Romy meminta mic pada MC.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya Romy mewakili Bapak Shendiaga menyerahkan cek simbolis . Karena beliau ada urusan mendesak jadi sudah meninggalkan acara lebih awal. Mohon maaf yang sebesar besarnya." ucapnya pada para tamu.
MC dan para tamu nampak kecewa. Mereka berfikir Romy adalah Shendiaga. Ternyata, lagi lagi Shendiaga hanya mengirim seorang wakil.
"Tiara, aku akan menjelaskannya padamu"
Shendi meraih tangan Aubery lalu membawanya keluar ballroom. Ketika mereka melewati meja penerima tamu. Seseorang dari balik meja memperhatikan. Sepertinya dia mengingat sesuatu.
"Aku ingat siapa yang bersama Aubery tadi. Dia yang datang terburu buru tanpa membawa undangan" pekiknya. Rekan yang disebelahnya menoleh.
"Tanpa undangan kenapa kamu mengijinkannya masuk?"
"Dia bilang namanya Shendi. Setelah aku periksa ,ada satu nama yang berawalan Shendi didaftar tamu .Jadi aku mengijinkannya masuk"
Seorang gadis yang berdiri sambil makan roti dengan terburu buru menghentikan sesaat acara mengunyahnya saat mendengar obrolan para penerima tamu itu.
Mendengar satu nama yang beberapa menit lalu dipanggil MC saat didalam. Ia buru buru membersihkan mulutnya lalu bergegas mengikuti arah kemana Shendi membawa Aubery.
Hanya ada satu undangan dengan nama awal Shendi. Itu berarti Shendiaga Wiradana.
Beberapa menit lalu ketika didalam. Ia kecewa karena orang yang menjadi targetnya tidak muncul di podium. Rela menunggu sampai kelaparan ternyata yang maju ke depan hanya perwakilan. Akhirnya memilih keluar dan mengisi perutnya di luar ballroom.
***
Mobil sport baru milik Aubery bergerak menuju Utara kota A. Daerah pinggiran yang berbatasan dengan laut. Aubery memarkir mobil sportnya dipinggir jalan yang sepi.
Malam semakin larut . Hampir sudah tidak ada orang di sana . Dua insan itu berdiri menghadap ke laut. Memandang pulau seberang yang tampak dari kejauhan.
"Begitulah, aku ingin perusahaan Ayahku tetap berdiri. Tapi aku juga ingin menjalani kehidupanku dengan bebas. Membesarkan Yas dan Ramanda dengan kemampuanku"
"Kelak, merekalah yang akan menjalankan perusahaan ini. Dan aku akan menjalani kehidupan yang tenang di bukit Y." pungkas Shendi. Kemudian ia menoleh kepada Aubery yang menatap kosong ke tengah laut.
"Hei... kamu tidak ada pertanyaan untukku?" tanya Shendi menyadarkan Aubery . Mereka sudah lebih setengah jam berjalan menyusuri pinggir laut. Aubery yang dari tadi hanya diam mendengarkan penjelasan Shendi tentang siapa dirinya . Menoleh ke arah Shendi dengan sikap datar.
"Aku ? Pertanyaan apa?" Aubery balik bertanya.
"Tentang Shendiaga Wiradana" Shendi menepuk dadanya.
__ADS_1
Aubery tersenyum simpul. Ia mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Shendi. Dari awal dia kehilangan orang tua dan cita citanya. Sampai ketika Shendi memutuskan pindah ke rumah neneknya yang jauh dari pusat kota.
Aubery kini mengerti kenapa selama tinggal di bukit Y. Lampu kamar Shendi masih menyala kadang sampai pukul 3. Ia sedang bekerja mengurus perusahaan peninggalan orang tuanya.
Aubery tersentuh dengan perjuangan Shendi. Ia hanya tidur 2 atau 3 jam setiap hari. Aubery tahu betapa padatnya rutinitas pagi hari di bukit Y.
Dan rasa bersalah yang menghantui seumur hidupnya karena kematian kedua orang tuanya. Sampai menggunakan uang dari jerih payahnya sendiri pun Shendi tidak tenang. Seolah olah uang dari WD berisi kutukan. Hingga Shendi memilih mendonasikan hampir seluruh penghasilannya dari WD.
"Sampai kapan kamu harus bersembunyi??" Aubery menatap lekat wajah Shendi.
"Kenapa harus takut orang mengenalimu ?? Kamu hanya cukup menjadi dirimu sendiri. Mendekatlah jika kamu merasa aman dan nyaman. Abaikan jika kamu tidak suka."
"Berhentilah mengutuk dirimu sendiri. Terimalah ini sebagai takdir yang harus kamu jalani. Bukan kamu hindari"
Shendi tertegun dengan semua ucapan Aubery. Jika dipikir. Aubery juga tidak mudah menjalani kehidupannya. Jauh dari orang tua satu satunya. Bergelimang harta minim kasih sayang. Aubery lebih berpengalaman bagaimana harus bersikap ketika dunia ingin tahu semua hal tentang dirinya, bahkan sampai hal terkecil pun.
Lihatlah gadis yang tegar menantang kerasnya dunia ini . Dia memiliki pendirian dan semangat yang kuat.
"Terima kasih sudah bersedia menerimaku apa adanya" Shendi meraih tangan Aubery, lalu mengusap lembut cincin blue angel yang tersemat di jari manis itu. Aubery memperhatikan tingkah Shendi yang mempermainkan cincin itu.
" Bagiku tidak ada bedanya. Kamu Shendiaga si peternak kambing atau Shendiaga Chief Executive WD jewellry. Aku tidak membutuhkan kekayaanmu."
"Tak masalah meski kamu pengangguran sekalipun , aku yang akan menghidupimu " Ucap Aubery datar namun ada kesan sombong didalamnya. Shendi tertawa kecil mendengar Aubery yang sedang menyombongkan diri. Entah sejak kapan Shendi merasa sifat sombong Aubery kini malah bisa membuatnya tertawa.
"Tapi maaf , aku tidak akan menggantungkan hidupku pada istriku. Apapun caranya aku harus berjuang mencari nafkah untuk menghidupimu!" Shendi tersenyum sambil lebih mendekat kepada Aubery.
Aubery berdehem. Mendadak ia merasa gugup dengan ucapan Shendi.
"Wah, apa kamu amnesia lagi?"
"Lalu siapa yang subuh subuh ingin mengajakku menikah ?"tanya Shendi dengan tatapan genit.
Wajah Aubery memerah. Ia ingat waktu Shendi masuk ke kamarnya dan merangkak ke ranjangnya dipagi buta. Shendi datang untuk meminta maaf karena telah mempermainkan hidupnya.
"Ga ada!!" Aubery bangkit lalu berjalan menuju pagar pembatas. Angin malam menerpa tubuhnya. Seketika dingin menusuk tubuhnya yang hanya berbalut gaun pesta.
Shendi melangkah menyusul Aubery. Pelan ia menunduk , mendekap tubuh Aubery yang belakanginya. Mencurahkan segala kerinduannya yang terpendam.Shendi bersyukur telah mendapatkan seseorang yang mencintainya apa adanya.
"Jangan lari ... " bisikan lembut ditelinga Aubery membuat gadis itu seperti terhipnotis ,tiba tiba saja tidak bisa bergerak. Jangankan lari , lepas dari dekapan Shendi rasanya ia tidak mampu.
Bagaimana ini...
Aubery memejamkan matanya. Merasakan darahnya mengalir dan berkumpul dikepala. Detak jantungnya berdetak lebih kencang. Tubuhnya meremang. Kemana sikap arogannya selama ini.
"Kamu belum menjawab ku tadi. Apakah kita sepasang kekasih??" Shendi kembali berbisik. Hembusan nafasnya menyentuh tengkuk Aubery membuat gadis itu reflek mengangkat bahunya. Hingga tanpa sengaja tersentuh bibir Shendi.
Awalnya Shendi terkejut ketika bahu itu menyentuh bibirnya. Namun kulit putih dan halus itu membuatnya terhanyut oleh perasaan karena adanya hasrat terpendam . Shendi ingin merasakan kelembutan itu sekali lagi. Ia pun mulai mendekatkan bibirnya pada bahu Aubery.
Aubery meremas gaunnya ketika bibir Shendi mulai menjelajahi bahunya. Bahkan Shendi mulai menyelingi dengan lidah saat sampai dibawah telinganya.
Aubery menggigit bibirnya sendiri ketika Shendi menggigit daun telinganya. Gigitan kecil yang mampu merubah suasana menjadi panas. Aubery berbalik menghadap Shendi. Menatap wajah sendu yang juga sedang menatapnya .
__ADS_1
"Bodoh kalau kamu tidak mengerti jawabanku." Aubery menaikkan tumitnya agar menyamai tinggi Shendi. Shendi yang sadar Aubery berusaha menggapai bibirnya. Terpaksa harus menunduk lalu menyambut bibir mungil Aubery.
Mereka kembali larut dalam ciuman yang liar.
Mereka sama sama meluapkan hasrat yang terpendam sekian lama. Hingga tanpa mereka sadari. Seseorang yang menjaga jarak terus menggerakkan camera digital ke arah mereka.
"Ini akan menjadi tranding besok. Sayang , wajahnya tidak terlalu kelihatan" gumam seseorang itu memeriksa foto foto hasil jepretannya.
Flashback off
***
.
.
.
Ditempat lain, disebuah apartemen kecil yang Shendi sewa untuk Jimin dan Romy. Romy kewalahan mengatasi berita yang saling menyusul. Hapus satu muncul dua.
Ini akibat jika berhubungan dengan Aubery Tsang.
"Gimana kita mengatasinya , kali ini sepertinya mas Shendi harus mulai menerima takdirnya. Sembunyi dimanapun , akhirnya dunia juga akan tahu siapa dia" ucap Jimin sambil rebahan di sofa.
"Semalam dia masih bisa selamat di acara donasi itu. Kalau tidak , entah gimana muka dia ketika harus naik ke podium." Jimin tertawa membayangkan Shendi yang demam panggung. Mati kutu begitu berdiri di depan banyak orang.
"Mas Shendi memutuskan untuk mengejar Aubery Tsang. Dia tahu siapa gadis itu. Berpacaran dengan Aubery Tsang berarti siap terekspos. Pelan pelan tanpa sadar mas Shendi mulai membuka diri kepada publik. Dan itu berarti pekerjaan kita akan lebih ringan." Jawab Romy sambil terus sibuk dengan laptopnya.
"Untung aku pintar... " Jimin berbangga diri. Kemarin ia harus menghubungi Shendi karena suatu hal. Sayangnya hp Shendi mati kehabisan baterai. Iapun menghubungi Arif menanyakan keberadaan Shendi. Ternyata sedang berada di hotel X .
Jimin ingat 4 hari yang lalu. Ia menemukan undangan yang terselip di antara tumpukan berkas yang sudah tidak berguna dikantor Shendi. Undangan sebuah acara di hotel X. Aneh jika tiba tiba Shendi mau menghadiri undangan itu. Iapun segera memberi tahu Romy.
Romy mengetahui Aubery sudah kembali dari berlibur. Dan Aubery juga ada di acara itu. Mereka akhirnya menyimpulkan, Shendi datang ke acara itu untuk mencari Aubery. Arif selalu mempunyai tujuan. Sengaja membiarkan Shendi pergi ke acara . Dan Arif tahu , Shendi pasti lupa juga di undang ke acara itu.
Sebagai donatur tetap dan terbesar, Shendi pasti akan diundang ke depan untuk menyerahkan cek secara simbolis.
.
.
.
Bersambung🕺🕺
.
.
🙏Terima kasih masih setia di sini. Update 2 hari sekali jika tidak ada halangan.
👍 Jangan lupa Like agar penulis tahu kalian menyukai cerita ini.
__ADS_1
❤️ Sayang semua👋👋😍